
Kembali ke Burj Khalifa...
Sebuah tamparan mendarat di pipi seorang gadis berblus hitam. Terlihat dirinya yang memegangi pipinya sendiri. Wajahnya penuh dendam kepada sosok pria yang ada di hadapannya.
"Ayah begitu tega menamparku!"
Ia adalah Rose, putri tunggal dari Johnson. Seorang saudagar kaya di Dubai yang sekarang berhasil mempunyai perusahaan sendiri. Tapi kini Johnson terlihat marah kepada putrinya.
Ruang kerjanya yang mewah harus terkotori saat Johnson tidak lagi bisa menahan emosinya. Tamparan itu akhirnya ia layangkan kepada sang putri yang sedang beranjak dewasa.
"Ini sebagai cambukan bagimu untuk tidak terlalu bergantung pada ayah," ucapnya kepada Rose.
Gadis berblus hitam itu terkejut dan merasa kesal dengan sikap ayahnya. Ia tidak menyangka jika sang ayah akan menamparnya. Sebelum-sebelumnya Johnson sangat memanjakan Rose, memenuhi segala apa yang diminta.
"Ayah, sudah seharusnya Ayah menjadi tempat bergantungku. Tapi kenapa Ayah malah menamparku?!" Rose tidak terima, ia sakit hati.
Johnson menuangkan anggur ke dalam gelasnya, membelakangi Rose. "Selama ini ayah selalu memanjakanmu sampai kau tidak bisa berpikir. Bahkan saat ayah sedang mengadakan pertemuan, kau memaksa untuk menyudahinya. Hanya untuk mendengarkan cerita bodohmu ini." Johnson berbalik, menghadap ke arah Rose.
"Ayah, Ayah tega! Ayah tidak sayang padaku! Rose marah dan tidak terima.
"Jika ayah tidak menyayangimu, saat kau bayi sudah ayah buang ke selokan, Rose. Hati-hati dengan bicaramu." Sang ayah menegur putrinya.
"Aku benci, Ayah!" Rose pun mengambil tasnya, berniat keluar dari ruangan.
"Ya, ya. Silakan benci ayah, tapi jangan harap kau akan mendapatkan apa yang dimiliki sekarang, Putriku." Johnson dengan santai menanggapi sikap marah putrinya.
Amarah Rose memuncak. Ia kemudian segera keluar dari ruangan ayahnya dengan membanting pintu. Tentu saja hal itu membuat Johnson bertambah kesal.
__ADS_1
Dia memang tidak tahu diri. Hampir saja perjanjian dengan pejabat kota batal karenanya. Dia tidak berpikir jika aku bekerja keras untuknya. Sedang ibunya entah di mana.
Johnson, pria berjas hitam itu meneguk anggurnya sampai habis. Ia mencoba menenangkan diri atas kejadian hari ini. Ia berharap Rose bisa mengerti dan tidak manja lagi. Karena Johnson sadar ia tidak akan bisa selamanya mendampingi sang putri. Sehingga sebuah tamparan untuk menyadarkan itu harus mendarat di pipi putrinya.
Lain yang diharapkan Johnson, lain yang terjadi pada Rose. Ia berlalu dari lift gedung menuju parkiran dengan amat tergesa-gesa. Sesampainya di dalam mobil ia segera menangis karena perlakuan ayahnya hari ini. Ia memukul-mukul stir mobilnya sendiri.
"Ayah, kau akan menyesal karena telah menamparku. Aku tidak akan menemuimu lagi. Akan kubuktikan jika aku bisa hidup tanpa seorang ayah sepertimu!"
Bukannya sadar, Rose malah semakin menjadi-jadi. Ia dendam kepada ayahnya sendiri. Ia berjanji tidak akan menemui ayahnya lagi. Ia akan membiarkan sang ayah hidup tanpanya.
Gadis berblus hitam itu segera keluar dari parkiran gedung. Ia melajukan mobil dengan hati penuh amarah kepada ayahnya sendiri. Niat hati mendapatkan pembelaan, malah sebuah tamparan mendarat di pipinya. Rose amat kesal hari ini.
Ia terus melajukan mobilnya melewati jalan raya utama. Namun, entah mengapa ia ingin pulang dengan melewati jalan asrama pria di dekat kampusnya. Sesampainya di sana, sebuah pemandangan mengejutkan dirinya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri siapa yang ada di ujung jalan sana.
