
Sementara itu di lain tempat, di waktu yang bersamaan...
Jane dan Nail mampir ke sebuah restoran untuk makan siang bersama. Makan siang yang tidak gratis dan mempunyai tujuan di dalamnya. Kedua pun merokok untuk menghilangkan rasa suntuk yang ada. Pria berjaket hitam itu tampak meneguk anggur miliknya yang dibelikan oleh Jane.
"Berapa lama aku akan mendapatkan kabar?" tanya Jane kepada Nail sambil mengembuskan asap rokoknya.
"Satu hari." Nail merasa yakin.
"Penyihir itu bisa memastikan?" tanya Jane lagi.
"Dia bukan penyihir biasa, Nona. Dia sudah ahli dalam melakukan jenis sihir apapun. Jam terbangnya sangat tinggi. Jadi dia pun meminta bayarannya tinggi kemarin." Nail mematikan puntung rokoknya ke asbak.
Jane meneguk anggurnya. "Aku tidak peduli berapa biayanya asal Rain kembali padaku. Aku akan menunggu kabar selanjutnya dalam satu hari ke depan. Aku harap kali ini tidak akan mengecewakan." Jane kembali menghisap rokoknya.
"Maaf, Nona. Kemarin saya dapatkan kabar jika tuan Rain sedang pergi, sehingga sihir itu tidak dapat mengenainya dengan cepat. Tapi sekarang Nona tidak perlu khawatir, karena mereka akan tiba hari ini. Dan kita tinggal menunggu kabar selanjutnya saja." Nail meyakinkan.
"Oke. Aku serahkan semuanya padamu. Tapi tetap berhati-hati. Jangan sampai ketahuan oleh Rain. Suruh orang lain lagi untuk menjalankan misi ini. Bergeraklah di balik layar dengan baik. Jangan sampai semuanya berbalik kepada kita." Jane berpesan.
"Baik, Nona." Nail mengiyakan.
Jane kemudian mengeluarkan amplop berisi uang kepada Nail. Amplop berwarna cokelat dengan ribuan uang dolar di dalamnya. Nail pun merasa amat senang menerimanya. Ia semakin bersemangat menjalankan misi memecah belah hubungan Ara dan Rain.
Aku tidak peduli apa yang terjadi selanjutnya. Aku hanya menginginkan uang.
Nail segera memasukkan amplop itu ke dalam saku jaketnya. Sementara Jane masih asik merokok hingga satu batang rokok itu habis dihisap olehnya. Ia menantikan momen di mana Rain kembali dan mengemis cinta padanya.
Rain, jangan salahkan aku jika semakin menggila karena perbuatanmu yang ingin menikahinya, tanpa memikirkan bagaimana perasaanku. Jika kali ini tidak berhasil juga, aku akan membuat hal yang lebih tragis untuk gadis itu. Jadi jangan salahkan aku, tapi salahkan dirimu yang bermain-main dengan hatiku.
Siang ini menjadi saksi niat buruk Jane kepada Ara dan juga Rain. Tujuan utamanya adalah memisahkan keduanya agar Rain kembali lagi kepada Jane. Karena Jane merasa kebersamaannya bersama Rain selama tujuh tahun ini patut untuk dipertimbangkan. Ia tidak rela jika Rain meninggalkannya begitu saja. Jane akan berusaha mendapatkan Rain apapun caranya.
__ADS_1
Kembali ke rumah sakit...
Rain duduk di kursi sambil menemani Ara yang sedang tidur dalam sekali. Ia pegang tangan kanan sang gadis lalu menciumnya. Ia terlihat sedih begitu mengetahui keadaan yang sebenarnya.
"Ara, apa hal ini terjadi karena dosa yang kita perbuat sebelum hari pernikahan?"
Ia lantas mencari-cari sendiri penyebab Ara sampai begini. Ia merasa kesal dengan dirinya karena tidak bisa menjaga calon istrinya dengan baik. Di lain sisi ia juga tidak dapat menafikan keinginan terpendamnya selama ini. Rain merasa bersalah kepada gadisnya.
"Ara, bangunlah. Aku membutuhkanmu." Rain kembali mengecup tangan gadisnya.
Tak lama pintu ruangan diketuk. Rain pun mempersilakan masuk siapa yang datang. Dan ternyata yang datang adalah Jack, supir pribadinya sendiri. Jack lalu mendekati Rain yang sedang menemani Ara di sisi pembaringan.
