
Di lain tempat...
Keadaan di sekelilingku seperti berada di waktu pergantian siang ke sore hari. Entah jam berapa sekarang, tapi sepertinya sekitar pukul tiga atau empat waktu sini. Entahlah, aku juga kurang tahu persis jam berapa dan di mana aku berada. Yang jelas kulihat langit belum gelap, masih biru dengan awan putih berarak di angkasa.
"Tuan, aku tersesat. Tolong bantu aku," kataku lagi.
"Hei, Gadis Aneh. Aku bukan tuanmu. Aku pangeran, Pangeran Rain!" Dia menegaskan kembali siapa dirinya.
"Iya, deh, Pangeran Rain." Aku mengalah saja agar dibantu olehnya untuk menemukan jalan pulang.
Dia menghela napas lalu memalingkan pandangannya dariku, kemudian kembali lagi melihatku. Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya, tapi sepertinya dia sedang memikirkan kenapa bisa aku sampai ke sini.
"Dari mana kau berasal?" tanyanya kemudian.
Sontak pertanyaannya membuat hatiku sedikit senang. Karena setidaknya dia menanggapi kegelisahanku yang tidak menemukan jalan pulang.
"Aku ... aku tidak tahu kenapa bisa sampai ke sini. Tiba-tiba saja aku sudah ada di sini dan melihatmu sedang tiduran di atas rumputan bukit," jawabku.
"Hah ...." Dia mengembuskan napasnya. "Aku ingin kembali istana, tapi tidak bisa mengajakmu. Kau di sini saja. Jika lapar, nanti aku minta prajurit membawakan makanan untukmu." Dia menjelaskan lalu berjalan menuju kudanya.
Jadi dia ingin meninggalkanku sendirian di sini?
Sontak rasa takut kembali menerjang pikiranku. Aku tidak mau dia pergi dan meninggalkanku sendirian di atas bukit ini. Aku tidak tahu jalan pulang dan harus ke mana. Aku harus melakukan sesuatu agar dia mau menolongku.
"Pangeran, tunggu!" Aku menahannya sebelum beranjak pergi.
"Apa lagi?" tanyanya seraya menoleh ke arahku.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak tahu jalan untuk kembali. Aku juga tidak punya tempat tinggal. Bisakah memberiku kesempatan untuk ikut bersamamu?" tanyaku sungguh-sungguh.
Kulihat dia terdiam di samping kudanya. Sepertinya dia mulai kasihan padaku. Entah apa yang ada di pikirannya, aku harap bisa pulang ke duniaku saja. Lagipula di sini tidak ada yang kukenal.
"Tidak ada yang gratis di dunia ini. Apa yang bisa kau berikan sebagai jaminan untukku?" tanyanya.
"Maksud Pangeran?" Aku jadi bingung.
"Hei, Gadis. Aku tidak mungkin membawa sembarang orang ke istana tanpa jaminan. Apalagi memberimu perlindungan. Jika kau tidak bisa memberikan jaminan, aku tidak akan membawamu ikut." Dia seperti menginginkan sesuatu dariku.
Entah apa yang harus kuberikan padanya sebagai jaminan. Aku tidak punya apa-apa saat ini. Kuraba seluruh tubuhku di hadapannya. Dan anehnya tidak ada satu perhiasan pun di tubuhku. Anting dan kalung pemberian dari priaku tidak ada. Gelang dari nenek itu pun entah ke mana. Aku datang ke sini polos, tidak membawa apa-apa selain hanya baju di badan. Aku jadi bingung harus memberikan jaminan apa padanya.
"Ak-aku ... tidak punya apa-apa, Pangeran." Aku tertunduk sedih di hadapannya.
"Ya, sudah. Kalau tidak bisa memberikan jaminan." Dia naik ke pelana kudanya.
Astaga ... bagaimana ini?
Suara langkah kaki kudanya semakin menjauh. Bisa dipastikan jika lelaki bernama Pangeran Rain itu sudah pergi dari bukit ini. Dan kini hanya aku seorang diri di hamparan hijau nan luas. Ditemani pohon tin yang besar dan amat rimbun. Aku tidak tahu bagaimana kelanjutan kisahku. Tapi yang jelas aku membutuhkan pertolongan untuk kembali.
