Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Did He See?!


__ADS_3

Selepas makan malam…


Jam di dinding kedai menunjukkan pukul delapan malam. Kulihat keadaan sekitar kedai juga sudah mulai ramai. Kami sendiri masih asik duduk sambil menikmati pemandangan jalan di sini. Beberapa seruputan jus pun mewarnai waktu santai kami selepas makan. Rasanya seperti sedang nge-date saja.


Priaku menyeka mulutnya dengan tisu. Dia duduk berhadapan denganku tanpa rasa canggung atau malu. Mungkin kami sudah terlalu dekat sehingga mengikiskan jarak. Sebentar lagi aku juga akan menjadi pengantinnya.


Sungguh bahagia sekali. Hal yang kuidam-idamkan akan menjadi kenyataan dalam waktu dekat ini. Aku akan dipinang oleh seorang lelaki tampan dan dermawan. Dia juga seorang hartawan yang rendah hati. Mungkin hanya ada satu banding seribu lelaki sepertinya. Dan aku adalah gadis yang beruntung karena dapat memilikinya. Aku berjanji akan melayani dirinya sepenuh hatiku ini. Dan juga merawat anak-anaknya kelak. Karena cintaku sudah menyelimuti seluruh aliran darah di tubuhku.


“Ini bacalah, Sayang.” Dia akhirnya menyerahkan map yang dibawakan Ro tadi.


Aku mengambilnya lalu segera membaca isinya. Dan betapa terkejutnya aku saat membaca isi dari map di tanganku ini. Ternyata dia benar-benar memenuhi ucapannya. Rain menepati janji yang kukira hanya angin saja.


“Sayang, ini?” Aku tak percaya melihat pernyataan di map ini.


“Aku mempunyai seribu batang emas di brangkas yang ada di rumah. Sepuluh juta uang tunai berbentuk dolar yang ada di bank dan juga beberapa aset tak bergerak. Jika dinominalkan mungkin ada sekitar 30-40 triliyun mata uang negaramu. Aku kurang tahu persis. Tapi sepertinya, bisa digunakan untuk tujuh turunan kita.” Dia menjelaskannya sambil menahan tawa.


“Sayang ….”


“Semua akan kuberikan padamu jika kau setia padaku sampai akhir nanti. Tanda tangani perjanjian ini dan miliki aku sepenuhnya. Aku mencintaimu, Ara.” Dia memegang tanganku.


Bak tanah gersang terkena rerintikan hujan, mungkin seperti itulah hal yang kurasakan. Tiga kalimat yang mencukupi segala apa yang kubutuhkan, telah diucapkan olehnya. Dia dengan kerelaan hati memberikan semua yang dia punya untukku. Aku tak percaya dengan perjanjian yang amat menguntungkan ini. Tentunya aku tidak akan menderita kerugian sama sekali.


“Sayang, sebenarnya aku hanya khawatir. Tidak dibuat perjanjian pun aku mau hidup bersamamu.” Aku merasa terharu.


Dia tersenyum seraya menatapku. Sinar matanya mengisyaratkan jika dia tulus melakukannya. Tidak ada keraguan ataupun ketakutan sedikitpun pada dirinya. Hujanku begitu meyakinkan hati ini.


“Ara, setelah ini jangan lagi sungkan padaku. Jumat pagi kita akan menikah. Jadi nikmati saja hari-hari yang tersisa sebelum pernikahan. Aku ingin berpacaran denganmu,” katanya lalu mengecup tanganku.

__ADS_1


Aku tertawa. Dia sebegitu berani melakukan hal ini di muka umum. Aku yang hanya gadis biasa seperti tertimpa butiran berlian asli. Aku bahagia sekali.


Lantas kami memutuskan untuk segera kembali ke rumah. Hari yang sudah larut membuat kami harus lekas-lekas beristirahat. Seharian ini kami sudah menghabiskan banyak waktu di rumah Kakek Ali. Berdoa dan juga meminta nasihat dari beliau. Semoga saja hari esok akan lebih baik lagi.


Esok harinya, Kamis pukul delapan pagi…


Sinar terang matahari menyorot kami yang masih tertidur lelap dalam selimut. Aku pun terbangun saat dering alarm ponsel menyadarkan dari alam mimpi. Dan betapa terkejutnya aku di saat melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Ternyata hari ini kami bangun kesiangan lagi.


