Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
In the Bathroom


__ADS_3

Di padepokan Ara dan Rain...


Siang hari telah datang. Cahaya matahari meninggi tepat berada di tengah-tengah langit. Menandakan jika waktu sudah memasuki pertengahan hari. Namun, udara di sekitar tetap terasa sejuk dan asri. Angin berembus pelan, menggoyangkan dedauan di taman padepokan.


Gadis asal Indonesia yang telah dipersunting oleh sang penguasa itu tampak sibuk menggulung rambutnya. Ia melepas gaun lalu menggantungnya di dekat pintu. Ia akan memandikan sang suami tercinta atas saran dari tabib istana. Yang mana kini Rain telah menunggunya di dalam bak mandi. Pria bertubuh maskulin itu terlihat hanya mengenakan celana pendeknya saja. Lengan kekarnya, dada bidangnya tampak jelas di hadapan sang istri.


"Sayang, rebahkan saja punggungmu." Ara berjalan mendekati suaminya.


Tempat mandi padepokan Ara seperti ruangan berendam yang asri. Berada di luar ruangan dengan pancuran air langsung dari mata air pegunungan. Airnya pun terasa sejuk dan membuat nyaman di tubuh. Tak ayal Rain bisa merelaksasikan tubuhnya sambil menikmati pemandangan alam di sekitar. Terlebih kini sang istri berada di sampingnya. Betah sudah dan ingin berlama-lama.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Ara sambil menyiram tubuh Rain pelan-pelan. Ia mengambil gayung lalu menciduk airnya. Ia guyur kaki Rain terlebih dahulu sampai ke lutut. Baru kemudian ia teruskan sampai ke pinggang dan bagian dada.


Rain sendiri melihat istrinya sedang menuangkan air dari dalam gayung ke dadanya. Sentuhan lembut dari sang istri amat membuatnya terpana. "Aku merasa lebih baik setelah terkena setrum jarum itu." Rain menjawabnya.


"Eh?!" Seketika Ara bingung. "Itu bukan setrum, Sayang. Hanya jarum yang dipanasi lalu ditusukkan ke beberapa titik tubuhmu." Ara mulai mengguyur tubuh suaminya dengan air. Ia bak seorang ibu yang sedang memandikan anak lakinya.


Rambut Rain akhirnya basah. "Tapi rasanya seperti terkena setrum," terang Rain lagi kepada Ara.


Ara tertawa kecil. "Begitu, ya? Aku tidak tahu jika rasanya sampai seperti itu. Mungkin kalau di dunia kita sejenis pengobatan kai." Ara menduga.


"Kai?" Rain menoleh ke Ara yang sedang mempersiapkan sabun mandi.


"He-em. Sekarang tegakkan tubuhmu. Aku akan menyabuninya." Ara pun mulai menyabuni badan Rain.


Rain diam sambil memperhatikan sang istri. Ia pun menurut saat diminta untuk merentangkan kedua tangannya. Ia tersenyum kecil melihat istrinya melayani sepenuh hati. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi selain kata cinta dari dalam hatinya. Rain menyadari jika selama ini hanya Ara lah yang dibutuhkannya.


Istriku, aku tidak pernah menyesal dengan pertemuan kita. Maafkan aku yang dulu karena belum mengerti apa itu cinta. Kini berada dalam lembut sentuhanmu, aku menyadari jika cinta itu memang ada. Dan kini cinta itu telah kudapatkan seutuhnya. Bersamamu, bersama belahan jiwaku. Aku mencintaimu, Ara.

__ADS_1


Ara terus menggosok tubuh Rain dengan sabun yang sebelumnya telah disiapkan oleh pelayan istana. Ia juga menuangkan sebotol cairan yang diberikan oleh tabib ke kepala Rain lalu memijatnya. Setelah itu ia membilas dan menyampokannya. Ara begitu sigap dalam melayani suaminya.


Janin yang dikandung seolah menjadi saksi atas kemesraan ayah dan ibunya. Kini sepasang suami itu sedang bermandi ria ditemani pancuran air yang menyejukkan. Ara pun sesekali melirik ke arah Rain karena merasa diperhatikan. Hingga akhirnya tangan Ara mulai menggosok-gosok dada Rain. Saat itu juga Rain memegang tangan istrinya.


