Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Desire


__ADS_3

Di kantin kampus...


Ara dan Taka duduk berhadapan di kantin kampus Universitas Wollongong, Dubai. Mereka memesan makanan hangat untuk menetralkan perut yang kembung karena sedari tadi Ara kurang enak badan.


Ara duduk menyantap sup kambing dengan bumbu rempah khas Timur Tengah. Ia pun berusaha menyesuaikan lidahnya dengan rempah-rempah yang digunakan dalam sup. Taka tampak tertawa saat melihat Ara yang seperti kepedesan. Ia lalu memberikan minumannya.


"Minumlah. Kau belum terbiasa dengan cita rasa negeri ini." Taka memberikan air jeruk hangatnya.


"Hm, ya. Sepertinya aku tidak perlu menambahkan sambal lagi ke sup." Ara lekas-lekas meminum air jeruk hangat milik Taka.


Pemuda asal Jepang itu tertawa. Ia lalu menyeruput es teh milik Ara. Mereka bertukar minuman agar bisa meredakan rasa pedas yang melanda. Alhasil Ara pun kembali normal, tidak kepedasan lagi.


"Taka."


"Hm?"


"Sepertinya aku membutuhkan guru LOA." Ara membuka pembicaraan.


"LOA?"


"He-em. Aku tertarik untuk mempelajari hukum itu," kata Ara lagi.


"Maksudmu Law of Attraction?" Taka memastikan.


"Benar. Sepertinya aku bisa mempelajarinya sambil menjalani aktivitas harianku. Mungkin ada sesuatu yang bisa kudapat." Ara merasa yakin.


"Hm ... aku tidak tahu apakah ada guru seperti itu di sini. Bukankah hal itu tidak masuk ke kurikulum, ya?" Taka bertanya sendiri.


"Iya. Memang tidak ada. Ini lebih ke pribadi, sih. Sejenis memotivasi diri." Ara menuturkan.


"Hm, kalau begitu ... mungkin guru Lee bisa membantumu." Taka berpikir.


"Guru Lee yang tadi?" Ara menunjuk ke arah belakang tanpa berbalik.


"He-em. Aku rasa dia punya self motivation yang tinggi. Mungkin saja dia tahu bagaimana cara bermain LOA." Taka menduga.


"Hm ...?" Ara ikut berpikir.


"Begini saja. Nanti kutanyakan terlebih dulu padanya. Jika dia memberi sinyal yang bagus, aku akan memberi tahumu." Taka mencoba membantu.


"Ah, terima kasih." Ara pun tersenyum senang karena Taka mau membantunya.


Sejenak Taka melihat kegembiraan yang tersirat dari wajah sang gadis. Entah mengapa ia juga merasa gembira. Hatinya ikut senang jika Ara senang.


"Jam kuliah hari ini berakhir jam berapa, Ara?" Taka mengalihkan pikirannya.

__ADS_1


"Jam dua juga sudah selesai." Ara menjawabnya segera.


"Bisa semangati aku latihan karate, kan?" Taka mengingatkan.


"He-em. Tenang saja. Ya, walaupun cuma sebentar. Hahaha." Ara tertawa renyah di hadapan Taka.


"Baiklah, tak apa." Taka pun tersenyum kepada Ara.


Keduanya lalu meneruskan perbincangan sambil makan siang bersama. Terlihat keduanya yang begitu akrab, tidak kaku seperti dulu. Tanpa menyadari jika Lee berada di kantin dan melihat keakraban mereka. Seketika itu ia mempunyai pikiran lain di dalam hatinya.


Mungkin aku bisa menanyakan siapa gadis itu kepada Taka.


Lee lalu mengambil makan siangnya di kantin. Ia duduk seorang diri di meja yang berada paling pojok. Ia terlihat penasaran dengan gadis asal Indonesia yang ditolongnya waktu itu. Entah mengapa.


Sore harinya...


Ara sengaja tidak langsung pulang karena ingin menyemangati Taka latihan karate. Dan kini ia duduk seorang diri di kursi penonton lapangan basket, melihat Taka yang mulai bertarung dengan lawannya. Ara pun tampak menyemangati Taka dari jauh.


Diam-diam Lee memperhatikan bagaimana sikap Ara dari pinggir lapangan. Pria bermata sipit nan tampan itu menarik kesimpulan jika keduanya mempunyai hubungan yang baik. Ia merasa harus segera mencari tahu siapa Ara sebelum Taka lebih dekat lagi. Lee penasaran dengan gadis itu.


