Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Enough


__ADS_3

Sesampainya di apartemen...


Jam di dinding telah menunjukkan pukul delapan malam. Rain pun masuk ke dalam huniannya sambil membawa beberapa cemilan dan juga es krim. Ia berniat memakan es krim bersama gadisnya. Tetapi saat membuka pintu, ia melihat keadaan ruangan sudah gelap. Ia pun segera menyadari jika gadisnya telah mematikan semua lampu ruangan.


Ara ....


Dilihatnya sang gadis yang sudah tertidur di atas sofa. Hatinya kecewa karena melihat Ara tidak menunggunya. Malahan sang gadis sudah tertidur, terbalut dalam selimut tebalnya. Rain pun berjalan mendekati, berniat membangunkan sang gadis.


"Ara, aku beli es krim."


Ia duduk di pinggir sofa sambil menyentuh lengan gadis yang berhasil membuatnya gundah-gulana. Tapi ternyata, sang gadis sama sekali tidak meresponnya. Seperti memang telah benar-benar tertidur.


Apa dia sudah tidur? Secepat ini?


Rain melihat jam di dinding, ia juga melihat jam di kedua ponsel yang selalu dibawanya. Dan ternyata, waktunya sama. Masih pukul delapan malam. Wajahnya terlihat sedih karena merasa kehilangan kasih sayang yang biasa mengisi hari-harinya.


"Ara, aku beli es krim. Kita makan bersama, yuk."


Ia memelas, berharap sang gadis terbangun lalu memakan es krim bersamanya. Ia sentuh kembali lengan gadisnya, tapi lagi-lagi tak ada jawaban. Rain merasa kehabisan akal menghadapi Ara malam ini.


"Hah ...."


Terdengar embusan napas yang berat darinya. Ia pun beranjak ke dapur, berniat menaruh es krim di freezer. Sedang Ara...


Malam-malam malah mengajak ku makan es krim. Apa dia ingin membuatku sakit?


Sang gadis yang tengah berselimut ini menggerutu di dalam hatinya. Tubuhnya yang menghadap ke badan sofa, tentu saja tidak dapat diketahui oleh Rain jika ternyata belum tertidur. Tak lama Ara kembali mendengar suara langkah kaki Rain yang mendekat ke arahnya.

__ADS_1


Sang penguasa duduk kembali di sofa, dekat Ara sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ia lantas membuka ponsel, mencari tips untuk mengatasi kekasih yang sedang ngambek. Ia sampai harus mencari cara untuk meredakan kemarahan gadisnya.


Rain bukannya tidak tahu penyebab gadisnya marah. Ia menyadari apa kesalahannya, tapi ia ingin Ara memakluminya. Pikirnya, mereka akan segera hidup bersama, jadi sudah sepantasnya Ara mengertikan sifatnya. Namun, sang gadis rupanya malah membuatnya semakin tidak karuan. Hidup seatap tapi berdiaman sepanjang hari. Dan Rain merasa risih dengan keadaan ini.


Hah ... baiklah.


Diletakkannya kedua ponsel ke atas meja lalu beranjak bangun. Ia kemudian mengangkat meja tamu untuk dipinggirkan ke dekat TV. Rain lalu menarik sofa lain untuk didekatkan ke sofa Ara. Kedua sofa lalu menempel menjadi satu. Di saat itulah Rain merebahkan dirinya di samping sang gadis. Ia pandangi langit-langit apartemen dengan sesekali melirik ke arah gadisnya. Kali-kali Ara akan terbangun lalu mengajaknya bicara. Tetapi ternyata...


Ya Tuhan, sampai kapan aku akan didiamkan seperti ini?


Ara tak juga bicara. Padahal posisi tidurnya di sisi kiri sang gadis. Ara masih saja menutup diri dengan selimut, yang membuat Rain kesal setengah mati. Ia menelan ludah berulang kali sambil melihat ke arah Ara yang asik tertidur tanpa mengindahkan kehadirannya. Padahal tanpa sepengetahuan Rain, Ara masih terjaga, belum tertidur sepenuhnya. Ia dikelabui sang gadis.


Ya sudah. Aku tidur di sini saja.