"Tuan." Jack menghadap Rain yang tidak kunjung keluar setelah berbicara dengan dokter yang menangani Ara.
"Jack, apakah cobaan pernikahan seberat ini?" tanya Rain dengan suara serak.
"Tuan, bolehkah saya berinisiatif untuk mencari akar dari permasalahan ini?" Jack meminta.
"Maksudmu?" Rain segera menoleh ke arah Jack yang berdiri di belakangnya.
"Saya merasa ada hal tidak beres terjadi akhir-akhir ini. Saya ingin meminta bantuan kepada seseorang untuk membuka tabir dari apa yang terjadi pada nona Ara." Jack menuturkan.
Rain membalikkan badannya menghadap Jack. "Lakukan saja. Aku menyetujuinya asal Ara bisa cepat tersadarkan. Berapapun biayanya aku tidak mempermasalahkan," kata Rain lagi.
"Mohon maaf, Tuan." Jack membungkuk. "Dia adalah seseorang yang dituakan dan tidak meminta imbalan. Secepatnya saya akan mengabarkan kepada Anda." Jack berinisiatif mengambil tindakan.
"Baik. Aku tunggu kabar selanjutnya. Tolong bantu aku agar Ara lekas tersadar," pinta Rain kembali.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi." Jack undur diri dari hadapan Rain.
__ADS_1
Jack menyerahkan kunci mobil kepada Rain. Ia kemudian bergegas pergi dengan menaiki taksi online, menuju rumah seseorang yang dituakan dalam hal pengobatan batin. Jack ingin membantu Rain menyelesaikan masalah yang sedang melanda. Ia tidak tega membiarkan tuannya ditimpa masalah bertubi-tubi menjelang hari pernikahan.
Lain Rain, lain pula dengan Ara. Ara yang notabene sedang berada dalam keadaan delta, di mana ia tidur dengan dalamnya, mengalami sesuatu hal yang menakjubkan di alam bawah sadarnya. Jiwanya terbangun di lain tempat yang sangat asing dengan pakaian khas pasien rumah sakit. Ia kemudian beranjak melihat keadaan sekitar yang terlihat samar-samar di kedua matanya.
"Di mana aku?"
Satu pertanyaan muncul saat ia melihat hamparan hijau berada di depan kedua matanya. Ia lantas beranjak bangun dengan tertatih. Ia mencoba duduk dari tidurnya yang telungkup.
"Ini ...?!"
Ia melihat sebuah pohon besar dengan daun rimbun yang hampir menyentuh tanah. Ia lantas memutar tubuhnya untuk melihat keadaan di sekeliling. Tak lama ia pun menyadari jika sedang berada di atas bukit.
"Astaga! Kenapa aku bisa berada di sini?!"
Ia terkejut saat melihat rerumputan bukit yang terhampar luas. Ia pun ingin memastikan pohon apa yang ada di dekatnya ini. Ia lantas melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rerimbunan pohon tersebut. Langkah demi langkahnya terasa amat berat, hingga akhirnya sampai di dekat pohon dan berhasil memegang daunnya.
"Sepertinya daun ini tidak asing?!"
Ia diselimuti banyak pertanyaan yang muncul di dalam benaknya. Tapi, ia ingin membuktikan sendiri pohon apa yang ada di hadapannya ini. Ia lantas masuk untuk melihat jenis buah dari pohon tersebut. Dan ternyata...
Jantungnya berdegup kencang tak terkendali. Ia melihat buah dari pohon ini sangat banyak yang membuat hatinya terpana sendiri. Buah-buah berwarna merah yang sudah masak dan siap untuk dimakan kapan saja. Ia lantas mencoba memetik satu buah dari pohon tersebut.
"Kenapa susah sekali?"
Ia merasa bingung saat mencoba memetik buahnya namun tidak bisa. Ia lantas memperhatikan lebih jelas pohon apa yang ada di hadapannya. Dan setelah mencoba mengingatnya, ia mendapati jenis pohon yang buahnya susah sekali untuk dipetik. Tiba-tiba saja ia teringat dengan sesuatu.
"Astaga, ini?!!"
Ara menyadari jika pohon besar di hadapannya adalah pohon yang tak asing baginya. Pohon itu bernama pohon Ara yang berada di bukit pohon surga.
__ADS_1