Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Forever


__ADS_3

Makan malam di hotel...


Malam ini aku bersama ibu dan calon suamiku bersantap malam di atap hotel. Sedang Jack berserta istri dan kedua anaknya sibuk memanggang sate yang dibeli mentah. Entah mengapa priaku menginginkan hal seperti ini. Aku sih mengikut saja.


Aku mengenakan gaun lengan panjang yang berwarna merah. Sedang ibu mengenakan gaun longgar berwarna hijau. Malam ini aku merasa diistimewakan, begitu juga dengan ibu. Ibu tampak bahagia mendapatkan calon menantu seperti priaku.


Kini segan bagiku memanggilnya dengan sebutan tuan. Karena sekarang dia sudah melamarku secara terang-terangan. Tak ada hal lagi yang perlu ditutup-tutupi darinya. Bahkan hal sensitif pun telah dia perlihatkan padaku.


Dia banyak mengajariku, meminta melakukan hal ini dan itu. Dan bodohnya aku mau saja melakukannya. Padahal seharusnya dilakukan setelah menikah. Ya walaupun belum sepenuhnya, tetapi tetap saja terasa berbeda. Seluruh saraf tubuhku bereaksi begitupun dengan dirinya. Aku pikir dia bisa menahan hasratnya, tahunya tidak. Mungkin memang sudah tiba baginya untuk segera menikah dan menyalurkan hasrat terpendamnya. Dia bilang sih aku yang pertama dalam semua hal pribadinya.


Entah harus percaya atau tidak, tapi sebisa mungkin tidak menimbulkan pertengkaran ke depannya. Apapun dia, bagaimanapun dia di masa lalunya, biarlah menjadi masa lalunya saja. Karena sekarang dan yang akan datang akan menjadi masa-masaku bersamanya. Aku percaya dia akan setia. Dia adalah tipikal pencemburu yang tidak akan melepaskan begitu saja. Ya, semoga saja hal ini benar adanya.


"Silakan, Tuan, Nona."


Jack datang membawakan sate yang telah dipanggangnya. Kami pun segera menyantap sate ayam ini. Priaku tadi membeli satu gerobak sate. Dia memang benar-benar luar biasa. Entah berapa harta yang dia punya, sepertinya dia memang amat berkuasa. Nilai lebihnya dia tidak pernah perhitungan sama sekali terhadap apa yang sudah dikeluarkan. Dia amat dermawan.


Ara menikmati makan malam bersama ibu dan calon suaminya. Rain menyewa atap hotel sebagai jamuan terakhir untuk calon ibu mertua. Ia tidak lagi perhitungan terhadap apa yang dikeluarkan demi sang gadis tercinta.


Rain amat menyayangi gadisnya. Dan kini ia sudah berniat untuk mengutarakan kata cintanya. Cepat atau lambat kata cinta itu akan segera dinyatakannya. Rasa di hatinya begitu besar kepada Ara. Begitu juga dengan Ara, ia telah memercayakan dirinya kepada Rain. Dan kini tidak ada lagi penghalang bagi keduanya.


Beberapa jam kemudian...


Waktu yang terus berlalu mengantarkan Rain dan Jack sekeluarga untuk bersiap-siap kembali ke Dubai. Tepat pukul sepuluh malam acara santap bersama telah selesai. Dan kini mereka sedang mengemasi barang bawaan sebelum kembali ke Dubai.


Di kamar Ara, tampak sang ibu yang membantu merapikan pakaian anaknya sebelum dimasukkan ke dalam koper. Wajahnya terlihat sedih karena harus berpisah dengan anaknya. Ara pun memeluk sang ibu dengan sepenuh hati. Walaupun besok pagi baru berangkat, tetapi tetap saja rasa haru itu sudah terasa di kalbu mereka.


Beberapa candaan Ara ciptakan agar membuat sang ibu tertawa. Pada akhirnya ibu Ara bisa tersenyum kembali setelah mendengar guyonan dari sang putri. Mereka terlihat berpelukan dalam hati yang bahagia. Tak lama, pintu kamar mereka diketuk oleh seseorang. Ara pun segera membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang. Dan ternyata...


"Ibu ada?" Calon suaminya sendiri yang datang, Rain.


"Ada." Ara merasa heran dengan kedatangan Rain yang tiba-tiba.

