Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
I am Sad


__ADS_3

Esok harinya...


Pagi telah datang. Suara burung berkicau pun terdengar dekat sekali. Sepertinya mereka sedang bermain di teras kamar kami. Aku pun membiarkannya sejenak sebelum membuka mata ini. Aku masih ingin berpelukan dengan si hujan yang menemaniku.


Semalam kami bergumul ria bersama. Melepas semua hasrat yang bergejolak di dada. Satu per satu ritme yang diberikannya, kunikmati. Hingga akhirnya aku merasa lelah dan dia mengambil kendali. Dia memperlakukanku begitu lembut. Tidak terburu-buru agar terasa syahdu. Aku pun pasrah saat dia mengendalikanku. Aku memang miliknya. Milik suamiku tercinta. Dan aku ingin dia selalu mencintaiku, seperti perasaanku padanya.


Kami masih berada di dalam selimut. Belum mengenakan pakaian sambil tetap berpelukan. Dia sepertinya kelelahan setelah mengarungi malam bersamaku. Terdengar hela napasnya yang begitu lapang saat tertidur memelukku.


Tubuh kekarnya semalam menjadi sandaran tubuhku yang mungil. Jari-jari nakalnya pun tak berhenti membuatku bergeliat ke sana kemari. Dia menerpaku dengan cinta dan sentuhannya yang memabukkan. Hampir-hampir saja membuatku tak sadar dan melayang tinggi ke angkasa. Dia begitu sempurna.


Janin yang sedang kukandung ini menjadi saksi betapa besar cinta itu menyelimuti jiwa kami. Rainku yang awalnya membeku, perlahan-lahan mencair terkena sinar cinta yang kuberi. Pelan tapi pasti altar pernikahan itu menjadi saksi janji suci kami. Bahagia rasanya bisa berjalan bersama sejauh ini.


Sayang, aku mencintaimu.


Tak berapa lama kudengar dering ponselnya berbunyi. Aku pun tersadar dan segera membuka kedua mata ini. Kuambil ponselnya yang ada di atas meja lalu kulihat siapa gerangan yang menelepon. Dan ternyata nomor tak dikenal lah yang meneleponnya. Entah siapa.


Bangunkan tidak, ya?


Aku ragu saat ingin membangunkan suamiku. Tapi jika tidak dibangunkan, khawatir akan menimbulkan masalah yang baru. Pelan-pelan aku mengusap dadanya agar dia tersadar dari tidurnya. Aku pun mencium pipinya, keningnya, bahkan bibirnya agar dia terbangun karena merasakan ciumanku. Dan ternyata benar, dia terbangun dari tidurnya saat kucium bibir tipisnya itu.


"Sayang ...."


Suaranya terdengar serak sekali. Kedua matanya pun perlahan terbuka dan melihatku yang berada di sisi. Dia baru saja terjaga dari tidurnya lalu mengusap wajah. Saat itu juga rambut di ketiaknya terlihat olehku. Seksi sekali.


"Sayang, ada yang menelepon," kataku sambil menutupi dada ini dengan selimut.

__ADS_1


"Siapa?" tanyanya, melihatku dengan mata yang masih mengantuk.


Kuambilkan ponselnya lalu kuberikan padanya. Dia pun menerima ponsel itu lalu segera mengecek pesan masuk. Dan ternyata...


"Pihak Kedubes memintaku untuk ikut makan siang bersama. Ada hal yang ingin dibicarakan." Dia menceritakan.


"Kedubes? Apakah berhubungan dengan Byrne?" tanyaku.


"Entahlah." Dia menggelengkan kepalanya. "Sebentar kutelepon balik orangnya." Dia kemudian menelepon balik nomor tak dikenal tersebut.


Sejujurnya aku belum tahu masalah apa yang sedang melanda organisasi sampai-sampai ingin meminta bantuan Turki untuk menyelamatkan Byrne. Saudara suamiku itu adalah ahli sains yang keahliannya disalahgunakan. Apakah yang dimaksud dengan keahliannya itu berhubungan dengan chemtrail yang kulihat di beranda YouTube? Entahlah kita lihat saja nantinya akan bagaimana.


Pukul delapan pagi waktu Turki dan sekitarnya...


