Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Speechless


__ADS_3

Sore harinya...


Langit cerah, awan berarak menghiasi angkasa. Sepertinya pergantian cuaca di Turki kurang bersahabat akhir-akhir ini. Suamiku pun meminta untuk tetap berada di rumah. Karena sepertinya akan terjadi badai udara. Kutanya apa maksudnya, dia malah menciumku.


Kini jika duduk aku harus melebarkan kedua kakiku. Saat duduk juga harus menyandarkan punggung pakai bantal sebagai alasnya. Tidak lagi bisa duduk tegak manis di hadapan orang-orang. Perutku sudah membesar dan membuat begah jika duduk berlama-lama. Maka dari itu suamiku mengakalinya dengan menyiapkan bantal di belakang punggungku sebagai tempat sandaran. Dia memang suami idaman.


Entah mengapa bukan hanya sekedar mual yang kurasakan. Aku juga kini kesulitan untuk bergerak lebih cepat. Pergerakan di dalam rahimku sudah mulai terasa. Sepertinya mereka semakin hari semakin mengisi ruang yang ada di dalam sana. Dan sebagai calon ibu, aku hanya bisa menikmatinya.


Aku bahagia. Jelas saja bahagia karena bisa mengandung anak pria yang kucintai. Kebahagiaanku ini tentunya tidak ingin kurasakan sendiri. Aku ingin membaginya dengan orang lain. Ibu dan Kak Jamilah sedang mempersiapkan sesuatu untukku di ballroom apartemen. Katanya sih mereka akan mengundang anak-anak panti asuhan. Doa bersama akan segera dilaksanakan menjelang petang ini.


"Aduh, kenapa ingin pipis terus?"


Bolak-balik aku ke kamar mandi sampai membuat suamiku yang sedang menyeruput kopi di ruang tamu menyadarinya. Dia kemudian mendekatiku.


"Kenapa Sayang?" tanyanya seraya memegang kedua lenganku dari belakang.


"Aku mau pipis terus, ih!" kataku lalu masuk ke kamar mandi.


Suamiku menunggu di luar. Dia begitu perhatian dengan kondisiku. "Mau dibelikan pampers?" tanyanya padaku.


Aku pun segera membersihkan sisa-sisa air seni. Sengaja menggunakan pembersih **** ********** berbahan alami agar tidak iritasi.


"Aduh ... siang ini sudah tujuh kali aku bolak-balik ke kamar mandi." Aku keluar kamar mandi dengan lemas.


Suamiku tersenyum lalu mencium keningku. "Sabar ya. Yang semangat. Aku menemani," katanya memberiku semangat.


Aku mengangguk. Tapi rasa-rasanya ingin pipis lagi. "Tadi kau bilang apa? Aku kurang dengar," kataku.


"Oh, itu." Dia mengingatnya. "Beli pampers. Kita beli pampers saja agar tidak bolak-balik ke kamar mandi."


"Eh?!" Aku pun terkejut.

__ADS_1


"Pampers ukuran besar kan ada, Sayang. Daripada bolak balik ke kamar mandi terus." Dia memberikan saran.


"Tapi—"


Bel berbunyi. Belum sempat aku meneruskan perkataan, tiba-tiba bel apartemen berbunyi.


"Sebentar ya."


Dia pun berpamitan kepadaku untuk membukakan pintu. Sedang aku rasanya ingin ke kamar mandi lagi. Ya sudahlah. Biarkan saja dia menerima tamu. Paling-paling juga saudaranya.


Pukul 16.30 sore waktu Turki dan sekitarnya...


Untuk yang pertama kalinya aku bisa bertemu kembali dengan saudara suamiku yang bernama Byrne. Kini aku, suamiku dan juga Byrne duduk di sofa ruang tamu. Kulihat wajahnya tampak pucat sekali. Sepertinya dia sedang sakit selepas menjadi tawanan pihak Rusia. Aku sendiri belum berani menanyakannya.


"Ara sedang mengandung ya?" Dia bertanya padaku dengan nada yang lemah.


"Iya, Kak. Kak Byrne sendiri sedikit pucat. Apakah sedang sakit?" tanyaku memberanikan diri. Rain yang duduk di sampingku pun menyadari pertanyaanku ini.


"HAARP mulai beraksi Byrne." Tiba-tiba suamiku berkata seperti itu.


Aku sedang hamil. Tapi karena suamiku ini bukan rakyat biasa, jadinya harus ikut mengimbangi segala pembahasannya. Dia mempunyai banyak kesibukan di kalangan atas yang terkadang tidak kumengerti tentang hal apa. Dan kini dia sedang membahas HAARP dengan Byrne. Membuatku pusing saja.


Sayang, masih sempat-sempatnya membicarakan alat itu. Sedang istrimu saja merasa begah seperti ini.


