Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Shocked


__ADS_3

Esok harinya...


Pagi ini aku terbangun dengan hati yang riang gembira. Kulihat video call kami masih terus tersambung tanpa dimatikan sedikit pun. Dan aku bisa melihatnya yang masih tertidur di sana. Lantas aku beranjak bangun untuk menyeduh secangkir kopi. Hari ini aku harus semangat lagi.


Sebenarnya hari Sabtu tidak ada jadwal kuliah untukku. Hanya saja terkadang ada jadwal tambahan untuk mengejar ketertinggalan. Dan ya hari ini aku mempunyai satu mata kuliah untuk kuikuti, sekitar jam sembilan nanti. Sehingga sekarang bisa bersantai sejenak sebelum mandi pagi.


Malam ini priaku akan segera kembali. Dia bilang pertemuan selesai jam sembilan malam lalu akan segera pulang ke Dubai. Kemungkinan sampai di sini sekitar lima atau enam jam kemudian. Sungguh aku jadi tidak sabar untuk segera bertemu dengannya.


Ngapain dulu, ya?


Lantas aku keluar rumah, melihat indahnya pemandangan lepas pantai. Tiba-tiba saja terbesit ide untuk berolahraga. Ya, sudah. Lekas-lekas aku ke kamar mandi, membasuh muka dan menggosok gigi. Setelahnya berganti pakaian olahraga kemudian memutari komplek perumahan ini sambil menikmati pemandangan pantai di pagi hari.


Segarnya udara pagi ....


Kunikmati hari ini dengan hati yang riang dan gembira. Walaupun terkadang ada duka yang menyerta. Aku harus tetap semangat menjalani hari, apapun yang terjadi. Karena bagaimanapun hati terluka, waktu akan terus berjalan tiada henti. Lalu untuk apa berlarut-larut dalam sedih? Sedang saingan sudah jauh melampaui.


Ah, ngomong apa sih aku ini.


Aku keluar rumah dengan tanpa menggunakan make up. Pertama-tama berjalan kecil di pesisir pantai lalu kemudian langkah kakiku dipercepat. Hingga akhirnya aku terbiasa berjalan cepat di atas pasir. Aku menyukai lari pagi hari ini.


Entah mengapa, tiba-tiba saja tubuhku merinding saat sudah berlari beberapa puluh meter dari rumah. Seperti ada seseorang yang tengah mengawasi dari jauh. Lantas aku melihat ke belakang, tapi ternyata tidak ada orang. Aku seperti sedang diintai sekarang.


Kenapa perasaan itu datang lagi?


Aku tidak tahu kenapa. Baru beberapa menit berolahraga rasanya sudah berbeda. Lantas segera saja aku kembali ke rumah karena khawatir ada yang mengikuti. Kata priaku rumah baru ini sudah mendapat pengawasan yang ketat. Berarti jika di luar rumah akan lain lagi ceritanya. Ya sudah, aku kembali saja.


Apakah aku demam, ya?


Sesampainya di rumah, aku segera mengecek suhu tubuh. Dan ternyata suhu tubuhku normal. Lantas aku menelepon priaku, berniat menceritakan hal yang kualami. Tapi, dia ternyata masih tertidur di sana. Aku jadi bingung harus cerita kepada siapa. Kulihat jam juga sudah menunjukkan pukul tujuh lewat. Jadi ya aku bergegas mandi saja untuk kuliah.


Setengah jam kemudian...

__ADS_1


Video call kami terpaksa kuakhiri karena ingin menelepon Jack untuk meminta jemput. Aku ingin berangkat lebih awal hari ini. Karena cemas jika lama-lama sendirian di sini. Selang beberapa menit kemudian, Jack pun datang menjemputku. Sepertinya dia memang sudah siap sedari tadi.


Cerita tidak, ya?


Aku masih segan jika ingin menceritakan perihal yang kualami kepada Jack. Aku dan Jack tidak mempunyai hubungan dekat selain karena priaku saja. Jadi akhirnya kusimpan sendiri perasaan ini.


"Silakan, Nona."


Jack membukakan pintu mobil untukku. Kami akhirnya segera melaju ke kampus. Dan kulihat jalanan kota masih tampak sepi hari ini, tidak seramai hari biasanya. Mungkin karena akhir pekan jadi belum terlalu ramai. Tapi aku berharap hati kami selalu ramai dipenuhi cinta kasih yang sejati. Dan aku selalu berharap kisah kami abadi.


