
Satu jam kemudian...
Ara dan Rain sudah sampai di apartemen. Dan kini keduanya sedang duduk bersama di teras luar seraya menyeruput kopi latte yang hangat. Keduanya tampak bercanda tawa bersama. Sang gadis pun tak terhenti-hentinya mencubit perut prianya karena geli. Geli karena lelucon yang Rain buat.
Ara, entah mengapa aku merasa bahagia melihatmu tertawa lepas seperti ini.
Rain lantas menyeruput kopinya. Ia meredakan gelak-tawa yang belum bisa terhenti sedari tadi. Hingga akhirnya Ara ikut meminum kopi. Rain pun menatap gadisnya dengan pandangan penuh cinta.
Semoga nanti kita lekas dikaruniai anak ya, Sayang.
Rain berdoa dalam hati. Ia ingin sekali cepat-cepat menimang bayi dari hasil kerja kerasnya. Rain sudah cukup mapan untuk menjadi seorang ayah. Ia tidak ingin menunda lebih lama lagi akan pernikahannya.
Tinggal memberi tahu kakek saja tentang pernikahanku ini. Semoga dia mengerti.
Sang penguasa lantas berdiri. Ia berjalan menuju pagar teras untuk melihat pemandangan air mancur dari atas. Ia resapi setiap angin yang berembus, menerpa tubuhnya. Ia masih tidak menyangka jika akan bertemu jodohnya di sini, di Kota Dubai ini.
"Sayang, apa yang kau pikirkan?"
Ara mendekati prianya. Ia memeluk Rain dari belakang. Rain pun menoleh ke Ara lalu memegang tangan sang gadis yang melingkar di perutnya. Menikmati kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tapi kini Ara mampu memberikannya.
"Ara." Rain berbalik.
"Iya?"
Keduanya kini berdiri berhadapan seraya menikmati sapuan angin malam di teras luar apartemen. Angin malam itu menyapu helaian rambut Ara yang panjang. Rain pun membantu merapikannya dengan penuh kelembutan.
"Ada hal yang ingin kukatakan padamu," kata Rain mengawali.
"Tentang apa?" tanya Ara antusias.
"Tentang diriku yang sesungguhnya."
"Memangnya ada apa, Sayang?" Tiba-tiba Ara merasa atmosfer berubah seketika.
Rain menghela napasnya. Ia tertunduk sesaat lalu melihat wajah gadisnya lagi. "Ara, aku sudah tidak mempunyai orang tua," kata Rain yang sontak membuat Ara terkejut.
__ADS_1
"Maksudmu?" Ara amat serius menanggapinya.
"Sejak kecil aku diurus oleh nenek, dan kakek lah yang membiayai hidupku. Aku tidak tahu di mana kedua orang tuaku berada." Rain menuturkan dengan wajah yang menyiratkan kesedihan.
Astaga, berarti dia broken home juga?
Ara lantas memeluk Rain. Ia berikan kehangatan tubuhnya. "Sudah, jangan sedih. Sekarang ada aku di sini." Ara mencoba menenangkan prianya.
Rain membalas pelukan Ara. "Aku bukanlah cucu kandung dari kakek dan nenek, Ara. Namun, sedari kecil memang dibesarkan bersama kedua belas saudaraku. Satu di antara mereka adalah cucu kandung dari kakek dan nenek." Rain menceritakan.
Ara melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Rain. Ia membelai wajah sang penguasa dengan lembut dan penuh kehangatan akan kasih sayang seutuhnya. Ia berikan senyuman terbaiknya kepada pria yang akan segera menikahinya ini.
"Sayang, bukankah semua sudah digariskan? Jadi untuk apa berlarut dalam kesedihan?" tanya sang gadis yang secara tak langsung menguatkan Rain. Ara mencoba meredakan kesedihan yang tersirat dari wajah calon suaminya.
"Ya. Kau benar. Aku minta maaf jika harus membuatmu menunggu akan pernyataan cintaku. Tapi, aku mempunyai alasan mengapa sampai seperti itu." Rain menjelaskan.
"Alasan apa itu?" tanya Ara, ia ingin tahu apa alasan Rain menunda pernyataan cintanya.
"Tadinya kata cinta pertama ini ingin kuucapkan kepada ibu. Aku ingin berterima kasih karena ibu sudah melahirkanku. Tapi, hingga bertemu denganmu, aku belum juga menemukan keberadaannya." Terlihat air mata yang menggenang di mata Rain.
