Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Dark Story


__ADS_3

Ara mengangguk. "Bukankah hal itu sudah menjadi rahasia umum, ya? Banyak channel YouTube yang memberitakannya. Kejadiannya memang sudah sangat lama, tapi sayang kebenarannya baru-baru ini terbukti." Ara menuturkan.


Rain tampak mengernyitkan dahinya. Ia tak percaya jika kabar sebesar ini belum ia ketahui. Ia sangat sibuk. Bahkan tidak sempat untuk menonton berita di televisi ataupun di channel lainnya. Dan kini Rain menyadari jika kesibukan pekerjaannya itu sampai membuat dirinya lupa dengan keadaan dunia.


"Sayang, berarti beberapa artikel yang kulihat ini benar?" tanya Rain kepada Ara.


Ara terdiam sejenak. Ia tampak berpikir. "Benar atau tidak itu tergantung dari sudut pandang mana kita menilainya. Hanya saja kebenaran memang tidak bisa ditutup-tutupi. Waktu itu aku pernah melihat salah satu channel YouTube memberitakan tentang seorang tentara USA yang mengutuk presidennya sendiri karena merasa dibohongi." Ara mengingat apa yang pernah ia lihat waktu itu.


"Benarkah?!" Rain tambah tak percaya.


"He-em." Ara mengangguk lagi. "Sini aku bantu mencarikannya." Ara meminta Rain untuk mengambilkan laptop.


Kini kehidupan Ara dan Rain sudah kembali normal sejak menerima uang pinjaman dari Owdie. Mereka tidak lagi kekurangan dan bisa membeli apapun yang dibutuhkan. Tidak seperti saat baru sampai ke Turki yang hanya mempunyai beberapa puluh dolar daja. Dan kini Rain telah membeli segala keperluannya. Termasuk laptop, ponsel pintar dan keperluan lainnya.


Rain pun menurut. Ia mengambilkan laptop agar sang istri membantu mencarikannya berita di channel YouTube yang pernah dilihat. Menit demi menit pun dilalui sampai akhirnya Ara menemukan apa yang pernah ia lihat waktu itu.


"Ini. Dengarlah." Ara menyerahkan kembali laptop kepada suaminya.


Rain memutar salah satu video yang ditunjukkan istrinya. Ia pun mendengarkan dengan saksama apa yang terjadi di sana. Saat itu juga Rain tersentak hebat. Ia menyadari jika tentara USA tidaklah bersalah sepenuhnya. Mereka hanya diperalat oleh para penguasa yang menginginkan ladang minyak di sana.


Ini gila. Benar-benar gila. Menjadikan alat negara sebagai mainan untuk memuaskan hasrat mereka?


Rain kini melihat sendiri bagaimana mantan tentara USA yang mengutuk presidennya dari salah satu channel YouTube.


"Anda didiskualifikasi, Pak! Anda telah membunuh banyak orang! Anda bertanggung jawab dari ratusan ribu nyawa yang melayang! Anda pembohong!"


Rain melihat sendiri mantan tentara itu ingin menarik presidennya. Para pengawal khusus presiden pun menghalangi mantan tentara tersebut.


"Pak! Sampai kapanpun Anda tidak bisa lari dari kebenaran. Anda memerintah kami untuk menghancurkan senjata pemusnah massal yang ada di sana. Tapi nyatanya itu tidak ada!" teriak mantan tentara yang begitu berani.

__ADS_1


Rain mengusap wajahnya. Ia merasa frustrasi melihat kejadian ini. Ia pun semakin penasaran dan ingin mencari video yang lainnya. Ara pun memperhatikan suaminya.


"Sayang, kau masih ingin tahu apa yang terjadi?" tanya Ara kepada suaminya. Ia terlihat lebih segar kali ini. Rasa kantuk ditepiskannya.


"Ya." Rain menoleh ke Ara yang duduk di sampingnya. "Aku ingin tahu kebenarannya. Ternyata dunia ini sedang tidak baik-baik saja." Rain menyadarinya.


Ara mengangguk. "Itu benar. Tapi sayangnya banyak orang yang tidak peduli. Sudah, beristirahat ya. Besok lagi." Ara meminta Rain untuk segera tidur. Ia kembali merebahkan diri di kasur.


Rain masih sibuk mengutak-atik laptopnya.


"Sayang ...." Ara pun menarik-narik lengan baju Rain agar segera tertidur.


