Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Missing


__ADS_3

Sementara itu, di manshion Sam...


Pria tua berjas hitam itu baru saja menelepon pihak keamanan USA untuk membantu mencari kebenaran tentang keterlibatan Nick dalam kecelakaan yang menimpa Rain. Ia merasa Owdie begitu yakin jika Nick adalah dalang dari kecelakaan kemarin. Ia pun berusaha mengerahkan kekuasaannya untuk membuktikan kebenaran berita itu sendiri.


"Kakek, Kakek salah jika percaya padanya. Aku cucu kandung Kakek. Harusnya Kakek lebih berpihak padaku!" Nick tidak terima dengan usaha kakeknya yang ingin mencari tahu kebenaran informasi ini.


Sam menoleh ke arah Nick yang berbicara di dekat pintu kamarnya. "Aku harus adil. Sesuai janjiku pada nenekmu. Jika kau benar-benar bersalah, kau harus mendapat hukuman." Sam menerangkan.


Nick mengepalkan tangannya. Sialan! Tua bangka ini ingin bermain api denganku rupanya. "Kek, cukup banyak Rain merepotkan organisasi. Kenapa tidak biarkan saja kasus ini selesai? Aku bukannya takut dengan segala tuduhan yang ditujukan padaku. Tapi aku merasa Kakek terlalu membelanya. Dia hanya cucu angkat. Sedang aku cucu kandung Kakek sendiri." Nick membujuk agar Sam menarik kembali permintaannya.


Sam duduk di sofa tunggal yang ada di dekat kasurnya. Ia lalu meminta kepada pelayan yang berjaga untuk mengambilkan obatnya. Pelayan itupun dengan segera mengambilkan obat Sam. Sedang Nick masih menunggu di dekat pintu sambil terus berpikir bagaimana cara untuk menghindari masalah ini.


Jika aku terbukti bersalah, maka tahta organisasi tidak bisa kudapatkan. Pastinya akan ada calon baru yang menggantikan. Sial! Mengapa Owdie bertindak sampai sejauh ini? Dia tidak ingat apa jika hanya anak pungut dari keluarga Empire Earth. Tidak tahu diri!


Nick mengumpat di dalam hati. Ia tidak terima.


"Nick. Organisasi menderita kerugian besar karena terbakarnya kapal pengeboran minyak milik Rain. Kau pikir kapal itu murah harganya? Tidak Nick. Bahkan gajimu satu tahun pun tidak cukup untuk menggantinya. Sekarang naikkan nilai obligasi negara-negara yang mempunyai utang dengan kita. Kalau perlu setiap negara yang melakukan perlawanan terhadap dekrit organisasi, naikkan bunga utangnya sampai 10%." Sam berpesan.


Nick hanya diam. Ia merasa kakeknya tidak memikirkan dirinya.


"Cepat serahkan laporan piutang kepadaku sebelum jam makan malam. Kau tidak akan berdiam diri di sini saja, bukan? Sampai matahari tenggelam?" Sam mengusir Nick dengan halus.


Nick menelan ludah. Ia masih tidak terima. Ditatapnya sang kakek yang selama ini telah membesarkannya. Namun, tak ada rasa empati sedikitpun terhadap pria yang sudah sangat tua itu. Nick hanya ingin permintaannya dituruti tanpa peduli yang lain.

__ADS_1


"Baik." Akhirnya ia pun menuruti perintah sang kakek.


"Bagus. Pergilah!" Sang kakek meminta Nick untuk segera pergi dari kamarnya.


Nick berbalik. Ia beranjak meninggalkan kamar Sam. Saat itu juga ia menggerutu di dalam hatinya.


Dasar tua bangka!


Ia pun akhirnya pergi meninggalkan kamar Sam dengan perasaan kesal. Sam sendiri melihat kepergian Nick sambil menghela napas panjang. Ia merasa Nick tidak dapat mengerti beban yang sedang dipikulnya.


Apakah istriku terlalu memanjakannya hingga dia bisa bersikap seenaknya padaku? Aku memang kakek kandungnya. Tapi, tidak bisakah lebih sopan dalam meminta? Mengapa hampir semua cucuku seperti ini?


