Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
I Will Go


__ADS_3

Lee tersenyum. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Aku percaya segala sesuatu di dunia ini sudah diciptakan berpasangan. Tapi jika dia tidak kembali, berarti akan ada yang datang untukku." Lee berkata seperti itu.


Sontak Taka menyadari jika Lee sebenarnya memang menyukai Ara. "Dia adalah gadis yang amat pintar membuat seseorang rindu. Selamat jalan, Guru Lee. Semoga di Turki akan ada gadis sepertinya yang mewarnai hidupmu." Taka berdoa.


Nidji menyenggol lengan temannya. "Taka, kau ini apa-apaan?! Bukannya salam perpisahan, malah membicarakan Ara." Nidji tak enak hati sendiri.


Lee tersenyum mendengar celotehan Nidji ke Taka. Ia kemudian menepuk pundak mahasiswanya satu per satu. "Teruslah mengais ilmu sampai kalian tidak mampu lagi untuk menampungnya. Terima kasih atas kelas yang telah kita lewati." Lee berpamitan.


Nidji tampak bersedih. "Hati-hati Dosen Lee." Ia akhirnya melepas kepergian dosennya.


Tak lama, mobil BMW hitam datang dan memberi klakson pada Lee. Menandakan jika Lee harus segera berangkat menuju bandara sekarang juga. Baik Taka, Ken, maupun Nidji membantu membawakan koper dan tas milik Lee. Mereka ikut memasukkan barang-barang ke bagasi mobil. Lee pun kembali berpamitan kepada mereka. Saat itu juga satu per satu dari mereka memeluk Lee.


"Jaga dirimu, Dosen Lee."


Pelukan haru dibalut kesedihan mewarnai siang hari ini. Lee pun mengangguk lalu segera masuk ke dalam mobil yang menjemputnya. Ia tersenyum seraya melambaikan tangan kepada para mahasiswanya. Lambat laun kaca mobil pun dinaikkan. Lee akan segera memulai perjalanannya.


Aku harap kau akan meraih kebahagiaanmu di sana, Dosen Lee. Semoga akan ada Ara yang baru untukmu.


Taka berdoa di dalam hatinya.


Taka tahu jika Lee menyimpan rasa untuk Ara. Begitu juga dengan dirinya. Namun, Taka lebih sadar diri karena gurunya saja tidak diterima, apalagi dirinya yang hanya sebatas mahasiswa. Maka dari itu Taka hanya bisa mendoakan agar Lee bisa bertemu dengan Ara yang lainnya. Sebagai seorang lelaki tentunya dapat ikut merasakan bagaimana rasanya jika cinta itu tidak terbalaskan. Dan Taka berharap kebahagiaan akan datang untuk gurunya.

__ADS_1


"Tidak akan ada lagi yang berteriak di kampus ini." Ken berkata pelan seraya memandangi kepergian dosennya.


"Ya. Itu benar. Dosen tertampan kita sudah pergi." Nidji menutup pembicaraan.


Ketiganya melihat mobil yang membawa Lee sampai hilang dari pandangan. Setelah itu mereka berjalan bersama sambil berangkulan, menuju kelas untuk menerima mata kuliah selanjutnya. Kenangan yang tercipta akan selalu teringat sepanjang masa. Namun, rasa rindu bisa datang kapan saja. Berharap pertemuan akan selalu ada dan menyertai mereka.


Sore harinya, di salah satu hotel mewah tengah kota, Kuwait...


Angin sore serta merta menemani Byrne yang sedang berkemas sebelum melakukan perjalanan ke sebuah kota yang telah disiapkan untuknya. Tampak Owdie yang ikut menemani namun hanya sekedar melihatnya saja. Ia merasa bingung harus berbicara apa mengenai keberangkatan saudaranya. Ia pun hanya memainkan ponsel pintarnya saja.


Ya, Byrne akan segera berangkat menuju laboratorium khusus untuknya. Pria berjaket putih itu tampak sedang sibuk mengemasi barangnya ke dalam koper. Sedang Owdie, pria bersweter cokelat itu sibuk mengecek ponselnya sendiri. Sesekali ia juga menerima telepon dari industri hiburan yang ada di sana. Namun, hari ini ia tidak pergi ke mana-mana. Ia memutuskan untuk bersama Byrne terlebih dahulu. Menyempatkan waktu untuk saudaranya.


