Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
I Want You, Baby!


__ADS_3

Siang harinya…


Deru ombak siang ini menemani kesibukan kami dalam menghias rumah. Halaman rumah sudah mulai dipasang tenda untuk acara doa bersama nanti. Kursi-kursi dan meja juga sudah berdatangan untuk segera disusun rapi. Para pekerja eksterior mulai merancang di sekitaran rumah dengan keahliannya. Hingga akhirnya, semua dekorasi untuk acara doa bersama telah selesai dikerjakan. Tepat pukul dua siang, kami sudah bisa melihat betapa indahnya halaman rumah dengan berbagai macam hiasan bunga dan juga lampu yang berkerlap-kerlip.


“Akhirnya selesai.”


Kini aku tinggal menunggu pihak prasmanan datang untuk mempersiapkan hidangan nanti malam. Priaku memang benar-benar loyal. Dia memesan banyak sekali hidangan. Dan yang membuatku terharu, dia juga memesan seribu kotak nasi untuk dibagikan kepada anak-anak di panti asuhan dan beberapa tempat ibadah. Dia menggerakkan pekerjanya untuk ikut berpartisipasi.


Owdie dan Byrne belum juga datang?


Sampai saat ini aku belum melihat kedatangan Byrne dan juga Owdie. Kata priaku sih mereka akan datang nanti malam, ikut acara doa bersama di sini. Byrne kebetulan masih sibuk, sedang Owdie juga masih melalang buana di Negeri Oman. Katanya mereka akan ke sini dengan menggunakan jet pribadi agar tidak mengalami kemacetan. Hah … ada-ada saja ulah mereka.


Memangnya di langit bisa terkena macet apa?


“Sayang, kemari.” Pria yang kucintai memanggilku.


“Ya?” Aku pun segera menuju ke arahnya.


Halaman rumah kami sangat ramai sekali. Dipenuhi para pekerja dan juga tetangga yang berdatangan. Dan kini aku menghampiri priaku yang sedang berbicara dengan seseorang. Entah siapa.


“Sayang?” Aku tiba di hadapannya.


“Ara, kenalkan ini Tuan Hamzah. Dia pemilik komplek perumahan Palm Jumeirah.” Priaku mengenalkan.


Aku pun tersenyum kepada pria yang dikenalkan priaku. “Salam, Tuan.” Kuletakkan tangan kanan di dada.


Kulihat pria di hadapanku terkejut dengan sikapku. Dia lalu beralih kepada calon suamiku. “Dia gadis yang baik, Tuan Rain. Sudah lama kenal?” tanyanya pada priaku.


“Em ...," Rain melihatku sesaat lalu kembali menujukan pandangan ke pemilik komplek ini. "Kebetulan aku mengambil jalur cepat, Tuan. Jadi tidak lama di perjalanan,” katanya seraya tersenyum semringah kepada si pemilik komplek.


Hah?! Aku terkejut mendengarnya.


“Hahahaha. Anda bisa saja, Tuan Rain.” Pria pemilik komplek Palm Jumeirah ini tertawa.

__ADS_1


Dasar hujan, suka menggelitik pikiran orang.


Wajar saja jika si pemilik komplek ini sampai tertawa. Priaku bisa saja membuat pikiran orang geli dengan kata-katanya. Dibalik kewibawaannya ternyata tersimpan aura yang begitu jenaka. Namun, memang amat jarang diperlihatkan.


“Rencana mau langsung menimang bayi?” tanya si pemilik komplek lagi. Dia sepertinya sedang berbasa-basi.


Rain merangkulku dengan mesra. “Ya, secepatnya. Doakan saja.” Dia juga menggenggam tanganku lalu menciumnya.


Ya Tuhan, si hujan ini benar-benar tak tahu malu.


Aku jadi tak enak hati sendiri saat dirinya tanpa malu berlaku mesra di depan umum. Aku hanya bisa tersenyum tak jelas untuk menutupi rasa risihku ini. Tak mungkin juga aku memarahinya karena hanya akan membuat malu saja. Jadi ya sudah, aku pasrah.


“Baiklah. Selamat untuk pernikahannya, Tuan Rain. Semoga betah di rumah ini.” Pemilik komplek mengucapkan selamat kepada kami.


“Terima kasih,” kata priaku dan aku bersamaan.


Obrolan ini akhirnya berakhir. Hingga tak terasa waktu sudah memasuki sore hari. Kini saatnya bagiku berdandan rapi untuk menyambut acara doa bersama nanti. Hari ini akan kukenakan gaun panjang dan juga selendang yang menutupi kepala, seperti seorang pengantin di film India.


Ah, Ara. Kebanyakan nonton Kuch-Kuch Hota Hai.