Detik demi detik pun berlalu, menemani Ara di kursi penonton seorang diri. Tak terasa sudah setengah jam saja ia menyemangati Taka latihan. Dan akhirnya ia berpamitan pulang seusai Taka menyelesaikan latihan tarungnya.


"Aku duluan, ya. Masih ada kerjaan di apartemen. Tetap semangat!" Ara turun ke lapangan, berpamitan kepada Taka.


"Em, tidak perlu. Aku sudah dijemput. Sampai nanti." Ara melambaikan tangannya lalu segera pergi.


Taka pun membalas lambaian tangan Ara. Ia hanya bisa diam dan melihat kepergian sang gadis hingga hilang dari pandangan matanya. Di saat itulah Lee datang lalu mendekati murid karatenya ini.


"Kau menyukainya?" goda Lee dari samping.


"Gu-guru?!" Taka segera tersadar.


"Sepertinya kau mempunyai hati padanya. Memangnya dia tidak punya pacar?" Lee mengajak Taka mengobrol.


"Hm ... aku tidak tahu. Tapi sepertinya tidak." Taka duduk di pinggir lapangan sambil meneguk botol airnya.


"Dia mahasiswi baru di sini?" Lee pun ikut duduk di samping Taka.


"Guru sepertinya tertarik?" Taka balik bertanya.


"Hahaha. Tidak juga. Aku hanya penasaran saja kenapa bisa dipertemukan sebelumnya." Lee menceritakan.


"Maksud Guru?" Taka antusias.


Lee menoleh. "Dua kali aku dipertemukan dengannya sebelum ini. Dan aku percaya jika tidak ada yang namanya kebetulan." Lee menerangkan.

__ADS_1


"Em, Guru. Ara sedang mencari guru LOA. Apakah guru bisa membantunya?" Taka segera teringat dengan perkataan Ara.


"LOA? Dia berminat?" tanya Lee memastikan.


"He-em." Taka mengangguk.


Astaga. Seketika Lee termenung. Apakah ini hasil tarikanku selama ini? Ia bertanya-tanya sendiri.


"Guru, kau baik-baik saja?" Taka melihat Lee diam tiba-tiba.


"Em ... nanti kita bicarakan lagi." Lee beranjak berdiri.


Taka pun mengangguk. Tanpa ada rasa curiga ia ikut berdiri lalu mengikuti guru karatenya ke tengah lapangan, berkumpul bersama mahasiswa lain yang sedang berlatih. Lee sendiri memikirkan Ara, entah kenapa. Dosen fakultas teknik itu sepertinya benar-benar tertarik dengan dara manis asal Indonesia ini.


Sementara itu...


Ara dijemput Jack sore ini. Di sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Ara hanya melihat pemandangan jalan dari balik kaca jendela mobil.


Sang gadis terlihat murung saat akan kembali ke apartemen. Bayang-bayang akan perkataan Rain kembali teringat di benaknya. Dan kini ia gelisah, membuat Jack menyadari lalu membuka pembicaraan dengannya.


"Nona, apakah Nona baik-baik saja?" tanya Jack dari depan, sambil terus mengendarai mobilnya.


"Em, ya. Aku baik-baik saja," jawab Ara ala kadarnya.


"Sepertinya Nona sedang kurang sehat. Apa kita mampir ke apotek dulu?" tanya Jack lagi.


"Em, tidak usah, Jack. Kita langsung kembali ke apartemen saja. Aku belum menyelesaikan tugas harianku." Ara menolaknya.


"Baiklah, Nona. Tapi tuan Rain berencana mengajak perawatan ke salon hari ini." Jack memberi tahu.


"Perawatan?"


"Benar, Nona. Jam lima kita akan berangkat," kata Jack lagi.


Ara berpikir...


Apa ini siasatnya untuk mengajak ku bicara? Tumben dia mengajak perawatan. Ah, lebih baik aku tidak ikut saja. Lagipula kalau ikut mau ngapain di sana?


Ara bergumam dalam hati.


"Sepertinya aku tidak bisa ikut, Jack. Tugas kuliahku banyak." Ara menjawab singkat.


Tersirat kekecewaan dari raut wajah Jack. "Sayang sekali, Nona. Sepertinya tuan juga tidak jadi pergi bilamana Nona tidak ikut." Jack menuturkan kembali.


Ara hanya tersenyum tipis, tidak lagi menanggapi ucapan supir pribadi Rain itu. Ia berusaha menjaga dirinya dari pandangan negatif sang tuan. Cukup sekali kata murahan itu terucap dari bibir tuannya. Ia tidak ingin kata itu terulang kembali, karena Ara masih mempunyai harga diri.

__ADS_1


__ADS_2