
"Dosen Lee? Ada apa dia meneleponku?"
Aku kaget saat melihat jika Lee lah yang menelepon, bukan priaku. Dan karena tak enak, kuangkat saja telepon darinya. "Halo?" jawabku.
"Em, Ara." Kali ini dia segera menyebut namaku, tidak seperti kemarin yang diam saja tanpa ada suara.
"Dosen Lee, ada apa?" tanyaku segera.
"Ara, kau di mana sekarang?" Dia malah balik bertanya padaku.
"Em, aku di rumah," jawabku singkat.
"Aku baru saja dari apartemenmu, dan katanya kau sudah pindah." Dia berkata lagi.
Entah mengapa aku merasa seperti dikejar olehnya. "Dosen Lee, memangnya ada apa?" tanyaku lagi.
Dia diam sejenak. Tak lama kudengar suara lalu-lalang kendaraan dari sana. Sepertinya dia sedang di pinggir jalan sekarang. Entah di jalan mana.
"Aku hanya ingin bertemu sebentar denganmu. Aku ingin meminta bantuan," katanya lagi.
Lantas aku bingung sendiri mendengarnya. "Dosen Lee ingin meminta bantuan apa?" tanyaku.
Dia lalu tertawa, tawa kecil yang bisa kudengar dari sini. "Aku ingin kita berpura-pura," katanya.
"Hah?!" Aku tidak mengerti apa maksudnya.
"Fakultas seni akan mengadakan pesta dansa sebentar lagi. Dan biasanya pria diminta untuk memilih pasangan berdansa. Kau mau kan berdansa denganku?" tanyanya kemudian.
Sontak aku terkejut dengan pertanyaannya. "Ak-aku ... tidak bisa berdansa, Dosen Lee." Aku beralasan padanya.
"Ara." Dia memanggil namaku. "Aku sudah baca data dirimu di ruang kesiswaan. Kali ini aku meminta bantuan. Apa hal ini terlalu berat?" Dia bertanya padaku.
Jelas saja berat, terlebih aku mempunyai seorang pria yang pencemburu. Bisa-bisa dia marah seperti kemarin. Dan aku tidak mau hal itu sampai terjadi kembali.
"Em, Dosen Lee. Aku rasa tidak bisa. Aku juga tidak ikut pestanya. Aku masih banyak urusan. Maaf, ya."
Segera saja kumatikan teleponnya. Aku tidak ingin berlama-lama menerima telepon yang bukan dari priaku. Entah mengapa aku jadi merasa bersalah jika menerima telepon dari orang lain.
Nada pesan kemudian berbunyi...
Tiba-tiba saja ada pesan masuk untukku. Dan kulihat pesan itu dari calon suamiku. Lantas segera kubaca isi pesannya.
/Sedang teleponan dengan siapa? Kenapa nomor sibuk?!/
Sontak aku terkejut saat membaca pesannya. Lekas saja aku meneleponnya karena tidak ingin dia salah sangka. Nada tunggu pun berbunyi dua kali. Dan akhirnya teleponku diangkat olehnya.
__ADS_1
"Halo." Nada bicaranya datar padaku.
"Sayang, sudah tidak sibuk?" tanyaku gugup.
"Sedang teleponan dengan siapa tadi?" tanyanya jutek.
Benar dugaanku, pasti priaku cemburu jika aku menerima telepon dari orang lain. Entah mengapa mereka juga bisa bersamaan meneleponku. Aku jadi bingung harus menjawab apa.
"Em, tadi ... dosenku yang menelepon, Sayang." Aku mencoba jujur saja padanya.
Priaku lantas mengubah panggilan telepon ke video. Aku pun segera menerima permintaannya. Saat itu juga kulihat raut wajahnya yang kesal.
"Sayang ...."
Lantas aku duduk di sofa sambil melihatnya melepaskan dasi. Dia kini sudah kembali ke kamar hotel tapi dengan raut wajah yang begitu kesal. Aku pun jadi merasa bersalah padanya.
"Ara, aku baru sehari di sini dan kau sudah berani di sana." Dia melempar dasinya ke kasur.
"Sayang, sungguh tadi dosenku yang menelepon. Dia ada perlu," kataku lagi.
"Coba putar kameranya ke sekeliling. Aku mau lihat ada siapa di sana," pintanya.