"Sebentar, Sayang. Masih banyak yang ingin kucari tahu. Selama ini aku sangat jarang membuka YouTube. Aku tidak tahu apa yang terjadi di luar sana. Aku terlalu sibuk." Rain mulai mendengarkan video yang diputar di channel YouTube lainnya.


Mau tak mau Ara sebagai istri pun menemani. Ia akhirnya beranjak bangun lalu membuat kopi. Ia mengerti keinginan besar sang suami sampai belum tertidur di jam selarut ini. Pada akhirnya ia pun ikut menonton video yang diputar suaminya. Satu per satu tentang berita yang terjadi beberapa puluh tahun silam. Rain pun merasa geram dan harus segera melakukan tindakan. Ia tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut. Semangat juang di hatinya mulai berkobar.


Pagi hari telah datang. Mengantarkan Ara dan Rain menuju meja makan. Keduanya ternyata telah ditunggu oleh hidangan yang ibunya masakan. Ara pun duduk bersama suaminya. Yang mana tak lama sang ibu membawakan makanan pembuka di pagi ini.


"Ibu mendengar suara kalian semalam. Apakah kalian tidak tidur?" tanya sang ibu lalu duduk di antara keduanya.


Ara mengambilkan nasi untuk suaminya. "Putra Ibu mengajak Ara begadang. Katanya dia ingin menonton YouTube." Ara menerangkan.


Saat itu juga Rain menutupi wajahnya sendiri, merasa malu.


"Benar, Nak?" tanya ibu kepada Rain.


Rain melirik ke istrinya. Namun, Ara seakan tidak peduli dengan lirikan Rain. Ia hanya jujur saat menjawab pertanyaan ibu. Karena memang mereka semalam tidak tidur sampai fajar tiba. Rain begitu penasaran dengan rahasia umum yang Ara katakan.


"Em ... aku sedang ingin menikmati malam dengan melihat berita, Bu." Rain menuturkan.

__ADS_1


Sang ibu pun mengerti. "Oh ... tapi jangan ajak istrimu begadang, Nak. Dia sedang mengandung anakmu. Ibu hamil tidak boleh tidur terlalu larut." Sang ibu menjelaskan.


Ara terkekeh sendiri. Ia akhirnya mengakui. "Sebenarnya putra Ibu tidak mengajak Ara begadang, Bu. Hanya Ara saja yang ingin menemaninya." Ara akhirnya jujur.


"Kau ini. Ingin membuatku dimarahi ibu ya?" Rain tampak gemas kepada istrinya.


"Ibu, lihat! Putra Ibu ingin mencubitku." Ara semakin menjadi-jadi. Padahal Rain belum mencubitnya sama sekali.


"Sudah-sudah. Kita sarapan dulu. Pagi ini ibu akan ke pasar membeli sayuran. Sekalian menemui bos. Ibu akan mengundurkan diri dari pekerjaan lama." Sang ibu menceritakan.


"Ibu, apa Ibu tahu resep rotinya?" tanya Rain tiba-tiba.


"Kau ingin membuatnya, Nak?" tanya sang ibu kepada putranya.


Rain tersenyum seraya mengangguk. "Waktu itu aku pernah dibuatkan bakwan oleh Ara, Bu." Rain menceritakan.


Sontak Ara menaikkan satu alisnya.


"Bakwan?" Sang ibu pun terheran.


"Ya, Bu. Tepung yang dicampur berbagai macam sayuran mentah lalu digoreng. Rasanya enak. Apalagi kalau disantap menggunakan cabai hijau yang kecil-kecil," lanjut Rain.


"Cabe rawit, Sayang." Ara menimpali.


"Ya. Itu. Aku lupa nama cabainya. Hahaha." Rain pun tertawa sendiri.


Sang ibu mengerti. "Baiklah. Nanti ibu akan coba membuatkannya. Sekarang kita sarapan dulu ya." Sang ibu meminta.


Keduanya mengangguk lalu memulai santap pagi bersama sebelum melakukan aktivitas selanjutnya. Ara dan Rain pun tampak lahap menyantap sarapan pagi yang telah dibuatkan ibunya. Tampaknya sang ibu mengerti benar hal-hal apa saja yang bisa memicu mual menantunya. Sehingga ia memasak menggunakan bumbu dapur yang tidak terlalu kuat aromanya. Ara pun jadi lebih bersemangat menyantap sarapan paginya.

__ADS_1


__ADS_2