Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Shocked!


__ADS_3

Gaunku ini berwarna pink polos dengan sabuk pinggang berwarna perak, sama seperti warna mahkota dan sepatuku. Sedang tuanku mengenakan seragam jas hitam lengkapnya. Kami terlihat serasi malam ini. Sayangnya di bagian tengah dadanya sedikit turun sehingga membuat tuanku meminta ditutupi dengan jepit hias. Mungkin dia ingin melindungiku dari pandangan pria nakal.


Andai bisa seperti ini selamanya.


Hak sepatu yang kupakai berkisar lima senti, jadi harus berhati-hati saat berjalan. Karena kalau tidak, aku bisa terselandung sepatuku sendiri. Selebihnya penampilanku terlihat berbeda, tidak polos seperti biasanya. Make up yang disapukan ke wajahku juga terkesan lembut dan imut. Paduan blash on pink mendominasi wajahku.


"Hadirin dipersilakan duduk di tempat yang telah disediakan. Kita segera memulai sesi acara bebas ini." Pembawa acara berdasi pita itu mengumumkan.


Kami akhirnya bisa duduk setelah lama berdiri, mendengar berbagai macam kata sambutan. Tuanku segera menarikkan kursi untukku. Aku pun tersenyum padanya, pura-pura menjadi kekasih yang dimanjakannya.


Tuan, kata orang pura-pura bisa jadi kenyataan. Apakah ini akan berlaku untuk kita?


Tak tahu kenapa aku ingin tertawa melihatnya melayaniku, seperti melihat dunia terbalik saja. Aku kan pembantunya, tapi malam ini dia memperlakukanku bak ratu.


"Cicipilah yang ada Ara," katanya lalu duduk di sisi kananku.


"He-em." Aku mengangguk.


Kulihat dalam satu meja bundar ini terdapat lima kursi. Tak lama kami pun kedatangan tiga orang lainnya.


"Tuan Rain, senang bertemu dengan Anda."


Dua pria dan satu wanita datang menghampiri kami. Si wanita mengenakan gaun hitam panjang, sedang si pria mengenakan seragam jas hitam lengkapnya. Ketiganya menyapa tuanku, dan ternyata tuanku ini mengenalnya.


"Kita bertemu lagi di sini, Tuan-tuan." Tuanku tersenyum kepada mereka.


"Ya. Sepertinya dunia tidak begitu luas." Seorang wanita mencandai tuanku.


"Tuan Rain, ini?" Salah satu dari mereka menunjukku."


"Oh, ini Ara." Tuanku memperkenalkan aku kepada mereka.


"Wah, Tuan Rain sekarang sudah punya gandengan, ya?!" Mereka tampak terkejut.


Ketiganya pun mengajak ku berjabat tangan. Tapi lagi-lagi aku hanya meletakkan tangan kanan di dada sebagai salam hormat.

__ADS_1


Sebenarnya pekerjaannya apa, ya?


Aku masih belum tahu apa pekerjaan tuanku dan di mana kantornya. Aku khawatir jika bertanya pertanyaanku ini malah akan menyinggung atau membuatnya marah.


"Baru pertama kali kami melihat Tuan Rain menggandeng seorang gadis." Tiba-tiba salah satu dari mereka bicara.


"Benar. Mungkin sebentar lagi akan masuk jajaran trending dunia." Seorang wanita ikut menimpali.


Aku hanya tersenyum karena tidak berani menjawabnya. Sedang tuanku, dia juga ikut tersenyum lalu ... memegang tanganku di hadapan ketiganya.


Astaga jantungku!


Seketika itu jantungku terasa mau copot. Ini baru pertama kalinya kami bersentuhan tangan. Rasanya begitu berbeda sekali.


"Doakan saja." Tuanku menanggapinya dengan senyuman.


Semakin lama aku semakin penasaran dengan sikapnya. Aku khawatir setelah ini akan terjadi hal-hal yang menakutkan padaku. Seperti di film-film itu.


Sudah jangan berprasangka buruk!


Di situasi seperti ini aku masih sempat-sempatnya berpikiran buruk tentangnya, padahal dia sudah amat baik padaku. Tidak seharusnya aku begini.


Pembawa acara kembali mengambil alih panggung. Dia membacakan atensi selanjutnya.


