
Ara membuang darah yang ada di mulutnya. "Maaf, Bu. Ara juga merasa aneh kenapa bisa sampai menyenggol gelas itu," tutur Ara yang baru saja selesai mengeringkan darah dari jarinya.
Sang ibu menyapu serpihan gelas lalu memasukkannya ke dalam keranjang sampah. "Ya sudah. Sekarang Ara beristirahat saja ya. Biar ibu yang meneruskan." Sang ibu mertua meminta.
Ara pun mengangguk. Ia kemudian segera keluar dari dapur, menuju kamar apartemennya, tempat di mana ia dan Rain tidur bersama. Namun sayangnya, sudah beberapa hari ini Ara tidur sendiri tanpa sang suami yang menemani.
Sayang, sedang apa dirimu sekarang? Mengapa perasaanku tak enak?
Ara merindukan suaminya. Ia ingin sekali bertemu dengan ayah dari janin yang sedang dikandungnya. Ia lantas mengambil foto Rain dari atas meja kasur seraya mengusap perutnya. Ia begitu merindukan suaminya.
Pangeran tampan, cepatlah kembali. Aku dan buah hatimu yang sedang di dalam kandungan ini begitu merindu. Jaga dirimu di sana dan cepat kabari aku. Aku merindukanmu, Suamiku.
Tak dapat Ara pungkiri jika rasa rindu itu sudah menggebu di hatinya. Beberapa hari terakhir ia menjalani kehidupan tanpa sang suami tercinta. Rasanya waktu berjalan begitu lambat untuk segera mempertemukannya. Ara ingin Rain segera pulang dan berada di sisinya. Apalagi perutnya semakin hari semakin bertambah besar dengan cepat. Ia ingin segera bertemu suaminya.
Kembali ke Kansas...
"Sial!"
Kata umpatan itu keluar dari mulut Owdie saat melihat Rain terluka terkena tembakan. Kini Owdie bergantian menyetir mobil dan menghindari kejaran dari sekelompok orang yang sedari tadi mengejarnya. Ia menginjak pedal gas sampai spedometer itu melewati batas kecepatan. Owdie harus segera sampai di keramaian.
__ADS_1
"Rain, kau masih bisa bertahan?" Owdie tampak panik melihat lengan Rain terluka.
"Terus saja mengendarai mobilnya. Jangan melihat ke belakang sepertiku tadi. Mereka bisa segera menyusulmu dan memperlakukanmu sama sepertiku." Rain menahan darah yang keluar dari lengannya menggunakan tisu yang ada di mobil.
"Arrgh!"
Owdie berpikir cepat. Mobil yang disewanya ini bukanlah mobil anti peluru. Ia merasa kesal karena tidak memperhitungkan sampai ke hal sedetailnya. Ia pun kini harus bekerja ekstra untuk sampai ke keramaian kota.
Owdie dan Rain mengambil jalur cepat dari Washington DC ke Kansas dengan melewati jalan satu arah di sepanjang padang tandus yang ada di sana. Namun, niat hati ingin segera sampai ke Kansas, di tengah jalan mereka malah terhadang oleh banyak orang. Tak ayal sebuah kejadian tak terduga harus mereka alami. Baik Owdie maupun Rain kini berusaha menghindari mobil-mobil yang mengejarnya.
Keduanya tidak tahu mengapa bisa ditimpa hal seperti ini. Mereka seperti sedang diburu oleh seseorang yang menyuruh sekelompok orang tersebut. Tidak mungkin orang-orang itu mengejar bahkan sampai menembak Rain dengan pistolnya jika tanpa maksud. Owdie pun mencurigai seseorang dari kejadian ini. Tak lain dan tak bukan adalah Nick, saudara seperasuhannya sendiri.
Nick, kau benar-benar keterlaluan! Belum puas mencelakai Rain sampai ingin membunuhnya! Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal ini!
Rain sendiri memegangi luka di lengan kirinya akibat terkena tembakan sehingga ia tidak lagi bisa menyetir mobil. Owdie pun segera menggantikannya dan melajukan mobil menuju keramaian untuk menghindari tembakan tersebut. Alhasil mereka berhasil lolos dari tembakan namun tetap saja dikejar. Sampai akhirnya Owdie melihat ada beberapa unit mobil polisi di ujung jalan sana. Owdie pun bisa sedikit bernapas lega.
