
Baru kali ini aku berhadapan langsung dengan bos besar. Tatapannya sangat mematikan.
Office boy itu terlihat amat gugup. Ia hanya sesekali melihat ke arah wajah bos besar perkilangan minyak ini.
"Terima kasih, Tuan Ro." Rain pun mulai memperhatikan saksi permasalahan kemarin.
Pria berjas hitam yang membawa saksi mata adalah Ro, asisten pribadi Rain yang dipercaya untuk membawahi semua kinerja di perkilangan minyak yang ditemukan. Wajahnya amat ketimur-tengahan dengan tubuh yang proporsional. Terlebih Ro amat berkompeten dan terpercaya dalam pekerjaannya, sehingga tak salah jika Rain menjadikannya sebagai seorang asisten pribadi.
Rain beranjak bangun lalu mendekati office boy tersebut. Ia mulai menanyakan satu per satu kronologi yang terjadi sebelumnya. Bahkan hal sepele pun sampai Rain tanyakan, membuat si office boy gemetaran bukan main karena takut.
"Berapa kau dibayar oleh pria berjaket hitam itu?" tanya Rain kepada si office boy.
"Du-dua dinar, Tuan," jawab si office boy jujur.
"Apa kau mengenali wajahnya?" tanya Rain lagi.
Si office boy terdiam sejenak. "Saat itu dia memakai kaca mata. Saya tidak dapat melihat dengan jelas wajahnya, Tuan," kata office boy lagi.
"Hm..." Rain berpikir. "Tuan Ro bagaimana hasil akhir penyelidikan?" Rain beralih ke Ro.
"Maaf, Tuan. Hasil kamera CCTV Burj Khalifa tidak dapat menangkap dengan jelas wajah si pelaku. Tapi setelah mencatat nomor kendaraan yang digunakannya, kami segera melacak pemilik kendaraan tersebut. Dan ternyata, mobil yang dikenakannya adalah mobil sewaan." Ro menjelaskan.
"Lalu apa hasil rekaman CCTV di sana?" tanya Rain lagi.
"Pria itu tidak dapat ditangkap dengan jelas oleh kamera di sana. Namun, dia menyerahkan tanda pengenal sebelum menyewa mobil itu. Dia juga memberikan sejumlah uang sewa, tiga kali lipat kepada pemilik mobil."
"Lalu?"
"Setelah kami melacaknya, ternyata tanda pengenal yang digunakan pria tersebut adalah tanda pengenal palsu." Ro menjelaskan kembali.
"Maksudnya?" Rain penasaran.
"Dia menggunakan tanda pengenal orang yang sudah tiada. Dini hari tadi kami segera menuju ke lokasi tanda pengenal tersebut. Sesampainya di sana, kami hanya menemukan seorang nenek dengan dua orang cucu perempuannya. Nenek itu mengabarkan jika nama dari tanda pengenal tersebut memang benar adalah cucunya. Tapi cucunya sudah meninggal dua tahun yang lalu." Ro menjelaskan serinci mungkin.
"Astaga ...." Rain terdiam sejenak, tak menyangka.
"Saya rasa ini masih ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa kekasih Tuan kemarin. Dan saya berspekulasi jika ada yang berniat tak baik pada kekasih Tuan." Ro mengungkapkan sudut pandangnya.
__ADS_1
Rain berjalan pelan, kembali ke kursi kerjanya. Ia duduk dengan lemas setelah mendengar kesimpulan dari asistennya itu. Ia merasa cemas dengan keadaan Ara.
"Siapa namamu?" Rain bertanya kepada office boy yang berdiri di hadapannya.
"Saya Mail, Tuan," jawab si office boy segera.
"Baik. Aku tidak akan memberikan hukuman padamu kali ini. Tapi aku minta jika pria itu datang lagi, segera hubungi pihak keamanan gedung ini. Aku ingin pria itu ditangkap dan diadili karena telah membahayakan calon istriku. Kau mengerti?" tanya Rain dengan tegas.
"Mengerti, Tuan." Si office boy pun mengangguk.
"Tuan Ro, aku serahkan kelanjutan hal ini padamu. Tolong bantu aku menemukan pria tersebut." Rain berpesan.
