
Pukul sembilan pagi waktu Turki dan sekitarnya...
Turki adalah sebuah negara di kawasan Eurasia. Wilayahnya terbentang dari Semenanjung Anatolia di Asia Barat Laut hingga daerah Balkan di Eropa Tenggara. Turki berbatasan dengan Laut Hitam di sebelah utara; Bulgaria di sebelah barat laut; Yunani dan Laut Aegea di sebelah barat; Georgia di timur laut; Armenia, Azerbaijan, dan Iran di sebelah timur; Irak dan Suriah di tenggara; dan Laut Mediterania di sebelah selatan. Laut Marmara yang merupakan bagian dari Turki digunakan untuk menandai batas wilayah benua Eropa dan benua Asia. Sehingga Turki dikenal sebagai negara transkontinental atau lintas benua.
Turki sendiri memiliki sejarah peradaban yang luar biasa selama berabad-abad lamanya. Dimana ia berhasil memimpin sepertiga dunia dalam kurun waktu lima ratus tahun lamanya. Rakyatnya hidup di bawah pemerintahan yang adil dan bijaksana. Mereka juga memiliki jiwa bela negara yang begitu tinggi. Para rakyat pun hidup berdampingan dalam perbedaan. Tidak pernah saling mengganggu keyakinan. Tak ayal sejarah negara ini akan selalu teringat sepanjang masa.
Ara sendiri sedang menikmati pemandangan Kota Istanbul sambil berjemur di teras apartemen. Ia duduk di kursi teras bersama suaminya. Memandangi perkotaan yang dekat dengan perairan. Burung-burung yang berterbangan di sekitar pelabuhan pun terlihat olehnya. Seolah ikut menemani kapal-kapal yang mulai berlabuh di sepanjang perairan Turki.
"Sayang, aku ingin naik kapal itu." Ara menunjuk kapal yang berlabuh di perairan Turki.
Rain menemani istrinya yang sedang berjemur sambil menonton beberapa channel YouTube. Suami dari Ara itu masih amat penasaran dengan kebenaran yang terjadi di tanah kelahirannya. Sang istri pun memakluminya. Ia tidak melarang Rain untuk terus menonton channel tersebut. Hingga akhirnya percakapan serius terjadi di antara mereka.
"Aku ingin ke USA minggu ini, Sayang." Rain tiba-tiba mengatakan hal seperti itu.
Sontak Ara terbelalak kaget. "Apa?!"
Suasana yang nyaman seketika berubah saat Rain mengatakan ingin pergi ke USA. Ara seperti bermimpi mendengar pernyataan dari suaminya.
Rain tersenyum. "Hei, jangan memasang wajah seperti itu. Nanti kutimpa baru tahu rasa." Rain mencandai istrinya.
__ADS_1
Ara terlihat lemas. "Sayang, kau yakin?" Ia merasa tidak bergairah.
Rain menutup laptopnya. "Aku ingin menanyakan kebenaran ini kepada kakek langsung." Rain menuturkan.
Ara menggelengkan kepala. "Tidak, Sayang. Itu sangat berbahaya. Aku khawatir kau akan bertemu dengan Nick lalu terjadi perkelahian. Belum tentu kakek juga akan memihak kepadamu, bukan? Apalagi hanya sebatas cucu angkatnya." Ara khawatir. Raut wajahnya menyiratkan kecemasan.
Rain tersenyum seraya mengusap kepala istrinya. "Aku akan baik-baik saja, Sayang. Jangan khawatir. Aku nanti meminta Owdie untuk ikut menemani. Aku perlu menanyakan kebenaran hal ini. Dunia sedang tidak baik-baik saja." Rain ingin segera bertindak.
Ara beranjak bangun. Ia berjalan menjauh dari suaminya lalu berdiri di dekat pagar teras apartemen. Ia membelakangi Rain. "Masih ada satu gantungan bintang dan bulan lagi yang belum terlepas dari gelangku. Apakah kepergianmu menandakan gantungan ini akan segera terlepas?" Ara merasa sedih.
Rain beranjak bangun. Ia meletakkan laptop ke atas meja teras. "Sayang." Ia mendekati Ara lalu memeluknya dari belakang. "Aku akan kembali secepatnya. Aku berjanji padamu dan pada bayi kita." Rain mengusap perut Ara dari belakang.
