
Dubai, pukul 7.17 pagi. Di kampus...
Aku baru saja sampai di kampus. Datang pagi-pagi karena hari ini memang ada jadwal mata kuliah pagi. Biasanya setiap hari Jumat memang seperti ini, selalu mendapatkan jadwal pagi. Dan kini aku berjalan masuk ke gedung kampus, melewati taman dan halaman parkir yang luas. Namun, dari kejauhan aku melihat seseorang.
Dosen Lee?!
Aku melihat pria berkemeja hitam itu berjalan berlawanan arah denganku. Sepertinya dia mau pergi atau mungkin menemui satpam yang berjaga di depan. Tapi entah mengapa semakin dekat jarak kami, aku merasa semakin kikuk.
"Selamat pagi, Dosen Lee."
Aku membungkukkan badan saat berpapasan dengannya. Kulihat dia terdiam tanpa berbicara sepatah kata. Entah mengapa aku jadi merasa bersalah padanya. Seperti membuat kesalahan yang tidak tahu itu apa.
Dia masih diam. Dan karena situasi tiba-tiba canggung, aku lekas pergi saja. Aku berusaha bersikap biasa karena memang tidak terjadi apapun di antaraku dengannya. Hubungan kami hanya sebatas dosen dan mahasiswi. Ya, walaupun berbeda fakultas.
Tumben dia diam?
Sebagai seorang perempuan pastinya kepikiran dengan perubahan sikap seseorang. Baru kemarin dia menjengukku dan membawakan buah-buahan, tapi hari ini berbeda sekali. Aku lantas berbalik menghadap ke arah belakang, namun kulihat dia terdiam saja di tempatnya. Apa mungkin dia ingin membicarakan sesuatu padaku? Entahlah, lebih baik lekas masuk ke dalam kelas sambil menunggu dosen datang. Aku tidak mau memikirkannya.
Selesai jam pertama...
Aku mengejar ketertinggalan beberapa hari yang lalu sehingga kini masih sibuk di kelas. Aku sedang membaca buku yang akan diujikan nanti. Dan karena sibuk sendiri, aku tidak tahu jika ada seseorang yang berjalan menghampiriku. Dialah Taka, teman pertamaku.
"Hai, Ara. Sudah masuk?"
Pria berkaus putih itu segera menarik kursi lalu duduk di dekatku. Dia juga membawa tas kuliahnya yang diletakkan di atas meja. Taka memperhatikanku yang sedang membaca buku.
"Iya, banyak yang tertinggal kalau lama libur. Kau sendiri?" Aku balik bertanya padanya.
"Aku biasa saja. Hanya kabar yang kuterima luar biasa." Dia lantas menjawabnya.
"Hai, Ara!" Tak lama Nidji dan Ken pun datang.
Ramai sudah kelasku, tadinya aku hanya seorang diri di sini. Dan mungkin lebih baik jika aku menyapa mereka dahulu. Tidak ada salahnya berbincang sebentar. Toh, saat aku tidak masuk mereka juga begitu peduli.
"Kalian sudah habis jam?" tanyaku pada Nidji dan juga Ken.
"Belum, masih ada satu." Mereka menarik kursi ke dekatku.
"Kau tahu, Ara. Ada sebuah kejadian mengejutkan yang terjadi di sini." Nidji membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Tentang?" tanyaku.
"Rose dan Jasmine. Duo kampus yang waktu itu menghadangmu." Taka menimpali.
"Ada apa dengan mereka?" tanyaku seraya menutup buku yang kubaca.
"Mereka sekarang berdiaman. Dan dengar-dengar sih karena dosen Lee." Ken menceritakan.
Seketika aku kaget mendengarnya. "Memangnya ada apa dengan dosen Lee?" tanyaku lagi.
"Jasmine dan Rose berebut dosen Lee. Jasmine ketahuan jalan bersama dosen Lee oleh Rose. Sehingga keduanya kini tidak lagi dekat. Bisa dibilang mereka bersitegang sekarang." Nidji menimpali.
"Oh ...." Hanya kata oh yang bisa terucap dari mulutku.
Sebenarnya aku paling malas mendengarkan cerita tentang urusan orang. Urusanku saja sudah banyak, jadi tidak sempat mengurusi orang lain, apalagi mau tahu. Lebih baik menyelesaikan urusan sendiri.
"Ara."
Tak lama kulihat yang dibicarakan ada di depan pintu kelas. Taka, Ken dan Nidji pun menoleh ke arah pintu. "Dosen Lee?!!"
Panjang umur untuknya. Kami baru saja membicarakannya, dia sudah datang dan memanggilku. Sepertinya dia memang mempunyai urusan denganku.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya yang enggan masuk menghampiri kami.