Menit demi menit aku lalui hingga akhirnya tiba di gerbang kampus. Aku lantas berpamitan kepada Jack dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


Pagi ini kami tidak banyak bicara karena belum ada bahan pembicaraan yang pas. Mungkin lain waktu kami bisa lebih akrab lagi. Tentunya bersama priaku yang menemani. Karena bagaimanapun ini di Uni Emirat Arab. Tak pantas pria dan wanita berbicara tanpa saksi. Apalagi jika salah satu sudah berstatus istri atau suami orang lain.


"Taka masuk tidak ya hari ini?"


Lantas setelah keluar dari mobil, aku berniat menelepon Taka. Beberapa meter berjalan dari gerbang aku sibuk meneleponnya. Tanpa menyadari jika ada orang di depan mata.


"Hai, Ara." Seorang pria memberiku setangkai bunga mawar merah.


"Terimalah bunga ini," katanya yang sontak membuatku terkejut.


"Tap-tapi—" Aku berusaha menolaknya.


"Tak apa hanya sekedar menerima. Mengapa keberatan sekali?" Kulihat Lee tertawa sendiri.


Aku pun jadi tidak enak hati padanya. Jelas-jelas kemarin petang aku mematikan teleponnya begitu saja, karena tidak mau melanjutkan pembicaraan. Tapi kini di depanku dia memberiku bunga. Rasanya malu hatiku ini.


"Hari ini ada jam kuliah?" tanyanya padaku.


"Em, ada," jawabku kaku.

__ADS_1


"Nanti kuantar pulang, boleh?" tanyanya lagi.


"Eh! Tidak usah, Dosen Lee." Aku menolaknya.


"Kenapa? Apa kau takut padaku?" tanyanya yang membuatku bingung harus menjawab apa.


Sebenarnya aku hanya menjaga jarak darinya. Aku tidak ingin dia berpikiran yang macam-macam tentangku. Aku juga sudah akan menikah. Kurang baik rasanya jika pergi bersama pria yang bukan calon suamiku. Jadi ya sebisa mungkin aku menjaga diri.


"Dosen Lee, maaf aku—"


"Dosen Lee!"


Belum sempat meneruskan kata-kata, kulihat seorang gadis berblus putih datang menghampiri kami. Aku kenal siapa gadis itu, dia adalah Jasmine. Dia datang dengan wajah sinis kepadaku. Aku seperti membuat kesalahan saja padanya.


"Dosen Lee sudah datang?" tanyanya.


Kutahu sedang berada di situasi apa sekarang. Aku juga tidak ingin berada di antara dua orang yang sedang dekat. Lantas aku beranjak pergi dari keduanya. Kubungkukkan sedikit badan lalu berbalik menuju ke kelas. Tapi, bersamaan dengan itu Lee memegang tanganku.


Dosen Lee?!


Sungguh aku terkejut. Kulihat tangannya memegang pergelangan tanganku ini. Jasmine pun melihat bagaimana sikap Lee padaku.


"Kau sudah kenal dengan Ara?" Lee bertanya kepada Jasmine.


Kulihat Jasmine menggelengkan kepalanya. Dia menatapku dengan tatapan yang membunuh. Aku jadi ngeri melihatnya.


"Em, Dosen Lee. Sebaiknya aku pergi." Aku berusaha melepaskan tanganku dari pegangan tangannya.


Lee lalu beralih kepadaku. "Kalian kenalan dulu agar lebih akrab. Kudengar kalian sempat mempunyai masalah kemarin."


Entah mengapa Lee berkata seperti itu. Seolah-olah dia mengetahui apa yang terjadi sebelumnya padaku dan Jasmine. Dimana Jasmine dan Rose menghadangku waktu itu.

__ADS_1


"Em, Dosen Lee. Aku rasa kami sudah kenal. Terima kasih." Akhirnya aku bisa melepaskan tanganku darinya.


Jasmine menatapku penuh heran. Mungkin dia bingung kenapa Lee bisa seakrab ini denganku. Di depannya Lee juga tanpa segan memegang tanganku. Tapi, sungguh aku tidak ingin hal ini sampai terjadi. Kuakui jika Lee begitu tampan. Tapi maaf, hatiku sudah tidak bisa lagi tergoyahkan. Aku hanya mencintai priaku, mencintai hujan yang begitu syahdu.


__ADS_2