
Dubai, pukul empat sore...
Angin sore mengantarkan kepulangan sang penguasa ke apartemennya. Sesampainya di apartemen, sang gadis segera menyambut kedatangannya dengan senyum termanis yang ia punya. Gadis berkebangsaan Indonesia itu tanpa malu memeluk calon suaminya di depan sepasang suami istri yang telah mempunyai dua orang putra. Sepertinya rasa rindu di hati sang gadis tidak bisa dipendam lebih lama. Jack beserta keluarga pun segera berpamitan kepada keduanya.
Sore ini Jack segera kembali bersama keluarganya. Rain sendiri yang meminta mereka beristirahat setelah lelah menunggu calon istrinya semalaman. Rain bukanlah seorang pemimpin yang otoriter terhadap bawahannya. Ia memperlakukan bawahan layaknya saudara sendiri. Sehingga hal itulah yang membuat semua bawahannya merasa segan.
"Tumben bisa pulang cepat?"
Gadis bersweter biru muda menemani Rain berjalan menuju ruang cuci pakaian. Sang penguasa berniat segera mandi untuk melepas lelah dari aktivitas hari ini.
"Ya, aku ingin menemanimu lebih lama, Ara," katanya seraya tersenyum kepada sang gadis.
"Aku bisa menunggunya, kok," terang Ara yang juga ikut tersenyum kepada Rain.
Tanpa terasa keduanya sudah sampai di depan kamar. Ara lantas membantu melepaskan jas yang Rain pakai, seperti seorang istri kepada suaminya. Rain pun memperhatikan bagaimana sang gadis melayaninya dengan baik.
"Aku ingin mandi, kau mau ikut?" tanya Rain asal.
Sontak Ara terdiam kala mendengar pertanyaan dari calon suaminya. Ia menatap Rain dengan tatapan bingung yang mana membuat Rain terkekeh sendiri.
"Kau ini lucu sekali, jangan memasang ekspresi seperti itu di depanku." Rain mencubit hidung gadisnya.
"Ish, aku bingung tahu," balas Ara.
"Bingung?" Rain lalu mengangkat tubuh gadisnya.
"Hei, lepaskan! Nanti aku jatuh!" Ara memukul-mukul pundak Rain karena takut jatuh.
Rain lalu menurunkan Ara. "Kau belum percaya padaku juga?" tanyanya sambil menatap dalam sang gadis.
Keduanya bertatapan, saling menikmati indah paras masing-masing. Rain lalu mengusap pipi gadisnya dengan lembut. Pria berkemeja putih itu lalu mencium kening gadisnya dengan sepenuh hati. Kedua mata Ara pun lantas terpejam.
"Aku merindukanmu, Ara. Jangan pergi lagi, ya?" Rain mendekap Ara ke dalam pelukannya.
Sang gadis dapat mendengar jelas suara detak jantung prianya. Ia tersenyum seraya mengangguk. Ara pun tidak ingin pergi lagi. Kejadian kemarin memang benar-benar di luar kendalinya.
"Sudah mandi sana. Aku siapkan makan, ya." Ara mendorong lembut Rain agar segera mandi.
__ADS_1
Rain mengangguk. "Baiklah, tunggu aku." Rain mengiyakan permintaan gadisnya.
Sang penguasa mengambil handuk lalu melepas seluruh pakaiannya. Ia bergegas mandi agar bisa segera bersantai bersama Ara. Sedang Ara membuatkan hidangan untuk disantap oleh keduanya. Mereka bak keluarga yang bahagia.
Satu jam kemudian...
Semburat merah sudah menyelimuti langit Kota Dubai. Seluruh pintu dan jendela juga sudah dikunci rapat-rapat oleh sepasang insan yang akan segera melepas masa lajangnya. Keduanya kini tengah duduk di ruang tamu sambil menonton tayangan kartun lucu dari televisi. Terlihat sang gadis yang merebahkan kepalanya di dada Rain. Ia duduk di sisi kiri sang penguasa.
Di meja tamu ada sebuah laptop yang sengaja dihidupkan oleh Rain. Laptop pribadi yang digunakannya untuk bekerja. Rencana Rain akan menyelesaikan pekerjaannya hari ini juga, agar bisa menemani Ara lebih lama di apartemen.
"Aku mempunyai rencana untuk menemui Jane selepas pertemuan esok." Rain membuka pembicaraan.
Ara mengangkat kepala dari dada Rain yang bidang. "Kau ingin menemuinya?" tanya Ara segera.
"Ya. Aku rasa harus membicarakan hal ini baik-baik dengannya. Aku curiga jika dia adalah dalang dari semua kejadian yang kau alami." Rain mengungkapkan pikirannya.
