
"Rain???" Pria tua yang benar adalah Sam itu tampak tak percaya jika cucunya yang hilang kini berada di hadapannya.
Rain melepas kaca mata hitamnya. "Aku datang Kakek. Aku datang untuk menemuimu." Rain menyapa kakeknya.
Sam menelan ludah. Ia merasa terkejut dengan kedatangan Rain yang tidak disangka-sangka. Sebelumnya ia sudah berupaya mencari keberadaan sang cucu, namun tetap tidak ditemukan. Dan kini cucunya itu tengah berada di hadapannya. Berdiri tegak sempurna dengan keadaan sehat dan tanpa kekurangan apapun.
Sam beranjak berdiri. "Ke mana kau selama ini, Rain? Kenapa hilang begitu saja?" Sam bertanya seraya memegang tongkatnya.
Keduanya berdiri berhadapan dengan meja kerja yang memisahkan. Jarak mereka hanya sekitar lima meter di dalam ruang kerja yang begitu luas dan juga mewah. Rain pun segera mengutarakan tujuannya datang ke manshion ini.
"Aku sudah mendengar kabar tentang Byrne, Kek. Aku minta Kakek segera menghentikannya." Rain meminta dengan nada sopan.
Sam terperanjat. "Owdie yang memberi tahumu?" tanya Sam ingin tahu.
Rain mengambil napas dalam. "Kami satu tim di Timur Tengah. Kami terbiasa saling berbagi apalagi berkenaan dengan pekerjaan. Kakek, bisakah hentikan semua ini?" tanya Rain, langsung ke inti pembicaraan.
Sam menggelengkan kepalanya. "Jadi kau datang hanya untuk hal ini?" Sam tak percaya kedatangan cucunya hanya untuk menghentikan ambisinya.
"Kakek, cukup sudah Kakek menjadikanku seorang anak yatim. Tidak puaskah sampai ingin menjadikan lebih banyak anak yatim lagi?" tanya Rain yang sontak membuat Sam tersentak.
Degup jantung Sam berpacu cepat kala mendengar Rain berkata seperti itu. Seolah kepergok dan merasa rahasia besar dalam hidupnya telah diketahui oleh sang cucu. Ia pun menelan ludah berulang kali untuk menormalkan degup jantungnya. Tetapi tetap saja dosa itu tidak bisa ditutupi.
"Dari mana kau mengetahui hal ini?" tanya Sam sambil mempererat pegangan pada tongkatnya.
"Ada seseorang yang memberi tahuku. Apakah benar Kakek dalang dari melayangnya ratusan ribu nyawa di Irak?" tanya Rain dengan tegasnya kepada sang kakek.
Sam membalikkan badannya, membelakangi Rain. "Jadi kau sudah tahu jati dirimu?" Sam bertanya lagi. Ia menuju ke meja teh lalu menuangkan anggurnya ke dalam gelas.
__ADS_1
"Kakek, mengapa harus seperti ini? Mengapa harus melenyapkan begitu banyak nyawa tak bersalah hanya untuk memiliki ladang minyak di sana? Apakah ladang minyak yang kita miliki tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri?" tanya Rain kembali. Suaranya mulai meninggi seperti menahan amarah yang ingin meluap.
"Kau masih terlalu muda untuk mengerti hal ini, Rain." Sam meneguk anggurnya dengan tetap membelakangi Rain.
"Lalu apa yang sebenarnya Kakek inginkan? Pengorbanan nyawa manusia atau ladang minyak yang ada di sana?" tanya Rain lagi.
Sontak Sam tersentak. Ia membalikkan badannya ke arah Rain. "Kau merasa kakek adalah seorang manusia yang haus darah?" Sam balik bertanya kepada Rain.
Rain berusaha tenang. "Aku tidak tahu jika tidak diberi tahu. Bisakah Kakek jelaskan maksud peristiwa ini?" Rain ingin tahu dari mulut kakeknya langsung.
Sam menghela napas panjang lalu meneguk anggurnya kembali. "Perlu kau ketahui kita membutuhkan banyak pasokan minyak untuk memenangkan peperangan akhir. Tanpa minyak segala jenis mesin tempur tidak akan bekerja." Sam akhirnya mengatakan tujuannya.
"Jadi itu alasan Kakek menjadikan banyak orang sebagai tumbal?" Rain seakan menekan Sam bertubi-tubi.
