Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Angry


__ADS_3

Menjelang siang di istana Agartha...


Ara sedang mengobrol dengan pelayan istana. Ia mencari tahu lebih lanjut tentang bukit peternakan. Sedang Rain masih berbincang dengan salah satu tamu yang datang. Tamu itu sepertinya tertarik dengan wawasan Rain yang luas. Namun, seorang putri bergaun putih tiba-tiba datang ke tengah-tengah mereka. Sontak sang tamu istana segera undur diri dari hadapan keduanya.


"Hai."


Putri bergaun putih itu menyapa Rain. Ia tersenyum manis kepada seorang pria yang berada di hadapannya. Kedatangannya tentu saja membuat Rain kaget. Rain pun membalas senyuman putri tersebut dengan kata sapaan yang sopan.


"Selamat menjelang siang, Putri." Rain bersikap sopan.


Putri itu memainkan rambutnya. Ia menatap Rain penuh arti. "Namaku Camomile. Panggil saja aku Mile. Aku berasal dari negeri ini yang terpilih secara khusus untuk melayani pangeran." Putri itu menyebutkan siapa dirinya.


Camomile?


Rain terkejut dengan pengakuan putri tersebut. Ternyata putri itu bernama Camomile dan merupakan seorang pelayan khusus pangeran. Rain pun menjadi risih saat putri itu semakin mendekatinya. Jarak bicara di antara keduanya semakin dekat saja. Rain kemudian segera memundurkan langkah kakinya. Namun, putri itu malah menahannya. Ia memegang tangan Rain yang terbalut pakaian kerajaan berwarna putih. Saat itu juga Ara melihatnya.


Sayang?!!


Seketika wajah Ara merah padam saat melihat putri itu menyentuh tangan suaminya. Ia lekas-lekas mendekati putri tersebut lalu menepiskan tangan putri itu dari suaminya.


"Sayang, apa yang terjadi?!" Ara bertanya kepada Rain.


Rain merasa kikuk. "Em, Sayang. Jangan salah paham." Rain khawatir Ara salah prasangka terhadapnya.


Ara melihat Rain dan Camomile bergantian. Ia kemudian menatap tajam ke arah putri itu. Terlihat dadanya naik-turun karena menahan kesal. Ia ingin sekali memberi pelajaran kepada putri tersebut.


"Putri, tolong jaga sikap Anda! Ini suamiku! Tidak pantas bagi Anda menyentuh suami orang lain!" Ara kesal. Ia berbicara berhadapan dengan putri itu.

__ADS_1


Putri itupun tersenyum tipis, seolah tidak peduli dengan perkataan Ara. "Kalau merasa keberatan, kenapa tidak pergi saja dari sini?" Putri itu mengatakan sesuatu yang membuat Ara semakin geram.


"Kau!!"


"Sayang, sudah." Rain pun segera menahan istrinya. "Sayang, tolong jangan memicu keributan, ya. Kita kembali ke rumah saja." Rain menahan Ara agar tidak berbuat kasar kepada putri itu.


Ara kesal. Jelas saja ia merasa kesal karena ada seorang wanita yang berani menyentuh tangan suaminya. Sedang putri itu tampak biasa-biasa saja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Ternyata semudah ini untuk membuatnya cemburu? Baiklah. Aku akan membuatnya pergi dari sini.


Putri itu ternyata ingin Ara pergi dari Agartha. Tanpa peduli dengan peringatan yang telah pangeran Agartha berikan kepadanya. Rain pun merasakan ada sesuatu hal aneh yang sedang terjadi. Entah mengapa ia merasa seram dengan putri itu. Rain tidak menyukai wanita yang agresif.


Jika dibiarkan hal ini akan menimbulkan kesalahpahaman. Aku belum tahu siapa dia, tapi dia seolah-olah sudah kenal lama denganku. Istriku pasti akan salah paham. Lebih baik aku menjaga jarak saja darinya.


Rain menyadari jika sikap putri itu terlalu berlebihan. Belum apa-apa sudah berani memegang tangannya. Berbeda dengan Ara yang sangat susah untuk ditaklukkan. Sehingga hal itulah yang membuat Rain merasa ngeri. Terlebih Camomile menyebut dirinya sebagai pelayan pangeran. Pastinya jika mereka dekat akan terjadi kesalahpahaman di antara Rain dan Pangeran Agartha. Dan Rain tidak menginginkan hal itu. Ia ingin hidup damai bersama istrinya.


