
Dubai, pukul 8.15 pagi...
Aku sudah siap berangkat ke kampus dengan mengenakan kemeja hitam dan jeans biru panjang. Tak lupa kusapukan tabir surya dan bedak tipis di wajah agar tidak terlalu gosong saat terkena sinar matahari. Aroma parfum kesukaanku pun kusemprotkan ke tiga titik tubuh. Alhasil, aku jadi lebih percaya diri menghadapi hari.
Rambut kubiarkan tergerai karena belum kering sempurna sehabis mandi. Setiap mau pergi ke kampus aku memang selalu keramas agar lebih segar. Sedang untuk menambah pesonaku, kusapukan lipglos berwarna oranye ke bibir ini. Rasanya penampilanku tidak terlalu mencolok pandangan mata. Simpel namun tetap terlihat cantik.
"Ara, aku ikut, ya?"
Aku pikir pagi ini akan berangkat ke kampus dengan tenang. Tapi ternyata, tuanku meminta untuk ikut juga. Aku jadi bingung harus berkata apa. Sakitnya luka di hatiku belum sembuh sempurna. Jika mengiyakan pasti dia akan berpikir aku gadis gampangan. Serba salah memang jadi perempuan.
"Aku cuma sebentar, kok."
Aku berbalik, menoleh ke arahnya yang tampak sendu, duduk di sofa. Kasihan sih, tapi mau bagaimana lagi, aku sakit hati karena ucapannya waktu itu.
"Persediaan makanan sudah hampir habis. Apa kau ingin membiarkanku berbelanja sendiri?" tanyanya seraya segan melihat ke arahku.
"Benar, kah?"
Aku tak percaya. Lekas-lekas melihat isi kulkas di dapur. Dan ternyata memang benar, aku harus berbelanja kebutuhan untuk satu minggu ke depan.
Aduh, bagaimana ini? Kalau dia ikut ke kampus, nanti malah ketemu Lee!
Aku gugup saat membayangkan keduanya bertemu di kampus. Dan lebih gugup lagi jika harus menjawab perihal tadi pagi kepadanya. Aku takut dicap berkhianat. Bisa-bisa kata murahan itu kembali kudengar dari mulutnya.
"Nanti sepulang kuliah aku akan berbelanja. Aku pergi dulu, ya." Aku beranjak menuju pintu.
"Ara!" Belum sempat melangkahkan kaki, dia kembali memanggilku. "Aku ikut, ya? Aku tidak ada kerjaan hari ini. Lagipula cuma satu jam, aku bisa menunggumu di kantin," katanya lagi.
__ADS_1
Dia ini tidak ada kata menyerahnya.
Kusadari jika tuanku memiliki kemauan yang tidak bisa tidak. Keinginannya harus dipenuhi apapun yang terjadi. Dan akhirnya, mau tak mau aku mengiyakannya. Walaupun dengan amat terpaksa.
"Baiklah."
Satu kata kuucapkan tapi mampu membuatnya tersenyum lebar. Lekas-lekas dia beranjak ke kamar lalu mengambil kaca mata fashion berwarna kuning. Dia seperti ingin mejeng di kampusku.
Hah ... dasar.
Dia juga segera mengenakan sandal gunungnya, tidak memakai sepatu hari ini. Ya, sudahlah. Terserah apa maunya asal dia tidak berpikir yang aneh-aneh tentangku.
Dia seperti bodyguard-ku.
Kami akhirnya berjalan bersama menuju lift gedung ini dengan tak lupa mengunci pintu apartemen terlebih dulu. Sepanjang jalan kulihat dia tersenyum senang sekali. Tangannya juga seperti ingin meraih tanganku. Tapi, segera kusibukkan dengan berpura-pura membaca buku sambil berjalan bersamanya. Hingga akhirnya kami masuk lift dan berdiaman sepanjang jalan, menuju mobil yang diparkirkan.
Lima belas menit kemudian...
Seperti benar-benar ingin mejeng di kampusku.
Apa dia berniat cuci mata di sini?
Aku berusaha tidak menghiraukan walaupun hati terasa sedikit sakit melihat gaya kasualnya. Rasa-rasanya tidak akan ada mahasiswi yang berpaling darinya. Sedang hatiku takut kehilangan. Entahlah, aku hanya masih butuh waktu untuk kembali seperti dulu.