"Rain, bertahanlah. Kita ke rumah sakit sekarang."
Suasana di jalan satu arah itu lama kelamaan mulai padat saat memasuki wilayah perbatasan. Beberapa polisi pun segera memeriksa seluruh pengendara yang lewat. Hal itu tentu saja dimanfaatkan oleh Owdie untuk menyelamatkan diri dari orang-orang yang mengejarnya. Ia melihat ke kaca spion mobil dan ternyata sekelompok orang tersebut memutar arah tujuan mereka. Mereka tidak lagi melanjutkan pengejaran terhadap Rain dan dirinya. Owdie dan Rain pun akhirnya bisa selamat dari rentetan peluru yang ditembakkan.
__ADS_1
Owdie dan Rain tidak bisa melawan sekelompok orang tersebut karena mereka hanya memiliki enam butir peluru di pistolnya. Sedangkan orang-orang tersebut sangat banyak. Di setiap mobil terdiri dari empat orang bersenjata api. Sedang mobil yang menghadang mereka berjumlah enam unit. Sama saja dengan dua puluh empat orang melakukan penjegalan dengan lima sampai enam butir peluru di pistol mereka masing-masing. Tidak masuk akal jika akan menang melawan mereka.
"Kita ke rumah sakit terdekat. Bertahanlah." Owdie pun ikut masuk ke dalam barisan pemeriksaan polisi yang melakukan patroli.
"Selamat sore, Tuan." Seorang polisi menyapa Owdie yang mengendarai mobilnya.
Owdie pun membuka kaca mobilnya. Ia segera menunjukkan identitasnya kepada polisi tersebut.
"Kami dari 911 yang melakukan patroli mendadak di area ini. Sebaiknya tidak menggunakan jalur sepi walaupun cepat sampai. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di jalan nanti."
Polisi tersebut berkata sambil memeriksa kelengkapan surat izin mengemudi Owdie. Ia melakukan kamuflase agar tidak diketahui pihak lain jika sedang ingin menyelamatkan Owdie dan Rain dari sekelompok orang.
"Terima kasih. Apakah pihak 911 sudah mengutus polisi lain untuk menangkap orang-orang itu?" tanya Owdie pelan. Berlagak seperti sedang bercakap biasa dengan polisi tersebut.
Polisi itu melihat ke sekeliling. "Beberapa unit polisi sedang bergerak, Tuan. Sekarang pergilah. Keadaan sudah aman." Polisi itu memberikan kembali kelengkapan surat izin mengemudi milik Owdie.
Polisi yang sedang berpatroli tersebut ternyata utusan pihak emergency USA yang biasa dikenal dengan sebutan 911. Sebuah jaringan telepon yang menerima semua keluhan darurat dari warga USA. Mereka bekerja sama dengan pihak keamanan dan juga memiliki banyak titik jaga di seluruh penjuru negara tersebut. Alhasil, permintaan pertolongan Owdie cepat ditanggapi oleh mereka. Owdie dan Rain pun berhasil selamat dari bahaya.
Satu jam kemudian...
__ADS_1
Owdie menunggu dengan cemas keadaan Rain yang sedang melakukan operasi pengangkatan peluru pada bagian lengan kirinya. Suami dari Ara itu harus menanggung luka tembak kala mobilnya dapat terkejar oleh sekelompok orang. Orang-orang berpakaian formal dan berkaca mata hitam itu segera menembaki Rain yang sedang menyetir mobil. Tak ayal Rain pun terkena tembakan sehingga membuat lengan kirinya terluka. Kaca mobil pecah dan juga mengenai sedikit wajahnya. Ia seperti harus menanggung konsekuensi atas kedatangannya ke USA.
Saat ini Owdie sedang duduk di depan ruang operasi. Ia menunggu hasil operasi dari dokter yang menangani saudaranya. Raut wajahnya terlihat frustrasi karena tidak dapat melindungi Rain. Ia merasa hari ini adalah hari yang sial baginya. Tak disangka-sangka kejadian tak terduga harus dialaminya.