
Beberapa saat kemudian...
Hening. Satu kata yang cocok untuk menggambarkan keadaanku. Aku mencoba membuka kedua mata dan melihat keadaan sekitar. Namun ternyata, sekelilingku sangat gelap sekali. Tak ada cahaya ataupun sesuatu yang dapat menerangi. Entah di mana ini, sepertinya aku tidak bisa mendengar duniaku lagi.
Apakah aku sudah mati?
Pandanganku buta. Tidak bisa melihat apa-apa karena tak ada cahaya di sekelilingku. Kusadari jika kini bukan lagi di duniaku. Melainkan di sebuah tempat yang sangat gelap, tanpa lampu atau penerangan sedikitpun. Namun, aku berusaha menerima keadaan dengan tidak mencaci Tuhan. Aku rela terhadap takdir dan kehendak-NYA.
Anak-anakku, sehat terus kalian di sana.
Ingin menangis tapi tak bisa. Ingin berteriak rasanya juga tak mungkin. Aku pun duduk sambil menekuk kedua lutut ini. Sendirian tanpa ada cahaya ataupun seseorang yang menemani. Entah di mana gerangan diriku berada, sepertinya aku hanya bisa pasrah.
Ya Tuhan, inikah akhir hidupku?
Lambat laun, perlahan-lahan di tengah kepasrahanku, seberkas cahaya datang dari arah yang tinggi. Cahaya itu kemudian menyebar ke seluruh penjuru tempatku berada. Tak lama berselang aku pun mendengar sesuatu.
"Cucuku..."
Betapa terkejutnya aku saat mendengar suara seseorang yang pernah kutemui dulu. Suara nenek pemberi gelang waktu itu. Aku pun merasa bingung mengapa bisa mendengar suaranya, padahal aku sedang tidak berada di Agartha. Sedang jika ingin bertemu, salah satu gantungan di gelangku harus terlepas lebih dulu. Tapi ini aneh sekali, aku bisa mendengar suaranya.
Sebenarnya aku ini ada di mana?
Tak lama aku melihat nenek bergaun sutra tengah berdiri di ujung sana. Dia tersenyum padaku sambil memegang sesuatu di tangannya. Jarak kami lebih jauh dari yang sebelumnya. Seperti ada sesuatu menghalangi antara kami, entah apa.
"Nenek?"
__ADS_1
Senyum darinya seperti menyiratkan sebuah kebahagiaan. Roman wajahnya tampak awet muda bukan seperti nenek-nenek sungguhan. Kata sebut nenek hanya karena terbawa dari pertemuan pertama kami. Nyatanya di sini dia belumlah tua. Usianya mungkin baru berumur sekitar empat sampai lima puluh tahun. Hanya saja pakaiannya seperti kerajaan tempo dulu. Mengenakan gaun sutera dengan hiasan kepala seperti tusuk konde yang terbuat dari emas. Dia terlihat cantik, tidak seperti sebutannya.
"Selamat atas kelahiran kedua anakmu, Cucuku. Gantungan bulan dan bintang itu sudah terlepas dan sudah kembali berada di tanganku," katanya yang mengejutkanku.
"Ap-apa? Ba-bagaimana bisa?" Aku tak percaya.
"Tugasku sudah selesai. Perjanjian ini telah berakhir. Kau bisa menikmati hidup tanpa ada rasa was-was karena gelang ini lagi. Kau telah melewati perjanjian dengan baik." Nenek pemberi gelang mengatakannya padaku.
Gantungannya sudah terlepas?
Sungguh aku merasa heran dengan pernyataan nenek itu hingga melihat sendiri gelang di tangan kananku ini. Dan ternyata, kedua gantungannya memang tak lagi ada. Melainkan hanya gelangnya saja. Apakah ini nyata atau delusi semata? Entahlah. Aku hadapi dan jalani saja apa yang ada di depanku.
Aku berjalan mendekatinya. Namun ternyata, ada sekat dinding tembus pandang di antara kami. Aku pun terbentur karena tidak tahu jika ada dinding yang menghalangi.
"Cucuku, Tuhan telah mengabulkan doamu. Kau bisa menjalani hari tanpa was-was akan gelang ini lagi. Hanya saja kemampuanmu masih bisa dilatih jika kau menginginkannya. Tidak ada yang salah dengan kelebihan yang kau miliki selama bisa dipergunakan untuk kemaslahatan banyak orang. Terima kasih atas perjumpaan selama ini. Tetap sembunyikan apa yang harus disembunyikan. Selamat tinggal." Nenek pemberi gelang berpamitan.