"Seseorang meminta dengan hormat kepada Nona Rain agar memberikan persembahannya kepada tuan dan nyonya Solomon. Kepada Nona Rain dipersilakan."


Apa?!!


Aku terkejut bukan main saat mendengar pembacaan atensi selanjutnya. Entah siapa yang mengirimkannya, aku menoleh cepat ke arah tuanku. Kutarik ujung jasnya karena tidak mau naik ke atas panggung. Dia pun segera menyadarinya.


"Bukan aku yang mengirimnya. Maju saja. Jika tidak maju malah akan membuatku malu," katanya, berbisik di telingaku.


Apa?!!


Sungguh hal ini tidak ada direncana sama sekali. Aku juga tidak tahu mengapa atensi itu ditujukan kepadaku.

__ADS_1


Apa yang harus kulakukan?!


Dengan gemetar aku beranjak dari duduk, merapikan gaunku lalu mulai berjalan ke arah panggung.


Ya Tuhan, aku harus ngapain di sana?


Jujur aku takut, malu, dan juga bingung harus mempersembahkan apa ke tuan dan nyonya pemilik acara. Namun, karena atensinya ditujukan padaku, mau tak mau aku harus melangkahkan kaki ke atas panggung. Sambil mencari tahu siapa yang telah mengirimkannya.


Pria yang kulihat itu?!


Pikiranku langsung tertuju kepada seorang pria yang tadi melihat ke arahku. Pria berambut pirang dengan jas hitam lengkapnya. Kulihat dia mempersilakanku agar segera naik ke atas panggung.


Tidak salah lagi jika dia orangnya.


Mau tak mau aku menghakiminya, jika dialah orang yang telah mengirimkan atensi agar aku naik ke atas panggung. Sambil memegang sisi gaunku, kulangkahkan kaki menuju panggung, tempat di mana band akustik berada. Tidak tahu apa yang harus kulakukan di sana, sebisa mungkin aku bersikap biasa saja.


Beberapa saat kemudian...


Setelah sampai di atas panggung, aku berbicara sebentar kepada band pengiring acara malam ini. Kusampaikan apa yang ingin kupersembahkan kepada pemilik acara yang tengah merayakan hari jadi pernikahannya. Mereka pun tampak mengerti maksudku.


"Selamat malam, salam hormat untuk semua yang hadir di sini." Aku membuat kata sambutan lalu membungkukkan badan ke arah hadirin.


"Ini Nona." Seorang anggota band kemudian memberikanku sebuah gitar akustik.


"Terima kasih." Aku pun mengambil gitar itu.


Aku lalu duduk di atas kursi yang cukup tinggi dengan dibantu seorang backing vokal band pengiring ini. Dia amat cantik dan tampilannya begitu anggun. Terlihat tenang tidak sepertiku yang gelisah karena takut mengecewakan tuanku.


"Terima kasih telah memberikan kesempatan untuk berada di atas panggung ini. Semoga semua yang hadir selalu bahagia dalam jalinan cinta kasih. Sebuah lagu saya persembahkan untuk tuan dan nyonya Solomon, dan untuk semua yang hadir di sini. Spesial untuk seseorang yang berada di sana." Aku menunjuk ke arah tuanku.


Seketika itu semua pandangan tertuju ke seseorang yang kutunjuk, tak lain dan tak bukan adalah tuanku sendiri. Seketika itu juga kulihat kedua matanya terbelalak kaget. Riuh tepuk tangan pun ikut mewarnai momen ini. Aku bisa melihat bagaimana ekspresinya yang malu-malu dari sini. Dia sepertinya kaget saat aku memainkan peran dengan baik. Kulihat dia tersenyum, tertunduk malu, lalu menutup wajah dengan kedua tangannya.


Tuan, semoga lagu ini akan menjadi saksi di antara kita.


Aku mulai memetik gitar, memetik dengan jari-jariku yang telah diberi cat kuku berwarna pink. Untungnya saja jari-jariku ini tidak panjang. Karena kalau panjang tentunya tidak akan mudah memetik gitar.

__ADS_1


Tuan, lagu ini untukmu.


Aku menarik napas panjang sebelum menyenandungkan lagu dalam tempo yang lambat. Sebuah lagu terpopuler di masanya, As long as you love me by Backstreet Boys...


__ADS_2