
Esok harinya...
Hari ini hari Sabtu, tak terasa sudah dua minggu saja aku bekerja di sini. Waktu terasa begitu cepat berlalu jika sedang berada di dekatnya. Dan kini aku sedang membuatkan sarapan pagi untuknya. Pakaian belum kucuci karena kupikir sekalian saja dengan pakaiannya.
Tuanku masih di kamar. Sejak semalam dia tidak keluar kamar sama sekali. Sepertinya dia kesal padaku. Aku juga bingung harus bagaimana menanggapi sikapnya. Kadang pertanyaan itu terkumpul di kepalaku. Benarkah dia menyukaiku? Atau memang sikapnya seperti ini kepada semua wanita?
Jauh di dalam lubuk hati ingin sekali mengenalnya lebih jauh. Tapi, kalau banyak tanya nanti dia malah risih denganku. Ya, anggap saja jika ini hanya sebatas angan yang ingin memilikinya. Bukan sebagai kekasih bohongan tapi sebagai istri sungguhan. Mungkin tak apa jika aku menikah sekarang, asal menikah dengannya.
Hah, Ara. Jangan terlalu berharap. Masih banyak wanita cantik dan seksi di luar sana!
Tuanku memang tipe suami idaman. Secara fisik dia tidak perlu diragukan. Pastinya dibawa ke mana-mana juga akan pede. Tapi bagaimana dengan sifat aslinya? Aku belum tahu sampai sekarang. Yang kutahu setiap melihatnya jantungku berdebar tak karuan. Melihat senyumnya, tawanya, membuatku bahagia. Rasanya aku ingin selalu bersamanya.
"Em, lumayan rasanya."
Pagi ini aku membuatkannya sup ayam. Entah mengapa ingin saja membuat sup pagi-pagi. Supku ini tidak terlalu banyak isi, hanya kentang, jagung, seledri, tomat dan ayam. Tapi kutaburi bawang goreng yang banyak agar rasanya lebih menggugah selera.
Kuambil mangkuk besar lalu menuangkan supnya. Setelahnya kubawa ke meja makan. Kebetulan nasi juga sudah matang. Jadi kami bisa segera bersantap. Tapi sayang, tuanku belum juga terbangun dari tidurnya.
"Ketuk tidak-ya pintunya?"
Aku mengenakan daster sebatas lutut dengan motif pemandangan pantai. Entah mengapa lagi ingin saja mengenakannya. Mungkin selepas ini aku akan segera ke pantai. Walaupun tidak bersamanya, aku bisa pergi sendiri ke sana.
"Kuketuk saja pintunya."
Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Matahari juga sudah mulai naik ke singgasana. Aku khawatir hari ini tuanku mempunyai pekerjaan, jadi jika tidak dibangunkan nanti dia malah marah padaku.
"Tuan ... Anda bekerja tidak hari ini?"
Aku bertanya sambil mengetuk pintu kamar dari luar. Kuketuk berulang kali tapi belum juga ada jawaban. Akhirnya, terpaksa aku masuk ke dalam. Dan kulihat dia masih memeluk gulingnya, menghadap ke arah pintu.
Tuan, aku ini seperti sudah menjadi istrimu. Pagi-pagi membuatkan sarapan lalu membangunkanmu.
Aku tersenyum saat mulai membangun angan dalam hati. Perlahan kulangkahkan kaki mendekatinya. Tapi sebelum sampai, aku mendengar sesuatu yang keluar dari mulutnya.
"Kau menyebalkan, Sayang ...."
Entah siapa yang dia maksud, tapi kulihat dia membalikkan badannya menghadap ke langit-langit kamar. Dan...
"Engghh..." Aku mendengar suaranya seperti mengerang lalu tak lama tubuhnya pun ikut mengejut.
"Kau milikku. Hanya milikku," katanya lagi.
__ADS_1
Sontak aku terpaku di dekat pintu saat mendengar ucapannya. Entah apa yang terjadi, kulihat dia memeluk gulingnya kembali. Sepertinya dia sedang bermimpi indah, entah dengan siapa.
Dia sering sekali bergumam saat tidur.
Kuberanikan diri mendekati lalu memegang lengannya. Dia masih mengenakan kemeja putihnya semalam. Mungkin dia tidak lagi sempat berganti pakaian dan langsung tertidur begitu saja.
"Tuan ... bangunlah." Kuusap pelan lengan kekarnya.
Tidak ada pergerakan sama sekali. Aku jadi harus memikirkan cara lain agar dia bisa lekas terbangun.
