
Beberapa jam kemudian...
Tubuhku terasa lelah sekali sehabis berkeliling supermarket. Ditambah harus menemaninya membeli pakaian di butik. Ya, walaupun dia juga membelikan pakaian untukku, tetapi tetap saja aku lelah. Dan sekarang aku sedang menunggu pesanan makanan datang.
"Ara, kau kelelahan?" Dia tampak panik lalu meminta pelayan cepat datang, mengantarkan minuman.
Aku diam, hanya diam. Sengaja ingin tahu bagaimana reaksinya saat aku kelelahan seperti ini. Dan ternyata dia panik. Menu makanan pun dia gunakan untuk mengipasiku. Aku seperti seorang istri yang disayang oleh suaminya.
Tuan, terima kasih telah sabar menghadapiku. Aku masih harus banyak belajar untuk mengerti pria dan menjadi seorang istri. Aku harap ke depannya kita tidak akan bertengkar lagi.
Harus kuakui jika aku mencintainya, takut kehilangannya. Tapi wajah wanita itu selalu saja menganggu alam khayalku. Aku masih ingat benar apa yang dikatakan oleh wanita itu padaku. Rasanya ingin sekali menceritakan hal ini kepadanya. Tapi apa akan baik-baik saja? Aku khawatir malah terjadi sesuatu yang tidak kuinginkan.
"Ara, ini minumlah jusnya."
Pelayan pun dengan cepat mengantarkan minuman. Tuanku lalu segera memberikannya kepadaku. Dengan perlahan aku menyedot jus melon ini sambil menikmati siang hari yang panas. Terasa panas tapi juga sejuk sesekali. Karena sekarang aku berada di atap sebuah restoran. Di bawah payung besar yang cantik dan juga melindungi dari terik sinar matahari.
"Terima kasih," kataku setelah meminum jusnya.
Dari atap restoran aku bisa melihat bagaimana indahnya dataran sekitar. Dubai memang tidak ada duanya dari kota-kota lainnya di Timur Tengah. Aku bisa mengatakannya karena sudah browsing ke sana kemari. Dan kupastikan memang Dubai lah kota termewah di Semenanjung Arab ini.
"Mohon maaf, Tuan. Pesanannya sedikit lama. Silakan." Seorang pria berpakaian koki mengantarkan sendiri makanan pesanan kami.
"Ya. Lain kali jangan seperti ini." Tuanku menanggapinya singkat.
"Sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanannya." Koki itu membungkukan badan.
Tuanku mengangguk, dengan segera koki itupun pergi. Sehingga hanya ada aku dan dirinya di atap restoran ini. Mungkin dia sengaja ingin makan di sini agar tidak diganggu siapapun.
"Cepatlah makan. Ayam rica-ricamu nanti terburu dingin jika lama disantapnya." Dia berkata lagi sambil mengaduk kari yang dipesan.
__ADS_1
Aku mengangguk seraya tersenyum. Rasanya senang sekali bisa duduk berhadapan dengannya. Dengan pangeranku sendiri. Dia sudah lama kunantikan dalam hidup ini. Dan akhirnya Tuhan mengizinkan kami untuk bertemu. Ya, walaupun jalannya melalui nenek yang memberi gelang padaku, bukan bertemu langsung. Mungkin memang inilah jalan yang terbaik untuk kami.
Tuan, katakan jika kau mencintaiku.
Sampai sekarang aku masih menantikan kata-kata itu dari mulutnya. Aku ingin membuktikan sendiri apa yang dikatakan oleh wanita waktu itu adalah tidak benar. Karena aku merasa jika tuanku juga mencintaiku. Namun, sepertinya memang ada sesuatu hal yang membuat kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
"Sebenarnya makanan pokok di sini adalah roti gandum, Ara."
Dia memberi tahuku. Semilir angin menyapu helaian rambutnya yang terjuntai ke depan, menambah sisi tampan dirinya yang begitu memukau. Dia juga tanpa malu menyuap besar-besar makanan ke mulutnya. Kutahu jika dia juga lapar, sama sepertiku.
"Berarti di sini tidak makan nasi?" tanyaku ingin tahu.
"Di sini tidak bisa menanam padi. Kalau gandum cepat panennya. Sedang padi harus menunggu setengah tahun terlebih dahulu." Dia menjelaskan padaku.
Sebenarnya aku tidak tahu umur pasti tanaman pokok di bumi ini. Selama ini aku tinggal beli. Tinggal mencuci, menambah air lalu memasaknya. Tidak pernah ikut menanam. Jadi tidak tahu berapa umur pasti padi baru bisa dipanen. Atau hal ini memang sengaja dia jadikan bahan obrolan? Entahlah.
