Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Who is That?


__ADS_3

Kulihat Lee mengusap kepala dengan satu tangannya. Sedang tangan lain bertolak pinggang. Dia berada di antara dua wanita, Jasmine dan Rose.


“Rose, Jasmine.” Lee mulai bicara kepada keduanya.


Baik Rose maupun Jasmine langsung terdiam begitu nama mereka disebutkan oleh dosen tampan itu. Kulihat Jasmine memegangi pipinya yang terkena tamparan Rose. Sedang Rose seperti biasa, bersikap acuh tak acuh sambil melipat kedua tangan di dada. Baru kali ini kulihat yang dulunya kawan menjadi lawan hanya karena seorang pria. Sangat disayangkan persahabatan yang sudah terjalin di antara keduanya.


“Dengarkan aku. Selama ini aku menganggap kalian hanya sebatas hubungan dosen dan mahasiswi. Tidak lebih dari itu. Jika kalian menyukaiku, aku berterima kasih. Tapi jika menuntut status, maaf aku tidak bisa. Aku sudah mempunyai pilihan sendiri. Jadi tolong jangan menjadikanku tersangka dalam pertengkaran kalian.”


Kulihat Lee berbicara panjang di hadapan keduanya. Dengar-dengar, dia bukanlah tipikal dosen yang banyak bicara. Tapi kali ini dia seperti sedang menegaskan jika tidak memihak kepada Rose maupun Jasmine. Lee sudah mempunyai pilihan sendiri.


“Kalian teman baik, jagalah pertemanan yang sudah terjalin.” Dia mengatakan kepada keduanya.


Mau tak mau aku juga terkejut dengan pernyataannya. Aku merasa kata-katanya itu seolah-olah mengisyaratkan jika pilihannya adalah aku.


Ara, jangan GR!


Kini aku mengerti dan bisa membenarkan apa yang diceritakan oleh tiga sekawan kampusku. Jika memang benar ada cinta segitiga di antara mereka. Namun sayangnya, Lee tidak memilih salah satu. Mungkin hal ini memang jalan terbaik untuk keduanya. Ya, daripada terus-menerus berseteru karena Lee, sedang Lee sudah mempunyai pilihan sendiri.


Sekarang aku sudah tahu kebenaran hubungan mereka. Mungkin saja perkiraanku salah tentang Lee. Ternyata Lee memang mempunyai rasa padaku. Namun sayangnya, aku sudah ada yang punya.


Kutarik napas dalam-dalam dari balik dinding coffee shop, tempat persembunyianku melihat ketiganya. Kuputuskan untuk pergi karena sudah mengetahui hal yang sebenarnya terjadi. Taka, Ken dan Nidji pastinya sudah menungguku di arena permainan. Jadi ya sudah, lekas-lekas aku kembali kepada mereka lalu kuhibur hatiku dengan bermain sepuasnya di arena. Semoga saja selepasnya suasana pikiranku jadi lebih baik lagi.


Petang harinya…


Semburat merah menghiasi langit petang ini. Aku baru saja sampai di rumah dan langsung duduk di sofa tamu. Entah mengapa suasana hatiku kembali terasa sendu. Kulihat di rumah tidak ada orang selain diriku. Hujanku belum juga datang.


Aku tidak tahu mengapa semuanya bisa jadi begini. Priaku amat posesif sekali. Padahal aku telah meyakinkannya, tapi tetap saja dia seperti itu. Aku jadi bingung harus bagaimana.

__ADS_1


Sebagai seorang perempuan pastinya lebih banyak menggunakan perasaan ketimbang logika. Dan perasaanku ini sudah dipenuhi olehnya. Aku tidak ada niat sedikitpun untuk mengkhianati, apalagi mencari pengganti. Bagiku dia sudah begitu sempurna dan satu untuk selamanya. Aku benar-benar mencintainya sepenuh hati.


“Mandi dulu saja.”


Aku merasa tak ada gunanya juga jika terlalu terlarut dalam kesedihan. Aku berusaha yakin jika jodoh tidak akan ke mana. Ya, walaupun aku amat berharap kami berjodoh selamanya. Tidak dapat kupungkiri jika dia adalah segala-galanya.


