Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Plan


__ADS_3

Dua jam kemudian...


Jam di dinding ruangan telah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Pria berkardigan biru itu tampak membukakan pintu. Ia mengenakan levis krim muda dengan sandal gunung cokelat yang menyertai langkah kakinya. Ia menyambut kedatangan saudaranya dengan saling berpelukan.


"Kita bertemu lagi, Kawan." Pria berbaju pantai datang dengan mengenakan kaca mata hitamnya.


"Sebenarnya aku tidak mau bertemu denganmu, ini hanya terpaksa saja," cetus si pemilik apartemen.


"Hahaha. Kalian ini memang tidak pernah berhenti bertengkar." Pria berkulit pucat, berjaket krim itu tertawa.


Ialah Byrne bersama Owdie yang datang ke apartemen Rain. Byrne terlihat mengenakan jaket berwarna krim sedangkan Owdie seperti biasa, mengenakan pakaian pantainya. Ia tidak seformal Byrne dalam berpakaian.


"Dia memang tidak pernah berubah, Byrne." Owdie memasang wajah kesalnya.


Ketiganya lantas duduk di sofa untuk membicarakan hal yang telah direncanakan Rain. Tapi, keduanya terkejut saat melihat banyak kardus dan koper yang sudah diletakkan di dekat ruang tamu.


"Kau ingin pindahan, Rain?" tanya Owdie sambil membuka kaca mata hitamnya.


"Ya. Rencana hari ini aku akan pindah ke Palm Jumeirah," jawab Rain.


"What?!" Kenapa harus dekat denganku?!" Owdie terkejut.


"Hah, kau ini terlalu percaya diri. Aku berada jauh dari blokmu tahu!" Rain menerangkan.


"Memangnya ada apa?" Byrne ikut bertanya.


"Aku harus segera pindah dari sini demi keselamatan Ara. Aku khawatir jika tetap di sini malah akan membahayakannya." Rain menjelaskan.


"Apalah hal ini ada kaitannya juga dengan Jane?" tanya Byrne segera.


Rain mengangguk.


"Hei, kau masih berhubungan dengannya?!" Owdie ikut bertanya.


"Tidak. Semenjak memutuskan untuk serius dengan Ara, aku tidak lagi menghubunginya." Rain menjawab.


"Hah ... aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian. Aku juga tidak mau tahu." Owdie memegangi kepalanya, pusing sendiri.

__ADS_1


"Di mana Ara, Rain?" Byrne lantas menanyakan keberadaan Ara.


"Dia sedang di salon rambut yang ada di lantai dasar." Rain pun menjawabnya.


"Apa kalian ingin pergi?" tanya Byrne.


"Nanti jam satu kami akan pergi ke istana kerajaan. Ada acara di sana." Rain menuturkan.


"Lalu bagaimana dengan rencanamu?" tanya Byrne lagi.


Rain menghela napasnya. "Selesai menghadiri pertemuan, aku akan menemui Jane. Mungkin sekitar pukul empat sore. Dan aku harap kalian dapat membantuku." Rain meminta secara halus.


"Apa ada imbalannya?" tanya Owdie segera.


Terlihat Byrne yang menepuk jidatnya, sedang Rain mengernyitkan dahinya. Entah mengapa sang penguasa pertambangan minyak di Timur Tengah itu merasa kesal dengan pertanyaan saudaranya.


"Kau memangnya ingin imbalan apa, hah?" tanya Rain dengan intonasi kesal.


"Em ... apa, ya?" Owdie pura-pura berpikir.


"Jangan yang aneh-aneh. Aku sudah tidak seperti dulu lagi." Rain menegaskan.


"Owdiee!!!" Rain akhirnya terpancing, ia kesal juga dengan Owdie.


"Hei, sudah-sudah. Kita bicarakan intinya saja." Byrne menengahi. "Lalu Rain, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Byrne segera.


Rain kemudian mulai serius. Ia menjelaskan rencana apa saja yang akan dilakukannya sebelum menemui Jane. Ia juga memberikan selembar amplop berwarna coklat besar kepada keduanya. Yang mana isinya berupa foto yang sudah diperjelas setajam mungkin.


"Ini ... Jane?" Byrne melihat foto seorang wanita di dalam amplop cokelat tersebut.


"Ya. Itu dia. Walaupun memakai kaca mata, aku masih bisa mengenalinya," tutur Rain.


"Dan ini ...?" Byrne menanyakan foto lainnya.


