
Kedua pasang bola mata kami saling bertatapan, seolah sedang mengajak berbicara satu sama lain. Sedang kedua tanganku masih dipegang erat olehnya, agar tidak lagi melempar barang yang ada. Dan entah mengapa, aku merasa risih dengan posisi berdiri berhadapan seperti ini. Seakan ingin berciuman.
"Lepaskan aku!" teriakku padanya.
Aku mencoba melepaskan diri, tapi tak bisa. Tenaganya begitu kuat hingga tidak mampu kulawan. Mungkin salah ku juga yang membiarkannya tidak mengenakan baju, sehingga dada bidangnya terlihat jelas di depan kedua mataku. Otot-otot perutnya membuatku terpana, bak roti sobek yang menggoda selera. Dan juga lengan kekarnya membuatku melayang entah ke mana. Dia amat sempurna.
"Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu. Kau ini membuat onar saja." Dia semakin mencengkram kuat tanganku.
Tubuhku masih belum mempunyai tenaga seutuhnya. Dan kini harus melepaskan diri dari cengkramannya. Rasa-rasanya mustahil sekali untuk kulakukan. Aku harus segera mencari cara agar dia mau melepaskanku, kemudian lekas-lekas melarikan diri darinya. Tapi jika melihat gerak-gerik bibir tipisnya itu, entah mengapa aku ingin tetap berada di sini.
"Apa yang kau mau dariku, Pangeran?" tanyaku, mencoba mengalah karena tidak ada yang bisa kulakukan selain itu.
Kulihat dia seperti terkejut dengan panggilanku. "Kau sudah tahu apa yang kuminta, tidak perlu menanyakannya lagi," katanya sambil terus menatap kedua bola mataku ini.
Sontak aku menelan ludahku sendiri. "Ma-maksudmu?" tanyaku memastikan.
"Kau adalah tamu yang tidak diundang. Datang sendiri ke sini dan sekarang berada di dalam kamarku. Kau pikir bisa lolos dari prajurit yang berjaga di sekeliling istana?" Dia seperti mengancamku.
Aku tidak tahu harus bagaimana. Mungkin lebih baik jika aku pasrah saja dengan semua keinginannya. Lagipula ini bukan duniaku, aku tidak akan bisa melawannya.
"Baiklah. Katakan saja." Sebisa mungkin kutunjukan jika aku tidak takut dengan perkataannya.
Dia menaikkan satu alisnya lalu melepaskan tanganku. Seketika aku merasa tanganku ini lecet-lecet semua karena cengkramannya.
"Jangan keluar sebelum aku kembali. Kita bicarakan hal ini nanti." Dia memintaku menunggu.
"Tap-tapi—"
"Cuma sebentar, kenapa tidak sabar?" tanyanya yang membuatku kesal.
Hah? Apa?! Apa maksud dari perkataannya itu?!
__ADS_1
Dia kemudian mengambil jubahnya dari lemari. Jubah berwarna merah dengan lambang burung garuda di belakangnya. Sisi-sisi jubahnya terukir batik emas yang sangat cantik dan berkelas. Mungkin dia memang seorang pangeran di sini.
Benarkah mimpiku menjadi nyata?
Ia mengenakan pakaiannya di depanku tanpa malu ataupun ragu. Dia berkaca di depan cermin sambil melirik ke arahku. Dan kulihat dia tersenyum tipis sambil mengancingi jubahnya. Entah apa yang akan dia lakukan nanti, rasanya aku harus cepat-cepat kembali ke duniaku.
Ara terjebak di dalam kamar seorang pria yang ia temui di bukit pohon surga. Pria itu memiliki nama yang sama dengan pria yang akan menjadi suaminya. Namun, berbeda tahta dan kasta. Rain yang di sini adalah seorang pangeran, bukan seperti pria di dunia aslinya, yang merupakan seorang penguasa pertambangan. Dan Ara merasakan hal aneh saat berhadapan dekat dengannya.
Ara ingin secepatnya kembali ke dunia aslinya. Tapi sampai detik ini juga portal atau sejenisnya belum terlihat di depan mata. Bahkan tanda-tanda kemunculannya pun belum ditemukan olehnya. Ia seperti kesulitan menemukan jalan untuk pulang. Yang mana di lain tempat seorang kakek tua sedang mengusahakannya kembali. Kakek berjubah putih itu mendatangi seseorang di persemediannya.
Di ruang dan waktu yang berbeda...
"Salam."
Kakek tua itu memberi salam kepada seorang nenek yang sedang bersemedi. Nenek itu lalu membuka kedua matanya dan melihat siapa yang datang, menganggu proses persemediannya.