Sam mengernyitkan dahinya. "Apa sebenarnya yang kau inginkan, Rain?" Sam balik bertanya. Raut wajahnya terlihat mulai kesal.
Sam mencengkram kuat tongkatnya. Ia merasa kesal dengan pertanyaan Rain. "Kau tidak perlu tahu kebenarannya. Sekarang kembalilah bekerja. Organisasi membutuhkanmu." Sam ingin menyudahi percakapan ini.
Rain maju dua langkah ke arah kakeknya. "Aku mengundurkan diri dari organisasi. Aku tidak sanggup bekerja untuk kehancuran dunia. Aku tidak mampu menanggung kegelisahan atas hilangnya ribuan nyawa. Aku berlepas diri dari organisasi." Rain mengatakannya dengan tegas.
"Apa?!!"
Bagai halilintar menyambar di siang hari. Pernyataan Rain sontak membuat Sam tersentak hebat. Ia tidak menyangka jika cucunya akan membuat pernyataan seperti itu.
Anak ini sudah terang-terangan melawanku.
Sam menelan ludahnya sambil menatap Rain penuh amarah. "Kau mempunyai banyak utang akibat terbakarnya kapal pengeboran minyak waktu itu. Kau tidak bisa keluar dari organisasi seenaknya, Rain." Sam mencegah.
__ADS_1
Rain tersenyum tipis. "Bukan aku yang membakar kapal pengeboran minyak itu, Kek. Dan aku rasa Kakek juga sudah tahu siapa pelakunya. Lalu mengapa masih meminta pertanggungjawaban dariku? Sedang pelakunya dibiarkan begitu saja?" Rain akhirnya terang-terangan melawan.
"Kau!" Sam pun semakin marah.
Rain semakin menjadi-jadi. "Sebenarnya di mana kewibawaan Kakek selama ini? Apa Kakek sudah takut dengan cucu kandung sendiri sehingga dibiarkan begitu saja?" tanya Rain lagi. Ia tidak bisa menahan kekesalannya.
"Cukup, Rain!" Sam akhirnya marah. "Kau tidak pantas berbicara seperti itu kepada orang yang sudah bersusah payah membesarkanmu! Kau harus tahu diri siapa dirimu itu!" Sam menunjuk Rain dengan tongkatnya. Wajahnya penuh amarah.
Rain melangkah lebih dekat lagi ke arah kakeknya. "Jika Kakek ingin aku tetap berada di organisasi, maka hentikan chemtrail yang disebar ke seluruh dunia." Rain mengajukan syarat kepada kakeknya.
"Kau!" Sam pun geram.
Rain berusaha tenang. "Kek, dunia sudah tahu betapa busuknya negeri ini memperlakukan negeri lain. Jadi berhati-hatilah dengan kejahatan yang dilakukan. Suatu hari mereka akan bangkit dan melawan." Rain memperingatkan.
"Rain ...!!!" Sam bertambah geram. "Kau tidak bisa berbicara seenaknya kepadaku. Jika masih nekat ingin keluar dari organisasi, maka seluruh asetmu akan kutarik kembali." Sam mengancam.
Rain tersenyum tipis. "Silakan saja jika hal itu bisa memuaskan hasrat Kakek. Mulai dari sekarang aku juga bukan lagi bagian dari organisasi. Permisi." Rain berpamitan tanpa basa-basi.
"Rain!" Sam segera menahannya. "Misi utama organisasi belum tercapai dan kau sudah ingin pergi. Apa kau tidak tahu arti dari balas budi?!" tanya Sam berapi-api.
Rain membalikkan badannya. "Aku tidak tahu sebenarnya apa tujuan organisasi ini. Dan sepertinya Kakek juga tidak akan memberitahukannya kepadaku." Rain memancing Sam agar mengatakannya sendiri.
Sam mengatur ulang napasnya. Dadanya mulai terasa sesak karena penyakit lama yang diidapnya. "Rain, Yerusalem harus segera kita kuasai sebelum nubuat itu terjadi. Itu adalah tujuan utama kita dan kau harus ikut andil dalam pencapaiannya." Sam meminta.
Yerusalem?!
Saat itu juga Rain merasa tertipu dengan pikirannya sendiri. Ternyata tujuan utama organisasi selama ini adalah untuk menguasai Yerusalem. Rain pun terpaku mendengarnya. Ia tak menyangka jika akan mendengar pernyataan ini langsung dari kakeknya.
__ADS_1