"Aku mencintaimu," katanya lalu mengecup tangan Ara.


Ara tersenyum lalu mencolek ujung hidung suaminya. "Aku juga mencintaimu, Sayang." Ia membalasnya penuh bahagia.


"Hahaha. Dasar." Rain pun mengusap kepala istrinya.


"Ih, jangan. Ada sabun." Ara segera mengelak karena tangan Rain sudah penuh sabun.


Kemesraan keduanya begitu membuat iri semesta. Angin yang berembus di sekeliling seolah menjadi saksi atas betapa besar cinta keduanya. Ara dan Rain telah mendapat restu untuk selalu bersama. Mereka pun berharap cinta ini akan abadi selamnya. Sampai nanti, sampai mati.


Beberapa saat kemudian...


"Ini belum digosok." Dia menunjuk ke arah area pribadinya.


"Ih, dasar! Gosok sendiri. Nanti kalau aku yang menggosok, akan lain lagi ceritanya." Aku beranjak bangun setelah selesai memandikannya.


Dia tertawa kecil mendengar ucapanku. "Baiklah." Dia kemudian mengambil sabun lalu menggosoknya sendiri.


"Nona Ara! Nona Ara!" Tak lama kemudian kudengar suara seorang wanita yang memanggil-manggil namaku.


"Siapa ya?" Aku pun terheran di tengah hari begini ada yang datang ke padepokan.


"Mungkin pelayan yang mengantarkan obat untukku, Sayang." Suamiku menduganya.

__ADS_1


Pelayan? Mengantarkan obat? Bukankah tabib sudah langsung memberikan obatnya kepadaku?


Aku merasa heran sendiri.


"Oh, baiklah. Kalau begitu aku keluar dulu ya." Aku bergegas mencuci tangan lalu mengenakan gaunku kembali.


"Jangan lama-lama. Aku mau minta jatah," katanya yang membuatku menaikkan sudut bibir ini.


"Dasar!" Aku pun bergegas keluar area mandi.


Aku tidak tahu kenapa pelayan tiba-tiba datang dan memanggilku. Dan karena aku sudah selesai memandikan suamiku, kuputuskan untuk melihat siapa gerangan yang datang. Benarkah pelayan istana? Jika iya, ada perlu apa?


Kulangkahkan kaki menuju pintu depan padepokan seraya merapikan diri yang sedikit basah karena sehabis memandikan suamiku. Kubuka pintu lalu kulihat siapa gerangan yang datang. Dan ternyata...


"Pangeran?!" Aku terkejut ternyata pangeran Agartha lah yang datang.


"Nona Ara. Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya padaku.


Seketika itu juga aku seperti mengerti ke mana arah pembicaraan yang sebentar lagi akan terjadi. "Em, tapi suamiku masih mandi." Aku tidak enak jika berbicara tanpa suamiku yang menemani.


"Di teras luar saja. Pelayan juga akan menemani." Pangeran melirik ke arah pelayan yang datang bersamanya. Pelayan itu pun membungkukkan badannya ke arahku.


Pangeran seperti mengerti kekhawatiranku. Dia menjaga sikapnya saat ingin berbicara dengan istri orang dengan membawa seorang pelayan, untuk menjadi saksi atas pembicaraan kami yang hanya berdua ini. Aku pun merasa tenang, apalagi dia mengajak ku bicara di luar. Itu berarti dapat menghindari kami dari fitnah yang bisa datang kapan saja. Dan aku amat menghargai sikapnya.


"Silakan Pangeran." Aku pun mempersilakannya duduk di teras depan padepokan.


Semilir angin siang ini menjadi saksi atas hal apa yang akan pangeran bicarakan padaku. Entah benar atau tidak, sepertinya pangeran akan membicarakan tentang putri itu yang telah berbuat tidak senonoh pada suamiku.

__ADS_1


Ya, semoga saja pangeran tidak marah saat mengetahui tindak kekerasan yang telah kulakukan terhadap calon istrinya. Ini semua karena rasa kesal yang tidak bisa lagi tertahan. Aku mencintai suamiku. Tak akan kubiarkan satu wanita pun menyentuhnya. Karena ini adalah harga diri sebagai seorang istri.


__ADS_2