"Itu adalah foto rekaman kamera CCTV Burj Khalifa. Aku sudah meminta Ro untuk memperjelasnya. Dan ternyata dari perawakannya sama dengan pria yang ditemui Jane di bandara." Rain tampak yakin.


"Astaga ...." Byrne pun tak percaya.

__ADS_1


"Sudah kuduga, tidak akan jauh-jauh." Owdie menimpali.


"Maksudmu?" tanya Rain serius.


"Rain, jangan berpikir ini bercanda. Selama aku bergelut dengan dunia hiburan, penghancur suatu agen ya anggota dari agen itu sendiri. Tidak jauh-jauh. Dan aku sudah mencurigai hal ini. Dan akhirnya sekarang terbukti, kan?" Owdie tampak berbeda, ia terlihat serius.


"Baiklah. Jam empat nanti kita berkumpul lagi. Aku harap tidak akan ada yang tidur siang sehingga ketinggalan." Byrne melirik ke Owdie.


"Hei, apa maksudmu?!" Owdie merasa tersinggung.


"Maklum saja, Byrne. Dia kurang kerjaan. Jadinya hanya bisa tidur." Rain menimpali.


"Kalian!" Owdie pun bergantian marah.


"Hahahaha." Rain dan Byrne tertawa bersama saat menjahili Owdie.


Rain sudah menuturkan rencana kepada kedua saudaranya sebelum menemui Jane. Dan kini mereka sepakat untuk bertemu pada pukul empat sore nanti. Karena di jam dua siang Rain harus menghadiri acara pertemuan dengan pihak kerajaan. Mau tak mau mereka berkumpul di sore hari, selepas Rain menyelesaikan urusannya.


Owdie menjadi bulan-bulanan keduanya. Baik Rain atau Byrne, mereka sama-sama menyerang Owdie dengan kata ejekan. Tapi, Owdie tidaklah marah. Ia malah semakin memperkeruh suasana dengan kembali mengejek. Menikmati waktu kebersamaan sebelum membantu Rain menjalankan misi penting. Dan akhirnya, mereka bermain game bersama dengan duduk lesehan di atas karpet, di ruang tamu. Ketiganya begitu akrab dan juga solid. Mereka saling mengisi dan memahami satu sama lain.


Ara, percayalah jika hal yang kulakukan ini hanya untuk kelancaran pernikahan kita. Aku tidak akan mengkhianatimu karena begitu menyayangimu. Tunggulah hari bahagia itu, Ara. Aku milikmu.


Rain tersenyum saat mengingat gadisnya. Ia menunggu Ara kembali dari salon dengan bermain game bersama kedua saudaranya. Di pikiran dan hatinya hanya ada nama Ara seorang. Tak ada lain yang bisa mengisi jiwanya selain gadis berkebangsaan Indonesia, Aradita.


Sementara di salon...


Ara sedang mengeriting rambutnya. Model keriting gantung ia pilih untuk menemani prianya menghadiri acara pertemuan di siang ini. Tampak sang gadis yang menelepon ibunya saat waktu jeda di salon. Sang ibu pun terlihat amat bahagia saat melakukan video call dengan putrinya.


"Ibu, jangan sampai telat makan. Ara baik-baik saja di sini." Ara tersenyum ke arah kamera, melihat ibunya di layar ponsel.


"Iya, Nak. Ara juga jangan khawatirkan ibu. Doakan ibu saja, ya." Sang ibu meminta.


Terlihat ibu Ara mengenakan daster barunya. Tampilan sang ibu kini juga terlihat lebih segar. Semua ini tak lain karena kekuatan uang yang diberikan sang penguasa.


"Iya, Bu. Ara selalu doain Ibu. Ara sayang Ibu." Ara mengatakannya dengan wajah termanis yang ia punya.


Percakapan lewat video call itu begitu berarti bagi keduanya. Wajah sang ibu tampak bahagia saat melihat raut manis anaknya. Keduanya lalu melanjutkan percakapan hingga rasa rindu terbayarkan. Ara sangat menyayangi ibunya.

__ADS_1


Ara adalah salah satu contoh anak yang menerima buah dari rasa cintanya kepada sang ibu. Hidupnya dimudahkan walau berbagai aral rintangan menghadang. Selalu saja ada yang menolong di saat mengalami kesulitan. Seolah semesta tidak rela membiarkan dirinya terjerumus dalam kesukaran.


Ara pun amat mensyukuri keadaannya. Ia bangkit dari rasa sakit dan berjuang untuk melanjutkan hidup dengan penuh cinta dan cita. Ialah Aradita, pemilik hati sang penguasa, Rain Sky.


__ADS_2