Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Shower Bath


__ADS_3

Beberapa menit kemudian...


Aku sedang di kamar mandi yang ada di dalam kamar kami. Kebetulan kamar mandinya luas, hampir sepertiga dari kamar kami sendiri. Aku dan suamiku menempati kamar utama yang ada di apartemen ini. Luasnya tidak berbeda jauh dengan yang ada di Dubai. Hanya saja desain interiornya yang sedikit berbeda.


Kini aku sedang melepas dasterku. Tapi suamiku ini seperti sudah tidak sabaran lagi. Dia berulang kali menarik-narikku agar segera masuk ke area shower bath. Tempat mandi pancuran air yang disekat sekelilingnya dengan kaca. Aku pun kesal karena selalu ditarik-tarik olehnya. Hingga akhirnya dasterku belum terlepas semua.


"Sayang, kau ini tidak sabaran!"


Aku terperangkap, tidak bisa lari. Padahal dasterku baru setengah turun dari badan. Suamiku ini sudah ingin mengajak bercinta di pagi-pagi buta. Dia terlihat sangat bersemangat sampai tidak lagi memikirkan bagaimana akunya.


"Lama menunggu, Sayang. Dingin," katanya yang menyandarkan aku di tubuhnya.


Rain memelukku dari belakang. Dia sendiri sudah bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek ketatnya saja. Dia kemudian menghidupkan shower air yang ternyata hangat airnya. Mungkin selama menungguku dia mengatur tingkat kehangatan air. Ada-ada saja.


"Kau cantik, Sayang." Dia menyiapkan rambutku ke samping sehingga bahuku terlihat jelas olehnya.


"Sayang, kenapa harus terburu-buru? Dasterku basah, kan!" Aku mencubit tangannya yang melingkar di perutku.


Jelas saja dasterku basah karena belum sempat dilepas semua. Suamiku ini memang tidak bisa menunggu jika sedang ada maunya. Bahkan aku yang sedang masak pun dipinta olehnya. Aku sendiri tak bisa menolak kehendaknya. Karena kusadari dari rambut sampai ujung kaki ini hanya miliknya semata.


"Maaf. Kita mulai sekarang ya." Dia kemudian mencium tengkuk leherku.


"Ah!"


Saat itu juga seluruh saraf di tubuhku terhubung cepat bak kecepatan jaringan 5G. Hanya sepersekian detik, hormon di tubuhku bereaksi. Tidak hanya sampai dia itu. Bibir tipisnya mulai menelusuri sepanjang bahuku. Menghirupnya, menciumnya, bahkan sesekali menyapunya dengan daging lunak yang ada di dalam mulutnya. Menyapu lembut hingga membuatku merasa melayang ke angkasa Tenagaku ini seakan tersedot habis olehnya.

__ADS_1


"Sayang ...."


Dia kemudian membalikkan tubuhku, menghadapnya. Saat itu juga kulihat matanya sudah sayu. Kuakui jika dia benar-benar menginginkanku.


"Kenapa saat hamil istriku tambah cantik ya?" Dia mengusap pipiku.


Air shower yang jatuh mewarnai aktivitas ini. Entah mengapa gairahku memuncak saat melihat wajahnya yang terjatuhi air. Lengan kekarnya, dada bidangnya, bahkan perut kotak-kotaknya itu menggoda pandangan mataku. Mungkin dia memang sengaja ingin melakukannya di sini agar aku mudah tergoda dengan kekekaran tubuhnya.


"Karena kau juga tampan, Sayang." Aku balik memujinya.


Dia tersenyum. Senyum yang sampai memperlihatkan gigi-gigi kecilnya di hadapanku. Bibir tipis merah muda itu seakan mengajakku bercumbu. Aku pun mulai memainkan peran sebagai istrinya. Aku lebih mendekat ke arahnya lalu berjinjit sedikit. Aku menggigit telinganya. Saat itu juga dia tertawa kegelian.


"Istriku."


Dia lantas menggendongku di bawah shower air yang hidup. Seperti anak kecil yang bergelayut manja. Perutku yang semakin membesar ini seperti tidak menjadi penghalang keintiman kami. Aku pun mulai mencium lehernya.


"Sayang ...."


"Kenapa?" tanyaku dari jarak yang begitu dekat dengan wajahnya.