Rain mengantarkan dan menemani Ara kuliah hari ini. Kebetulan ia tidak mempunyai jadwal pertemuan atau yang lainnya, sehingga bisa menghabiskan waktunya untuk bersama Ara. Ara sendiri tampak curiga dengan gaya Rain yang fashionable. Ia khawatir Rain akan melirik gadis lain di kampusnya ini. Apalagi jika mahasiswi lain tahu jika dirinya adalah seorang bos besar perkilangan minyak. Siapa yang sanggup menolaknya? Terlebih wajah Rain tampan rupawan. Lengkap sudah.
"Kampus ini mengalami perombakan tiap tahunnya."
__ADS_1
Rain melihat-lihat ke sembarang arah. Ia berjalan berdekatan dengan Ara tapi tidak memegang tangan gadisnya. Membuat Ara semakin curiga jika Rain ingin membuatnya cemburu. Sontak seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang melihat keduanya terperanjat kaget. Beberapa di antara mereka ada yang berbisik-bisik membicarakan Ara, mahasiswi dari fakultas bisnis itu. Tak terkecuali Rose dan Jasmine. Keduanya tanpa sengaja melihat Ara dari teras kelas kampus.
"Lihat, Rose! Bukannya gadis itu yang kemarin keluar dari ruangan dosen Lee?" Jasmine mengompori.
Rose menyilangkan kedua tangan di dada. "Kenapa dia sekarang berjalan dengan pria lain? Apa dia simpanan pria itu?" Rose menoleh ke Jasmine yang berdiri di sebelah kirinya.
"Mungkin saja. Tidak ada yang tahu apa pekerjaan aslinya selain berstatus sebagai seorang mahasiswi. Jangan-jangan dia memang wanita penggoda." Jasmine semakin mengompori.
"Sial! Kemarin dosen Lee, sekarang pria lain. Siapa sebenarnya dia?!" Rose tampak kesal, alisnya mengkerut.
"Kita minta bantuan kesiswaan saja untuk mencari tahu siapa gadis itu. Bagaimana?" Jasmine menyarankan.
Rose terdiam sejenak. "Baiklah. Ide yang bagus, Jasmine. Ayo, kita pergi sekarang!"
Keduanya tanpa menunggu lama segera melangkahkan kaki menuju ruang kesiswaan kampus. Rose kesal melihat Ara bersama pria lain, tapi bukan cemburu melainkan iri hati. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sikap ramah Lee ke Ara waktu itu. Dan kini Ara berjalan bersama pria lain yang terlihat lebih mapan dari Lee. Pikiran buruk pun memenuhi seluruh saraf otaknya. Rose dan Jasmine lalu memutuskan untuk mencari informasi tentang Ara ke ruang kesiswaan.
Sementara Ara dan Rain...
Keduanya kini sudah sampai di depan pintu kelas. Ara pun berniat berpamitan kepada Rain.
"Aku akan masuk kelas. Tak apa kutinggal?" tanya Ara yang berhadapan dengan Rain.
"He-em. Tak apa." Rain mengangguk.
"Tunggu sebentar, ya." Ara tersenyum lalu masuk ke dalam kelasnya.
Rain juga tersenyum. Ia merasa senang karena bisa berjalan bersama gadisnya walaupun harus dengan situasi kurang nyaman seperti ini. Setidaknya sang gadis sudah mau bicara kepadanya. Karena bagi Rain didiamkan itu sungguh tidak enak sekali.
__ADS_1
Ara, secepatnya akan kubuka rahasiaku di hadapanmu. Secepatnya akan kunyatakan rasa yang ada di dalam hati ini. Tunggulah waktunya. Aku masih mempersiapkan diri untuk berterus terang kepadamu. Semoga dirimu bersedia menunggu waktunya. Aku menyayangimu.
Rain beranjak meninggalkan kelas Ara. Ia melangkahkan kaki menuju taman kampus yang tidak terlalu jauh dari kelas gadisnya. Sesampainya di taman pun ia segera duduk lalu membuka galeri fotonya. Dilihatnya foto-foto kebersamaannya dengan Ara dan juga rekaman video bahagia waktu itu. Saat itu juga ia tersenyum, seakan lupa siapa dirinya sekarang. Tak lain hanya karena Ara seorang.