
Di perjalanan...
Kukenakan tengtop hitam dibalut kemeja putih, sedangkan dia mengenakan kaus abu-abu dibalut jaket hitamnya. Kami layaknya sepasang kekasih sungguhan.
Tuanku juga memakai topi putihnya dengan hiasan gelang dan jam tangan mahal di tangan. Kami sama-sama mengenakan levis hitam dan sepatu kets putih. Tampaknya tidak akan ada yang mengira jika hubungan kami hanya sebatas kepura-puraan.
Di dalam mobil tuanku memutar lagu yang waktu itu kunyanyikan untuknya. Dan dia juga mencoba menyanyikan ulang untukku. Kulihat dia amat bahagia hari ini. Aku pun tak henti tersenyum menemani kebahagiaannya.
"Sayang, panasmu sudah turun." Aku memegang lehernya, perhatian.
"Sudah. Mungkin karena aku merasa bahagia, Ara." Dia tersenyum padaku.
Sejenak aku terdiam karena dia masih memanggilku dengan sebutan nama. Di dalam hati amat berharap dia akan memanggilku dengan sebutan yang sama. Tapi sepertinya, tidak.
"Jika mau sesuatu, katakan saja." Dia menoleh ke arahku.
"He-em." Aku pun mengangguk.
Kunikmati perjalanan ini bersamanya dengan sesekali melihat ke arah jalan. Sebisa mungkin tidak kutunjukkan bagaimana perasaanku yang sesungguhnya. Aku sedang berakting, jadi biarkan dia mengetahui sisi aktingku saja.
"Sebentar lagi kita sampai."
Tidak perlu menunggu lama, akhirnya kami tiba di toko selular kemarin. Dan tanpa basa-basi, tuanku segera membayar ponsel keluaran terbaru menggunakan kartu debitnya. Kami kemudian menuju tempat ngedate yang sesungguhnya.
Satu jam kemudian...
Tepat pukul sembilan pagi, kami tiba di suatu tempat yang belum pernah kukunjungi. Sebuah tempat luas nan indah yang dipenuhi bunga-bunga beraneka warna. Tuanku tanpa segan memegang tanganku saat turun dari mobil sampai memasuki kawasan taman surga ini.
Sepertinya dia romantis.
Setelah membayar karcis, kami segera masuk ke pelataran taman bunganya. Sepanjang jalan bergandengan tangan layaknya kekasih sungguhan. Hingga tiba di sebuah kursi panjang, kami duduk berdampingan.
"Ponselmu akan kusambungkan dengan ponselku. Jadi di mana aku berada, kamu bisa mengetahuinya," katanya, lalu mulai melepas segel ponselku.
Aku tertegun sejenak dengan kata-katanya. Entah apa maksudnya, sepertinya dia ingin mengikat dirinya denganku. Atau malah sebaliknya? Entahlah, kuturuti saja apa maunya.
Kulihat dia begitu lihai mengotak-atik ponselku. Dan tanpa perlu menunggu lama, akhirnya ponsel kami sudah saling terhubung.
"Jangan macam-macam, ya. Aku tidak rela dirimu dengan yang lain," katanya yang membuat hatiku terenyuh.
Tuan ... kenapa kau begini?
Aku tidak bisa berbuat apa-apa di depannya selain menuruti semua perkataannya. Tapi, sebagai wanita pastinya akan baper mendapat perlakuan dan perkataan seperti ini. Dan tiba-tiba saja sesuatu yang mengganjal terlintas di benakku.
Apa dia tidak punya wanita lain di luar sana? Atau hanya aku saja? Tapi mungkinkah itu terjadi untuk orang sepertinya? Dia kaya raya dan juga berkuasa. Tidak ada satupun yang tidak bisa dibelinya. Lalu hal apa yang membuatnya memintaku berpura-pura menjadi kekasihnya? Apakah dia menyembunyikan sesuatu?
Kadang aku tak habis pikir dengan kisah ini. Kuakui jika aku memang menyukainya dan bisa dibilang sekarang menyayanginya. Tapi apa tidak ada wanita lain yang dekat dengannya selain aku? Rasanya mustahil sekali.
__ADS_1
"Sayang, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanyaku sambil merebahkan kepala di bahunya, mencoba bermanja ria.
"Tanyakan saja. Tapi sebelumnya kita coba kamera ponsel ini dulu." Dia mulai menghidupkan kamera dan ... memotret kebersamaan kami.
"Ih! Kok enggak bilang dulu, sih?!"
Kupukul pelan lengannya karena tidak bilang jika ingin berfoto bersamaku. Jadinya aku tidak punya persiapan sama sekali. Wajah polosku pun akhirnya terjepret kamera ponsel.
"Sakit, tahu. Pelan sedikit memukulnya." Dia mengusap-usap lengannya.
"Ya, ya. Maaf. Sini kuobati sakitnya."
Kucium lengannya yang kupukul, saat itu juga kulihat dia terdiam seraya menatapku. Mungkin dia kaget dengan sikapku yang seperti kekasih sungguhan. Dan tanpa malu aku mengambil alih ponsel lalu memotret kebersamaan kami. Beberapa pose pun mewarnai ponselku ini.
