Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Deep Hopeness


__ADS_3

Esok sorenya, detik-detik menjelang persalinan...


Angin berembus dengan kencang tapi aku tidak merasa dingin sama sekali. Semburat merah mulai menghiasi langit kota sore ini. Aku pun masih menunggu kepulangan suamiku dari tempat kerjanya. Dia bilang hari ini akan dilakukan proses pengeboran di ladang minyak yang baru. Semoga saja berhasil dan hasilnya dapat memuaskan.


"Aduh, kenapa sakit sekali perutku?"


Aku sedang berada di dapur, berniat meminum susu untuk menambah tenaga. Tapi, entah mengapa perutku terasa sakit sekali, tidak seperti biasanya. Kepalaku juga mulai pusing seperti gejala tekanan darah rendah. Tak lama aku merasa ada cairan yang keluar dari selangkaku. Lantas segera kucek ke kamar mandi untuk melihatnya. Dan ternyata...


"Astaga ini?!"


Gumpalan darah berwarna hitam keluar dari selangkaku. Aku tidak tahu ini pertanda apa, tapi lebih baik kutanya ibu saja. Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada bayiku.


Ya Tuhan, tolong lindungi mereka.


Kuketuk pintu kamar ibu sambil terus berdoa di dalam hati. Aku tidak boleh panik sekalipun mengalami hal yang tak terduga. Tak lama ibu pun membukakan pintu untukku. Kulihat dia mengenakan mukena sambil memegang buku berisi doa.


"Ara?"


"Ibu sedang apa? Apakah Ibu sibuk?" tanyaku, tak enak hati karena mengganggunya.


"Oh, ibu sedang membaca doa petang. Ada apa, Nak?" Ibu bertanya padaku.


Segera kuutarakan tujuanku pada ibu. "Bu, Ara mengeluarkan darah hitam. Apakah ini berbahaya?" tanyaku pada ibu.


"Darah hitam? Apakah kau merasakan sakit?" Ibu mertuaku terlihat panik.

__ADS_1


Aku mengangguk. Ibu pun terlihat cemas sekali. "Kita ke dokter saja ya, Nak. Mungkin sudah waktunya." Ibu segera melepas mukenanya.


Sejujurnya aku tidak enak hati menganggu ibu yang sedang berdoa. Tapi mau bagaimana lagi, rasa sakit di perutku semakin lama semakin bertambah saja. Aku tidak tahu apakah ini pertanda waktu persalinan sudah dekat atau bukan. Maka dari itu aku mencoba mencari tahunya dengan menanyakan kepada ibu. Dan aku rasa ibu mengetahui jawabannya.


Satu jam kemudian...


Azan magrib berkumandang di Kota Istanbul, Turki. Kulihat jam di dinding ruangan telah menunjukkan pukul enam petang. Aku pun kini sedang berada di sebuah ruangan, berbaring di atas kasurnya dengan selang infus yang terhubung dengan tubuhku. Aku sedang berada di RSIA Istanbul, Turki.


Dokter melakukan perawatan intensif terhadapku. Katanya, aku mengalami tekanan darah rendah yang tak biasa. Tensi darahku kini mendekati 70. Padahal keadaan normal ukuran dewasa adalah sekitar 110-120. Dokter menyarankan agar aku tenang dan tidak berpikiran macam-macam. Karena hal itu akan mempengaruhi hormon dalam menyeimbangkan tubuhku.


Kuakui menjelang persalinan ini hatiku deg-degan tak karuan. Ada saja rasa cemas, was-was dan khawatir yang berlebihan terhadap proses persalinan. Mungkin hal itu jugalah yang mempengaruhi kondisiku saat ini.


Setahuku, normalnya orang dewasa memiliki tekanan darah di angka 120/80 mmHg. Tekanan darah pada orang dewasa memang bisa berubah-ubah setiap hari sesuai dengan faktor yang memengaruhinya. Angka 120 menunjukkan tingkat tekanan jantung saat memompa darah, sedangkan angka 80 menunjukkan ketika organ jantung beristirahat sejenak saat proses memompa darah. Sedang saat ini tekanan darahku 70/60, rendah sekali.


Memegang jari-jemarinya, melihat senyum dan tawanya. Jika memang ini adalah hari-hari terakhirku di dunia, maka izinkanlah aku untuk melihatnya sebentar saja. Aku pasrah terhadap takdir yang Engkau tuliskan. Tapi jika boleh memohon, izinkan aku merawat dan membesarkan mereka, agar aku bahagia dan tidak merasa sia-sia hidup di dunia.