Dia diam, tidak menjawab. Namun, bibirnya itu seolah menjawab pertanyaanku. Dia menciumku, mengecup bibir ini. Bibir tipisnya begitu lembut menyapu bibirku. Dia juga menghisap bibirku dengan perlahan. Hisapannya seolah meminta perlawanan dariku. Aku pun mengerti. Aku segera membalas ciumannya dengan ritme yang menggairahkan. Perlahan tapi pasti keintiman itu terjadi. Kutahu jika dia sudah amat menginginkanku.


"Sayang, turunkan aku."


Aku meminta padanya untuk diturunkan. Dia pun menurunkanku dari gendongannya. Saat itu juga aku bergantian menciumnya. Menciumnya berulang kali sampai dia tertawa. Lalu tak lama dia menarikku kembali ke dalam dekapannya.

__ADS_1


"Istriku ...."


Dia menatapku dengan tatapan penuh cinta. Aku pun seolah luluh melihat tatapannya. Pada akhirnya aku kembali menciumnya. Kulingkarkan kedua tangan ini di lehernya lalu menekan bagian perutnya dengan pinggulku. Saat itu juga tangan kanannya mulai menelusuri lenganku. Pelan-pelan menuju ke bagian belakang leherku. Jari jemarinya kemudian menggelitik tengkuk leherku. Aku merasa semua energi yang kupunya telah terhisap oleh cintanya. Rainku seperti ingin mengendalikan momen ini.


Sayang, milikku aku ....


Pada akhirnya kuserahkan diri ini padanya. Kubiarkan dia menelusuri seluruh lekuk tubuhku. Menciumnya, mengecupnya, mempermainkannya sesuka hati. Tanpa peduli pada waktu yang terus berlalu. Aku memang miliknya. Tidak ada yang bisa membuatku menolak keinginannya. Karena aku pun begitu mencintainya. Mencintai suamiku tercinta.


"Sayang, aku masukkan ya."


Napas itu terus saja memburu, mewarnai setiap sentuhan yang saling kami berikan. Hormon kami saling mengikat, seolah tidak ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya sesuatu yang mengeras itu mulai kurasakan ingin menerobos milikku. Aku miliknya. Milik suamiku tercinta.


Beberapa hari kemudian...


Tiga hari berlalu dari kemesraan kami, membuatku merindu kepada sosok pria yang selalu setia menemani di sisi. Kini dia sedang pergi bersama Owdie menuju markas besar Rusia untuk menyelamatkan saudaranya yang bernama Byrne. Sedangkan aku tetap berada di Turki bersama keluarga Jack dan juga ibu mertuaku.


Saat ini aku sedang bermain lempar bola bersama kedua putra Kak Jamilah di taman apartemen. Aku juga telah berbincang banyak dengannya mengenai kejadian selama setengah tahun tanpa ada kabar di sini. Tapi, aku tidak menceritakan jika kami kesasar ke Agartha. Karena sepertinya hal itu hanya akan menimbulkan polemik saja. Kubilang kepada mereka jika kami terdampar di sebuah pulau lalu diselamatkan oleh nelayan. Itu lebih masuk akal untuk diterima oleh orang awan seperti kita.


Perutku juga semakin membesar. Perkembangan kedua janin yang ada di dalam kandunganku ini membuat Kak Jamilah dan suaminya terheran. Baru beberapa hari di sini, mereka melihat perutku semakin membesar dengan cepat. Aku pun hanya bisa tersenyum-senyum saja, tidak berani menjelaskannya. Mereka pun tampak memakluminya. Tidak banyak bertanya dan segera mengalihkannya ke pembicaraan lain.


Jack diminta suamiku untuk menemaniku dan ibu di sini. Aku belum sempat bertanya kepadanya apa saja yang mereka bicarakan saat mengobrol bersama. Rainku terburu-buru mengurus segala persyaratan bebas saudaranya. Dan aku pun memakluminya. Karena bukan hanya aku saja yang diurusi olehnya. Suamiku masih mempunyai keluarga dan juga saudara. Ya, walaupun hanya sebatas saudara seperasuhan.


"Ara, istirahat dulu, Dek!"


Kak Jamilah memintaku beristirahat kala bermain lempar bola bersama anak-anaknya di taman apartemen. Kulihat Jack juga tetap berjaga dengan melihat ke sekeliling arah berulang-ulang. Mungkin dia diminta untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan terjadi. Kata suamiku sih Jack sudah tersertifikasi. Itu berarti dia juga jago bela diri.

__ADS_1


"Ya, Kak!" Aku pun menyudahi permainan lempar bola bersama kedua putranya.


__ADS_2