
"Sayang, ada apa?" Ara ikut berdiri, berjalan mendekati Rain.
"Biasa, kakekku." Rain memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Kau kena marah?" tanya Ara lagi.
"Hah, tidak. Nada bicara dia memang seperti itu. Sudahlah, kita teruskan saja yang tadi." Rain mengajak Ara kembali duduk, Ara pun menurut.
Keduanya lalu duduk di kursi panjang. Rain duduk di sisi kanan sang gadis. Ia pandangi kedua bola mata Ara yang hitam. Perlahan wajahnya pun mulai mendekat.
Tuan ... aku tidak bisa menolaknya. Karena aku ... mencintaimu.
Semilir angin siang menemani keduanya. Bibir Rain pun semakin mendekati bibir Ara yang terpoles lipglos berwarna pink. Hangat napas masing-masing mulai dapat dirasakan oleh mereka. Dan akhirnya...
Sebuah dering telepon kembali berbunyi, mengagetkan keduanya. Padahal bibir mereka hampir saja bertemu.
"Siapa lagi, sih?!"
Dengan kesal Rain mengambil ponsel dari saku. Dan ternyata yang menelepon adalah...
"Ada apa?!" tanya Rain tanpa basa-basi.
"Rain, aku membeli baju Helloween yang bagus. Tapi CD di luar. Kau mau tidak?" tanya suara dari seberang.
"Owdieeee!!!" Rain menahan kesalnya.
"Hei, aku hanya bertanya. Kenapa kau mengejan seperti itu? Apa perutmu sedang mulas?" tanya Owdie kembali.
"Bisa tidak meneleponku jika ada hal yang penting saja?!" tanya Rain sambil memasang wajah kesalnya.
Ara terkekeh mendengar percakapan Rain dan saudaranya. Hampir-hampir saja suara tawanya terdengar jika ia tidak cepat-cepat menutup mulutnya. Tak lama Rain pun mematikan teleponnya.
"Hah, ada-ada saja." Rain memasukan kembali ponselnya ke saku celana.
"Kalian sepertinya dekat sekali, ya?" Ara ingin tahu.
"Ya, begitu. Sejak kecil kami dibesarkan bersama. Jadi sudah tahu dalaman masing-masing." Rain kembali fokus ke Ara, ia tersenyum kepada sang gadis.
Tuan, kadang aku ingin lebih banyak tahu tentangmu.
"Ara."
__ADS_1
"Hm?"
"Lanjutkan, ya. Sudah di ujung," kata Rain yang membuat Ara geli sendiri.
"He-em." Ara pun mengangguk, ia mulai memejamkan kedua mata.
Rain tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Dimana sang gadis tampak pasrah menerima apa yang akan ia lakukan. Ia lalu membelai lembut pipi Ara dan perlahan-lahan memegang tengkuk leher gadisnya. Sang gadis tampak merinding di hadapan Rain. Di saat itu juga Rain mendekatkan bibirnya, berniat mencium Ara. Tetapi...
Dering telepon kembali menganggu mereka.
"Sayang?" Ara membuka kedua matanya, begitu juga dengan Rain.
"Em, maaf. Aku angkat sebentar teleponnya, ya." Rain tidak enak hati sendiri.
"He-em." Ara pun mengangguk.
Rain segera mengangkat telepon itu. "Apalagi?!" tanyanya tanpa basa-basi.
"Hei, Rain. Jangan galak-galak seperti itu. Aku hanya ingin menawarkan kesempatan bagus untukmu." Ternyata Owdie yang menelepon lagi.
"Cepat katakan!" Rain memijat dahinya sendiri.
"Rain, ada pakaian Helloween bagus untukmu. Tapi CD-nya di luar." Owdie mengatakannya lagi.
Kasar, kasar, kasar.
Ara pun segera pergi. Ia tidak ingin ikut-ikutan melihat kemarahan Rain.
"Sekali lagi kau menelepon untuk hal yang tidak penting, aku akan mengirimkan sniper untukmu!" Rain kesal bukan main kepada saudaranya.
Ia pun segera mematikan teleponnya. Sial! Mengganggu saja. Setelahnya Rain kembali fokus ke Ara.