__ADS_1


Ara memanggil sang ibu. Ibu Ara pun menemui Rain yang masih berdiri di depan pintu, sedang Ara menunggunya di belakang. Rain kemudian memberikan sesuatu kepada calon mertuanya.


"Ini apa, Nak?" tanya ibu Ara kepada Rain.


"Itu ponsel pintar, Bu. Kita bisa melakukan panggilan video walau jaraknya sangat jauh. Nanti Ara akan mengajarkan bagaimana cara memakainya." Rain beralih, melihat ke Ara.


Tampak sang gadis tersenyum sendiri karena calon suaminya mempunyai rasa pengertian yang begitu tinggi. Ia pun merangkul ibunya dari belakang.


"Nanti Ara kasih tahu cara memakainya ya, Bu. Sekarang ibu istirahat dulu. Sudah malam." Ara memintanya dengan lembut.


Terlihat genangan air mata di wajah sang ibu. Ia amat terharu dengan semua perlakuan yang calon mantunya berikan. Ia tersenyum dalam kebahagiaan tak terkira.


"Terima kasih, Nak Rain. Ibu istirahat dulu, ya. Kalian jangan tidur malam-malam." Sang ibu berpamitan.


Rain dan Ara pun mengangguk. Ara kemudian mengantarkan ibunya sampai ke tempat tidur. Setelahnya ia berpamitan untuk menemui Rain.


Lima menit kemudian...


"Sudah malam malah mengajak ku ke kamarmu." Gadis bergaun merah itu masuk ke kamar prianya.


"Tak apa, bukan? Lagipula tidak menganggu yang lain." Pria berkemeja putih itu duduk di sofa kamarnya.


"Iya, sih. Tapi tetap saja tidak enak dilihat orang." Ara ikut duduk di samping Rain.


"Hei, sudah. Jangan pedulikan apa kata orang. Ini hidup kita, Ara. Ini dunia kita. Kita yang menjalaninya." Rain mengusap wajah Ara, menenangkan hati sang gadis.


"Hah ... entahlah." Ara menatap langit-langit kamar Rain.


"Kau tahu?" tanya Rain.


"Apa?" Ara menoleh.

__ADS_1


"Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang mendorongku di sini," tutur Rain.


"Maksudmu?" Ara tak mengerti.


Rain segera merebahkan kepalanya di pangkuan Ara. "Seperti berbulan madu," kata Rain yang sontak membuat Ara mencubit ujung hidungnya.


"Sakit, Ara." Rain pun mulai manja.


"Jangan bilang lagi. Aku capek sekali hari ini." Ara mengembuskan napasnya.


"Tapi aku tidak capek," balas Rain yang tetap bersemangat.


"Tu, kan! Sana bangun!" Ara meminta Rain bangun dari pangkuannya.


"Tidak maulah. Saat tiba di Dubai belum tentu kau begini padaku." Rain memutar tubuhnya, menghadap Ara.


"Dasar!" Ara pun mengusap kepala Rain.


"Nanti di sini akan tumbuh anak kita, Ara." Rain mengusap perut Ara lalu menciumnya.


Dia ini suka berkhayal juga ya. Ara tak habis pikir dengan sikap prianya.


"Aku ingin lelaki. Tapi kalau kau suka perempuan, tak apa. Asal sehat dan sempurna." Rain mendongakkan kepalanya melihat wajah Ara.


"Iya, Sayang." Ara pun mencubit ujung hidung Rain kembali.


Rain tersenyum, ia kemudian memeluk Ara sambil mencium perut calon istrinya itu. Sepertinya sifat asli Rain sudah ditampakkan tanpa malu dan ragu lagi. Ara pun tersenyum seraya membelai rambut calon suaminya.


Aku berharap kita akan selalu seperti ini. Sampai nanti, sampai mati.


Doa dipanjatkan sang gadis di tengah-tengah kemesraan yang terjadi. Malam semakin larut pun menjadi saksi dua insan yang sebentar lagi mengikrarkan diri sebagai sepasang suami istri. Namun, apakah keduanya mampu menghadapi rintangan yang ada? Kedatangan keduanya sudah ditunggu oleh sihir pemisah. Mampukah mereka menghadapinya?

__ADS_1


__ADS_2