Astaga ....
Lantas aku menyadari ada di level berapa sifat cemburunya ini. Dia sampai memintaku agar memperlihatkan keadaan sekeliling rumah. Mau tak mau aku pun menuruti permintaannya.
Petang ini aku seperti dikerjai olehnya. Tapi sebenarnya sih tidak masalah, hanya saja khawatir jika ada yang tertangkap kamera. Bisa-bisa aku malah tidak bisa tidur di rumah.
"Sudah, ya?" Akhirnya aku selesai juga menuruti kemauannya.
Kulihat priaku tengah merebahkan punggung di kepala kasur sambil bertelanjang dada. Dia hanya mengenakan celana panjangnya yang berwarna hitam. Sabuknya juga belum dilepas olehnya.
"Besok malam aku akan segera pulang. Saat sampai aku minta jatah. Dan aku tidak menerima penolakan." Dia seperti menitahku.
"Eh? Kok begitu?" Aku terkejut bercampur bingung.
"Ini sebagai hukuman karena nomormu sibuk tadi," katanya lagi.
Ya Tuhan ....
Seketika aku menyadari dampak dari rasa cemburunya. Dia benar-benar ingin memilikiku dan tak rela ada satu orang pun yang meneleponku.
"Sayang, tapi—"
"Tak ada tapi. Aku akan menjadi suamimu. Apa yang ada di dirimu itu milikku." Dia menegaskan.
__ADS_1
Akhirnya karena tidak ingin berseteru, kuikuti saja kemauannya. Aku tidak mempunyai jalan lain untuk menolak ataupun menghindar. Permintaannya itu seperti titah bagiku.
"Ya, baiklah." Mau tak mau aku mengiyakannya.
"Ya, sudah. Temani aku mandi, ya." Dia lalu beranjak bangun.
Priaku membawa ponselnya ke kamar mandi. Dia meminta aku menemaninya mandi. Dia amat manja padaku.
Kadang merasa senang karena dia seterbuka ini, tapi kadang juga kesal karena rasa cemburunya itu. Padahal di hatiku tidak ada pria lain selain dirinya. Tapi dia masih saja tidak percaya. Atau memang akunya yang kurang meyakinkan? Entahlah. Kuturuti saja semua kemauannya.
Menjelang tidur...
Kami video call sampai malam semakin larut. Entah sudah berapa lama panggilan kami terhubung, sepertinya aku mulai mengantuk. Sejak mandi sampai makan malam, dia minta ditemani olehku. Bahkan saat mengerjakan tugasnya dia juga tidak ingin aku mematikan panggilan teleponnya. Jadi ya sudah, aku pun menuruti apa kemauannya. Dan sekarang aku mengantuk.
"Sayang, tidur yuk." Aku meminta padanya.
"Sudah mengantuk?" tanyanya padaku.
"He-em." Aku mengangguk.
Kami masih melakukan video call dengan ponsel yang diletakkan di samping. Sampai-sampai harus memiringkan tubuh agar bisa melihat wajah masing-masing. Dan harus kuakui jika dia satu-satunya pria yang dapat melihat wajah polosku di sini. Tak ada yang lain selain dirinya. Dan aku begitu menyayanginya.
"Tidurlah di dadaku, sini." Dia tersenyum padaku seraya menepuk dadanya.
Aku tertawa. Jarak kami yang begitu jauh terasa dekat saat melakukan video call. Dia juga bilang besok malam akan segera kembali ke Dubai. Aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya. Tapi ... dia meminta jatah padaku. Dan hal itu yang membuatku risih sendiri.
Ya, harusnya sih hari ini kami sudah menikah. Tapi apalah daya, ada saja urusan yang membatalkan rencana. Namun walaupun begitu, aku tetap mencintainya. Mencintai hujan langitku.
...
Semua hal kecil yang sudah kau katakan dan lakukan.
Terasa merasuk ke dalam relung hatiku.
Tak masalah jika engkau sedang melarikan diri.
Tampaknya kita sudah ditakdirkan bersama.
Telah kucoba tuk menyembunyikannya agar tak ada yang tahu.
Tapi kurasa semua terkuak saat kutatap matamu.
Apa yang sudah kau lakukan dan darimana asalmu.
Aku tidak peduli.
__ADS_1
Selama kau mencintaiku, Kasih...