Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
I Want You, Baby


__ADS_3

Pukul sembilan malam waktu Turki dan sekitarnya...


Aku mengenakan daster yang dibalut sweter biru saat menemani suamiku menuju lantai satu apartemen. Sedang suamiku sendiri mengenakan sweter krim dan celana gunung putihnya. Kami ingin menunggu kedatangan Jack dan keluarga di sini.


Cuaca malam tampak terang dan dipenuhi bintang. Kulihat bulan juga bersinar dengan terang. Angin malam ini terasa menyejukkan. Tidak terlalu dingin dan menusuk tulang. Aku pun dengan setia menemani suamiku berdiri di pintu masuk gedung sambil menunggu kedatangan keluarga besar.


Tak beberapa lama, sebuah mobil hitam datang dan memasuki halaman parkir gedung apartemen. Beberapa saat kemudian kulihat juga seorang wanita yang telah banyak membantu resepsi pernikahanku dulu. Dia adalah Kak Jamilah yang turun bersama kedua putranya dari mobil. Sontak kakiku melangkah dengan sendiri mendekatinya. Tanpa sadar meninggalkan suamiku yang masih berdiri di depan pintu masuk gedung.


"Kak Jamilah!" Aku segera berjalan cepat ke arahnya.


"Ara?!" Dia seperti terkejut melihatku.


Aku segera memeluknya dan melepas rindu. Istri dari supir pribadi suamiku ini tidak di mana-mana selalu saja mengenakan pakaian yang tertutup. Dia benar-benar wanita yang menjaga kehormatan. Aku bahkan sempat iri dengan budi pekertinya yang luhur. Kedua putranya juga memiliki ketampanan khas Timur Tengah. Aku jadi mengusap perutku sambil melihat keduanya.


"Ara, sedang mengandung? Kak Jamilah tidak tahu." Nada bicaranya terdengar menyesal karena tidak tahu kehamilanku.


"Tidak apa, Kak. Doakan saja agar persalinannya lancar. Ayo, kita masuk!" Aku mengajaknya masuk ke dalam gedung.


Suamiku sendiri menyambut kedatangan Jack. Dia bahkan tidak segan untuk ikut membawakan barang bawaan Jack. Tak lama bellboy juga datang dan membantunya. Kami berjalan bersama menuju gedung apartemen seraya mengobrol santai. Kak Jamilah tampak terkejut saat melihat penampilanku sekarang. Katanya lebih cantik dan berseri.


Senang rasanya, akhirnya kami bisa berjumpa kembali. Sudah lama tidak bertemu, akhirnya Tuhan mempertemukan kembali. Tapi sepertinya aku dan suamiku harus membiarkan mereka beristirahat terlebih dulu. Karena mereka habis melakukan perjalanan jauh. Ya, sudah. Setelah mengantarkan nanti kami akan segera kembali ke apartemen. Beristirahat dari lelahnya aktivitas hari ini.


Esok harinya...


Pagi hari aku terbangun dan bergegas mandi karena akan menemui Kak Jamilah dan keluarganya. Dan kini aku sedang membuatkan sarapan untuk ibu mertua dan juga suamiku. Kebetulan semalam ibu pulang agak larut malam. Sekitar pukul sebelas baru sampai. Dan pagi ini kubiarkan ibu tertidur saja di kamarnya. Ibu pasti sangat lelah setelah duduk lama di pengajian.


"Eh? Aku tidak mual lagi mencium bawang ini?!"


Pagi ini aku berencana membuatkan nasi goreng dan juga bakwan untuk sarapan. Semua bahan sudah kusiapkan tinggal diaduk dan ditambah air saja. Tapi saat menuangkan air ke dalam adonan bakwan, tiba-tiba tubuhku dipeluk dari belakang oleh si hujan. Sontak aku pun kaget dengan tindakannya yang tiba-tiba.


"Sayang! Aku kaget!" Aku sedang memegang mangkuk adonanku. Untung saja tidak tumpah karena rasa kagetku.


"Serius sekali. Sedang buat apa, Istriku?" tanyanya sambil melingkarkan kedua tangan di perutku.

__ADS_1


Tak ada angin, tak ada hujan. Pagi-pagi dia sudah mesra sekali kepadaku. Aroma khas bangun tidurnya pun tercium di hidung ini. Harum-harum dan juga sedikit asam. Aku pun mencoba menghindarinya agar bisa meneruskan membuat sarapan. Tapi...


"Bakwan. Kubuatkan untuk sarapan." Aku mulai menuangkan air ke dalam adonan.


"Buat bayi lagi saja, yuk!" Tiba-tiba dia berkata seperti itu.


"Ap-apa?!"


