
Satu jam kemudian...
Entah sudah jam berapa ini, yang jelas matahari sudah menanjak setinggi tombak. Aku dan suamiku juga baru selesai sarapan pagi bersama. Dan dia kini sedang bersiap-siap untuk melakukan perjalanan bersama pangeran. Aku pun dengan sepenuh hati membantunya merapikan diri.
Di sini tidak ada jam ataupun pengingat waktu. Entah aku yang belum tahu atau memang cara perhitungan waktunya berbeda. Jadinya hanya bisa mengira-ngira sekarang sudah jam berapa. Mungkin jika di duniaku sudah pukul tujuh pagi sekarang, karena matahari mulai terasa hangat menyinari bumi.
"Aku akan berangkat. Kau baik-baik di sini, Sayang." Suamiku yang tampan rupawan berpesan.
Aku mengangguk. "Iya. Aku antar ya." Aku pun beranjak mengantarkannya sampai ke teras depan padepokan.
Semenjak menikah, aku merasa lebih dimiliki olehnya. Apapun yang kumiliki, milikinya juga. Dari ujung rambut sampai ujung kaki ini sudah menjadi haknya. Jadi jika ingin melakukan sesuatu, harus atas persetujuannya. Ya, karena dia sudah menjadi suamiku seutuhnya. Kontrak cinta kami bukan hanya sampai di sini, melainkan sampai akhirat nanti.
Sayang, aku beruntung memilikimu.
Aku dan suamiku lalu berjalan bersama. Kugandeng mesra tangannya bak tidak ingin ditinggal sedetikpun. Dia pun tersenyum melihat tingkah manjaku. Maklum ibu hamil, ingin selalu dimanja dan diperhatikan oleh suaminya. Begitu juga dengan diriku.
"Baiklah. Aku tinggal ya." Akhirnya kami sampai juga di teras depan padepokan.
Aku mengangguk. Dia kemudian mengecup keningku. "Jaga anak kita." Dia berpesan lagi lalu berlutut. "Sayang, ayah pergi sebentar ya. Baik-baik di sini bersama ibu. Jangan nakal." Dia berbicara pada perutku sambil mengusapnya.
__ADS_1
Sontak aku ingin tertawa melihat tingkah lakunya. Padahal janin di dalam kandunganku belum terlalu besar seperti ibu hamil. Masih terlalu dini jika untuk mengajaknya bicara. Tapi, aku menghargai kasih sayangnya sebagai seorang ayah atas janin yang sedang kukandung ini. Dia memang benar-benar pria yang bertanggung jawab pada anak-anaknya.
"Sayang, hati-hati. Semoga berhasil." Aku mendoakannya.
Rain mengangguk. "Sampai nanti." Pegangan tangan kami pun terlepas.
Pria tampan nan gagah itu membalikkan badannya dari hadapanku. Dia menuruni anak tangga lalu berjalan menuju ke arah istana. Kulihat betapa kokoh punggungnya yang selama ini setia berada di sisiku. Menemaniku, menyayangiku, bahkan rela repot untukku. Sebisa mungkin aku pun tidak akan pernah mengecewakannya. Aku menyayanginya sepenuh hatiku.
Ya Tuhan, jagalah suamiku di manapun dia berada.
Pagi ini kumulai dengan doa untuk suamiku tercinta. Berharap Tuhan selalu melindunginya dari segala macam godaan yang menerpa. Aku sangat berharap Tuhan melindungi kami dari segala mara bahaya. Doaku menyertai keluarga kecilku. Aku juga berharap semesta merestui jalan hidup kami. Semoga kami bahagia selamanya.
Pagi ini Rain akan melakukan perjalanan bersama pangeran menuju telaga yang ada di danau, tempat Rain dan Ara datang pertama kali ke Agartha. Ara pun merelakan Rain pergi sendiri tanpa dirinya, demi kebahagiaan sang suami tercinta. Karena kebahagiaan Rain adalah kebahagiaannya juga.
Sementara itu di kamar Camomile, calon istri Pangeran Agartha...
Kamar besar berukuran 5x7 meter itu menjadi saksi atas apa yang akan Camomile lakukan. Ia membakar dupa di dalam kamarnya lalu bersemedi dengan menempelkan kedua telapak tangan. Ia terlihat seperti sedang membaca mantra untuk melancarkan aksinya. Dari mulutnya pun terdengar pelan nama Rain yang disebut. Entah mantra apa yang diucapkannya.