"Sama saja." Dia meneguk air minumnya. "Di sana juga roti." Dia meletakkan gelas minumnya.
"Berarti padi hanya—"
"Hanya bisa tumbuh di daerah tropis dengan dua iklim cuaca. Selain itu tidak bisa. Walaupun dipaksakan, hasilnya tidak akan sebagus daerah beriklim tropis." Dia kembali menjelaskan.
Aku mengangguk. Sepertinya aku mendapatkan pelajaran baru darinya. Ya, walau tidak tahu benar atau tidaknya.
"Em, jam berapa ini ya?" Tiba-tiba aku teringat akan waktu. Tugas kuliahku pun belum kukerjakan. Padahal hari Senin aku harus mengumpulkannya.
"Lihat saja sendiri."
Dia mengulurkan tangannya yang memakai jam merek mahal, seperti ingin pamer padaku. Kulihat saja waktu sekarang. Dan ternyata sudah pukul setengah dua siang.
__ADS_1
Sungguh tak terasa waktu begitu cepat berjalan jika bersamanya. Akhirnya aku pun cepat-cepat menghabiskan makan siang ini lalu meminta segera pulang.
"Tuan, sehabis ini kita langsung pulang saja, ya?" Aku meminta kepadanya.
"Tuan?" Dia tampak kesal karena lagi-lagi aku memanggilnya dengan sebutan tuan.
"Ih, dia ini. Aku bingung jika nama panggilan juga dipermasalahkan." Aku ngambek padanya.
"Panggil sayang saja atau kalau tidak panggil nama." Dia menegaskan.
"Hah ...." Aku mengembuskan napas lelah.
"Baiklah-baiklah. Terserah dirimu saja mau panggil apa." Dia akhirnya menyerah lalu lekas-lekas meneguk air minumnya sampai habis.
Aku terkekeh sendiri. Bisa-bisanya bos besar sepertinya menyerah kepadaku. Memang benar apa kata orang, cinta itu buta. Dan mungkin karena cintanya padaku bisa membuatnya menyerah sampai seperti ini.
Ah, Ara! Jangan terlalu kepedean!
Ara merasa mendapat anugerah teristimewa karena bisa dipertemukan dan menjalin asmara dengan Rain. Ia tidak pernah menyangka jika perjalanan hidupnya akan seperti ini. Berulang kali ditolak kerja di kotanya, ternyata ia malah mendapatkan banyak berkah di kota ini. Sebuah kota ekslusif di kawasan Timur Tengah.
Ara merasa betah dengan kehidupannya sekarang. Hidupnya tidak lagi susah seperti dulu. Dan sebentar lagi ia akan menjadi nyonya besar bos perkilangan minyak di Timur Tengah. Tapi, ia juga menyadari jika jalan menuju kesuksesan tidaklah mudah. Masa lalu Rain masih mengganggu pikirannya.
Ara khawatir jika suatu hari Rain akan kembali ke Jane. Terlebih ia belum tahu siapa Jane sebenarnya. Walaupun di dalam hatinya menaruh rasa curiga kepada Jane karena peristiwa yang terjadi kemarin, Ara masih menyimpannya sendiri. Di lain pihak, Rain amat mengkhawatirkan keadaan Ara.
Aku khawatir jika pria berjaket hitam itu akan kembali merusak hubungan kami. Aku tidak ingin bertengkar lagi. Sudah cukup sudah didiamkan olehnya berhari-hari. Aku tidak sanggup jika lebih lama lagi.
Rain tidaklah diam untuk melindungi gadisnya. Ia bergerak dan meminta Ro mencari tahu siapa dalang di balik kejadian kemarin. Tapi, Rain tidak ingin menuduh seseorang sebelum mendapatkan bukti. Baginya bukti adalah hal mutlak. Walaupun pada kenyataannya, bukti bisa direkayasa semaunya.
Makan siang mereka akhirnya berakhir setelah Ara terlihat mengantuk dan ingin cepat pulang. Rain pun ingin menggendong Ara hingga sampai ke mobil, tapi sang gadis segera menolaknya. Akhirnya, keduanya berjalan bersama, bergandengan tangan dari atap restoran sampai masuk ke dalam mobil. Tidak memedulikan pengunjung restoran lain yang melihat kemesraan mereka. Mereka terus membuat iri siapa saja yang melihatnya.
__ADS_1