Seketika itu juga aku menghentikan aktivitasku. Aku berbalik menghadapnya lalu kupegang keningnya. Tak tahu mengapa pagi-pagi dia sudah minta jatah.


"Tidak panas." Aku memegang dahinya seraya merasa heran.


"Sayang, aku normal." Dia memegang tanganku yang memeriksa dahinya.


"Tumben. Ini masih terlalu pagi, Sayang. Baru juga pukul enam." Aku merasa heran.


"Em ...." Dia seperti tidak mau menjawabnya.


Aku tak tahu gerangan apa yang membuatnya minta jatah pagi-pagi begini. Dan karena penasaran, aku mencoba mencari tahunya sendiri. Ternyata saat melihat ke bawah, kulihat celananya sudah seperti basah. "Sayang?" Aku pun menunjuk celananya.


"Mimpi? Mimpi dengan siapa?!" Entah mengapa aku malah jadi emosi.


"Em ...." Dia tampak berpikir lama. Membuatku jadi kesal saja.


"Jangan bilang dengan wanita lain." Selera memasakku pun tiba-tiba hilang karenanya.


"Sayang ...." Dia menahanku yang ingin pergi.


"Lepaskan! Aku sedang kesal!" kataku yang tak terima.


Suamiku seperti ingin memancing kecemburuanku. Walaupun hanya sebatas mimpi, tetapi tetap saja aku tidak terima jika dia bermimpi dengan wanita lain. Apalagi sampai membuatnya basah seperti itu. Bukankah berarti dia menikmatinya?


"Ya, deh. Aku mimpi bersamamu." Entah benar atau tidak, dia mengatakan padaku.

__ADS_1


Aku memasang wajah cemberut. "Dengar, ya! Hanya aku saja yang boleh menjamahmu. Kau itu suamiku. Suami sah!" Aku berseru melampiaskan kekesalan seraya menunjuk-nunjuknya.


Suamiku malah tertawa. Tertawa manis sekali. Membuat hatiku luluh seketika. "Sayangku, aku ini sepenuhnya milikmu. Percayalah hanya dirimu yang bisa menjamah tubuh ini." Dia meraih tanganku lalu mengecupnya.


Aku mencoba tak peduli. Saat itu juga dia menarik daguku dengan jari telunjuknya. "Sayang, sudah jangan cemberut. Bagaimana jika kita melakukan uji coba terhadap mimpiku tadi?" tanyanya.


"Apa maksudnya?!" Aku segera bertanya dengan intonasi kesal.


Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Aku menemukan gaya yang berbeda dari sebelumnya. Mau dicoba?" tanyanya lalu meremas pinggulku.


"Sayang! Nakal!" Aku pun memukul tangannya.


Saat itu juga dia mengecupku dari jauh. Bibir tipisnya itu maju-maju seperti ingin menciumku. Dia juga menggigit bibirnya sendiri di depanku. Membuat tubuhku bereaksi karena ulah genitnya.


Dasar! Dia bisa saja menaikkan hasratku.


Tak tahu mengapa, aku seperti terhipnotis olehnya. Melihat setiap pergerakan bibirnya yang begitu menggoda. Seolah memancingku untuk menyerahkan diri ini sepenuhnya. Pada akhirnya aku luluh juga.


"Ayolah Sayang. Aku ingin lagi. Aman kok untuk mereka yang ada di dalam sana. Ya, ya?" Matanya berbinar-binar memintaku.


"Tapi kau belum mandi." Aku masih mencoba menolaknya.


Dia menghela napas. "Baiklah. Aku mandi dulu. Tapi mau ya? Aku sedang bersemangat pagi ini," katanya, memberitahuku.


Aku enggan mengiyakan.


"Em ... bagaimana jika ikut mandi juga? Mau ya?" Dia menarikku ke tubuhnya.


"Tapi bagaimana dengan bakwannya?!" Aku keberatan.


"Sudah, biar ibu saja yang melanjutkan. Kau penuhi dulu kewajibanmu." Dia seperti menuntutku.


Huh! Dasar! Jika ada maunya saja tidak lagi melihat orang sedang apa. Padahal aku juga sedang bersemangat untuk membuatkan sarapan. Dasar hujan!

__ADS_1


Mau tak mau akhirnya aku menuruti apa yang diinginkan olehnya. Aku tak berdaya untuk menolak sekalipun sedang ingin memasak. Karena kutahu kewajiban seorang istri adalah memenuhi kebutuhan suaminya. Begitu juga dengan suami, wajib memenuhi kebutuhan istrinya. Mereka adalah pakaian yang saling melengkapi. Jadi jika sedang ingin, penolakan tidak akan berarti, karena kewajiban harus tetap dijalani.


__ADS_2