
“He-em.” Aku mengangguk pelan.
Rainku tersenyum. Dia kemudian mengajakku berciuman. Ciuman lembut yang sampai terasa ke relung hatiku. Bibir tipis nan merah muda itu mengecup-ngecup pelan bibirku. Hingga akhirnya aku berinisiatif untuk membalasnya.
Priaku memperlakukanku dengan lembut. Dia menyingkapkan rambut ini ke belakang telinga sambil menggelitiknya. Hingga aku mengangkat bahu karena geli. Setiap sentuhan darinya kunikmati. Aku pasrah kali ini.
Dia kemudian pelan-pelan melebarkan kedua pahaku. Tubuhnya mulai masuk ke tengah-tengah tubuhku sambil tetap menciumku. Saat itu juga kurasakan ada sesuatu yang menyentuh lembut selangkaku. Mungkin itu miliknya. Dia juga memperdalam ciumannya hingga aku seperti kehabisan udara. Lidahnya mulai masuk lalu menyapu seluruh langit-langit rongga mulutku. Rasanya geli sekali.
“Sayang ….”
Aku memeluknya, memegang erat punggungnya saat merasakan sensasi yang dia berikan. Tubuhku telah menjadi miliknya yang bisa disentuhnya sesuka hati. Aku memang miliknya.
Sayang, aku tidak kuat ....
Semakin lama aku merasa semakin gila jika terus membiarkan lidahnya bergerilya di langit-langit mulutku. Lantas kucoba untuk menjauhkannya, menyudahi ciuman ini. Aku menariknya agar dia merebahkan kepala di pundakku. Kuambil napas dalam-dalam lalu kuciumi pundak kekarnya sambil menghirup aroma tubuhnya yang memabukkan. Aku tidak lagi bisa berkelak karena sudah menjadi miliknya.
“Sayang, geli—ah!”
Sesuatu yang lembut mendarat di pertengahan pahaku. Tubuhku menggeliat saat merasakan sesuatu yang telah mengeras itu mulai bergerak naik-turun di antara kedua pahaku. Rasanya gatal dan juga geli sekali. Tapi semakin lama bergerak, aku merasa semakin melayang ke angkasa.
Kulingkarkan kedua pahaku di pinggangnya agar dia bisa lebih leluasa bergerak. Rain kemudian mengangkat wajahnya dari pundakku setelah puas menciuminya. Dia kembali menciumku.
“Aku masukkan, ya?” Dia meminta izin padaku.
Aku mengangguk. Sambil terus memeluk dan membalas ciumannya. Saat itu juga kurasakan ada benda tumpul yang ingin menerobos masuk ke dalam. Cairan kimia dari tubuhku melumasinya hingga terasa nikmat tiada terkira. Dan akhirnya, rasa perih seperti tersayat itu mulai kurasakan. Aku pun menggigit bibirku sendiri agar tidak berteriak.
“Sayang, kau baik-baik saja?”
Rain tahu jika aku kesakitan. Dia kemudian berhenti dari permainan ini. Aku pun mencoba untuk melihat apa yang terjadi di bawah sana. Dan ternyata baru masuk ujungnya saja.
“Sayang, perih sekali.” Aku jujur padanya.
Rain mengangguk. Dia kemudian menarik tubuhku agar duduk di atasnya. “Gantian, ya. Kamu di atas saja, Sayang. Lakukan sebisamu.” Dia memintaku mengambil alih.
Aku sedikit ragu saat melihat miliknya yang sudah menegang sempurna. Rasa-rasanya tidak akan muat jika dimasukkan semua. Namun, dia meyakinkanku. Dia tidur telentang di hadapanku lalu menarik tubuhku. Dia melebarkan kedua pahaku lagi lalu perlahan mempertemukannya. Dia mencoba mengetuk pintunya dari bawah.
“Sayang, bagaimana? Nikmat, bukan?” Dia menekan-nekan milikku dari bawah.
__ADS_1
“Sayang, kau nakal.” Aku pun mulai merasa kenikmatan.
“Lalukan sesukamu. Miliki aku seutuhnya, Sayang.” Dia kembali menciumku.
Kata-kata itu seperti titah yang tidak dapat kulawan. Aku pun mencoba mengambil alih permainan yang dia mulai. Mengikuti apapun permintaanya agar tidak terlalu sakit. Dan akhirnya, pagi ini menjadi saksi atas penyerahan diriku padanya. Penyerahan diri yang sempurna kepada sang suami tercinta. Aku milik Rainku.
“Sayang, uuhhh ….” Dia melenguh hebat saat aku menaik-turunkan pinggulku di atas tubuhnya.
Kulihat dia memejamkan mata, menikmati semua hal yang kulakukan. Dia kemudian mencengkeram pinggulku erat-erat. Dia membantuku agar bisa melaju cepat. Dan akhirnya, tubuhnya menegang di bawahku.