Owdie tidak tahu kapan mereka akan bertemu lagi di tengah jadwal kesibukan yang padat. Apalagi Byrne akan menjalani perintah kakeknya yang berisiko besar. Sehingga Owdie memutuskan untuk menikmati waktu hari ini bersama saudaranya.


"Ya. Orang suruhan kakek akan menjemputku pukul delapan." Byrne menjelaskan sambil memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


"Sampai saat ini kakek belum juga menceritakan padaku jika akan menugaskanmu. Aku rasa kau harus mempunyai nomor cadangan untuk kuhubungi nanti." Owdie beranjak mendekati Byrne.


"Apakah kau mempunyai firasat buruk tentang hal ini?" Byrne menghentikan aktivitasnya sejenak.


Owdie duduk di tepi kasur, dekat dengan koper Byrne. "Hanya untuk berjaga-jaga saja. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di sana. Lagipula laboratorium itu pastinya akan sangat dijaga ketat. Kau akan kesulitan untuk keluar masuk area itu." Owdie menduga.

__ADS_1


Byrne terdiam sejenak. "Kau benar." Ia akhirnya membenarkan. "Laboratorium itu katanya bertempat di bawah tanah. Di sebuah gudang tua yang ada di Ukraina. Aku tidak tahu kebenarannya seperti apa. Tapi mungkin memang akan dijaga oleh orang-orang yang bersenjata." Byrne satu pemikiran dengan Owdie.


Owdie mengangguk. "Byrne, aku punya sesuatu untukmu." Owdie kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jeans-nya.


"Apa?" Byrne terheran.


"Ini." Owdie kemudian memberikan Byrne sebutir batu hitam. "Tempelkan batu itu di jam tanganmu. Butiran batu itu bukan sembarang batu. Melainkan pelacak gps sekaligus recorder berkualitas tinggi. Aku bisa mengetahui apapun yang terjadi di sana walau jarak kita berjauhan. Aku juga bisa menemukan keberadaanmu sekalipun kau masuk ke pedalaman. Aku telah menyambungkannya dengan situs pribadiku selama 24 jam." Owdie menuturkan.


Seketika Byrne terperanjat kaget. "Kau mengeluarkan biaya besar untukku?" Ia tak percaya.


Owdie berdiri, berjalan melewati Bryne. "Uang hanya jembatan. Persaudaraan itu lebih penting." Tiba-tiba Owdie berkata seperti itu.


Byrne pun terdiam karena rasa haru yang mulai menyelimuti hatinya.


"Kabari aku jika sudah sampai di laboratorium. Jika memungkinkan, sediakan alat komunikasi tambahan," pesan Owdie. Ia kemudian mengambil botol anggur miliknya yang ia titipkan di kulkas Byrne.


Byrne mengangguk. "Terima kasih." Ia tersenyum haru kepada Owdie.


Owdie berbalik melihat Byrne. "Santai saja." Ia pun segera meneguk botol anggurnya.


Owdie sebenarnya kurang bisa merelakan keberangkatan Byrne. Namun, ia berpikir ulang jika harus melawan kehendak kakeknya. Gemerlapnya dunia belum dapat ia lepas begitu saja. Ia masih ingin menikmati hidup dengan berhura-hura, tanpa harus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang. Karena selama ini uanglah yang mengejarnya.

__ADS_1


Di sisi lain Byrne juga merasakan keberangkatannya ke Ukraina adalah titik awal dari kehancuran hidupnya. Virus yang akan ia buat di sana tentunya tidak akan menjadi manfaat bagi manusia. Namun, ia harus tetap menjalankannya demi tercapainya tujuan organisasi. Atau setidaknya bisa menutupi kerugian organisasi. Walaupun di dalam hatinya ia menangis, namun lagi-lagi keputusan sang kakek adalah mutlak. Tidak bisa diganggu gugat olehnya.


Segala sesuatu mempunyai risiko tersendiri. Baik atau buruk tergantung siapa yang membawahi. Terkadang apa yang tidak disukai itu yang diterima. Namun, bukan tanpa alasan Tuhan memberikannya. Karena pastinya akan selalu ada hikmah di balik setiap musibah.


__ADS_2