Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
I Miss U Like Crazy


__ADS_3

Di kamar Pangeran Agartha...


Kamar super besar nan mewah itu menjadi saksi kesedihan seorang pangeran yang sebentar lagi akan menjadi raja. Ia berdiri sambil menatap langit yang bertaburan bintang. Wajahnya sendu, napasnya terdengar pelan, seolah tak mampu menghirup udara di sekitar. Ia seperti tengah menyimpan kedukaan yang mendalam. Tak ada sanak saudara ataupun pelayan di sana. Ia hanya seorang diri sambil meratapi nasibnya.


"Lily ...." Tiba-tiba ia menyebut nama seorang gadis yang pernah ditemuinya. "Di manakah dirimu sekarang? Kenapa tidak mengikuti sayembara yang diadakan istana?" Ia bertanya sendiri.


Pangeran Agartha ternyata merindukan sosok gadis yang pernah mengisi hari-harinya. Namun, gadis itu kini tidak dapat lagi ditemuinya, seolah hilang terbawa angin. Sehingga kini hanya rasa rindu yang tertinggal dan menyesakkan dada.


"Andai kau ikut sayembara itu, pasti aku akan memilihmu. Tapi, kenapa kau pergi?" tanya pangeran sendiri dalam rasa sedihnya.


Tanpa ia sadari, tetes demi tetes air mata jatuh membasahi pipinya. Air mata kesedihan yang menjadi saksi atas cinta yang belum sempat terucapkan. Kini cintanya itu pergi dan mengundang kepiluan. Pangeran seperti mengalami ketergantungan namun ditinggalkan begitu saja. Dan kini ia hanya bisa meratapi nasibnya.


"Kau bagai permata bagiku. Keceriaanmu, senyummu, candamu, tawamu, mampu mengundang gelak tawa dan kerinduan hatiku. Andai kau di sini, pastinya aku tidak akan sesedih ini."


Semilir angin dini hari yang terasa menusuk tulang ternyata tidak menggoyahkan dirinya untuk segera beristirahat di atas kasur mewah. Ia masih ingin menatap langit yang bertaburan bintang di angkasa. Berharap doanya dapat segera terkabulkan, agar ia dapat menemukan kembali gadisnya. Seorang gadis yang mampu mencuri hatinya dan membuatnya rindu setiap malam.


"Sampai pertemuan terakhir kita, kau belum mengetahui siapa diriku yang sebenarnya. Bagaimana jika kau tahu aku adalah pangeran negeri ini? Apakah kau akan tetap pergi meninggalkanku?" Pangeran termenung dalam sepi.


Ternyata rasa cinta yang pangeran miliki terhadap gadis bernama Lily begitu besar. Tidak mungkin bagi seorang pria meneteskan air mata jika hatinya tidak ikut berbicara. Ia pun harus mengakui kelemahannya kepada diri sendiri. Bahwa cinta itu telah merenggut kebahagiaannya.


Waktu itu...


Beberapa bulan yang lalu Pangeran Agartha menunggangi kuda menuju danau, tempat telaga seribu warna. Ini bukanlah kali pertamanya ia datang ke sana. Melainkan puluhan kali datang untuk melatih kekuatan tenaga dalamnya. Namun, kedatangannya ke telaga kali ini amat berbeda. Pangeran datang dengan membawa satu keranjang besar yang ditutupi serbet kain berwarna biru. Entah apa isinya, namun ia tampak begitu bersemangat untuk segera tiba. Tak lama, ia pun akhirnya sampai di tepi danau telaga.


Lily, aku datang.


Dengan senyum semringah pangeran turun dari kudanya. Ia membawa keranjang besar itu dan membiarkan kudanya tetap berada di tepi danau. Ia melangkahkan kaki menuju gubuk lalu menaiki anak tangga setapaknya. Ia pun segera masuk ke sebuah pintu kecil yang lebih mirip seperti goa. Sambil membawa keranjangnya, Pangeran Agartha tersenyum bahagia.


Aku datang Lily.


Ia akhirnya sampai juga di tepi telaga seribu warna. Ia pandangi keadaan sekitar untuk mencari keberadaan gadisnya. Semilir angin yang berembus menjadi saksi betapa rindu tak lagi bisa tertahan. Semalaman pangeran kepikiran gadisnya. Ia rindu namun belum mampu untuk mengungkapkan.


Tak lama kemudian, ia melihat gadis itu tengah mengambil air di tepi telaga. Parasnya cantik nan manis. Berkulit putih bak salju yang baru turun dari langit. Rambutnya pun panjang dan hitam. Tak ayal membuat pangeran terkesima melihatnya.


"Lily?!" Pangeran memanggil gadis bergaun putih, bercorak merah muda yang tampak sibuk mengambil air dengan kendinya.


Gadis itu menoleh, melihat siapa gerangan yang datang. "Hei! Kau sudah datang?!" Ia melambaikan tangan ke arah pangeran sambil berteriak dari kejauhan.


