Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Meet and Greet


__ADS_3

Di halaman belakang rumah keluarga besar...


Ara dikenalkan kepada seluruh saudara seperasuhan Rain. Ia tampak sopan membalas jabatan tangan saudara-saudara Rain dengan tersenyum seraya meletakkan tangan di dada. Rain pun terlihat temu jumpa dengan saudara-saudaranya di sini. Sedang Ara setia menemaninya di sisi.


Tak lama Nick pun datang menghampiri Rain. Ia berdiri di hadapan sepasang suami-istri yang terlihat begitu mesra. Gelagat Nick terlihat berbeda, tidak seperti biasanya. Ia seringkali mengamati Ara tanpa sepengetahuan Ara sendiri.


"Sudah lama tidak bertemu, Rain." Nick menyapa sambil memegang gelas anggurnya.


"Apa kabarmu?" tanya Rain begitu singkat kepada Nick.


Nick menoleh ke Ara. "Kau menikah tidak mengundang kami. Seperti tidak menganggap saja," tuturnya, seolah menyudutkan.


Ara sedikit canggung saat berada di situasi ini. Atmosfer sekitar berubah begitu cepat kala Nick datang menghampiri. Roman wajah suaminya pun kurang enak dilihat. Sepertinya sang suami memang kurang menyukai Nick.


"Aku segan mengundang karena pastinya kau tidak akan datang." Rain membalas perkataan Nick.


Nick tersenyum. Ia menoleh kembali ke Ara. "Selamat datang, Nona. Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya." Nick menyapa Ara.


Seketika Rain tidak menyukai cara Nick menyapa istrinya. Ia merasa kesal dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nick.


Dia ingin membuat hatiku panas dengan kata-katanya?


Rain kemudian merangkul pinggul istrinya di hadapan Nick. "Sayang, mari cicipi salad buah yang ada di sana." Rain menunjuk ke hidangan di atas meja yang ada di teras halaman belakang rumah.


Ara pun mengangguk. Ia tidak menolak ajakan suaminya. Saat itu juga Ara menundukkan kepalanya ke Nick, berpamitan. Rain pun meninggalkan Nick begitu saja. Ia tidak ingin lebih banyak bicara.


Hal yang terjadi itu tentu saja dilihat oleh Byrne dan juga Owdie yang sedang duduk di kursi taman yang ada di ujung sana. Keduanya tampak memperhatikan Rain dan Nick sedari tadi. Mereka terlihat saling melirik satu sama lain.


"Sepertinya apa yang dikatakan Rain ada benarnya." Byrne membuka percakapan.

__ADS_1


"Nick pasti salah sangka dengan pernikahan Rain." Owdie menambahkan.


"Sejak kecil keduanya bersaing memperebutkan kasih sayang nenek. Dan kini mereka akan bersaing memperebutkan apa lagi? Nenek sudah tidak ada." Byrne bingung sendiri.


"Pasti Nick tidak terima jika tahta organisasi jatuh ke tangan Rain. Nick merasa dia adalah cucu kandung kakek." Owdie meneguk gelas anggurnya.


"Aku rasa Rain juga tidak berambisi untuk menduduki tahta. Kau ingat apa katanya? Selama ini dia hanya menjalankan tugas dari kakek karena balas budi. Tidak lebih dari itu."


"Hah ... entahlah. Aku harap tidak menyangkut-pautkan masalah ini dengan Ara. Kasihan dia. Ara tidak tahu apa-apa sejak awal." Owdie terlihat mengkhawatirkan Ara.


"Sepertinya kita harus berbuat sesuatu untuk membantu Rain," tutur Byrne.


"Apa?" tanya Owdie. Seketika itu juga Byrne berbisik kepadanya. Owdie pun mengangguk. "Baik, aku setuju." Mereka kemudian adu kepalan tangan pertanda menyetujui rencana yang akan dijalankan.


Sore ini di halaman belakang rumah keluarga besar sangat ramai dipenuhi oleh ketiga belas cucu penguasa dunia. Beberapa di antaranya ada juga yang membawa pasangannya. Namun, hanya Rain saja yang secara resmi telah menikah. Sedang yang lain masih dalam masa pengenalan. Dan karena hal itulah Nick merasa khawatir dengan status Rain yang sekarang. Ia takut apa yang seharusnya menjadi miliknya malah jatuh ke tangan Rain.