"Siapa kau?!" tanya nenek berjubah hitam dengan raut wajah amat kesal.
"Cih! Untuk apa membicarakan sesuatu padaku? Aku tidak mengenalmu!" seru si nenek. Ia merasa kesal karena persemediannya diganggu.
"Apakah perlu saling mengenal untuk bicara? Sedangkan hal ini berkaitan dengan nyawa?" tanya kakek itu.
"Apa maksudmu?!" Nenek itu menunjuk si kakek tua berjubah putih dengan tongkat hitamnya. Tongkat hitam dengan kepala ular.
"Tolong hentikan sihirmu. Buka kembali jalan pulang untuk raganya." Kakek tua itu melanjutkan.
"Oh ...," Nenek itu kemudian menyadari sesuatu. "Jadi kau ini adalah kakek dari gadis yang kukunci jiwanya?" Nenek itu akhirnya mengakui.
Kakek berjubah putih itu diam, tidak menjawab.
"Aku tidak kenal denganmu atau dengannya. Aku hanya melaksanakan tugasku saja. Jadi jangan campuri urusanku." Nenek itu meminta dengan tanpa merasa berdosa.
__ADS_1
"Hal yang kau lakukan ini dikutuk oleh Tuhan. Tidakkah malu pada dirimu sendiri saat akan menghadap-NYA nanti?" tanya kakek berjubah putih, kepada si nenek berjubah hitam yang tak lain adalah penyihir.
"Hahahahaha." Nenek itu tertawa. "Aku tidak peduli. Seseorang telah membayarku mahal untuk melakukan hal ini. Selama uang kudapat besar, apa salahnya?" Nenek itu bersikeras tidak mau menghentikan sihirnya.
"Masih ada cara lain untuk mendapatkan uang. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Ketahuilah kesenangan dunia itu hanya sementara. Tidak lebih dari sekedar senda gurau dan permainan belaka." Sang kakek menasihati.
"Sialan kau, Pria Tua! Berani-beraninya kau menceramahiku?!! Kau pikir kau siapa, hah?!" Nenek penyihir itu marah. "Lebih baik urusi urusanmu sendiri! Jangan campuri urusanku!" Nenek itu merasa panas mendengar nasihat dari si kakek.
Kakek tua berjubah putih itu tersenyum. "Kita sudah sama-sama tua. Lebih baik pergunakan usia yang tak lama ini untuk memperbanyak amal kebaikan. Cepat atau lambat, kita pasti akan menghadap-NYA." Sang kakek tidak jera untuk menasihati si nenek penyihir.
"Cih! Banyak bicara!!!"
Nenek berjubah hitam itupun kesal. Ia kemudian mengarahkan telapak tangannya ke arah sang kakek. Seketika itu juga ular besar dengan cepat merayap ke arah kakek berjubah putih tersebut.
"Rasakan ini!!!"
Si nenek berjubah hitam mengeluarkan sihirnya untuk memberi pelajaran si kakek. Seketika itu juga ular besar itu membelit tubuh sang kakek, yang membuat kakek berjubah putih itu seperti kesulitan bernapas.
"Tidak ada daya dan kekuatan selain pertolongan dari Allah."
Satu kalimat diucapkan oleh kakek itu. Seketika itu juga ular yang membelit tubuh si kakek meledak ke segala arah. Sontak membuat si nenek terkejut bukan main karena sihirnya dengan mudah ditumbangkan.
Sialan! Dia ternyata tidak selemah yang kukira!
Si nenek penyihir belum juga tersadarkan. Ia malah mengucapkan mantra untuk memanggil kawanan ular lainnya. Seketika itu juga banyak ular bermunculan dari bawah. Melihatnya sang kakek tua berjubah putih hanya menggelengkan kepala.
"Sudahlah. Jangan habiskan kekuatanmu untuk melakukan hal buruk seperti ini. Masih ada kesempatan untuk kembali kepada-NYA." Kakek tua itu merasa kasihan kepada si nenek.
"Diam kau, Bedebah! Kau belum tahu siapa diriku! Matilah kau sekarang! Seraaaangg!!!" Nenek itu mengarahkan tongkatnya ke arah si kakek.
Seketika itu juga kawanan ular menyerang si kakek berjubah putih tersebut. Tubuh kakek itu lalu digigit oleh ular-ular suruhan nenek penyihir. Bisa dipastikan jika sang kakek tengah kesakitan sekarang. Ular hitam nan ganas menggigit tubuhnya tanpa ampun.
__ADS_1