Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Beauty Night


__ADS_3

Pukul enam sore waktu Turki dan sekitarnya...


Petang ini aku berdandan cantik sekali. Mengenakan dres putih yang melebar di bagian bawahnya. Kulapisi dengan jaket Levis berwarna biru yang cerah. Tak lupa juga mengenakan polesan make up yang ceria. Warna merah muda mendominasi wajahku. Dari eye shadow, blash on sampai lipstiknya. Aku ingin berdandan cantik dan imut untuk suamiku. Walaupun pada kenyataannya akan keluar rumah.


"Pakai parfum aroma cokelat saja."


Aku masih sibuk berdandan sedang suamiku bercengkerama bersama ibu di depan meja makan. Ibu bilang, ibu hamil tidak boleh keluar rumah saat petang. Jadinya menunggu sejenak sampai memasuki malam. Sama seperti mitos di negeriku. Waktu petang memang tak baik untuk bersafari.


Kini aku sudah siap untuk berpergian. Aku merasa tambah cantik dengan perut yang mulai membesar. Walaupun sedang hamil harus tetap menjaga badan. Agar si hujan tidak mengalihkan pandangan.


Katanya sih seorang suami itu akan mendapat godaan besar saat istrinya sedang hamil. Tak sedikit cerita perselingkuhan yang kudengar saat istrinya tengah hamil besar. Mungkin karena sang istri sudah tidak seksi lagi. Jadi suaminya mulai mencari-cari. Entahlah benar atau tidaknya. Yang jelas aku harus tetap merawat badan.


"Pakai tas biasa saja."


Kuambil tas putih yang kecil lalu melangkahkan kaki ke luar kamar. Kulihat suamiku dan ibu sudah menunggu di meja makan. Aku pun duduk di tengah-tengah mereka. Dan entah mengapa saat si hujan melihatku, dia tampak terperangah. Sepertinya dia terpesona melihat dandananku.


"Sayang, aku sudah siap," kataku seraya duduk di sampingnya.


Aku semangat empat lima untuk berjalan-jalan bersamanya. Sekalian juga ingin memeriksakan kandungan ini. Jadinya tak sia-sia berpergian malam karena akan melihat si kecil juga. Semoga saja ada kabar baik selepas pemeriksaan nanti. Aku berharap yang terbaik menyertai kami.


"Ara cantik sekali." Ibu memujiku.


"Terima kasih, Bu." Aku tersenyum kepada ibu.


"Ya sudah. Ibu ke dalam dulu. Kalian tunggu ibu sebentar ya." Ibu berpamitan, sepertinya dia akan melaksanakan salat.


"He-em." Aku mengangguk seraya tersenyum. Begitu juga dengan suamiku. Tapi saat ibu sudah pergi, dia tiba-tiba mencium pipiku.

__ADS_1


"Mmuach!" Ciuman yang sudah lama sekali tidak aku rasakan. "Istriku cantik sekali. Mau ke mana?" tanyanya seraya menopang dagu dengan satu tangannya, memperhatikanku yang duduk di sampingnya.


"Aku mau jalan-jalan," jawabku ceria.


"Senang sekali ibu yang satu ini. Padahal cuma mau jalan-jalan." Dia menggodaku.


"Hihihi." Aku pun malu sendiri.


"Oh, iya. Tapi kita tidak hanya berdua ya. Tak apa, bukan?" tanyanya seraya melihat ke belakang seperti mencari sesuatu.


"Apakah butuh pengawalan saat keluar?" tanyaku yang mulai khawatir.


Dia mengusap kepalaku lalu beranjak mengambil ponsel yang ada di meja TV. Ternyata dia ingin mengambil ponselnya yang sedang di-charge.


"Tidak. Tapi aku ingin mengajak Owdie untuk berkeliling di sini. Sebentar, aku telepon dia." Suamiku mulai menelepon.


Ya ... ternyata tidak jadi pergi berdua ....


"Kau sudah siap? Setengah tujuh kita berangkat." Suamiku sudah tersambung dengan saudaranya. "Ya, mobil sudah kupesan. Tapi adanya mobil biasa. Mobil anti peluru tidak disewakan di sini," katanya yang membuatku terkejut.