Ara terperangkap di tempat yang jauh dari raganya berada. Ia merasa bingung mengapa semua terasa begitu nyata. Padahal raganya masih tertinggal di dunia aslinya. Ia dirundung kedukaan karena tidak bisa kembali ke dunianya.
Sihir pemisah yang digunakan memang ditujukan kepada Rain. Namun, Ara menjadi perisai otomatis bagi prianya. Hal itu dikarenakan daya tarik Ara begitu kuat jika dibandingkan dengan Rain. Tubuh Ara secara otomatis dapat merasakan energi negatif di sekitarnya dan membuat benteng pertahanan sendiri.
Walaupun sang gadis memiliki tingkat kepekaan yang tinggi, sayangnya ia belum bisa mengendalikan diri saat energi di sekitarnya terasa. Yang mana menyebabkan tubuhnya kehilangan kesadaran selama proses penyesuaian. Seperti saat tubuh menggigil kedinginan, sistem tubuh secara otomatis menjadi hangat atau bahkan panas. Begitu juga jika tubuh merasa kepanasan, tubuh akan mengeluarkan keringat untuk melakukan pendinginan. Begitu juga yang terjadi pada Ara. Ia masih harus banyak belajar untuk beradaptasi dengan energi di sekitarnya.
Sementara di rumah sakit...
__ADS_1
Rain masih menunggu keadaan Ara siuman dari fase delta. Ia terlihat cemas saat waktu semakin lama semakin mendekati petang. Kini jam di dinding rumah sakit telah menunjukkan pukul lima sore waktu Dubai dan sekitarnya. Tapi, ia belum juga melihat tanda-tanda Ara akan tersadarkan.
Saat baru sampai, pria tua bernama Ali yang disebut kakek oleh Jack itu, memberikan salamnya kepada Rain. Rain pun dengan fasih menjawab salam dari pria tua tersebut. Mereka kemudian berbincang sebentar sebelum akhirnya Kakek Ali melihat keadaan Ara lebih lanjut. Dan kini Kakek Ali sedang membacakan ayat-ayat suci di sisi kanan sang gadis yang belum tersadarkan.
Detik demi detik berlalu, menit demi menit terlewati. Rain semakin khawatir jika cara ini belum juga bisa menyadarkan Ara. Ia pun tidak ingin meninggalkan Ara sendirian di dalam. Ia ingin melihat bagaimana prosesnya.
"Maha Suci Tuhan Semesta Alam."
Tak lama, pria tua tersebut menyudahi pembacaan ayat-ayat sucinya. Ia kemudian menemui Rain yang berdiri tak jauh darinya.
"Kakek, bagaimana?" tanya Rain yang amat khawatir.
Jack terlihat duduk di sofa sambil ikut membaca ayat suci di dalam hati. Keadaan ruang rawat Ara terasa hening setelah lantunan ayat suci itu dihentikan. Dan kini terlihatlah wajah sang penguasa yang tampak cemas.
"Cucuku, calon istrimu sedang kesulitan menemukan jalan untuk kembali. Apa kau bisa membantuku?" tanya pria tua tersebut.
"Katakan saja, Kek. Aku akan melakukannya." Rain amat serius.
Kakek Ali tersenyum. "Berdoalah, minta kepada Tuhan memberikan jalan pulang untuk calon istrimu. Bayangkan seolah-olah kau menemuinya dan menuntunnya kembali ke sini. Bisa, bukan?" tanya Kakek Ali lagi.
"Bisa, Kek." Rain mengangguk.
"Bersihkan dirimu terlebih dahulu. Temui Tuhan dalam keadaan suci," pinta sang kakek.
"Baik, Kek."
Rain mengangguk. Ia mengerti maksud kakek tersebut. Ia kemudian membersihkan dirinya di kamar mandi sebelum kembali dan ikut berdoa bagi keselamatan Ara. Rain sungguh-sungguh ingin Ara cepat siuman dari fase deltanya.
__ADS_1
Kejadian ini membuktikan jika Rain memang benar-benar menyayangi Ara dan bukan hanya sekedar hasrat belaka. Ia sungguh-sungguh ingin mempersunting sang gadis dan menjadikan ibu dari anak-anaknya kelak. Rain mencintai Ara, yang mana sebentar lagi akan menjadi istrinya.