
Sleep paralysis sendiri adalah kondisi yang terjadi saat seseorang sedang tidur. Kondisi ini kerap kali dikaitkan dengan hal mistis seperti diduduki oleh makhluk halus. Atau jika di Indonesia lebih dikenal dengan ketindihan. Yang mana semua anggota tubuh tidak bisa digerakkan. Mengalami kesulitan bernapas, bahkan merasa rohnya keluar dari raga. Tentunya jika hal ini dibiarkan akan berdampak buruk bagi kesehatan.
Rain sendiri mengalami hal itu setelah meminum teh dari Mile. Ia masih sadar saat pundaknya di tepuk oleh Mile. Namun, karena mantra yang Mile ucapkan, Rain tidak sanggup untuk melawan. Akhirnya apapun yang diperintahkan oleh Mile, Rain menurutinya. Hingga akhirnya, ia meneguk teh yang Mile berikan, yang mana teh itu telah ditaburi serbuk penaik gelora sebelumnya.
"Sayang, apa kau ingat jika masuk kamarnya?" Ara bertanya lagi. Ia ingin memastikan.
Rain terbelalak. "Memangnya aku sampai masuk ke kamarnya?" Rain tak percaya.
"He-em." Ara mengangguk.
Jantung Rain berdegup kencang. "Sungguh aku tidak ingat hal itu, Sayang." Rain takut Ara salah sangka padanya. "Yang aku ingat setelah ditepuk olehnya, aku tidak bisa mengendalikan tubuhku ini. Lalu dia memberiku teh dan aku meminumnya. Setelah itu aku merasa seperti tertidur dan mengalami mimpi dalam mimpi. Sungguh!" Rain meyakinkan Ara kembali.
Sontak Ara mengerti permainan apa yang dilakukan oleh Mile. Ia merasa geram mendengar cerita suaminya. Tak habis pikir jika wanita terpandang seperti Mile bisa melakukan hal keji seperti ini.
Berarti ... suamiku masih ingat saat meminum teh itu. Setelahnya tidak ingat apa-apa lagi. Apa itu berarti tepukan di pundaknya dipengaruhi oleh sihir atau sejenisnya? Jika iya, berarti benar apa yang dikatakan oleh nenek. Lalu hiasan di kepalaku ini apakah hanya berfungsi saat berada di dekatnya? Sungguh aku tak mengerti.
Ara masih menduga-duga perihal kegunaan tusuk konde yang diberikan oleh nenek pemberi gelang padanya. Ia merasa benda ini hanya berfungsi saat berada di dekat orang yang dilindunginya. Jika jauh, benda itu tidak dapat berfungsi. Yang mana berarti Ara harus selalu dekat dengan suaminya. Ke manapun sang suami pergi, Ara harus mengikutinya. Tidak bisa tidak.
Apa yang terjadi kemarin sudah cukup menjadi bahan pembelajaran bagi Ara agar selalu berada di sisi suaminya. Apalagi mereka kini sedang tidak berada di dunianya. Melainkan di dunia lain dengan kehidupan yang berbeda. Alhasil Ara harus lebih berjaga-jaga dari setiap mara bahaya yang bisa datang kapan saja. Jangan sampai kejadian tak diinginkan terulang kembali ke depannya.
Beberapa saat kemudian, menjelang siang...
Aku sedang menata bunga di taman bersama para pelayan perempuan. Sedang suamiku membantu tukang kebun untuk merapikan pot-potnya. Kami mencari kerjaan agar bisa mengisi waktu luang sebelum jam makan siang. Ya, walaupun sebenarnya tidak terlalu dipaksakan.
__ADS_1
Menjelang siang ini kulihat matahari sudah hampir meninggi dengan sempurna. Angin juga berembus lebih pelan dari biasanya. Sepertinya Agartha akan memasuki musim panas yang ekstrim. Terbukti dari sebelumnya yang bisa turun salju sedang sekarang terasa panas karena angin berembus lebih pelan. Entahlah, aku juga tidak tahu kebenaran pastinya.
Tadi setelah berbincang bersama suamiku, aku merasa harus menyelidiki sesuatu tentang putri itu. Aku rasa dia menggunakan sihir untuk membuat suamiku patuh lalu meminum teh itu. Bukankah hanya sihir yang dapat mengendalikan seseorang tanpa izin dari si pemilik tubuh? Cukup banyak aku mengetahui tentang hal itu sebelumnya. Apalagi di negeriku mitos kepercayaan tentang hal astral masih kental. Jadi mungkin tidak ada salahnya jika mengaitkan.
