
Dubai, pukul delapan malam waktu sekitarnya...
Malam ini terasa syahdu sekali. Aku bergandengan tangan sepanjang jalan sampai masuk ke dalam mobil. Melewati pejalan kaki yang lalu-lalang di sekitar kami. Rasanya sungguh bahagia. Tak kusangka malam ini dia mengatakan sesuatu yang sudah lama kutunggu.
Teringat jelas bagaimana dia mengatakannya. Kata cinta yang membuat sekujur tubuhku merasakan kedamaian. Dan kini tak pantas lagi bagiku jika masih ragu akan perasaannya. Dia sudah menunjukkan semuanya padaku.
Dia telah melamarku, memintaku langsung kepada ibu. Dia juga telah memberikan mahar yang besar kepada ibu. Dan kini dia telah menyatakan kata cintanya padaku. Sepertinya pernikahan kami tidak akan lama lagi. Priaku ingin segera mempercepat waktunya.
Bukan karena ambisi untuk memenuhi hasrat biologis, melainkan lahir dan batin kami memang sudah sama-sama siap untuk melangsungkan pernikahan. Jadi, mau tunggu apalagi. Aku juga sudah siap untuk mengandung anaknya. Tak sabar rasanya ingin segera melihat bayi kami.
Sayang, terima kasih.
Kini aku duduk di belakang mobil bersamanya. Duduk sambil menyandarkan kepala di dadanya. Sungguh aku ingin selalu seperti ini, tidak mau berpisah darinya. Aku ingin selalu bersamanya.
Susah memang jika hati sudah terlanjur mencinta. Serasa dunia hanya milik berdua. Tak ada lagi jarak, tak ada lagi senjang. Yang ada hanya cinta dan cinta. Dan aku merasakannya.
Sudah berakhir sudah penantian panjang akan kedatangan pangeran tampan yang kuidam-idamkan. Aku kira mimpi itu hanya sebatas angan yang tidak bisa kugapai. Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain. DIA memberiku pasangan yang begitu sempurna. Aku pikir dia tidak ada kurangnya. Ya, terkecuali dua sifatnya itu. Sifat mesum dan cemburunya yang tidak ketulungan.
"Kami langsung pulang saja, Rain. Aku harus mengemasi barang sebelum berangkat ke negara selanjutnya." Byrne bersuara sambil menyetir.
"Iyalah, aku juga. Lagipula buat apa menganggu sepasang insan yang sedang bermesraan. Yang ada malah iri." Owdie menambahkan.
Priaku mengusap wajahku. "Ya, ya. Kami juga mau istirahat. Ya, kan istriku?" tanyanya sambil mencolek daguku ini.
"Iya, Sayang."
Lantas tanpa malu aku menjawabnya seperti itu. Seketika itu juga Byrne dan Owdie terbatuk-batuk sendiri. Mereka seperti tidak kuat melihat kemesraan kami.
__ADS_1
Akhirnya tinggal menghitung hari.
Kami lantas segera menuju apartemen. Rencana besok pagi akan pindahan ke komplek perumahan Palm Jumeirah. Jadi untuk sementara waktu, kami menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu. Barulah setelahnya pindah ke sana. Ya, sudah. Aku mengikuti saja kemauan priaku.
Malam ini Rain memutuskan untuk tidur di apartemen sambil mengemasi barang-barangnya yang tersisa. Barulah esok hari keduanya akan pindah seutuhnya. Tak banyak memang barang yang tersisa, tapi membutuhkan kehati-hatian dalam memisahkan barang yang akan dibawa. Terutama dokumen berharga yang tidak terhitung nominalnya.
Sebagai calon istri, Ara lantas mengikuti semua kemauan Rain. Ia biarkan Rain mengatur semuanya sebagai calon kepala rumah tangga. Sehingga ia hanya tinggal mengikutinya saja.
Terlepas dari itu, kemesraan keduanya ternyata membuat Byrne dan Owdie sampai terbatuk-batuk sendiri. Tak menyangka akan melihat kemesraan ini langsung di depan mata mereka. Karena hal ini pertama kalinya bagi mereka melihat Rain seromantis ini kepada seorang wanita. Sebelum-sebelumnya tidak pernah.