Ara tertegun, ia memalingkan pandangannya dari Rain.
"Ara, apakah dia pernah menemuimu sebelum semua kejadian ini?" tanya Rain ingin tahu.
Ara menoleh ke arah Rain. "Apa aku harus menjawabnya?" Ara terlihat khawatir sendiri.
Tersirat keraguan dari wajah sang gadis. Ia seperti enggan menceritakan hal yang sebenarnya. Sedang Rain masih menunggunya. Ia berharap Ara bisa menceritakan perihal yang terjadi sebelum peristiwa ini menimpanya.
"Waktu itu ... dia memang pernah mendatangiku ke kampus." Ara mulai mengatakan hal yang sebenarnya.
"Lalu?"
Raut wajah Rain berubah drastis. Dari lembut menjadi khawatir. Keningnya berkerut saat mendengar jika Jane pernah mendatangi Ara di kampus.
"Dia memintaku untuk meninggalkanmu," jawab Ara seraya menatap Rain.
"Astaga! Dia memintamu seperti itu?!" Rain tak percaya, ia terlihat kesal.
Ara mengangguk lalu memegang tangan Rain. "Tapi aku tidak mengindahkannya. Walaupun dia sudah menjanjikan uang yang besar untukku." Ara berkata jujur.
Sontak Rain amat terkejut mendengar hal ini. "Ara, katakan serinci mungkin bagaimana kejadiannya? Aku ingin mengetahui lebih jelas." Emosi Rain seperti tersulut.
__ADS_1
"Sayang." Suara Ara melembut. "Kau tidak perlu cemas. Dia tidak melakukan apapun padaku." Ara memegang pipi Rain.
Rain memegang tangan Ara yang memegang pipinya. "Ara, tolong katakan. Aku tidak ingin terjadi salah paham. Aku ingin kebenaran. Tolong." Rain memohon.
Sang gadis terenyuh dengan permohonan calon suaminya. Ia sebenarnya enggan menceritakan hal yang terjadi waktu itu. Tapi karena Rain memintanya dengan sungguh-sungguh, mau tak mau Ara menceritakannya. Dan setelah mendengar cerita dari Ara, bertambah kuat lah dugaan Rain selama ini.
Dia berani mengancam Ara?!
Rain tak percaya saat mendengar cerita Ara tanpa bumbu tambahan atau lainnya. Ara menceritakan kejadian yang sebenarnya waktu itu.
Ya Tuhan. Selama ini gadisku menutupinya dariku. Apa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai mengabaikan hal ini?
Rain mengusap kepalanya sendiri. Tak lama berselang, dering telepon menyadarkannya. Ia kemudian lekas-lekas menjawab panggilan masuk itu, yang ternyata dari asisten pribadinya sendiri, Ro.
"Halo?" Rain menjawabnya segera.
"Tuan, saya sudah mendapat info dari hasil penyelidikan kasus kemarin. Saya sudah mengirimkannya ke email Tuan. Tuan bisa mengeceknya sekarang." Ro menuturkan dari seberang.
"Baik."
Rain lantas membuka email di laptopnya dengan sambungan telepon yang masih terhubung. Ia kemudian mengamati foto-foto yang dikirimkan ke email-nya itu. Ara pun ikut melihatnya.
"Astaga!" Rain amat terkejut saat melihat foto terakhir. "Ro?" Rain tak percaya.
"Tuan, apakah Anda mengenal wanita tersebut?" tanya Ro kepada Rain.
"Ya, aku mengenalnya. Untuk sementara hentikan penyelidikan kasus ini. Biar aku sendiri yang menindaklanjutinya." Rain berkata tegas.
"Baik, Tuan."
Ro lantas menutup teleponnya. Bersamaan dengan itu Rain segera memperbesar gambar yang ia terima di layar laptop. Ia perhatikan sosok wanita berblezer putih yang ada di dalam foto tersebut.
"Sayang?" Ara tampak bingung sendiri.
"Ara. Aku akan menyelesaikan hal ini secepatnya. Kau jangan khawatir." Rain lalu memeluk gadisnya.
Ara tidak mengerti mengapa wajah Rain tiba-tiba berubah seperti ini. Namun, ia biarkan tubuh calon suaminya memberikan kehangatan kepada dirinya. Ara tidak mau berpikiran yang macam-macam untuk saat ini. Ia masih dalam tahap proses pemulihan diri.
__ADS_1
Entah apa yang dilihat oleh Rain, sang penguasa tampak begitu cemas dengan kabar yang baru saja diberikan oleh asisten pribadinya.