Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Plan


__ADS_3

Esok harinya, pukul tujuh pagi waktu Turki dan sekitarnya...


Pagi yang baru telah datang. Membuat Ara bangun lebih pagi dan ingin menyiapkan sarapan. Namun, istri dari sang penguasa itu tampak mual saat mencium salah satu bumbu masakan. Ia akhirnya menyingkirkan bumbu tersebut agar tidak tercium lagi. Tak lama kemudian ia pun bersin-bersin seperti alergi. Alhasil, ia tidak jadi membuat sarapan pagi ini.


Aduh, kenapa bisa begini?


Sekembali ke dunia sebenarnya, Ara mengalami mual layaknya ibu hamil. Ia tidak mengerti mengapa bisa seperti ini, padahal di Agartha ia tidak mengalaminya. Ara pun merasakan perubahan pada tubuhnya. Perutnya terasa membesar dan mulai begah. Pada akhirnya ia beristirahat sejenak untuk mengambil napas panjang.


"Nak? Sudah bangun?"


Sang ibu mertua keluar dari kamar. Pakaiannya sederhana dengan warna hitam polos disertai hijab yang menutupi kepala. Ia kaget melihat menantunya tengah duduk lemas di atas tikar ruang tamu. Ia kemudian mendekati Ara lalu menanyakan apa yang terjadi.


"Kau terlihat pucat. Apa sedang sakit?" tanya ibu mertua kepada Ara.


Ara menghela napasnya. Ia mencoba meredakan rasa mual dengan menarik napas panjang-panjang. "Aku tidak tahu, Bu. Rasanya mual sekali pagi ini. Saat mencium salah satu bumbu dapur, mualku semakin bertambah." Ara menceritakan.


Ibu Rain mengangguk. "Ara ingin membuat sarapan ya tadi?" tanya ibu Rain, menoleh ke arah dapur sejenak.


Ara mengangguk.


"Tidak perlu, Nak." Ibu Rain tersenyum. "Biar ibu saja yang membuatkan sarapan paginya. Tunggu sebentar ya." Sang ibu mertua bergegas menuju dapur. Meninggalkan Ara yang terduduk lemas di atas tikar.


Ara belum terbiasa dengan kondisi tubuhnya saat ini. Sekarang yang ia rasakan perutnya sangat begah dan juga mual ingin muntah. Ia pun mengusap perutnya agar rasa mual yang mendera bisa sedikit reda. Namun, saat itu juga ia merasa aneh dengan perubahan tubuhnya.


Kenapa perutku terasa membesar dengan cepat ya?


Ara khawatir. Ia cemas memikirkan janin yang ada di dalam kandungan. Ia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena melewati portal dimensi. Tak lama sang suami pun turun dari lantas atas dan melihatnya. Rain segera mendekati Ara yang duduk sendirian di atas tikar.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Rain tampak cemas melihat istrinya.

__ADS_1


Ara pucat. Ia terlihat lemas. Rain pun sedikit panik melihat wajah Ara sepucat ini. Tak lama sang ibu datang membawakan segelas minuman hangat.


"Nak Ara, ibu sudah buatkan air jahe untukmu. Minumlah untuk meredakan rasa mualnya." Sang ibu memberikan segelas air jahe untuk Ara.


Air jahe?!


Ara terkejut. Ia tak menyangka jika di kota ini menggunakan air jahe sebagai pereda rasa mual. Sama seperti di negerinya. Biasanya orang-orang membuat wedang jahe untuk menghangatkan badan dan tenggorokan. Air jahe juga dipercaya bisa meredakan rasa mual yang berlebihan.


"Terima kasih, Bu."


Ara pun meminum air jahe buatan ibu mertuanya. Sedang Rain tetap menemani Ara di sisinya. Ia berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Karena bagaimanapun Rain tahu kelebihan apa yang dimiliki istrinya. Ia tidak ingin Ara mengalami hal seperti yang terjadi di Agartha waktu itu.


Beberapa jam kemudian...