“Sayang, Sayang … aaaahhhh …!!!”
Tubuhnya bergetar hebat. Dadanya juga naik-turun tak terkendali. Matanya terpejam seolah amat menikmati. Aku pun menciumnya dengan penuh gairah. Aku ingin memberikan diri ini seutuhnya. Aku mencintainya, mencintai hujanku.
Menjelang sore…
Aku keluar dari kamar mandi setelah bermain seharian dengan suamiku. Kulihat dirinya tengah duduk santai di sofa ruang tamu sambil melihat-lihat majalah hari ini. Sedang aku … aku kesakitan karena pinggangku seperti mau copot.
“Sayang, tadi El meneleponku. Mengajak kita liburan bersama Minggu nanti.” Dia berkata tanpa melihat ke arahku.
Aku diam saja seraya masuk ke dalam kamar. Kuambil daster biru lalu segera memakainya. Aku memang lebih suka memakai daster jika di rumah. Itu pun hanya di hadapannya. Jika di hadapan orang lain, aku akan segera mengenakan rompi untuk menutupinya.
“Apa?” jawabku singkat.
Dia menyilangkan kedua tangannya di dada. “Sayang kok jutek? Padahal belum lama memadu kasih denganku.” Dia memelukku dari belakang.
Aku berhenti menghanduki rambut ini. “Aku bukan jutek, hanya saja pinggangku sakit.” Aku menoleh ke arahnya.
“Tapi enak, kan?” Dia mencium pipiku dari samping.
“Sayang!” Aku berbalik menghadapnya.
“Iya, mau lagi?” Tanpa merasa berdosa dia bertanya seperti itu padaku.
“Ih, kau ini menyebalkan!” Aku mencubit perutnya.
“Aw! Sakit!” Dia pun memegangi perutnya, seolah-olah sakit. Padahal aku hanya mencubitnya pelan.
__ADS_1
Dasar hujan!
Kutahu jika suamiku ini hanya pura-pura. Aku pun tertawa melihat tingkah konyolnya yang menggelikan. Kupeluk saja dirinya lalu merebahkan kepala di dada bidangnya. Di saat itu juga dia berhenti berdrama. Membalas pelukanku lalu mencium keningku ini. Rasanya sungguh damai sekali.
“Maaf ya sudah membuat sakit pinggang. Tapi aku harus jujur jika tadi baru permulaan. Nanti malam main lagi, ya.” Dia dengan santainya bicara.
“Apa?!” Kujauhkan segera diriku dari dadanya.
“Em … tak apa, bukan? Aku sengaja minta libur besok. Kita main lima ronde lagi ya nanti malam?” Dia merayuku.
Astaga ….
Sebelum kami menikah, dia memang sudah mesum luar biasa. Ditambah kini aku sudah menjadi haknya, bertambahlah kemesuman yang ada pada dirinya. Tadi pagi sudah tiga kali dan nanti malam minta nambah lima kali. Sungguh luar biasa, dia tidak pernah ada capek-capeknya. Sedangkan aku ... pinggangku ini sudah hampir patah karenanya.
“Baiklah. Lima ronde akan kupenuhi tapi ada syaratnya.” Aku mengajukan persyaratan.
“Apa, Sayang? Katakan saja.” Dia begitu bersemangat.
Aku berpikir sejenak, mencari persyaratan untuknya. “Em, aku ingin semua pekerjaan rumah diambil alih. Bisa?” Aku menantangnya.
Kulihat dia menelan ludahnya sendiri, seperti ragu.
“Ya, sudah kalau tidak mau. Kita libur saja.” Aku beranjak pergi darinya.
“Eh?! Tu-tunggu!” Dia langsung menahanku.
“Apa?” tanyaku datar.
“Aku mau, aku mau.” Dia akhirnya menyerah.
“Serius?” Aku memastikan.
“He-em.” Dia mengangguk dengan raut wajah pasrah.
Aku pun tersenyum penuh kemenangan di hadapannya. “Bagus, kalau begitu bersiaplah untuk nanti malam,” kataku lalu mengambil handuk untuk kujemur.
Aku meninggalkannya yang masih terpaku di dalam kamar. Aku tahu jika dia ragu dengan dirinya sendiri. Suamiku ini tidak bisa memasak, dia juga tidak bisa mencuci piring. Apalagi mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang begitu banyaknya. Tapi, demi lima ronde dia menyanggupinya. Rasanya ingin tertawa saja.
__ADS_1
Sayang-sayang, padahal aku tidak kuasa untuk menolak permintaanmu. Tapi mengapa kau lugu sekali? Aku mencintaimu, Rainku.
Siang ini menjadi saksi serah-terima tugas rumah tangga dalam sehari. Tinggal mempersiapkan diri untuk menyambutnya nanti malam. Semoga saja semuanya berjalan lancar, aman terkendali.