
"Kapten, tolong lakukan pendaratan darurat. Sekarang!" Rain meminta kepada pilot utama.
"Rain, ada apa?" Byrne yang sedang menjadi co-pilot tampak khawatir.
"Akan ada angin topan yang melanda pesawat ini. Secepatnya kita daratkan pesawat," kata Rain lagi.
Co-pilot yang asli segera melihat radar pendeteksi cuaca. "Tuan Rain, tapi radar tidak menangkap apapun." Co-pilot menerangkan.
"Sudah, turuti saja apa kataku. Ini demi kebaikan kita bersama. Benar atau tidak, itu urusan belakangan. Saat ini kita tidak mempunyai banyak waktu. Empat menit dari sekarang." Rain menjelaskan.
"Apa?!!" Owdie dan Byrne terkejut. Sedang kedua pilot pesawat tampak mengangguk, mengerti ucapan Rain.
"Tap-tapi, Rain. Aku sedang menjadi co-pilot." Byrne keberatan bangun dari kursi co-pilotnya.
"Cepat, Byrne! Waktu kita tidak banyak!"
Rain kemudian menarik saudaranya agar kursi co-pilot diserahkan kembali ke co-pilot yang asli. Byrne pun tak berdaya untuk menolaknya.
Ini aneh. Ada apa sebenarnya?
Byrne tidak tahu apa yang terjadi. Kedua pilot jet pribadi segera memenuhi permintaan Rain untuk melakukan pendaratan darurat. Mereka pun mulai melakukan pendaratan darurat di dataran gurun yang gersang, dekat perbatasan negara Oman. Karena tidak ada tempat lain lagi. Saat itu juga semua yang ada di pesawat berpegangan pada dinding-dinding kabin.
"Astaga ...." Ara sendiri merasa pusing bukan main saat pesawat mulai melakukan pendaratan darurat.
Rain segera keluar dari area pilot lalu memeluk istrinya. Ia mencoba menenangkan sang istri walaupun hatinya dipenuhi tanda tanya. Di dalam hatinya merasa heran dengan hal yang Ara ucapkan, tapi Rain berusaha untuk memercayainya.
"Sayang, aku takut sekali." Ara memeluk erat Rain.
"Tenang, Sayang. Ada aku. Jangan takut, ya." Rain menenangkan Ara.
Pendaratan darurat dilakukan dalam waktu cepat, membuat daya penerbangan pesawat berubah drastis. Seisi jet pribadi harus berpegangan erat pada dinding kabin karena waktu yang tak banyak. Laju pesawat pun turun drastis, ketinggian pesawat dari permukaan laut semakin lama semakin rendah. Hingga akhirnya pedal pendaratan diturunkan oleh pilot.
Ya Tuhan selamatkan kami.
Pesawat terpaksa mendarat darurat di padang gurun yang gersang karena tidak ada tempat lain untuk mendarat dalam waktu singkat. Hingga akhirnya pendaratan darurat pun berhasil dilakukan dengan sedikit mengalami benturan.
__ADS_1
"Sayang!" Ara ketakutan saat pesawat mengalami benturan.
"Sayang, tak apa. Semuanya baik-baik saja." Rain memeluk sang istri sambil berpegangan pada dinding kabin.
"Aku takut." Ara hampir saja menangis.
"Jangan takut, ada aku." Rain menenangkan kembali.
Sejujurnya hati Rain masih belum bisa menerima hal ini. Namun, demi rasa sayangnya kepada sang istri, ia memenuhinya. Di dalam pikirannya tidak ada salahnya juga untuk melakukan pendaratan. Hitung-hitung beristirahat sejenak dari perjalanan jauh ke USA.
"Sayang, ini?" Tiba-tiba Ara merasa keadaan pesawat sudah stabil.
"Sudah selesai, Sayang." Rain masih memeluk istrinya.
"Syukurlah." Ara pun merasa amat senang.
"Kita ke area pilot dulu, ya." Rain mengajak Ara ke area pilot.
Ara mengangguk. Ia kemudian mengikuti suaminya ke area pilot. Sesampainya di sana terlihat Byrne dan Owdie yang sedang meluruskan kaki sambil bersandar di dinding kabin. Mereka terlihat frustrasi, seakan tidak menyangka jika akan menghadapi situasi seperti ini. Sedang co-pilot segera beranjak dari kursi kendalinya.
"Baik, terima kasih."