Tak lama kemudian, pintu apartemen dibuka dari luar. Ternyata saudara suamiku yang lain lah yang datang. Dia ikut datang ke apartemen dengan raut wajah tergesa-gesa. Entah mengapa.


"Rain, aku mendapat kabar dari organisasi." Lagi-lagi yang kudengar pembahasan dari kalangan atas.


"Kabar apa?" Suamiku beralih ke Owdie, sedang Byrne tampak menunggu.


"Nick. Nick tengah dioperasi saat ini. Dia terkena luka tembak." Owdie mengabarkan.

__ADS_1


"Apa?!"


Saat itu juga suamiku terkejut mendengarnya. Begitu juga denganku yang tak percaya dengan kabar ini. Suamiku kemudian cepat-cepat menutup laptopnya lalu melihat sendiri kabar yang diterima oleh Owdie. Sedang Byrne tampak cemas menantikan kebenarannya.


"Astaga ...." Suamiku melihat sendiri bagaimana keadaan Nick saat ini.


Aku mengintipnya. Tapi tidak berani melihat dengan jelas. Suamiku pun segera tersadar jika aku sedang hamil besar. Dia segera mengembalikan ponsel milik Owdie agar aku tidak melihat kondisi Nick.


"Byrne?" Suamiku beralih kepada Byrne.


Byrne menggelengkan kepala. Dia seperti tidak bisa memberikan pendapat saat ini. Aku rasa Byrne harus menjalani pemeriksaan terlebih dahulu untuk mengecek kondisi tubuhnya. Apakah benar dia sedang menderita penyakit? Aku khawatir selama menjadi tawanan dia tersiksa di dalam ruang yang pengap dan juga gelap. Entah benar atau tidak, lebih baik Byrne memeriksakan dahulu kesehatannya.


Doa bersama di ballroom apartemen...


Aku didandani Kak Jamilah bak putri berhijab yang cantik. Kerudung khas Turki kupakai dengan baju gamis yang panjang. Aku pun ditemani olehnya menuju lantai satu gedung apartemen. Tempat di mana ruang pertemuan berada. Ternyata suamiku menyewa tempat ini untuk acara doa bersama.


Aku sendiri mencoba menikmati pakaian yang serba tertutup ini. Sedari tadi suamiku juga tampak mencuri pandang dariku. Saat aku tidak melihatnya, dia melihatku. Saat aku melihatnya, dia mengalihkan pandangan ke kedua saudaranya. Rasanya lucu sekali. Padahal sudah akan mempunyai anak tapi terasa seperti masih dalam tahap pendekatan. Dia ada-ada saja.


Gamis yang kukenakan berwarna krim muda dengan hijab yang menutupi sampai ke bagian dada. Hijabnya indah dengan pernak-pernik yang menghiasinya. Di gamisnya juga terdapat mutiara buatan yang menghiasi bagian dada. Mewah sudah. Aku sudah seperti istri dari sang penguasa.


Keadaan ballroom sendiri sudah sangat ramai, dipenuhi oleh anak-anak berusia tiga sampai lima belas tahun. Namun uniknya, lelaki dan perempuannya dipisah. Jack sendiri yang mengatur tempat duduk mereka. Benar-benar kerja sama yang luar biasa antara suami istri ini. Istrinya mendandaniku sedemikian cantiknya, sedang suaminya menata ruangan sedemikian rapinya. Entah harus membayar berapa mahal kepada mereka.


Byrne sendiri duduk mengambil kursi di sudut paling belakang bersama Owdie. Mereka memang bukan asli Timur Tengah, tapi mereka menghargai acara doa bersama di sini. Keduanya mengenakan baju koko khas Turki. Tampan sekali. Andai mereka juga bisa ikut bergabung bersama kami.


"Ara, itu!"


Kak Jamilah selalu mendampingiku. Dia tidak pernah lepas dariku. Sedang kedua putranya membantu Jack membagi-bagikan kotak roti kepada para tamu undangan. Sungguh keluarga yang luar biasa. Sampai akhirnya aku melihat seseorang di depan pintu ruang pertemuan yang dijaga ketat oleh beberapa bodyguard. Aku terkejut, terperangah melihatnya. Ternyata Presiden Turki ikut datang ke acara ini.


Ya Tuhan?!!


Ternyata yang ditunjuk Kak Jamilah adalah orang nomor satu di negeri ini. Pantas saja kudengar banyak gemuruh kendaraan yang datang tadi. Ternyata itu adalah iring-iringan Pak Presiden yang datang kemari. Tapi, bagaimana bisa? Apakah suamiku sendiri yang mengundangnya? Sungguh kedatangan beliau adalah rezeki tak terduga bagi kami.

__ADS_1


__ADS_2