Ya Tuhan, kabulkanlah doaku. Segala puji bagi-MU yang telah menciptakan alam ini.


Tak tahu mengapa air mataku mengalir, membasahi pipi ini saat berdoa kepada Tuhan. Aku berharap usahaku selama ini tidak sia-sia belaka. Aku tahu risiko terbesar dari melahirkan adalah kehilangan nyawa. Tapi aku ingin sekali, sangat berharap Tuhan mengizinkanku untuk merawat dan membesarkan mereka. Aku juga masih ingin mengabdi kepada suamiku. Karenanya lah aku masih sanggup bertahan sampai detik ini.


Kegelisahan dan kecemasan memang tidak dapat kupungkiri begitu hebat menjelang persalinanku. Rasa cemas, was-was yang melanda, membuat jantungku berpacu tak menentu. Aku juga belum sempat meminta maaf dan berucap terima kasih kepada ibu di Indonesia. Aku ingin sekali ibu melihat anak-anakku nanti.


Aku ingin mempersembahkan yang terbaik untuk orang-orang yang mencintaiku. Karena cinta mereka begitu berharga bagiku. Dan aku ingin membahagiakan mereka sebagaimana aku juga ingin bahagia. Semoga saja Tuhan merestuinya.


"Sayang!"

__ADS_1


Tak lama kulihat suamiku datang tergesa-gesa ke ruang rawatku. Aku pun menyambut kedatangannya dengan ingin beranjak bangun.


"Sudah, tidak perlu." Tapi dia menahannya. Dia ingin aku tetap tidur saja. "Sayang, bagaimana keadaanmu?"


Dia memegang erat tanganku. Sedang tangan satunya mengusap-usap kepala ini. Dia memberikan sentuhan terbaik yang aku butuhkan. Hatiku pun tenang karenanya. Dia begitu pengertian tanpa harus diminta. Dan aku amat menyayanginya.


"Aku baik-baik saja, Sayang. Hanya sudah mulai merasakan kontraksi." Aku mengatakan apa yang kurasa.


"Sayang, dokter sedang mempertimbangkan proses kelahirannya. Jika hasilnya harus sesar, tak apa ya?" Dia bertanya padaku seraya mengusap kepala ini. Rainku terlihat cemas sekali.


"Tidak bisa normal?" Aku sedikit kecewa mendengarnya.


"Sayang, aku sudah meminta yang terbaik untuk persalinanmu. Apapun itu asal kalian bisa selamat, aku menyetujuinya. Aku tidak ingin terlalu mengambil risiko. Tekanan darahmu rendah, Sayang." Dia memberi tahuku.


"Ya." Aku pun mengangguk. Tapi entah mengapa merasa sedih.


"Sayang, kumohon. Jangan mempersulit keadaanmu. Persalinan normal itu membutuhkan sepuluh tahapan agar bisa melahirkan normal. Dan selama beberapa tahapan itu tidak bisa diprediksikan waktunya. Aku tidak tega melihatmu menanggung sakit berlama-lama. Kumohon, jangan mempersulit dirimu." Dia terlihat sangat berharap padaku.


Aku tahu persalinan normal memang membutuhkan tenaga yang sangat ekstra. Tapi setelah bayi keluar, tidak akan merasakan sakit lagi. Plong begitu saja. Sedang sesar awalnya mungkin tidak merasakan sakit. Tapi setelahnya, membutuhkan waktu yang lama untuk perawatan. Hal itulah yang menjadi pertimbanganku.


"Permisi." Tak lama seorang perawat datang menghampiri kami. "Tuan, Nyonya. Dokter meminta persetujuan atas tindakan operasi. Setelah menimbang ulang, operasi sesar dinilai lebih kecil risikonya dibanding dengan proses kelahiran normal. Dokter menunggu keputusannya." Perawat mengabarkan.


Suamiku menjawabnya. "Baik. Aku akan segera menemui dokter. Terima kasih." Suamiku menyetujuinya.


Entah kabar baik atau kabar buruk kudengar, sepertinya yang bisa kulakukan hanya pasrah saat ini. Semoga cara bersalin apapun yang kujalani nanti, itu yang terbaik untukku. Semoga saja. Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2