"Baik, Tuan. Saya akan mengusahakan secepatnya. Mohon memberi waktu." Ro menyanggupi.
Rain mengangguk. Ia lalu melepas kepergian keduanya dari ruangan. Ia kemudian membuka ponselnya untuk melacak keberadaan Ara. Namun, ponsel yang diberikan olehnya tidak dibawa oleh sang gadis ke kampus. Rain pun jadi pusing sendiri.
Ara ... mengapa kau sampai seperti ini?
Rain merasa kehilangan akal untuk mengembalikan keadaan asmaranya. Ia akhirnya hanya bisa pasrah sambil menunggu kedatangan Owdie ke kantor. Sang penguasa galau, gundah-gulana sendiri. Tak lain dan tak bukan karena Ara seorang. Gadis yang begitu menggemaskan di hatinya.
Sementara itu...
"Aduh!" Ia memegang dahinya yang terbentur.
Sambil mengusap dahinya yang tertutupi poni, Ara melihat siapa gerangan yang menghalangi jalannya. Dan ternyata, seorang pria berkemeja hitam sedang berdiri sambil bertolak pinggang kepadanya. Wajah pria itu tampak kesal memandangi Ara.
"Do-dosen Lee?" Ara tak menyangka jika Lee yang tertumbur olehnya.
Pria itu menyilangkan kedua tangan di dada sambil menatap Ara. "Jika jalan terlalu menunduk, kau tidak akan bisa melihat orang dari lawan arah, Nona." Pria yang memang benar adalah Lee itu mengingatkan.
Seketika Ara menyadari kesalahannya. "Em, maaf." Ara tertunduk, merasa bersalah.
Lee tersenyum kecil. "Tanpa sengaja aku melihatmu datang. Tapi aku memang sengaja menumburkan diri padamu." Lee jujur kemudian.
"Ap-apa?!" Ara pun terkejut dengan pengakuan Lee.
"Kau ada jam beberapa menit lagi?" tanya Lee, berbasa-basi.
__ADS_1
"Em, aku ...." Ara tidak tahu harus melihat jam di mana karena tidak mempunyai ponsel.
"Hah, astaga." Lee pun terlihat kesal sendiri. "Temui aku di ruangan dosen setelah mata kuliahmu berakhir." Lee beranjak pergi meninggalkan Ara.
"Eh, apa katanya?" Ara jadi bingung sendiri.
Dosen Lee kenapa, ya? Kenapa tiba-tiba mengundangku datang ke ruangannya? Bukannya kami beda fakultas?
Lee adalah dosen arsitek di kampus ini, sedang Ara mengambil fakultas bisnis. Sehingga keduanya tidak ada kaitan sama sekali dalam bidang mata kuliah. Tapi, hari ini Lee mengundang Ara untuk datang ke ruangannya, membuat sang gadis kebingungan sendiri.
Bel tanda mata kuliah pun berbunyi, menyadarkan Ara dari rasa bingungnya sendiri. Lekas-lekas ia berlari menuju kelasnya agar tidak sampai telat datang. Ia tepiskan sementara perasaan bingung karena undangan Lee yang tiba-tiba. Sementara Lee sendiri...
"Aku merasa harus berbicara kepadanya. Ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Aku harus membuktikannya sendiri."
Dari balik dinding kampus yang tak jauh, ia melihat Ara berlari menuju kelasnya. Ia perhatikan sang gadis yang sudah berulang kali ditemuinya akhir-akhir ini. Ia merasa heran dengan pertemuan tak terduganya. Lee ingin mengetahui lebih banyak tentang gadis itu. Ada sesuatu hal yang ingin ia buktikan sendiri. Benarkah dugaannya selama ini?
...
Meskipun kesepian sudah menjadi teman dalam hidupku.
Kugantungkan hidupku di tanganmu.
Orang bilang aku ini gila dan aku buta.
Karena mengambil risiko tanpa berpikir panjang.
Dan bagaimana caramu membutakan aku, masih menjadi misteri.
Aku tak bisa mengusirmu dari kepalaku.
Tidak peduli apa yang tertulis di masa lalumu.
Selama kau masih di sini bersamaku.
Aku tak peduli siapa dirimu.
Darimana asalmu.
__ADS_1
Apa yang sudah kau lakukan.
Selama kau mencintaiku...