Ara merasa sedih. Ternyata firasatnya benar. Sebuah peristiwa akan segera terjadi hingga membuat sisa gantungan di gelangnya bisa terlepas. Ia merasa hal itu disebabkan karena kepergian suaminya. Ara pun khawatir jika hal yang akan diterimanya tidak mampu untuk ia pikul. Sedang Rain seperti tidak bisa diajak berkompromi. Ia teguh pendirian untuk tetap menemui kakeknya.
Rain mengecup bahu istrinya. "Ketakutan hanya akan membuat imun tubuh memburuk, Sayang. Aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi aku harus segera menyelesaikan hal ini," tutur Rain kembali.
Pagi ini Ara diterpa berita yang tak sedap dari suaminya. Yang mana Rain akan segera pergi ke USA untuk menanyakan kebenaran tentang hal yang terjadi beberapa puluh tahun silam. Ara pun seperti tidak berdaya untuk mencegahnya.
"Satu harapanku. Aku ingin sekali saat melahirkan nanti ditemani olehmu. Jangan biarkan aku menanggung rasa sakit sendirian di atas kasur persalinan. Tidak bisakah kau menunggu aku melahirkan?" tanya Ara yang merasakan firasat tak enak pada rencana suaminya.
__ADS_1
"Sayang." Rain membalikkan tubuh Ara agar menghadapnya. "Aku hanya sebentar. Tidak lebih dari satu minggu. Aku akan segera kembali. Aku berjanji padamu. Semua akan baik-baik saja." Rain meyakinkan.
Ara menelan ludahnya. Ia tampak berat untuk merelakan keberangkatan suaminya ke USA.
Sepertinya jalan takdir sudah digariskan untuk kami. Aku bisa apa? Ara merasa pesimis. "Jujur aku merasa berat untuk melepas kepergianmu ke USA. Tapi aku tak berdaya menahannya. Aku harap kau cepat kembali ke Turki." Ara berharap.
Rain menarik tubuh istrinya. Ia peluk tubuh Ara dengan segenap jiwa dan raga. "Istriku, terkadang seorang pria harus mengambil keputusan yang sulit. Begitu juga dengan aku sekarang. Aku harus meninggalkanmu untuk sementara waktu agar masalah bisa cepat terselesaikan. Aku tidak bisa diam begitu saja karena masih menjadi bagian dari organisasi. Lagipula aku ingin segera mengundurkan diri, sehingga banyak berkas yang harus kutanda tangani sebelum keluar dari organisasi." Rain menjelaskan.
Ara diam. Ia tidak dapat berkata apa-apa. Bulir-bulir air mata itu pun ingin keluar dari persembunyiannya. Ara tak kuasa menahan kesedihan yang tiba-tiba melanda. Ia ingin sekali melarang suaminya untuk pergi ke sana. Namun, sang suami tetap bersikeras untuk berangkat ke USA. Ia pun akhirnya mengangguk dengan hati yang enggan mengiyakan. Ia tak berdaya melawan kehendak semesta.
Sayang, hanya doa yang bisa kupanjatkan untukmu. Semoga keselamatan dan keberuntungan selalu menyertaimu.
Ara berdoa untuk suaminya.
Sementara itu...
Burung-burung besi mulai berterbangan, menari-nari di atas angkasa raya. Mereka melewati berbagai lintas negara di seluruh penjuru dunia. Sayapnya membentang luas sambil mengeluarkan asap yang membentuk awan. Terbang ke sana, terbang ke sini dengan riangnya. Sang pengendara burung pun tampak lega setelah menyelesaikan tugasnya. Mereka kembali ke sarang untuk melaporkan hasil kinerjanya.
Hari ini misi para petinggi dunia mulai dilancarkan. Mereka menerbangkan burung-burung besi di waktu bersamaan. Bukan tanpa alasan, melainkan burung besi itu telah dibekali muatan yang membahayakan. Virus buatan Byrne menjadi penumpang paling banyak di burung itu. Seseorang dari balik layar pun tersenyum senang karena telah berhasil menjalankan misi awalnya. Kini ia tinggal menunggu hasilnya saja.
__ADS_1
.........
- Tentang Turki dikutip dari Wikipedia Indonesia