Ara berubah menjadi dewasa saat menanggapi cerita prianya. Rain pun tampak terharu dengan sikap Ara yang mengayomi. Ia tidak menyangka jika akan mendapatkan kehangatan dari seorang wanita yang bukan ibunya. Melainkan ibu dari anak-anaknya kelak. Dan kesepian Rain akan kasih sayang kini terobati dengan kehadiran Ara di sisinya.
"Banyak cerita tentang hidupku. Tapi, mungkin akan secara bertahap kuungkapkan. Kau tidak keberatan, kan?" Rain bertanya kembali.
Ara mengangguk.
"Besok kita ke butik ternama di kota ini. Kita cari gaun pengantin untukmu. Besok pagi-pagi kita akan ke Burj Khalifa. Gedung itu!" Rain lantas menunjukkan kepada Ara di mana Burj Khalifa berada, yang ternyata jika di lihat dari teras luar apartemen tidaklah terlalu jauh.
"Besok? Memangnya?"
"Lusa kita akan menikah."
"Apa?!!" Seketika Ara terkejut bukan main.
"Sudahlah. Lebih cepat bukannya lebih baik, ya?" tanya Rain tanpa merasa berdosa.
__ADS_1
"Tap-tapi—"
"Tidak ada tapi. Kita yang wajibnya saja dulu. Jika ingin dipestakan, aku akan membuat pesta tujuh hari tujuh malam untuk pernikahan kita. Tapi biarkan mereka saja yang berpesta. Kita pestanya di atas ranjang pengantin." Rain mulai menggoda gadisnya.
"Ih! Dasar mesum!" Ara lantas mencubit lengan Rain.
"Sayang, sakit!" Rain pun mengusap-usap lengannya.
Keduanya bercanda di tempat yang menyimpan sejuta kenangan akan canda tawa dan luka yang menjadi satu mewarnai kisah cinta mereka. Dan kenangan itu tidak akan pernah mampu dilupakan. Dimana kedekatan mereka dimulai dari sini dengan tambahan bumbu pertengkaran yang menyesakkan dada. Dan kesedihan itu adalah indah. Sedang kesendirian adalah tragis. Begitulah yang dikatakan pujangga.
Sayang, aku mencintaimu, Araku ....
Langit malam yang dipenuhi bintang menjadi saksi akan canda tawa yang terjadi. Rain lantas menggendong Ara masuk ke dalam kamarnya. Mereka berniat beristirahat dari hari yang melelahkan. Dan esok adalah hari dimana sang gadis akan memilih gaun pengantinnya sendiri. Bersama sang penguasa yang akan menjadi suaminya, Rain Sky.
Sementara itu...
Hingar bingar suara musik remix menggema di seluruh ruangan. Suara musik yang diputar itu begitu kencang, sehingga menarik wisatawan asing yang datang. Mereka bertemu dan berkumpul di sana. Di sebuah klub malam yang mewah.
Jane, wanita berjumpsuit hitam itu tampak menikmati irama musik yang menggema dengan beberapa hentakan bas di setiap ritmenya. Ia terlihat menikmati irama sambil menghisap puntung rokoknya. Tak lama seseorang pun datang menghampirinya. Seorang pria berhodie hitam dengan mengenakan warna masker yang sama. Ialah Nail yang datang menghadap Jane seorang diri di sana.
"Nona." Nail menyapa Jane.
Jane lantas berbalik begitu mendengar ada yang menegurnya. Ia lihat pria berhodie hitam itu sudah datang menghampirinya. Jane lantas duduk di meja bar sambil terus menghisap puntung rokoknya yang tersisa setengah.
"Aku ada pekerjaan untukmu," kata Jane langsung kepada intinya.
"Apakah hal ini ada kaitannya dengan yang kemarin?" tanya Nail memastikan.
"Tentu saja masih ada kaitannya. Kali ini aku menyerahkan semuanya kepadamu." Jane meneguk gelas birnya.
Entah mengapa firasat Nail jadi tak enak malam ini, kala mendengar Jane menyerahkan semua hal padanya. "Em, Nona. Hal apa yang Anda inginkan?" tanya Nail memastikan.
"Bunuh dia. Bunuh gadis itu," kata Jane sambil meletakkan gelas birnya ke meja.
Seketika Nail terperanjat mendengar Jane berkata seserius itu kepadanya. Ia merasa sedang memegang bom waktu.
__ADS_1
"Nona, Anda serius?" tanya Nail memastikan.