Aku lalu melihat ke arah Taka, Nidji dan Ken. Seolah meminta pendapat mereka tentang ajakan dosen yang satu ini. Dan kulihat mereka beranjak berdiri.
"Lain kali kita sambung pembicaraannya. Kami pergi dulu."
Ketiganya lantas berpamitan padaku, mereka juga melewati Lee yang berdiri di depan pintu. Entah apa yang ingin Lee bicarakan, tapi ada baiknya jika aku memenuhi panggilannya.
Di atap gedung kampus...
Jam di ponselku baru menunjukkan pukul 09.09 pagi. Dan hari ini tinggal satu mata kuliah lagi yang harus aku ikuti. Sebentar lagi aku bisa pulang ke rumah baruku. Tapi sepertinya, aku akan berbelanja terlebih dahulu untuk mengisi kulkasku.
Angin pagi hari ini terasa hangat. Cuaca juga mulai terasa panas di tanah pasir yang dibangun gedung-gedung mewah nan bertingkat ini. Tapi mungkin karena aku sedang berada di atap gedung kampus rasanya jadi berbeda sekali.
Lee mengajak ku ke atap gedung kampus. Dia ingin membicarakan sesuatu padaku. Aku sedikit heran dengan permintaannya. Tapi, karena menghargainya sebagai dosen kampusku, aku ikuti saja dia naik ke atap teras ini.
"Dosen Lee?"
__ADS_1
Kulihat pria berkemeja hitam itu berjalan mendekati pagar atap. Aku pun sama mengikutinya. Lantas segera kutanyakan perihal apa yang ingin dia katakan padaku.
"Dosen Lee, apakah ada sesuatu hal yang penting?" tanyaku yang berdiri di sisi kanannya.
Jarak kami tidak terlalu dekat. Mungkin ada sekitar satu meter. Aku tidak mau dekat-dekat karena khawatir menimbulkan salah paham. Aku tidak ingin memicu keributan di sini. Apalagi bisa dibilang jika dia adalah dosen tertampan di kampusku.
"Ara, sebenarnya aku kaget melihatmu memakai daster kemarin." Dia membuka percakapan, seperti berbasa-basi sejenak.
"Jelek, ya?" tanyaku seraya menyampirkan rambut yang terkena angin.
Dia menggelengkan kepala. "Aku seperti melihat ibu saja kemarin." Dia lalu menundukkan kepalanya.
"Em, maaf. Di rumah aku memang mengenakan daster agar tidak ribet," kataku.
Dia lantas tersenyum. "Tidak. Tidak apa. Aku malah senang melihat sisi lain dari dirimu," katanya lagi.
"Dosen Lee?" Aku terkejut dengan kata-katanya.
"Siapa pria kemarin yang hanya memakai handuk itu? Apakah dia calon suamimu?" tanyanya mulai serius.
Entah mengapa aku merasa pembicaraan kami menyangkut ke urusan pribadi, bukan mata kuliah. Aku jadi merasa segan untuk menceritakan siapa priaku di hadapannya. Seperti takut mengecewakan. Padahal aku dan Lee tidak mempunyai hubungan apa-apa.
"Em, Dosen Lee. Aku tidak mengerti mengapa Dosen menanyakan hal itu padaku? Sebenarnya ada apa?" Aku balik bertanya.
Kulihat bibir merekahnya seperti menggoda lawan bicara. Kulitnya putih dengan mata sipit yang terkadang membuat salah tingkah. Harus kuakui jika Lee mempunyai kharisma tersendiri, sehingga wajar saja jika dia digandrungi oleh mahasiswi di kampus ini. Tapi bagiku, priaku tetaplah nomor satu. Aku hanya mencintainya.
"Semalam Jasmine menembakku," katanya tiba-tiba.
"Ap-apa?! Jasmine?!" Aku terkejut.
"Ya, Jasmine. Temannya Rose. Mereka dijuluki duo kampus oleh mahasiswa di sini. Kau mengenalnya?" tanyanya, seraya melihatku yang berdiri di sampingnya.
"Em, aku ... hanya sebatas tahu saja, Dosen Lee," jawabku seadanya.
"Menurutmu diterima atau tidak?" tanyanya lagi.
"Hah?! Apa?!"
Sontak aku terkejut dengan pertanyaannya. Kenapa dia malah meminta pendapat dariku? Akan kan bukan siapa-siapa dirinya. Aku hanya Ara yang menjadi mahasiswinya. Kami juga berbeda fakultas sehingga tidak mempunyai alasan kuat untuk dekat.
__ADS_1