Tunduklah dengan perkataanku ....
__ADS_1
Angin pagi ini masuk lewat jendela kamar Camomile dan membuat tirai-tirai di sekelilingnya berterbangan ke sembarang arah. Aroma dupa pun begitu menyengat hingga asap pembakaran itu memenuhi seluruh isi kamarnya. Lambat laun Mile terjaga dari semedinya. Kedua matanya perlahan terbuka dengan senyum menyeringai yang menghiasi bibirnya.
"Hari ini akan kujatuhkan dirimu. Jika berhasil, pangeran tentunya tidak akan tinggal diam. Dia pasti lebih menjaga nama baik kerajaan dibandingkan meneruskan hubungan ini. Lagipula aku tidak terlalu menyukainya. Aku lebih menyukai pria itu." Mile mengingat Rain.
Putri berparas cantik itu hari ini mengenakan gaun yang sedikit terbuka di bagian dada. Sehingga terlihatlah setengah belahan dadanya yang ranum dan juga merekah. Ia sepertinya sengaja mengenakan gaun sutera dengan model seperti ini agar dapat menggoda suami Ara. Ia juga menyemprotkan sejenis parfum ke seluruh tubuhnya. Ia ingin melakukan sesuatu agar bisa membuat Rain bertekuk lutut di hadapannya. Mile ingin terlepas dari jerat sang pangeran yang akan menjadi suaminya. Tapi, apakah niat buruknya itu akan berhasil?
Di dunia yang sebenarnya...
Perseteruan dua kubu berlanjut hingga membuat kedua belah pihak saling beradu di depan meja hijau manshion Sam. Pria lanjut usia itu tampak mendengarkan gugatan dari Owdie tentang hal yang menimpa Rain. Kedua belas saudara seperasuhan pun berkumpul dan mengelilingi meja besar untuk mengetahui duduk perkara yang sebenarnya. Sedang Nick yang menjadi tertuduh tampak berusaha menenangkan diri dari tuduhan-tuduhan yang dilontarkan Owdie. Sam terpaksa mengadakan sidang mendadak di awal tahun ini.
"Kalian bisa melihat sendiri foto yang kubagikan. Siapa pria di dalam foto itu yang datang ke rumah kepala pengeboran minyak kalau bukan Nick?" Owdie berdiri di antara saudara-saudaranya yang duduk dan memperhatikan dengan saksama foto yang diberikannya.
Kedua belas cucu Sam terlihat mengenakan setelan jas hitam dengan aksesoris jam mahal di tangannya. Mereka amat serius memperhatikan setiap bukti yang Owdie berikan. Beberapa di antaranya ada yang memercayai jika itu adalah Nick. Namun, beberapa di antaranya juga ada yang tidak percaya jika pria di dalam foto itu adalah cucu kandung dari kakek angkatnya sendiri. Sam yang menjadi penengah pun tampak memegang erat tongkatnya karena belum menemukan titik temu dari permasalahan ini.
"Aku tidak tahu jika ada duri dalam daging ataupun musuh dalam selimut. Selama ini kalian dibesarkan bersama. Tidakkah kalian sudah seperti saudara sendiri?" tanya Sam di tengah-tengah deru gugatan Owdie kepada Nick.
"Em, Kakek." Salah seorang cucu Sam ingin bicara. "Aku rasa hal apapun bisa direkayasa saat ini. Zaman sudah canggih. Tidak ada yang tidak mungkin dimanipulasi. Begitu juga dengan foto ini," ungkap salah satu cucu Sam.
"Hei! Apa maksudmu?!" Owdie segera menunjuk saudaranya yang bicara. Ia terlihat geram kepada saudaranya itu.
__ADS_1
"Owdie, sudah. Duduklah." Byrne yang berada di samping Owdie pun meminta Owdie untuk tenang.
Dada Owdie naik-turun saat mendapat tanggapan berlawanan dari saudaranya. Ia merasa kesal dengan spekulasi saudaranya yang secara halus menolak kebenaran yang ia sampaikan. Nick pun tersenyum tipis karena mendapat pembelaan dari salah satu saudaranya. Sementara saudaranya yang lain terlihat saling melirik satu sama lain. Mereka merasa aura-aura perpecahan di organisasi mulai terasa dan mengambil alih kekompakan yang selama ini dicetuskan oleh sang kakek.