Aku sedang membantu ibu menyiapkan sarapan untuk pagi ini. Selepas mandi segera bergegas ke dapur untuk menemani ibu memasak. Tapi saat sudah sampai di dapur, ternyata sarapannya sudah jadi. Dan kini aku tinggal membawakannya saja ke meja makan. Sedang suamiku masih di dalam kamar berganti pakaian. Dia buru-buru mandi karena akan menemui Owdie sekarang. Sepertinya tentang tawaran yang pihak Kedubes berikan.


"Ara tidak tahu, Bu. Mungkin di rumah saja," jawabku seraya membawa mangkuk sup ke meja makan.


Ibu mengikutiku dari belakang. Dia ikut membawakan lauknya. "Saran ibu, tetaplah berada di rumah karena sepertinya akan hujan." Ibu menyarankan.


Aku mengangguk. Tak lama suamiku pun keluar dari kamarnya. "Halo Jack. Apa kabarmu? Lama tak bertemu." Suamiku ternyata sedang menelepon Jack, supir pribadinya di Dubai dulu.


"Ya, benar. Puji syukur aku selamat. Apa kau sedang sibuk sekarang?" tanya suamiku lalu duduk di meja makan.


Aku pun duduk di sampingnya. Ibu juga ikut duduk lalu mengambilkan nasi untuk kami. Sementara aku memperhatikan suamiku yang sedang menelepon. Sepertinya dia telah merencanakan sesuatu.

__ADS_1


"Ya. Datanglah ke Turki. Aku sedang berada di sini. Kebetulan akan ada rencana pergi ke Rusia untuk sebuah urusan. Kau bisa menemani Ara dan ibuku di sini?" tanyanya.


Benar dugaanku. Ternyata suamiku menelepon Jack dan ingin meminta bantuan. Suamiku sudah merencanakan sesuatu sebelum kembali berpergian. Walaupun sebenarnya aku sedikit kecewa karena dia tidak bilang dulu padaku.


"Aku akan kirimkan alamatnya. Ajak sekalian keluargamu tak apa. Agar Ara bermain dengan kedua pangeran kecil itu." Suamiku mengajak Jack bergurau melalui telepon.


"Baiklah. Sampai nanti." Dia akhirnya mematikan teleponnya.


Selesai sudah percakapan itu. Tapi entah mengapa aku sedikit kurang menyukai kabar yang kudengar pagi ini. Ternyata aku mau ditinggal pergi lagi. Apakah ini risiko yang harus kutanggung karena menjadi istrinya? Selalu ditinggal saat sedang ingin bermanja.


"Siapa, Nak?" Ibu memberi putranya sepiring nasi.


"Jack, Bu. Dia supir sekaligus pengawal pribadiku di Dubai. Aku memintanya ke sini untuk menemani kalian." Suamiku menuturkan.


"Kau berencana ingin pergi lagi?" tanya ibuku sambil memberikan nasi kepada kami secara bergantian.


"Hm, ya. Saudaraku Bryne membutuhkan bantuan. Aku dan Owdie tidak bisa diam saja. Apalagi organisasi lepas tangan dari ini semua. Dia tidak bersalah." Suamiku membela saudaranya.


"Kalau begitu, ibu hanya bisa mendoakan. Tapi jika urusan sudah selesai, lekaslah pulang. Perut istrimu semakin hari semakin membesar. Dia butuh perhatian yang lebih darimu," tutur ibu.


Ibu?!


Saat itu juga aku tersentak dengan perkataan ibu. Ternyata ibu begitu memahami keinginanku yang selalu ingin bersama putranya. Kuakui jika sekarang memang tidak pernah mual-mual lagi semenjak mendapat resep dari dokter. Tapi batinku memang ingin selalu ditemani Rain ke mana-mana. Mungkinkah manjaku ini berlebihan?


"Ya, Bu. Rain akan selesaikan segera urusan di Rusia nanti. Hari ini juga Rain bersama Owdie akan datang ke istana kepresidenan Turki untuk meminta bantuan mereka agar masalah lebih mudah diselesaikan. Ibu jangan khawatir. Tetap doakan Rain ya." Suamiku menenangkan ibunya.

__ADS_1


Ibu mengangguk. Dia seperti mencoba mengerti keadaan yang sedang menimpa anaknya. Sedang aku hanya diam sambil mulai menyantap sarapan pagi ini. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku merasa sedih sekali. Sedih karena akan ditinggal kembali olehnya. Oleh suamiku tercinta, Rain Sky.


__ADS_2