"Aku sudah menyimpan nomorku di ponselmu. Kirim semua foto tadi, ya, " pintanya padaku.
"Iya, Bawel."
Segera kukirimkan foto-foto kebersamaan kami ke nomornya. Beberapa detik kemudian foto-foto pun diterimanya. Dan baru kusadari jika ternyata tuanku ini selalu membawa dua ponsel ke mana-mana. Satu ponsel biasa berukuran mini dan satu ponsel pintar sepertiku.
Mungkin memang sengaja untuk memisahkan nomor kantor dan keluarga.
Hari ini kami menghabiskan waktu bersama di taman bunga yang ada di Kota Dubai. Bergandengan tangan mengelilingi taman layaknya kekasih sungguhan. Dia pun sepertinya tidak keberatan dengan sikapku yang manja. Terkadang aku merebahkan kepala di lengannya. Dia pun segera merangkul tubuhku. Saat itu juga tercium aroma parfumnya yang memabukkan. Ternyata aku benar-benar menyayanginya.
Jam makan siang...
"Kita kembali ke apartemen saja ya, Ara. Tubuhku mulai terasa tidak enak," katanya yang mengajak ku pulang selepas makan.
"Iya, Tuan," jawabku seraya tersenyum.
"Tuan, kenapa tuan lagi?" Dia seperti kesal mendengarnya.
"Ma-maaf, Tuan. Eh! Maaf Sayang, aku lupa." Lagi-lagi aku lupa jika harus menyebutnya dengan kata sayang.
"Ya sudah, kita pulang sekarang ya?"
"He-em." Aku mengangguk lalu menemaninya membayar makan ke kasir.
Kami akhirnya menuju parkiran taman bunga. Kulihat wajahnya memang sedikit pucat dan badannya saat kupegang panas kembali. Mungkin dia benar-benar membutuhkan istirahat. Ya sudah. Kami kembali ke apartemen agar dia bisa segera beristirahat.
Sesampainya di apartemen...
"Hah, akhirnya kita sampai juga."
Tuanku lekas-lekas menutup pintu lalu merebahkan diri di atas sofa yang biasa kutiduri. Aku pun segera duduk di dekatnya. Dan entah kenapa dia malah pindah ke sofa yang kududuki lalu merebahkan kepalanya di atas pangkuanku.
"Kepalaku sedikit pusing, bisa pijat aku?" tanyanya yang mulai manja.
__ADS_1
"Dasar!" Aku geli sendiri dengan sikapnya sekarang.
Kuusap kepalanya lalu kupijat perlahan. Sepertinya dia amat lelah dengan aktivitas seminggu ini. AC yang selalu hidup pun membuatnya mulai mengantuk.
"Kau tidak melanjutkan kuliahmu, Ara?" tanyanya sambil memejamkan mata.
"Aku tidak punya biaya untuk kuliah," jawabku apa adanya.
"Hei, kau tidak perlu memikirkan hal itu," katanya.
"Maksudmu?"
"Datang saja ke kampus. Nanti aku akan meminta Jack untuk mengurus administrasinya," katanya lagi.
"Sungguh?!" tanyaku tak percaya.
"He-em. Katakan saja apa yang kau inginkan, sebisa mungkin aku akan memenuhinya." Dia tersenyum padaku.
Aku terdiam sejenak.
Enak sekali jadi kekasih orang kaya, ya? Eh! Tidak-tidak, bukan orang kaya. Kaya kalau pelit juga percuma. Mungkin lebih tepatnya enak sekali jadi kekasih orang yang dermawan. Apa-apa dituruti.
"Bagaimana, mau?" tanyanya lagi.
"Tapi bukannya aku harus mengurus apartemen ini?" Aku berbasa-basi.
"Kuliahlah, tak apa. Kau bisa membagi waktumu nanti, asal tugas utama tidak sampai terabaikan." Dia beranjak bangun.
"Tugas membersihkan apartemen?" tanyaku, memastikan.
Dia menggelengkan kepala. "Bukan itu. Itu tidak penting."
"Lalu?"
"Kewajibanmu padaku. Itu saja," katanya lagi.
Tuan ...
Hatiku tersentuh mendengar perkataannya. Ingin sekali aku memeluknya sekarang. Tak perlu dia ingatkan, dengan senang hati aku akan melaksanakan kewajibanku padanya.
"Ara."
"Ya?"
Dia mencium tanganku. "Pahami aku, ya. Jangan sakit hati jika aku marah." Dia seperti sedang jujur akan dirinya.
"He-em." Aku pun mengangguk seraya tersenyum.
__ADS_1
Dia mulai mendekatkan wajahnya padaku, seperti ingin meraih sesuatu. Aku pun bisa merasakan kehangatan yang terpancar darinya. Saat ini aku hampir tidak peduli jika sedang berpura-pura. Aku hanya menuruti kata hati yang meminta untuk memejamkan mata saat wajahnya semakin mendekat. Aku juga bisa merasakan kedua tangannya yang memegang wajahku. Sepertinya hari ini ciuman itu akan terjadi pada kami.