Ara dengan tegas berbicara kepada putri itu. Ia tidak takut sedang berada di mana sekarang. Ia kemudian kembali bersama Rain ke rumah yang ada di belakang istana sambil menahan kesalnya.


Sungguh Ara kesal bukan main dengan sikap tak pantas Camomile. Untung saja Rain cepat bertindak, melerai pertengkaran yang akan segera terjadi. Jika tidak, pastinya pesta panen ini sudah berantakan karena keributan istrinya dengan putri tersebut.


Dia sudah berani memegang tangan suamiku. Ini tidak bisa dibiarkan!


Ara kesal. Entah mengapa ia merasa kesalnya naik sampai ke ubun-ubun. Ia kembali ke rumah dengan wajah merah padam dan napas yang tidak beraturan. Ia ingin sekali memberi pelajaran kepada putri itu.


Camomile sendiri tampak senang saat berhasil membuat Ara marah. Ia tersenyum sambil melihat kepergian keduanya dari istana. Ia kemudian berbalik untuk berbaur bersama tamu undangan lainnya. Ia merasa sangat mudah untuk menyingkirkan Ara.


Menjelang siang ini hampir saja terjadi keributan di antara keduanya. Jika bukan karena sang hujan, pastinya keributan itu sudah terjadi dan menimbulkan dampak buruk untuk ke depannya. Tapi untung saja Rain bisa memahami istrinya. Sehingga ia mudah untuk meredakan amarah Ara.

__ADS_1


Sore hari di Agartha...


Ara berendam di kolam air panas bersama Rain. Ia hanya mengenakan kemben terusan sampai ke pertengahan pahanya. Kemben itu berwarna putih, sama seperti celana pendek yang Rain kenakan. Keduanya menikmati pemandangan sore hari sambil berendam di kolam buatan yang ada di belakang rumah.


Rumah yang ditempati Rain dan Ara begitu berbeda dari rumah kayu yang ada di bumi sebenarnya. Mungkin lebih mirip seperti rumah di Jepang dengan ciri khasnya. Di sini juga terdapat kolam air panas yang tidak berbau. Malahan airnya sangat wangi dan terasa sedikit manis. Ara pun mencoba merelaksasikan pikirannya dari rasa kesal yang belum terlampiaskan.


Rain sendiri tampak diam di samping istrinya. Ia seperti tidak berani menegur Ara yang sedari tadi hanya diam. Ia khawatir malah salah bicara kepada istrinya. Tapi setidaknya, Ara kini bisa merasakan apa yang Rain rasakan saat sebelum menikah. Cemburu buta dan over protektif.


Lantas, Rain mencoba mencari cara untuk memecahkan suasana yang terasa tegang. Ia tiba-tiba duduk di dekat Ara lalu merentangkan kedua tangannya di pinggir kolam. Sontak tangannya menyentuh kepala Ara sehingga Ara tersadar dengan ulah suaminya.


"Jangan dekat-dekat!" Ara segera menjauhkan Rain darinya.


"Sayang, kenapa?" Rain pun kaget.


"Kau belum cukur!" kata Ara yang sontak membuat Rain melihat ketiaknya sendiri.


"Ini?" Rain menunjukkan rambut ketiaknya kepada Ara.


"Ih! Jorok!" celetuk Ara sambil memasang wajah tak suka.


Rain lantas berbisik ke telinga istrinya. "Jorok-jorok tapi suka, kan?" Rain menggoda Ara.


"Ih, apaan sih?!" Ara pun segera menggeser duduknya, menjauh dari Rain.


Rain menyadari jika sang istri masih ngambek karena kejadian di istana tadi. Namun, ia tidak akan menyerah untuk mencairkan suasana. Ia kembali mendekati istrinya.


"Sayang, aku haus." Rain bersikap manja. Ia merebahkan kepalanya di dada Ara.

__ADS_1


Sontak Ara menjauhkan wajah Rain dari dadanya. Ia tahu akal bulus sang suami saat ingin meminta jatah. Tapi, ia juga tidak bisa menahan tawa kala melihat tingkah Rain yang jenaka. Dan akhirnya Ara tersenyum sendiri. Rain pun segera menarik Ara ke atas pangkuannya.


__ADS_2