Kulihat priaku masih tertidur di bawah selimut. Dia terlihat kelelahan sekali. Dan karena tidak enak untuk membangunkannya, aku bangun sendiri lalu menuju kamar mandi. Membasuh wajah kemudian menyiapkan sarapan untuknya. Setelah itu barulah aku menyegarkan diri di bawah pancuran air yang hangat.


Puluhan menit aku lalui, akhirnya sarapan pagi sudah jadi. Dan aku pun sudah mandi. Lekas-lekas aku ke kamar untuk mengenakan pakaian. Kuambil daster bermotif bunga biru lalu segera kukenakan. Setelahnya kukeringkan rambut seraya berdiri di depan cermin. Saat itu juga aku melihat priaku sudah terbangun, dia tengah memperhatikanku sambil duduk di atas kasur.


“Sayang?!”


Aku terkejut lalu segera menoleh ke belakang. Kulihat dia tersenyum-senyum sendiri, entah mengapa. Dia kemudian berjalan mendekatiku.


“Ap-apa?!” Aku pun terkejut saat mencoba untuk mengartikan kata-katanya.


Dia memegang kedua lenganku. Kami berdiri berhadapan dengan saling menatap satu sama lain.


Sayang ….


Tiba-tiba saja dia mencium bibirku pagi-pagi. Ciuman lembut dengan aroma khas bangun tidur. Aku pun hanya bisa terdiam tanpa membalasnya. Tak lama dia menjauhkan wajahnya lalu kembali menatapku.


“Aku suka yang bersih, membuatku betah bermain lama.” Dia mencolek hidungku.


Aku mencoba menelaah kata-katanya. Terdiam sejenak sambil berpikir. Sampai akhirnya aku menyadari sesuatu. “Sayang, kau melihatnya?” tanyaku ragu.

__ADS_1


Dia menaikkan satu alisnya. “Kenapa memang?” Dia seperti tidak ingin disalahkan.


“Kau curang!” seruku.


“Curang? Kau juga ingin melihatnya? Baiklah, aku akan—"


“Ti-tidak. Bukan begitu maksudku.” Aku segera mendorongnya.


“Hahahaha.” Dia tertawa renyah pagi ini. “Sayang-sayang, bukannya sudah pernah melihatnya? Kenapa jadi takut begini? Atau ingin pemanasan dulu?” tanyanya menggodaku.


Tuh, kan mulai mesumnya.


Tak tahu mengapa aku lebih menyukai dirinya yang seperti ini daripada yang mendiamkanku berhari-hari. Aku lebih suka dinakali olehnya ketimbang didiamkan. Jika seperti ini aku merasa amat dimiliki olehnya. Tapi jika didiamkan, seakan-akan aku tak berarti. Dan ya, aku ingin selalu seperti ini bersamanya.


“Sayang, besok kita menikah. Sabar dulu, ya,” pintaku, berusaha mencegahnya.


“Besok? Itu terlalu lama. Bagaimana jika kita melakukan pemanasan sebentar.” Dia mulai mendekatiku kembali.


Segera saja aku kabur sambil membawa handukku dari dalam kamar. “Dasar mesum!” Aku pun tak lagi peduli dengannya.


“Hahahaha. Sayang-sayang ….” Kudengar gelak tawanya memecahkan suasana pagi yang sepi ini.


Aku bergegas mengambil sapu untuk membersihkan rumah. Sengaja memegang sapu agar dia tidak berani nakal padaku. Jika dia macam-macam, tinggal kupukul saja. Lagipula pernikahan kami esok pagi. Apa susahnya menahan 24 jam untuk tidak melakukan kontak fisik. Tapi mungkin karena memang cetakannya sudah seperti itu, mau bagaimana lagi. Tinggal pintar-pintar akunya saja yang mengendalikan diri.


Dasar. Dia memang susah berubah jika dekat denganku. Selalu saja nakal. Awas saja jika sudah menikah nanti. Akan kutunjukkan bagaimana diriku yang sebenarnya.


Pagi ini kulanjutkan aktivitas sebelum perlengkapan doa bersama diantarkan ke rumah. Rencana nanti malam akan diadakan acara doa bersama dengan mengundang tetangga sekitar. Kata Kakek Ali doa bisa memperlancar semuanya. Dan semoga saja pernikahan kami tidak ada lagi kendala.

__ADS_1


__ADS_2