Biasanya Rain hanya sekedarnya dan tidak terlalu menanggapi. Bahkan sikapnya yang seakan menolak untuk dekat kepada wanita, membuat dirinya diisukan gay oleh beberapa kerabatnya. Hanya dengan Ara sajalah ia pertama kali melakukan semuanya. Dengan gadis yang sebentar lagi akan menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya. Dan Rain juga sudah tidak sabar menantikan hal itu semua. Ia benar-benar menyayangi Ara.
Lain yang dirasakan Rain, lain pula yang dialami Lee. Lee tampak duduk termenung sambil menekuk kedua lututnya di bawah jendela kamar. Pria berpakaian serba hitam itu tampak merenungi apa yang terjadi pada hatinya. Dan kenyataan yang mau tak mau harus diterimanya. Lee gundah-gulana.
Di asrama pria...
Malam yang dingin menemani kesedihan akan angan yang tak sampai. Ia sudah percaya jika tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Ia merasa pasti ada alasannya mengapa dipertemukan dengan Ara, tidak mungkin tidak. Dan Lee amat memercayai hal itu. Namun nyatanya, semua berbeda.
Di tengah lamunannya akan sang gadis, tiba-tiba dering ponsel menyadarkannya. Ia lantas melihat siapa gerangan yang menelepon. Dan ternyata Jasmine lah yang meneleponnya. Lee pun segera menjawab telepon itu.
"Halo?" jawab Lee dengan suara sedikit serak.
"Dosen Lee, aku sudah di depan. Aku tunggu, ya." Jasmine berkata dari seberang.
Lee lantas melihat ke luar jendela. Ia pun melihat jika ada mobil Jasmine yang diparkirkan di tepi jalan. Rasanya ia sangat malas untuk keluar, tapi sang gadis berkulit putih itu sudah ada di depan.
"Em, baiklah. Tunggu sebentar." Lee mau tak mau mengiyakannya.
__ADS_1
Pria bersweter hitam itu lantas keluar dari kamar. Ia berniat menemui Jasmine yang sudah ada di depan asrama. Langkah kaki Lee terdengar kurang bersemangat malam ini. Ia masih kepikiran dengan Ara dan dengan apa yang dilihatnya di apartemen sore tadi.
Beberapa menit kemudian...
Gadis bergaun putih selutut itu tersenyum ke arah Lee saat Lee keluar dari asrama. Di tangannya memegang rantang makanan yang sudah pasti akan ia berikan kepada Lee. Namun, Lee hanya tersenyum tipis malam ini.
"Jasmine, hari ini tidak ada anak-anak yang latihan karate." Lee memberi tahu.
Jasmine pura-pura terkejut. "Benar, kah? Tapi aku sudah membawakannya." Jasmine memasang wajah sedih yang membuat Lee jadi tak enak hati.
"Ya, sudah. Nanti biar kumakan saja, ya." Lee lantas menerimanya agar Jasmine tidak kapok memberi makanan kepada anak-anak yang latihan karate.
"Baiklah." Jasmine pun tersenyum seraya mengangguk kepada Lee. "Dosen Lee, ada hal yang ingin aku bicarakan." Jasmine menuturkan tujuan utamanya bertemu dengan Lee malam ini.
"Tentang apa?" Lee terkejut seketika.
"Tentang hubunganku dan Rose. Aku mau cerita sebentar. Bisakah Dosen Lee menyediakan waktunya sedikit?" tanya Jasmine lagi.
Lee berpikir. Suasana hatinya sendiri kurang baik saat ini. Jika ditambah mendengarkan cerita orang lain, pastinya ia tidak dapat menanggapinya dengan baik. Tapi jika ditolak, Lee tidak enak hati sendiri.
"Em, Jasmine. Tidak enak mengobrol di sini, apalagi hari sudah malam." Lee beralasan agar Jasmine menunda ceritanya.
"Em, bagaimana jika di kafe dekat kampus saja?" Jasmine malah mencari tempat lain.
Lee tersenyum terpaksa. Terlihat dari raut wajahnya yang kurang bisa menerima. Tapi, ia berpikir secara logika. Jika menolaknya, Lee tahu harus berhadapan dengan siapa. Dan ia tidak ingin menambah rumit suasana hatinya.
"Baiklah. Tapi aku tidak bisa lama." Lee akhirnya mengiyakan.
__ADS_1
Betapa senang hati Jasmine karena Lee mau mendengarkan ceritanya. Terlebih Lee mau diajaknya ke kafe dekat kampus. Pantas saja jika hati Jasmine semakin berbunga-bunga. Ia tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi. Ia sudah merasa amat bahagia malam ini.