"Jasmine?!!"
"Jadi selama ini ...?!!"
Bertambahlah amarah di dalam hatinya saat memergoki Jasmine berjalan bersama Lee di halaman asrama pria. Dosen incarannya selama dua tahun ini ternyata juga diincar oleh Jasmine, teman terdekatnya sendiri. Ia tidak menyangka jika Jasmine akan berkhianat padanya. Selama ini ia tidak pernah tahu jika Jasmine bermain di belakangnya.
"Sial!!!"
Satu kata terucap, penuh dengan amarah yang keluar dari mulutnya. Ia berputar arah dengan cepat, tidak ingin melihat apa yang terjadi di ujung jalan sana. Di mana Jasmine tampak bercakap-cakap bersama Lee sambil berjalan menuju mobil hitam yang diparkirkan di tepi.
Lain Rose, lain pula dengan Jasmine. Gadis berblus putih itu tampak berpamitan kepada Lee, tanpa mengetahui jika Rose telah melihatnya. Ia menebarkan senyuman termanisnya kepada Lee. Hingga akhirnya pertemuan malam ini harus segera diakhiri keduanya.
"Terima kasih atas rantang makannya, Jasmine." Lee mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
"Kembali, Dosen Lee. Aku pamit." Jasmine menundukkan wajahnya, berpamitan.
"Hati-hati di jalan." Lee pun mengiyakan.
Sang gadis segera masuk ke dalam mobil sambil tersenyum bahagia, karena malam ini Lee mengantarkannya bak kekasih. Hati Jasmine pun dipenuhi bunga-bunga akan sikap baik Lee. Tanpa Jasmine ketahui, Lee sedang memikirkan gadis lain. Mobil Jasmine pun segera melaju dari hadapan dosen fakultas teknik itu.
Andai itu Ara.
Lee bergumam dalam hati saat melihat kepergian mobil Jasmine. Entah mengapa ia berharap jika Ara lah yang mengantarkan rantang makanan untuknya, bukan malah Jasmine.
Ya, hampir setiap malam Jasmine mengantarkan rantang makanan untuk Lee. Tidak lain untuk mencari perhatian Lee. Dan malam ini baru Rose ketahui jika Jasmine memiliki rasa yang sama kepada dosen fakultas teknik itu. Ia melihat sendiri kedekatan keduanya.
Lee sendiri tidak tahu jika Rose maupun Jasmine menyukainya. Yang ia lakukan hanya sebatas ungkapan terima kasih karena Jasmine telah mengantarkan rantang makanan untuknya. Padahal isi dari rantang makanan itu tidaklah Lee makan, melainkan anak didik karatenya sendiri yang menyantapnya sampai habis.
Ada kisah di antara ketiganya. Tapi, tidak ada satupun yang tahu selain Lee sendiri jika ia menyukai Ara. Beberapa hari tidak bertemu membuat Lee memikirkan sosok gadis asal Indonesia itu. Ia tidak tahu harus ke mana untuk menemuinya. Di hatinya masih tersimpan keraguan.
Haruskah aku menemuinya di tempat kerjanya? Tapi pantaskah aku menemuinya di saat jam kerja?
Lee bingung sendiri.
Ara, di mana gerangan kau berada? Tiga hari tak jumpa seperti tiga bulan rasanya. Apa kau baik-baik saja di sana?
Lee menatap langit malam yang cerah berbintang.
Lee berhasil mendapatkan data diri Ara di kampus. Kini ia telah mengetahui di mana Ara tinggal dan bekerja. Rasa di hatinya ingin sekali menemui Ara. Tapi, ia berpikir ulang untuk melakukannya. Ia khawatir kedatangannya malah akan menganggu pekerjaan Ara. Tapi jika rindu sudah menyelimuti, apalah daya?
Pelan tapi pasti, Ara berhasil menaklukkan hati Lee tanpa disadari. Arsitek itu menyukai kepribadian Ara yang apa adanya dan tidak dibuat-buat. Penampilan Ara pun di matanya tidak pernah mencolok pandangan. Ara begitu sederhana dan layak untuk didekati. Tapi sayang, kini sang gadis sudah ada yang memiliki. Dan Lee belum tahu akan kebenaran yang pasti.
__ADS_1