Kuputuskan untuk melangkahkan kaki ke kamar mandi, berniat membersihkan diri dari aktivitas yang melelahkan hari ini. Semoga saja Rainku pulang. Aku sudah sangat merindukannya. Jika dia tidak pulang, sama saja berada di dataran gersang. Harus kuakui jika kami saling membutuhkan.


Palm Jumeirah, pukul sepuluh malam…


“Hah … capek juga ternyata.”


Semilir angin pantai di malam hari masuk menerbangkan tirai-tirai jendela kamarku yang dibiarkan terbuka. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saja. Kuputuskan untuk beristirahat sejenak dari rasa lelah yang melanda.


“Dia belum pulang juga?”


Aku masih duduk di depan meja belajar. Baru selesai melanjutkan kisahku di laptop. Kebetulan malam ini tidak ada tugas kampus untukku. Jadinya aku bisa sedikit bersantai.


“Ada telepon?”


Ponsel kuletakkan di atas kasur, dan tiba-tiba saja kudengar deringnya. Aku pun segera beranjak untuk mengambil ponselku. Dan kulihat ternyata nomor tak dikenal meneleponku malam-malam.


“Siapa ya?”


Aku penasaran dan juga khawatir. Aku takut jika ini telepon penting. Lantas kuangkat saja teleponnya. “Halo?” jawabku yang menunggu suara dari seberang.


“Nona Ara.” Tiba-tiba suara dari seberang terdengar begitu menakutkan. “Jauhi Rain sekarang juga atau kau akan celaka,” ucap suara itu.

__ADS_1


Astaga!


Aku merasa telepon ini mengancamku. Lekas saja kumatikan sambungan teleponnya. Tiba-tiba aku merasa begitu takut dengan keadaan di sekitarku. Karena aku sedang sendirian di rumah ini.


“Aku telepon Rain saja.”


Dan karena takut, aku segera menelepon hujanku. Namun, bersamaan dengan itu suara bel rumah berbunyi.


“Si-si-siapa itu?!”


Bukan main degup jantungku berpacu cepat. Aku begitu khawatir dengan seseorang yang memencet bel di luar sana. Lekas-lekas kukunci jendela kamarku dan menutup tirainya. Kuambil tongkat baseball dari balik pintu lalu berjalan keluar kamar. Aku berjaga-jaga setelah menerima telepon itu.


“Huh ….”


Tidak tahu siapa yang memencet bel, kupegang erat-erat tongkat baseball ini sambil berjalan menuju pintu. Kuintip sebentar siapa yang datang untuk memastikan. Dan ternyata…


“Sayang?!” Ternyata priakulah yang datang. “Sayang!” Lekas-lekas aku membuka pintu untuknya.


Kulihat wajah priaku kusut sekali. Dia melihatku dengan pandangan amat jutek. Dia juga melihatku sedang memegang tongkat baseball. Tatapan matanya berubah tajam seketika. Mungkin dia mengira aku ingin memukulnya.


“Sayang, akhirnya pulang juga.”


Betapa bahagia hatiku. Kusambut kedatangannya dengan pelukan penuh kerinduan. Kulihat dia diam saja tanpa bergerak atau membalasnya sama sekali. Aku pun menarik tangannya agar cepat masuk ke dalam rumah, lalu segera menutup pintu. Kukunci pintu dari dalam kemudian menghidupkan lampu ruang tamu yang sengaja dimatikan.


“Sayang, aku sudah buat sup. Kuambilkan, ya?”


Aku masih berusaha mengajak ngobrol pria yang jutek ini. Lampu dapur juga kuhidupkan lalu kuambilkan segelas air untuknya. Namun, dia belum menegurku sama sekali. Tapi aku tidak akan putus asa begitu saja. Aku akan mengalah pada seseorang yang akan menemani sisa hidupku ini.

__ADS_1


“Sayang, makan dulu ya."


Kusediakan makan malam untuknya walau waktu sudah amat lewat. Sepenuh hati aku melayani walau dia tidak menanggapi sama sekali. Kubiarkan dia meneguk air minum yang kusediakan lalu beranjak ke kamar. Aku ingin berdandan untuknya malam ini. Semoga saja hatinya bisa luluh nanti.


__ADS_2