Sejak kecil Nick dan Rain sudah bersaing memperebutkan kasih sayang Nenek Sam. Setelah kepergian sang nenek pun, rupanya aura persaingan itu masih ada dan tidak bisa hilang. Saat ini Nick tidak ingin dilampaui Rain, ia akan mencari cara agar bisa menyingkirkan Rain. Entah bagaimana caranya, namun satu hal yang pasti Nick ingin tahta organisasi jatuh ke tangannya. Bukan ke tangan Rain.


Malam harinya...


Jamuan makan malam akhirnya dihidangkan oleh pelayan manshion Sam. Di atas meja makan yang besar sudah tersedia berbagai macam hidangan super mewah yang pasti tidak perlu diragukan lagi rasanya. Gelas-gelas kristal itu menghiasi setiap sisi meja makan. Menambah kesan mewah jamuan makan malam yang diadakan satu tahun sekali ini.


Beberapa peralatan makan seperti sendok, garpu dan pisau juga sudah disajikan di samping piring yang dibiarkan kosong. Hingga akhirnya sang kakek meminta pelayan menuangkan anggur untuk ketiga belas cucunya.


Ara sendiri terlihat menunduk sedari tadi. Ia duduk di samping Rain yang berhadapan langsung dengan Nick di seberangnya. Dan entah mengapa, Ara merasakan sesuatu keanehan pada Nick. Ia tidak ingin melihat pria yang duduk di seberangnya.


Kenapa aku merasa tidak enak saat melihatnya, ya?


Ara merasakan seperti ada hal aneh dengan pria bernama Nick itu. Rain pun menoleh ke istrinya yang diam saja sedari tadi. Ia kemudian melihat ke arah Nick yang sedang menyibukkan diri mengambil hidangan pembuka. Rain juga turut merasakan jika sesuatu telah terjadi pada istrinya. Namun, ia belum berani mengambil tindakan karena khawatir salah langkah. Terlebih Nick tidak berbuat apa-apa kepada istrinya, hanya sebatas duduk di seberangnya saja.

__ADS_1


Perasaan istriku begitu peka. Sebenarnya apa yang sedang dia rasakan?


Rain kemudian mengambil gelas anggur milik Ara, ia yang meminumnya. Saat itu juga Ara menoleh ke sang suami. Rain pun tersenyum di hadapan istrinya. Seketika Ara mencubit paha Rain dari bawah meja makan. Saat itu juga Rain menahan kesakitan.


Rain mendekatkan wajahnya ke telinga Ara. "Sayang, jangan di sini. Sedang ramai." Rain mengingatkan agar Ara tidak berbuat sesuatu yang memancing hasratnya.


"Dasar!"


Ara pun menggerutu sambil memasang wajah cemberutnya. Saat itu juga Rain tersenyum melihat raut wajah istrinya. Di bawah meja makan ia genggam tangan Ara dengan erat. Rain amat menyayangi Ara.


"Silakan dimakan." Sang kakek meminta semua yang hadir untuk menyantap hidangan.


Rain dengan sigap mengambilkan Ara makanan pembuka. Ia tidak malu-malu menampakkan kemesraan di hadapan seluruh saudaranya. Namun, tampaknya Nick tidak menyukai sikap mesra Rain kepada Ara. Bukan karena cemburu, melainkan karena dengki. Ia merasa status Rain yang sekarang begitu membahayakan posisinya di organisasi.


"Sayang, kenapa?" Tiba-tiba saja Ara menutup mulutnya.


"Ak-aku ingin ke toilet." Ara cepat-cepat mengambil tisu, ia pun beranjak berdiri. "Maaf, semuanya." Ia berjalan cepat menuju toilet rumah ini.


"Ara, tunggu!" Rain pun dengan cepat mengejarnya. Saat itu juga seluruh yang hadir tampak bertanya-tanya.


"Hei, mungkinkah si hujan sudah menumbuhkan benih?" celetuk salah satu saudara Rain.


"Mungkin saja. Dia kan cepat bertindak," celetuk saudara Rain yang lain.


Seketika semua yang hadir tertawa.


"Diam kalian! Cepat makan!" Tiba-tiba kakek Rain meminta semua cucunya untuk berhenti tertawa.


Sontak semua cucu Sam terdiam. Mereka kemudian melanjutkan makan malamnya. Sedang Sam tampak mengabaikan apa yang terjadi pada istri Rain. Ia seakan tidak peduli dan melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2