
Belasan menit kemudian…
Aku sengaja tetap berada di dalam kamar sambil terus mempercantik diri. Aku seperti frustrasi menghadapi sikap priaku, jadi kuputuskan untuk sedikit menggodanya malam ini. Tadi sore diam-diam aku membeli lingerie di dalam mall. Sepertinya lingerie ini bisa membuatnya bicara padaku. Ya, kita coba saja.
Kugerai rambutku lalu memoleskan lipglos berwarna pink yang beraroma strawberry pada bibirku. Aku juga mengenakan make up minimalis dengan sapuan blash on pink agar terlihat lebih imut. Aku akan melancarkan aksi agar priaku tidak diam lagi.
Dia datang ….
Aku lekas tiduran di kasur saat dia membuka pintu. Kuintip dia masuk ke dalam kamar hanya dengan mengenakan handuk putih sebatas pinggang dan lututnya. Sepertinya dia baru saja selesai mandi. Dan kulihat dia terkejut dengan busana yang kukenakan malam ini. Dia terdiam di dekat pintu.
Ayo, bicara. Jangan diam saja!
Aku pikir dia akan membangunkanku, namun ternyata tidak. Dia malah mengenakan sweter lengan panjangnya yang berwarna krim dan celana kulot putihnya. Dia mengabaikanku yang sudah seksi ini.
Astaga … apa yang terjadi padanya?
Sikap mesumnya tidak kutemui malam ini, tumben sekali. Aku jadi curiga padanya, benarkah dia priaku atau pria lain yang sedang menyamar?
Kenapa dia tidak bereaksi?
Dan karena merasa jengkel, aku pura-pura terbangun. Kulihat dia memainkan ponsel di pinggir kasur setelah mengenakan pakaiannya. Jadi segera saja aku mendekatinya.
“Sayang ….” Aku memeluknya dari belakang.
Kedua tanganku melingkar di dadanya. Pastinya posisi ini membuat dadaku menempel dengan punggungnya. Aku berharap dengan ini dia mau bicara padaku.
“Sayang.” Kusapa lagi dirinya lalu kucium lehernya. Aku tidak akan putus asa sampai dia mau bicara. “Sayang, aku rindu,” kataku lagi sambil menekan punggungnya dengan dadaku.
Bukan main terkejutnya aku. Priaku ternyata dengan cepat berbalik lalu mendorongku ke atas kasur. Dan kini dia berada di atas tubuhku.
“Sa-sayang?” Kulihat sorot tajam dari matanya.
“Ara ….” Dia akhirnya menyebut namaku.
“Sayang?”
Kami bertatapan dengan jarak satu jengkal saja. Tubuh maskulinnya yang terbalut sweter berwarna krim itu membuat dirinya terlihat begitu lelaki sekali. Rainku benar-benar menggoda pandangan. Entah mengapa aku jadi ingin mengusap dada bidangnya yang terbalut sweter itu.
__ADS_1
“Ara, kau menggodaku?” Dia bertanya dengan suara rendah.
“Sayang, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Kau mendiamkanku padahal sudah kujelaskan semuanya padamu.” Aku memasang wajah memelas padanya.
Priaku menunduk, dia tidak menatapku. Kedua tangan kekarnya masih berada di samping kanan dan kiriku. Aroma parfumnya juga tercium semerbak sekali. Aroma parfum yang begitu memabukkan diriku. Rasanya aku ingin selalu bersama si pemilik aroma ini.
“Aku menginginkanmu malam ini. Bisakah kau memberikannya tanpa lari?” Dia terus terang tanpa malu.
“Sayang?”
“Ara, kau tahu aku menyayangimu. Jadi jangan salahkan aku jika seperti ini.” Dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Hujanku sudah kembali.
Dia kemudian meraih bibirku, mengecupnya dengan lembut seperti sedang mencurahkan semua rasa yang ada di hati. Hangat napasnya amat terasa seolah-olah ingin kuhirup dalam-dalam ke tubuh ini. Aku pun mengalungkan kedua tangan pada lehernya. Aku pasrah dengan setiap cumbuannya.
Sayang, miliki aku ….
Entah mengapa semakin lama kami berciuman, suasana terasa semakin bertambah panas. Rain melepas sweter lengan panjangnya sambil terus menciumku. Kusadari jika api sudah berkobar di dalam tubuhnya.
“Sayang ….” Saat itu juga aku menghentikan aksinya.
Kulihat sweternya sudah jatuh di atas kasur. Dan kini dia hanya mengenakan celana panjangnya saja. Dia juga masih berada di atas tubuhku. Tatapan matanya sangat menginginkanku sekali.