Entah mengapa suamiku sampai mengatakan hal seperti itu, membuatku takut saja. Aku pun duduk menunggu dirinya sampai selesai menelepon. Dan karena sekarang sudah mempunyai ponsel, aku jadi ikut-ikutan mengambil ponsel lalu memainkannya. Sampai akhirnya Rainku datang dan melihat apa yang sedang kutonton.


"Hei, menonton berita di YouTube ya?" tanyanya yang berdiri di belakangku.


"He-em." Aku mengangguk.


Aku memang sedang melihat-lihat beranda YouTube. Tapi entah mengapa berita tentang chemtrail malah berseliweran di berandaku.

__ADS_1


"Sayang, aku sudah lama tidak menonton TV. Apakah ada berita yang mengkhawatirkan?" tanyaku padanya.


Suamiku duduk kembali di sampingku. "Mungkin. Aku juga tidak tahu," katanya.


Aku menoleh ke arahnya. "Tapi kenapa beranda YouTube ku isinya chemtrail semua?" Aku merasa heran.


Suamiku tersenyum seraya memegangi dahinya. Seperti ada sesuatu yang ditutupi. "Mungkin karena pencarian terakhir berkenaan dengan itu makanya muncul di beranda depan." Dia menduganya.


"Oh ...."


Aku pun hanya bisa menjawab oh. Tak tahu apa lagi yang harus kukatakan karena mungkin saja terakhir melihat YouTube memang menonton berita tentang chemtrail ini. Tapi entah mengapa aku merasa curiga. Seingatku jarang sekali menonton berita tentang dunia seperti ini. Atau jangan-jangan saat kutidur tadi dia memeriksa ponselku?


Sayang, kau diam-diam ingin tahu apa yang kulakukan saat tak ada dirimu? Dasar pencemburu!


Akhirnya aku menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Kulihat suamiku juga tertawa-tawa sendiri. Sepertinya dugaanku tentangnya benar. Dia memeriksa ponselku saat aku tidur tadi. Tapi ya sudahlah. Namanya juga suami sendiri. Jangankan ponsel, dari ujung rambut sampai ujung kaki pun dimiliknya. Aku bisa apa?


Pukul tujuh malam waktu Turki dan sekitarnya...


Suamiku berpergian mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih dan juga celana dasar hitam panjangnya. Tak tahu mengapa dia mengenakan pakaian yang sedikit formal malam ini. Padahal hanya mau berjalan-jalan bersamaku. Sama seperti saudaranya. Hanya saja Owdie mengenakan kaus oblong yang dibalut jas hitam. Sedang celananya, celana levis biru tua. Keduanya juga mengenakan sepatu seperti ingin bertemu seseorang. Entah siapa, aku mengikut saja.


Suasana kota Istanbul tampak ramai malam ini. Mungkin karena akhir pekan kota dipenuhi para pejalan kaki yang hilir mudik di sepanjang jalan. Aku pun menikmati gemerlapnya lampu perkotaan. Ditambah pemandangan pelabuhan yang tak jauh dari tempat kami melaju. Terlihat indah sekali.


"Nick merombak semua anggota organisasi, Rain." Tiba-tiba Owdie berbicara seperti itu kepada suamiku.


"Ya. Aku sudah tahu. Tim sayap kanan dibuangnya jauh-jauh." Suamiku ternyata sudah mengetahuinya.


Eh, dia tidak cerita padaku?

__ADS_1


"Nick hanya mempertahankan yang satu ide dengannya. Dia juga segera membagi sepertiga harta kakek kepada kedua belas saudaranya. Setelah itu yang menentangnya, ditendang jauh-jauh. Kinerja kita selama lima tahun ini dianggap tak ada jasanya." Owdie terlihat seperti menyesali tindakan saudaranya yang bernama Nick itu.


Suamiku hanya menghela napas. Tak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Sepertinya organisasi sedang dilanda masalah serius. Entah benar atau tidak, aku hanya bisa mendengarkannya saat ini.


__ADS_2