Pada akhirnya, sang penguasa harus mengalah dengan keadaan. Ia mencoba memejamkan kedua mata di samping gadisnya. Di lain sofa namun dalam satu area. Jarak keduanya hanya sekitar tiga puluh senti saja. Begitu dekat, namun tidak ada yang bicara. Baik Rain maupun Ara membiarkan malam menjadi saksi akan pertengkaran hati mereka.


Esok harinya...


Angin pagi sedikit kencang, melambungkan tirai-tirai jendela yang sengaja dibiarkan terbuka. Rerintikkan hujan pun tak lama semakin hilang terbawa angin yang berlalu. Namun, bekasnya masih tersisa di lantai teras. Seperti bekas luka yang ditimbulkan karena sebuah ucapan. Masih terasa walau sudah berhasil disembuhkan.


Kini sang gadis berdaster biru gelap itu sedang menyajikan sarapan pagi untuk tuannya. Ia tampak diam sedari tadi sampai-sampai sang tuan hanya bisa memperhatikannya dari sisi. Tanpa berkata, tanpa bersuara.


Kesenjangan terasa lagi setelah pertengkaran terjadi beberapa hari yang lalu. Membuat sang gadis lebih menjaga diri dari sebelumnya. Ia bahkan berpura-pura tidak peduli terhadap apapun yang terjadi pada tuannya. Ia tunjukkan jika masih mempunyai harga diri walau sebutan murahan telah membekas di hatinya.


"Kau mau ke mana?"


Setelah menyajikan sarapan, Ara berlalu begitu saja. Tapi dengan cepat Rain menahannya. Pria bermata biru itu seperti tidak ingin terus-terusan perang dingin seperti ini. Pagi ini ia memberanikan diri menahan tangan sang gadis agar tidak lagi pergi darinya.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Aku sudah melaksanakan tugasku."


Ara segera menepiskan tangan Rain yang memegang tangannya. Ia kemudian berlalu menuju lorong mesin cuci untuk mencuci pakaian yang kemarin. Saat itu juga terlihat Rain mengusap wajahnya sendiri. Ia merasa bingung menghadapi gadisnya. Perasaan bersalah pun selalu saja menghantui hatinya.


Ara, jangan bermain-main dengan hatiku!


Pria berjas abu-abu itu segera berdiri dari depan meja makan. Ia berjalan cepat menghampiri Ara yang sedang memisahkan pakaian putih dan berwarna di lorong mesin cuci. Ia dirikan tubuh sang gadis agar menghadap ke arahnya. Ia pegang kuat-kuat kedua lengan Ara agar tidak bisa lagi menghindar darinya.


"Tuan, sakit!"


Sang gadis berusaha berontak, tapi Rain membiarkannya. Dan kini kedua pasang bola mata itu saling bertatapan. Ara tidak lagi mempunyai kesempatan untuk menghindar dari Rain.


"Sampai kapan kau akan seperti ini?!" tanya Rain dengan tatapan menahan kesal.


"Tuan,"


"Kenapa memanggilku dengan sebutan tuan lagi?" Rain kembali bertanya.


"Tuan, aku rasa hubungan kita tidak lebih dari sekedar—"


"Ara!" Rain menyela. "Jangan membuat kesabaranku habis. Ini hari ke tiga kita berdiaman, apa kau ingin selalu seperti ini?" tanya Rain lagi.


Ara menelan ludahnya.


"Aku..." Perkataan Rain terhenti sejenak, ia terlihat menghirup napas dalam-dalam. "Aku minta maaf atas kejadian kemarin." Rain akhirnya mengucapkan kata maaf kepada Ara.


Seketika Ara terperanjat mendengarnya. Ia terdiam sambil terus menatap kedua bola mata biru milik Rain.

__ADS_1


"Aku mengaku salah. Kemarin aku terbakar rasa cemburu. Maafkan aku." Rain lalu menatap lembut gadisnya.


Sontak hati Ara terasa luluh mendengar perkataan tulus dari tuannya. Tapi, tetap saja bekas luka itu masih terasa di dadanya. Ia pun melepaskan pegangan kedua tangan Rain dari lengannya, berusaha menjaga jarak.


__ADS_2