“Sayang, aku takut keterusan,” kataku sambil menatap lembut wajahnya.
“Ara, apa yang harus ditakutkan?" Dia ingin menciumku kembali, tapi kutolak.
“Sikapmu yang membuatku takut.” Kupalingkan pandanganku darinya.
“Ara?” Dia terlihat bingung.
Aku beranjak bangun dari bawah tubuhnya, dia pun membiarkannya. “Aku takut kau akan lari dari tanggung jawabmu.” Aku terus terang padanya.
“Astaga ….” Rain mengusap wajah dan kepalanya sendiri.
“Bagaimana jika kau terus bersikap seperti ini dan aku menyerah karena sikapmu?” tanyaku sambil duduk di tepi kasur.
__ADS_1
“Ara …,” Dia mendekatiku. “Aku menyayangimu, maafkan jika aku sudah berlebihan.” Dia mencium pundakku dari belakang.
Sontak sekujur tubuhku merinding karena ciumannya. Seluruh saraf sensorik di tubuhku tersambung begitu cepat. Apalagi saat dia memegang kedua lengan ini sambil terus menciumi pundakku. Kumis tipisnya itu amat membuatku geli. Tapi, aku berusaha menikmatinya.
“Yakinkan aku,” pintaku seraya berbalik, menghadapnya.
Dia menatapku lembut lalu membenarkan poni ini. “Hal apa yang bisa meyakinkanmu?” Dia balik bertanya padaku.
Aku berpikir sejenak sambil terus memperhatikan wajah tampannya. “Buatlah aku tidak pernah menderita kerugian selama hidup bersamamu.” Aku memegang wajahnya dengan kedua tangan ini.
Kulihat Rain tertawa kecil. Dia lalu menarikku ke atas pangkuannya. Di atas kasur, di depan cermin besar terlihat jelas dia memangkuku tanpa baju. Pemandangan ini membius penglihatanku sendiri.
“Baiklah. Aku mengerti maksudmu.” Dia lalu mencium dadaku dengan gemas.
“Sayang!” Aku menjauhkan wajahnya dari dadaku.
“Kenapa? Kau takut aku tidak bertanggung jawab atas perbuatanku?” tanyanya. “Kita sudah sejauh ini, Ara. Apa yang harus kau khawatirkan? Apa karena sikapku kemarin?” tanyanya lagi.
Aku menunduk.
“Baiklah-baiklah. Kita buat perjanjian saja. Di mana isinya tidak akan merugikanmu sama sekali. Jadi Araku tidak perlu khawatir lagi.” Dia mencubit pipiku.
“Aw, sakit!” Kupegang pipi ini.
Rain menatapku penuh cinta. Tersirat dari sinar matanya tidak ada lagi rasa kesal ataupun amarah padaku. Kutahu jika kini dia sudah luluh dengan sikapku. Walaupun amat terpaksa mengenakan lingerie ini, setidaknya kami bisa bicara kembali.
“Kita buat kontrak pernikahan. Kau setuju?” tanyanya yang mengejutkanku.
“Kontrak pernikahan?!” Aku tak percaya dia akan mengucapkan hal itu.
“Ya, kontrak pernikahan. Jika kau mau mengandung dan melahirkan anakku, aku akan memberimu 20% dari total kekayaan yang kupunya. Tapi jika kau mau membesarkannya, kau akan mendapatkan tambahan 30% lagi. Sedang jika kau mau hidup bersamaku sampai akhir nanti, aku akan memberikan sisa hartaku padamu. Bagaimana? Cukup menguntungkan, bukan? Kau tidak perlu khawatir lagi atau takut aku lari.” Dia meyakinkanku.
“Sayang, ini terlalu berlebihan.” Aku tak percaya dia mengucapkannya.
“Ara …,” Dia memelukku erat. “Aku benar-benar menyayangimu. Hanya saja belum mampu memposisikan hati ini saat cemburu. Maaf, ya?” Dia merebahkan kepalanya di dadaku.
Sayang ….
__ADS_1
Kusadari jika dia benar-benar mencintaiku. Hanya saja akunya yang terlalu khawatir terhadap sikapnya. Aku takut sewaktu-waktu ditinggalkan olehnya. Ya, maklum saja. Dia pria pertama yang menjamahku. Jadi rasa khawatir itu begitu besar padanya. Tapi, semoga saja setelah malam ini semua itu hanya sebatas ketakutan yang tidak pernah terjadi. Aku menyayangi hujanku.