Mungkin dengan sebuah kecupan ringan dia bisa terbangun.
Entah mengapa aku berpikir jika aku ini istrinya. Kudekati dia, kuusap pelan kepalanya lalu berniat mengecup kepalanya. Tapi, belum sempat mengecup, dia sudah tersadarkan.
"Ara?!" Sontak dia bangun secepat kilat karena melihat bibirku yang sudah dekat ke kepalanya.
"Eh, Tuan." Aku jadi salah tingkah sendiri akhirnya.
Dia terdiam sambil memperhatikanku. Sedang aku ... aku berusaha menutupi rasa malu ini. Kuambil bantal lalu menutupi wajahku. Tak tahu apa yang dia pikirkan, lekas-lekas aku beranjak pergi.
"Tunggu!" Ternyata dia menahanku, menarik tanganku. Dan kini aku duduk di tepi kasurnya. "Kau ingin menciumku?" tanyanya yang membuatku menelan ludah.
Dia tersenyum tipis. "Kalau kau mau tak apa," katanya yang membuat degup jantungku tak karuan.
"Tuan!" Dia merebahkanku di atas kasurnya.
"Ara, jangan berbohong pada diri sendiri." Dia menatapku sambil memegang kedua tangan ini.
Sepertinya dia ingin menerkamku sekarang.
Sorot matanya seperti menginginkanku. Aku pun menelan ludah karena bingung harus bagaimana.
"Tuan, tolong jangan seperti ini," pintaku padanya.
"Begitu? Tapi Ara, siapapun yang sudah mencuri itu harus mendapatkan hukuman." Dia tersenyum tipis padaku.
"Mencuri?! Aku tidak mencuri, Tuan! Lepaskan aku!" Aku berontak.
Ternyata aku tidak ada apa-apanya. Tenagaku sama sekali tidak bisa melawannya. Aku tidak bisa bergerak sedikit pun. Dadaku juga ikut naik-turun dibuatnya.
"Boleh aku menciummu?" tanyanya yang membuatku tersentak.
__ADS_1
"Ti-tidak! Tidak boleh!" jawabku segera.
"Benar, kah? Lalu bagaimana dengan ini?" Dia mendekatkan wajahnya ke leherku.
"Tuan, jangan ... ah!"
Dia mengecup leherku dengan bibir tipisnya. Seketika tubuhku bergetar seperti tersengat aliran listrik. Bibir lembutnya membuat laju jantungku berpacu cepat, tak terkendali. Aku pun jadi terengah-engah sendiri. Perlahan kedua tanganku pun melemas, seperti kehilangan tenaga untuk melawan.
"Aku akan menikahimu, Ara. Suka atau tidak padaku." Dia mengeluarkan pernyataan yang membuatku tersentak dalam ketidakberdayaan.
"Tuan ...."
"Kita akan segera menikah." Dia menatapku serius.
"Tap-tapi..."
"Ini ketiga kalinya aku berkata ingin menikahimu. Jika kau masih tidak menanggapinya juga, maka jangan salahkan aku memaksamu." Dia menarik hidungku.
"Aw!"
Entah harus senang atau sedih, aku pun tidak tahu. Dia lalu bangkit dari atas tubuhku dan mulai melepas kancing kemejanya satu per satu.
"Tuan ...." Dia juga melepas sabuk celananya.
Aku mencoba bangun untuk memastikan jika ini bukanlah mimpi. Wajahnya terus saja menatapku dan tidak berpaling sedikitpun. Aku jadi harap-harap cemas atas apa yang akan terjadi nanti.
"Tu-tuan, tunggu!" Aku segera bangkit saat dia menurunkan resleting celananya.
"Ada sesuatu yang harus kubeli. Permisi."
Aku berlari cepat keluar kamar, tak peduli lagi padanya. Tapi ... ternyata dia mengejarku.
"Kau mau lari ke mana lagi, Ara?" Dia menangkapku saat hampir berbelok menuju pintu apartemen.
"Tu-tuan. Tolong jangan seperti ini. Ak-aku belum siap." Aku terbata sendiri.
"Lalu bagaimana, apa kau masih tidak ingin menikah denganku?" tanyanya sambil berbisik di telinga ini.
"Tuan ...."
Aku berharap ini hanyalah mimpi. Ya, aku berharap ini hanya sebatas mimpi. Tidak mungkin dia mau menikahiku begitu saja tanpa alasan yang jelas. Aku ini hanya gadis biasa. Sedang dia, segalanya punya.
__ADS_1