"Ara?!" Ia kebingungan saat melihat Ara tidak lagi berada di tempatnya.
Semua ini gara-gara Owdie! Ciumanku hilang begitu saja! Ia menggerutu setelah menyadari kesempatannya hilang begitu saja.
Sang penguasa terlihat kesal sendiri. Ia lalu segera pergi untuk mencari di mana keberadaan gadisnya.
...
Waktu terus berlalu, kedua insan itu sudah berpisah beberapa menit yang lalu. Dan kini sang gadis duduk di depan meja laptopnya. Ia mulai meneruskan cerita yang telah dibuat.
__ADS_1
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu. Tugas kampus pun hanya ada satu hari ini. Namun, Ara belum mengerjakannya. Mood-nya masih ingin meneruskan ceritanya sendiri.
Andai saja ceritaku ada yang melirik.
Kata demi kata ia ketik. Kalimat demi kalimat ia susun. Paragraf demi paragraf pun ia kembangkan menjadi narasi yang indah. Dan akhirnya, seribu kata dalam sejam mampu ia selesaikan.
"Aku belum sempat belanja minggu ini. Lebih baik kulihat keperluan apa saja yang harus kubeli."
Ia menggulung cepat rambutnya lalu bergegas ke dapur. Tak lupa dengan mematikan laptopnya terlebih dahulu. Sesampainya di dapur ia segera mengecek keperluan apa saja yang harus dibeli untuk satu minggu ke depan. Dan tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya.
"Mungkin membuat kue nastar enak juga."
Ia berbicara sendiri lalu mencatat bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat kue. Di pikirannya sontak teringat dengan perkataan Rain yang ingin dibuatkan kue donat olehnya.
"Hah ... aku seperti mimpi di sini. Apakah ini memang benar kehidupanku? Entah mengapa aku ingin bertemu dengan nenek itu lagi. Tapi di mana?"
Ara memegang gelang pemberian dari nenek itu. Sebuah gelang berbentuk huruf S yang tersambung-sambung dengan tiga gantungan bintang dan satu bulan.
"Apakah tiga bintang dan satu bulan ini ada maknanya?"
Ara masih penasaran dengan kegunaan gelang yang ada di tangannya jika belum membuktikannya sendiri. Walaupun gelang itu sudah membuktikan dapat melipat bumi, namun Ara masih belum yakin sepenuhnya terhadap fungsi gelang tersebut. Ia ingin mengetahui lebih lanjut tentang gelang itu.
"Sepertinya aku harus mempelajari hukum tarik-menarik."
Segera ia keluar dari dapur lalu mengambil ponsel. Ia mencari tahu tentang apa yang dinamakan dengan hukum tarik-menarik itu. Sambil merebahkan diri di atas sofa, Ara mencari-cari hal yang diinginkannya. Dan akhirnya ia menemukannya.
"Penerapan akselerasi Law of Attraction?" Ia menemukan sebuah brainwave.
"Aku coba saja dulu." Ia akhirnya mencoba apa yang ditemukan.
Ara mengambil napas panjang sambil merelaksasikan tubuhnya. Ia mulai mendengarkan akselerasi yang diputar lewat earphone ponselnya. Lambat laun ia pun merasa mengantuk. Dan akhirnya ia tertidur dalam mimpi dan angannya sendiri.
Menjelang petang...
Sinar merah telah datang mengganti cerah langit Kota Dubai. Tinggal belasan menit lagi petang akan memenuhi langit kota ini.
Di sana, di atas sebuah sofa seorang gadis baru saja terbangun dari mimpi indahnya. Tanpa sadar jika sekarang telah menunjukkan pukul 5.45 sore.
"Astaga ...."
Ia duduk sambil menyatukan nyawa setelah menjelajah alam mimpi yang indah. Sesaat ia menyadari jika akselerasi Law of Attraction masih terputar di ponselnya. Ia pun segera mematikannya lalu melihat jam di ponsel. Dan alangkah terkejutnya saat melihat sepuluh panggilan tak terjawab dari tuannya. Seketika ia panik, terbelalak kaget membaca pesan yang Rain kirimkan kepadanya.
__ADS_1
Aduh, pasti dia berpikir aku sedang di luar.
Ara berpikir sebelum membalas pesan dari Rain.