Pangeran Agartha tersenyum. Ia mengangguk. Lily pun segera berjalan mendekati pangeran sambil membawa kendinya.

__ADS_1


"Aku bawakan ini untukmu." Pangeran segera menunjukkan keranjangnya.


Seketika raut wajah gadis itu semringah. Ia segera meletakkan kendi airnya ke tanah. "Kau bawa apa?" tanya gadis itu sambil melihat keranjang yang pangeran bawa.


"Ini terimalah." Pangeran Agartha pun segera menyerahkan keranjangnya.


Lily penasaran. Gadis itu menerima pemberian pangeran. Ia segera menyingkapkan serbet yang menutupinya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat isi dari keranjang yang pangeran bawakan. Ternyata keranjang itu berisi...


"Astaga! Banyak sekali?! Kau dapat uang dari mana untuk membeli makanan sebanyak ini?!" Gadis itu tak percaya dengan makanan yang pangeran bawakan.


Pangeran Agartha tersenyum senang. "Aku bekerja. Jangan khawatirkan hal itu." Pangeran meminta.


Gadis itu tampak berpikir. Ia mulai curiga dengan pekerjaan pangeran. "Sini kulihat!" Ia menarik tangan pangeran dengan cepat. Saat itu juga ia menyingkapkan lengan jubah pangeran dan melihat banyak sekali bekas goresan di tangan. "Kau ...?" Gadis itupun berkaca-kaca.


Pangeran Agartha menyadari jika perkenalannya selama ini menghasilkan kasih sayang yang sebelumnya tak pernah ia rasakan. Melihat mata Lily berkaca-kaca, tangan pangeran bergerak sendiri ingin mengusap kepala Lily. Namun, tidak jadi. Pangeran segera tersadar jika tidak boleh sembarang menyentuh orang.


"Katakan kau dapat dari mana uangnya?" Mata Lily semakin berkaca-kaca. Pangeran pun tampak tak bisa menahan diri dari rasa harunya. Ia membalikkan badan, membelakangi Lily. "Hei! Aku bertanya padamu!" Lily ingin tahu jawabannya.


Pangeran Agartha menelan ludah. Ia tidak mungkin jujur mendapatkan uang dari mana untuk membeli semua makanan yang dibawanya.


"Baiklah. Kalau tidak mau jujur, aku kembalikan keranjangmu. Terima kasih!" Lily pun ngambek. Ia berjalan membelakangi pangeran.


Lily menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik, menghadap pangeran. "Jadi?" Ternyata Lily menjebak pangeran agar mengatakan yang sejujurnya.


Pangeran tersadar jika ini hanya akal-akalan Lily agar bisa mengetahui dari mana ia dapat membeli semua makanan ini. Tapi, ia tidak mampu marah kepada Lily. "Aku ikut paman mengangkat hasil kebun. Dan uangnya kubelikan makanan ini untukmu." Pangeran mengungkapkan seraya mengalihkan pandangannya dari Lily.


"Astaga ...."


Lily pun tak percaya. Ternyata bekas goresan di tangan pangeran hasil menjadi kuli angkut kebun. Yang mana uangnya digunakan untuk membeli makanan gadisnya.


"Aku melakukannya karena kau tidak mau lagi menerima masakan dari dapur keluargaku." Pangeran Agartha membela diri, namun ia mengalihkan pandangannya dari Lily.


"Hah ...," Lily pun mengembuskan napasnya. Ia menyilangkan kedua tangan di dada. "Aku hanya tidak ingin kau kena marah keluargamu karena membawakan makanan dari dapur. Itu saja. Lagipula jika untuk sehari-hari, aku merasa sudah cukup. Minyak wangi yang kujual cukup untuk membeli sepotong roti. Dan itu bisa mengenyangkan sampai pagi." Lily menceritakan.


Sontak Pangeran Agartha merasa teriris. Hatinya iba tiada terkira. Ia tak menyangka jika kehidupan gadis yang dicintainya begitu dramatis.


.........


Dulu aku memanggilmu gadisku.

__ADS_1


Dulu aku memanggilmu temanku.


Dulu aku memanggilmu cinta.


Cinta yang tak pernah kumiliki.


Saat aku terpikir tentangmu.


Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.


Kapankah aku dapat bertemu denganmu lagi?


Aku sangat merindukanmu.


Lebih dari sekedar kata-kata.


Aku sangat merindukanmu.


Setiap menit setiap hari.


Kasih, aku sangat merana.


Saat cintamu tak ada lagi.


Aku merindukanmu.


Aku merindukanmu seperti orang gila.


Hanya kaulah yang kumau.


Hanya kaulah yang kubutuhkan.


Tidakkah kau lihat bagaimana perasaanku?


Tidakkah kau lihat sakitku ini begitu nyata?


Aku sangat merindukanmu.


Aku merindukanmu seperti orang gila...

__ADS_1


.........


__ADS_2