Rain melihat ke area pilot, ia mengajak Ara untuk ikut masuk. Sedang Owdie dan Byrne hanya bisa diam tanpa suara.
Kenapa harus begini?
Baik Owdie maupun Byrne terheran-heran dengan Rain, mengapa saudaranya itu meminta pilot pesawat untuk melakukan pendaratan darurat. Namun, tak lama sesuatu terlacak oleh radar pesawat.
"Astaga?!!"
Alarm tanda bahaya berbunyi nyaring sekali. Lampu merah area pilot berkedap-kedip menandakan jika sesuatu yang membahayakan terdeteksi. Pilot dan co-pilot jet pribadi kemudian melacak lebih jelas apa yang terdeteksi oleh radar. Tak lama kemudian mereka saling melirik satu sama lain. Rain pun ingin mengetahui hal apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa?" Rain bertanya sambil memegang tangan istrinya saat alarm tanda bahaya berbunyi.
"Tuan, ini aneh sekali." Pilot pesawat menerangkan.
__ADS_1
"Aneh? Apa terjadi sesuatu?" tanya Rain lagi.
"Radar menangkap ada angin topan berkecepatan tinggi melintasi jalur penerbangan kita." Co-pilot ikut menerangkan.
"Apa?!!" Byrne dan Owdie terkejut seketika. Begitu juga dengan Ara.
Ternyata mimpiku benar. Astaga, jangan-jangan tadi aku bukan bermimpi?
Ara tak percaya jika apa yang dilihatnya dalam mimpi menjadi nyata. Ia mengalami hal aneh saat melakukan penerbangan menuju USA. Ia seperti setengah sadar saat mengalami fenomena itu. Di mana ia bisa melihat kejadian yang akan datang dalam waktu dekat. Ia pun menelan ludahnya karena merasa takut sendiri.
Sayang, kau mempunyai indera ke enam?
Rain sendiri kini menyadari jika perkataan istrinya bukanlah gurauan belaka. Hari ini ia membuktikan jika Ara tidak main-main dengan ucapannya. Terbukti jika angin topan itu memang benar-benar melintasi jalur penerbangan. Dan hampir saja membuat mereka dilanda musibah jika Ara tidak mewaspadainya. Angin topan berkecepatan tinggi bisa mementalkan apa saja yang dikenainya.
"Ya Tuhan ...." Ara merasa takut sendiri.
Rain pun segera memeluknya. "Tidak apa-apa, Sayang. Semua sudah berlalu. Kita tunggu badainya selesai, ya." Rain menenangkan istrinya.
Tak lama dering telepon pesawat terdengar menggema di ruangan itu. Co-pilot pun segera mengangkatnya
"Dengan JP-012. Diterima!" jawab si co-pilot.
"Oh, kami baik-baik saja. Terima kasih atas perhatiannya." Co-pilot itu menjawab lagi.
Saat itu juga Rain menyadari siapa yang menelepon jet pribadi mereka. "Kita lanjutkan lagi penerbangan setelah badai berakhir." Rain memberi instruksi kepada kedua pilot penerbangan.
"Baik, Tuan." Pilot dan co-pilot pun menjawabnya bersamaan.
Pada akhirnya Ara merasa tenang karena Rain sudah percaya padanya. Ia merasa sang suami amat mendukung dan tidak mengucilkannya. Dan Ara amat menyayangi suaminya, ia tidak akan pernah melepaskan Rain tercinta.
Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena telah memercayaiku. Aku mencintaimu.
Baik Byrne, Owdie, maupun Rain dan Ara, masih menunggu badai topan berakhir agar bisa melanjutkan penerbangan. Co-pilot dan pilot pesawat pun siap siaga untuk melakukan penerbangan. Kerja keras mereka melakukan pendaratan darurat akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan. Hanya dalam hitungan menit, mereka berhasil menyelamatkan pesawat dari bahaya. Ini adalah sebuah keberuntungan besar yang tidak terlepas dari campur tangan Tuhan. Dan Ara amat meyakininya.
Syukurlah, semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
Tak lama badai topan pun berakhir. Radar pendeteksi tidak lagi mendeteksi sinyal yang membahayakan. Dilihatnya radar cuaca ternyata angin topan sudah menuju ke arah utara, sehingga mereka bisa melanjutkan penerbangan. Dan akhirnya, penerbangan menuju negara adidaya, United Stated of America dilanjutkan.