Suasana di rumah baru ini tampak meriah kala satu per satu tamu undangan datang memasuki halaman. Beberapa sesepuh juga ikut hadir dan duduk di kursi paling depan. Priaku memang sengaja mengundang semua orang yang ada di komplek, termasuk anak-anaknya juga. Ini seperti pesta besar-besaran di negeriku.


Aku sendiri tidak tahu ada berapa banyak orang di halaman, mungkin sudah tidak bisa terhitung lagi. Jack sengaja mengatur acara dengan bapak-bapak dan remaja pria di luar, sedang di dalamnya para ibu dan remaja perempuan. Acara pun sebentar lagi akan segera dimulai.


Kini Kak Jamilah sedang memakaikan kerudung di kepalaku. Dia membantuku merias wajah dan diri ini. Dia bahkan sudah datang sejak sore tadi untuk membantu menghias kamar pengantin. Dia jugalah yang menenangkanku agar tidak gugup menghadapi pernikahan esok pagi. Sungguh rasanya senang sekali.


“Cantiknya.” Dia memujiku.


“Terima kasih, Kak.” Aku tersipu malu saat mendengar pujiannya. Kami masih di depan cermin rias sebelum acara dimulai.


Sejak Kak Jamilah bersama keluarga datang sore tadi, sampai saat ini aku belum melihat di mana priaku berada. Kami seperti tersekat, seolah tidak boleh bertemu. Walaupun hal ini hanya sebatas perasaanku saja, tapi jujur hatiku merindukannya. Mungkin bisa dibilang jika aku tidak bisa jauh darinya.


“Ayo, kita keluar.” Kak Jamilah akhirnya mengajak ku keluar kamar pengantin.

__ADS_1


Aku mengangguk, segera bangkit lalu melangkahkan kaki keluar kamar yang sudah dihias begitu cantik. Bunga-bunga dan tirai mewah menggantung di atap kamarku. Seperti kamar seorang putri yang sebentar lagi akan menjadi ratu. Hatiku seolah tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan jika dimintai untuk mengungkapkan bagaimana perasaanku, mungkin aku hanya bisa menjawabnya dengan menangis.


“Lihat! Itu calon pengantin perempuannya!”


Seorang wanita berseru setelah melihatku keluar kamar bersama Kak Jamilah. Gaun dan kerudung putih yang kukenakan ini menjadi ciri khas seorang pengantin. Aku pun kemudian didudukkan di tengah-tengah mereka. Sebisa mungkin kutebarkan senyuman agar rasa grogi di hatiku tidak terlalu tampak. Ya, aku nervous sekali.


“Pengantinnya ternyata masih kecil.”


Entah siapa yang berbicara, kudengar seorang wanita membicarakanku. Ya, aku sadar diri sih jika dia membicarakanku. Usiaku memang masih terbilang muda. Tapi tidak ada salahnya untuk menikah, bukan? Toh, lahir dan batinku juga sudah siap untuk menjadi seorang ibu.


Aku memang masih kecil, Bibi. Tapi aku sudah bisa membuat anak kecil.


“Wah, tampan sekali!”


Tiba-tiba kudengar seorang ibu berkata demikian di sela-sela pikiranku. Kulihat ke belakang untuk melihat siapa yang dimaksud. Dan ternyata, saat itu juga aku terpana dalam sekejap. Kulihat priaku berbusana serba putih, tampan sekali.


Ya Tuhan, priaku ….


Aku tak percaya melihat ketampanannya saat sudah didandani oleh pihak penata rias. Tubuh tinggi dan maskulinnya membius penglihatanku. Bibir tipis berwarna merah jambu itu seakan menggodaku dari jarak jauh. Dia pun berjalan mendekatiku dengan gaya jalan yang amat bersahaja. Rasa-rasanya aku sudah tidak sabar untuk bersamanya.


“Tuan Rain, mari bergabung di luar.” Jack mempersilakan priaku ke luar.


Aku berdiri untuk menyambutnya. Langkah kakinya kemudian terhenti di saat kami berpapasan. Dia melihatku, menatapku dengan tatapan yang amat berbeda. Aku sampai tertunduk malu karena tatapannya itu. Aku tidak sanggup untuk melihatnya.


“Ya ampun, romantisnya.”


“Iya, benar. Padahal hanya berdiri berhadapan.”


Para ibu di ruangan pun membicarakan kami. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk melihat mata indah priaku. Dia tersenyum padaku. Lalu kemudian…


Sayang?!


Dia mengedipkan satu matanya kemudian beranjak pergi dariku. Saat itu juga degup jantungku tidak beraturan. Dia membiusku dengan sikapnya itu.

__ADS_1


Sayang, kenapa tidak malam ini saja kita dinikahkan?


Rasanya ingin sekali mengajaknya lari. Tapi aku harus bisa menahan hasrat ini sampai resepsi esok hari selesai. Ya, walau secara tidak langsung dia telah menggodaku. Dan ternyata aku kalah dengan godaannya. Dia memang nakal sekali.


__ADS_2