Sam memijat keningnya. Ia tak habis pikir setelah dewasa, cucu-cucunya mulai melawan. Padahal saat kecil ketiga belas cucunya amatlah penurut dengan apa yang diperintahkan. Sam pun menyadari jika kini masa telah berganti.


Di kampus Ara...


Semester baru telah datang. Para mahasiswa menyambut riang semester akhir di tahun ajaran baru ini. Mereka beramai-ramai memasuki kelas untuk menerima mata kuliah. Tak terkecuali Taka, Ken dan juga Nidji. Ketiganya duduk di kursi yang berdekatan, tak jauh dari papan tulis berada.


"Sudah ada kabar dari Ara?" tanya Nidji kepada Taka.


Pemuda berkemeja hijau lumut itu hanya menggelengkan kepala.


"Ara benar-benar menghilang bak ditelan bumi. Tidak rindukah dia pada kita?" Nidji berbicara lagi.

__ADS_1


Pemuda berkaus hitam menarik kursinya ke dekat Taka. "Mungkin Ara memang benar-benar sibuk. Sampai-sampai tidak mempunyai waktu luang untuk mengabari kita." Ken menduga.


Nidji menggigit penanya sambil mengeluarkan buku catatan dari dalam tas. "Mungkin juga memang hanya sampai di sini pertemanan kita dengannya. Dia gadis yang misterius." Nidji mengungkapkan.


Taka mengembuskan napasnya. "Sayang hanya sebentar kami berkenalan." Tiba-tiba Taka terlihat seperti orang yang menyesal.


"Kau pasti rindu padanya, bukan?" selidik Nidji.


"Jangan ditanya. Taka pasti merindukan Ara." Ken yang menjawabnya.


"Eh, tapi bagaimana jika Ara sudah mempunyai suami? Apakah kita masih boleh rindu kepada istri orang?" celetuk Nidji.


Ken tertawa. "Hahaha, kau ini. Ada-ada saja." Ken memukul poni rambut Nidji dengan bukunya.


"Hei! Sakit tahu!" Nidji pun pura-pura kesakitan dengan mengusap-usap dahinya.


Taka diam, tidak bicara. Pemuda asal Jepang itu tidak menghiraukan sikap teman-temannya yang sedang bercanda. Di dalam hatinya menyimpan keingintahuan tentang keadaan Ara sekarang. Namun, ia tidak mampu untuk mengetahuinya. Ara seperti hilang begitu saja.


Ara, di manakah dirimu? Sudah satu bulan lebih belum juga ada kabar pasti. Apakah kau baik-baik saja di sana? Setidaknya beri kabar kepada kami sehingga aku bisa tenang di sini. Dosen Lee juga tampak kehilanganmu. Sebenarnya apa yang telah terjadi di antara kalian?


Bagi Taka, Ara adalah gadis yang menarik. Terkesan jutek namun ternyata ramah dalam pergaulan. Ara juga berpenampilan sederhana dan berbicara apa adanya. Ia selalu menjaga perasaan lawan bicara. Ara menunjukkan bagaimana sikap seharusnya seorang perempuan terhadap lawan jenisnya. Ia tidak pernah menunjukkan rasa ketertarikan dan selalu sopan kepada setiap orang. Dan Taka begitu mengaguminya.


Besar harapan Taka, Ara akan kembali ke tengah-tengah mereka dan mengisi hari dengan canda tawa. Namun, sepertinya hal itu hanya sebatas angan belaka. Nyatanya Ara belum juga ada kabar tentang keadaannya. Taka pun merindukannya.

__ADS_1


Lain Taka dan kedua temannya, lain pula dengan yang dialami oleh Lee saat ini. Dosen fakultas teknik itu tampak sedang dimintai keterangan oleh Johnson terkait hubungannya dengan Rose dan Jasmine. Dan hal ini pertama kalinya bagi Lee bertemu secara langsung dengan pemilik saham terbesar di kampusnya. Ia duduk di sebuah ruangan mewah bersama ayah dari Rose. Tampak piala terpajang dengan begitu banyaknya di sana.


__ADS_2