Ibu Rain sedang pergi meminta izin kepada orang yang mempekerjakannya agar dapat libur bekerja selama beberapa hari. Sedang Rain berada di dalam rumah sambil berbincang dengan istrinya. Keduanya menyusun rencana tentang hal apa saja yang akan mereka lakukan hari ini. Sambil duduk-duduk Ara pun menuturkan apa yang ia rasakan kepada suaminya. Saat itu juga Rain merasa terheran sendiri.


"Apa mungkin kandunganmu menyesuaikan diri dengan waktu di dunia ini?" Rain tampak berpikir. Ia melihat perut istrinya mulai membesar dengan cepat.


Rain terheran. "Sebenarnya kita sudah berapa lama pergi dari bumi ini?" tanyanya sendiri.


"Sayang, coba lihat kalender milik ibu," pinta Ara kepada suaminya.


Rain pun mengangguk. Ia segera beranjak bangun untuk mencari kalender. Rain ingin melihat tanggal dan bulan berapa sekarang. Tak lama ia menemukan sesuatu di pojokan rumah yang terpaku di dinding. Rain pun melihatnya dengan saksama.


Astaga?!


Saat itu juga ia terperanjat kaget kala melihat coretan silang yang ada di kalender. Ia menelan ludahnya sendiri. Menarik napas dalam-dalam karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Sayang?" Ara pun menegurnya karena lama di pojokan.

__ADS_1


"Em, iya." Rain segera mengambil kalender itu untuk istrinya. Ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Ada apa Sayang?" tanya Ara saat Rain sudah berada di hadapannya.


Rain diam. Ia hanya menunjukkan kalender yang ditemukannya. Saat itu juga Ara terperanjat kaget melihatnya. Sama seperti yang dialami suaminya. Ternyata waktu dunianya sudah beranjak lama dari hari terakhir mereka di sini.


"Tiga Juni?" Ara tak percaya melihat tanggal dan bulan hari ini.


Rain mengangguk. "Itu berarti perbedaan waktu antara dunia ini dan Agartha cukup jauh, Sayang." Rain mengakuinya.


Ara menghela napas dalam-dalam. "Berarti kita sudah setengah tahun tak berada di sini?" Ara berpikir sendiri.


Rain mengembuskan napasnya. "Apa karena hal itu juga kau merasa begah? Apa anak kita mengalami pertumbuhan cepat di dalam sana?" Rain mengira-ngira.


Ara merenungi hal ini. "Aku tidak tahu. Tapi itu bisa saja terjadi. Tapi, apakah orang lain bisa memercayai hal ini?" Ara khawatir.


Rain terdiam sejenak. Ia tampak berpikir. "Aku menelepon Owdie semalam. Dan aku sudah meminjam uang padanya." Rain menceritakan.


"Lalu?" Ara ingin tahu lebih lanjut.


"Kita bisa periksakan kandunganmu selepas mengambil uang itu. Aku meminjam satu juta dolar kepada Owdie. Rencana akan kubagi denganmu dan juga ibu." Rain mulai mengutarakan tujuannya.


"Apa ada hal yang ingin kau lakukan?" tanya Ara sambil mengusap perutnya.


Rain mengangguk. "Ya. Aku mempunyai rencana untuk menemui kakek. Tapi, untuk saat ini hanya sebatas rencana. Aku belum memikirkannya lebih lanjut," tutur Rain lagi.


Saat itu juga Ara merasa akan ada peristiwa yang menimpanya. Jantungnya berdegup kencang mendengar suaminya ingin pergi menemui sang kakek. Ara pun cemas memikirkan hal ini.


Apakah ini tanda-tanda dari akan terputusnya gantungan bintang dan bulan di gelangku?

__ADS_1


Tentu saja ucapan Rain seperti menyiratkan peristiwa yang akan terjadi, berkaitan dengan gantungan bulan dan bintang di gelangnya. Yang mana dengan peristiwa itu salah satu gantungan di gelang Ara bisa terlepas. Ara pun harap-harap cemas menantikannya. Ia merasa deg-degan untuk menanti peristiwa apa yang akan terjadi selanjutnya.


__ADS_2