Aku tidak bisa berkata apa-apa, aku merasa bingung dengan keadaanku sendiri. Mulutku seakan terkunci dan tidak bisa menahan kepergian nenek pemberi gelang itu. Aku pun bertanya-tanya bagaimana bisa gantungan bulan dan bintangnya terlepas. Apakah terjadi sesuatu di dunia nyataku?
Nenek, terima kasih. Maaf jika selama ini telah merepotkanmu.
Aku tidak tahu apakah ini pertemuan terakhirku dengan nenek itu atau bukan. Tapi sepertinya pesan yang dia katakan cukup menjadi pondasiku dalam menjalani kehidupan ke depannya. Untuk tetap menyembunyikan apa yang seharusnya disembunyikan. Mungkin yang dia maksud adalah rahasia yang terjadi selama ini. Aku pun dengan sekuat tenaga akan menjaganya.
Pelan tapi pasti. Keadaan di mana diriku berada seperti terkikis sendiri. Lambat laun apa yang kulihat terbiaskan penglihatan. Hingga akhirnya suara suamiku perlahan-lahan terdengar di telinga ini. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku seperti mengalami mimpi.
Beberapa saat kemudian...
__ADS_1
Aku mendengar suara Rain memanggil-manggil namaku. Suaranya terdengar serak sekali. Sepertinya dia sedang menangis.
"Sayang, bangunlah. Sayang ...."
Kata itulah yang kudengar dan membuatku ingin segera membuka mata ini. Tapi mataku tak kunjung juga terbuka. Dan kurasakan jika seluruh tubuhku bergetar sendiri. Entah mengapa.
Ini kenapa? Apakah ini efek biusnya?
Tak tahu apa yang terjadi. Perlahan-lahan aku juga bisa mendengar suara ibu mertuaku dan Kak Jamilah yang sedang bersuka hati. Namun, suara mereka terdengar jauh sekali. Entah di mana gerangan berada, sepertinya aku sudah kembali ke ruang rawat inapku.
"Sayang, bangun. Lihatlah anak kita ...."
Seseorang mengusap kepalaku. Dia juga mengelap keringat yang ada di wajahku. Sepertinya itu adalah suamiku. Aku belum tahu pasti karena belum bisa melihatnya. Tapi satu hal yang kutahu, ternyata aku keringatan sehabis melakukan operasi. Tubuhku juga bergetar sendiri tanpa bisa dikendalikan. Setiap sentuhan tidak bisa kurasakan. Seperti kebal dan mati rasa. Mungkin inilah efek biusnya.
Ya Tuhan, terima kasih. Ternyata aku belum mati.
Puji syukur aku panjatkan karena masih diberi kesempatan hidup setelah proses operasi yang membuatku mengantuk sekali. Kini aku sudah mengalami sendiri bagaimana rasanya operasi sesar. Tinggal menunggu efek biusnya hilang dan merasakan betapa sakit bekas sayatan di perutku. Tapi semoga saja hatiku kuat menghadapinya. Karena ini memang sudah menjadi risikoku. Risiko sebagai seorang perempuan yang melahirkan anaknya.
"Ya Tuhan, puji syukur bayinya cantik dan juga tampan."
Kudengar Kak Jamilah berkata seperti itu. Sepertinya bayiku masih berada di keranjang bayi saat ini. Aku pun belum mampu membuka kedua mataku. Sepertinya saraf mataku belum bisa berfungsi pasca operasi.
"Dok." Tak lama kudengar suamiku seperti menyambut kedatangan dokter. Tubuhku pun diperiksa, namun tetap kebal rasa.
"Efek biusnya perlahan-lahan akan hilang. Tuan tidak perlu khawatir. Sekarang kita suntikan antibiotiknya." Seorang pria berkata seperti itu. Mungkin itu adalah suara dokter yang menanganiku.
__ADS_1
Sesaat kemudian aku merasa sedikit nyeri pada tubuhku. Mungkin antibiotik itu sudah mulai bekerja pada tubuhku. Suasana kudengar terasa bersuka cita sekali. Aku pun ingin lekas terbangun dari keadaan ini.