Aku sendiri masih berusaha untuk terus berpikiran positif setelah melalui berbagai aral rintangan yang menghadang. Aku tidak boleh menyerah begitu saja, apalagi kepada sihir. Sesuatu yang tak bisa terlihat oleh mata, namun efeknya luar biasa. Aku yakin walau gerbang jiwaku telah terbuka, bisa dengan mudah menutupnya kembali. Ini adalah sugesti yang kutanamkan agar bisa lebih tenang lagi. Satu keyakinan di hatiku, segala sesuatu terjadi atas izin-NYA. Jika tidak diizinkan maka tidak akan terjadi.
"Permisi Nona." Tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiriku.
"Ya? Ada apa Bi?" tanyaku seraya berdiri menyambutnya.
Pelayan itu tersenyum padaku. "Maaf Nona, pangeran meminta Nona agar segera menemuinya," terang pelayan itu.
"Hanya sendiri?" tanyaku memastikan.
"Tidak, Nona. Bersama tuan juga. Saat ini pangeran sedang menunggu di ruang kerjanya. Saya diminta untuk mengantarkan." Pelayan memberi tahu.
Aku tidak tahu hal apa yang ingin dibicarakan pangeran sampai memanggilku untuk menemuinya. Tapi mungkin ada baiknya jika aku segera pergi ke sana. Tentunya tidak sendiri, melainkan bersama suamiku. Jadi ya sudah, mari kita mencuci tangan terlebih dulu.
Di depan ruang kerja pangeran...
Tak berapa lama aku dan suamiku sudah tiba di depan ruang kerja pangeran. Suamiku pun mengetuk pintu sedang aku menunggu. Sedari taman hingga perjalanan ke sini kami selalu bergandengan tangan dengan mesra. Tak ayal kemesraan kami menjadi pusat perhatian penghuni istana. Mereka tampak tersenyum melihat keharmonisan rumah tangga kami. Aku pun tersenyum membalas mereka.
"Masuk!"
__ADS_1
Tak lama kemudian seseorang di dalam ruangan mengizinkan kami untuk masuk ke dalam. Suamiku pun segera membukakan pintu untukku. Namun, saat berniat melangkahkan kaki masuk, tiba-tiba saja aku merasa pusing sekali. Tubuhku jadi tidak bisa terkendali. Alhasil badanku pun terhuyung ke depan.
"Sayang!" Saat itu juga suamiku menahannya.
"Astaga ...."
Kupegangi kepalaku ini karena rasa pusing yang tak tertahankan. Tak berapa lama kulihat pangeran juga keluar dari ruangannya setelah mendengar suara suamiku berteriak. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi kurasa aku mulai menderita anemia. Atau mungkin karena kelelahan setelah menata bunga di taman?
"Nona Ara? Tuan Rain?"
Pangeran dengan cepat keluar dari ruangannya dan menghampiriku. Aku pun mengangkat kepala ini untuk melihatnya. Namun, saat itu juga penglihatanku seperti terbias sinar berwarna putih keemasan. Penglihatanku seakan tersedot ke suatu tempat...
Ini di mana?!
Aku terkejut. Tiba-tiba saja sudah berada di suatu tempat yang asing.
Apakah ini di alam bawah sadarku?
Aku melihat ada sebuah telaga yang mana airnya berwarna-warni. Aku terkejut melihat keadaan ini. Di sekitar telaga banyak sekali rerimbunan semak belukar yang terdiri dari berbagai macam jenis bunga. Seperti taman surgawi yang indah. Aku pun ingin memetik satu bunga mawar putih yang ada di sana. Namun, saat itu juga...
"Hentikan! Sakit!"
Tiba-tiba kudengar suara seorang perempuan menjerit kesakitan. Aku pun bersembunyi agar tidak ketahuan. Kuintip dari balik pintu goa kecil yang ada di sini dan kulihat siapa gerangan yang ada di sana. Dan ternyata...
__ADS_1
Astaga?!!
Saat itu juga aku terbelalak kaget karena melihat wanita yang ingin menodai suamiku sedang menyeret seorang perempuan di tepi danau yang kami datangi. Perempuan itu bergaun putih dengan corak merah muda yang menghiasi gaunnya. Sontak aku tersadar dengan apa yang terjadi.