
Setengah jam kemudian…
Seorang pria berpakaian pantai memaksa masuk ke dalam ruangan Rain. Para security yang berjaga pun tampak kewalahan menghadapi si pria pantai ini. Mereka adu dorong di depan pintu ruangan. Siapa lagi kalau bukan Owdie. Ia dengan seenaknya mengunjungi bos besar perkilangan minyak dengan baju pantainya. Sontak hal itu memicu keributan di lantai kantor perkilangan minyak.
“Lepaskan aku! Aku hanya ingin bertemu dengan Rain!” teriaknya yang membuat semua pekerja tertuju ke arahnya.
“Tuan, Anda tidak boleh sembarang masuk ke ruang kerja tuan Rain!” Salah satu security menahannya.
Bukannya menelepon Rain agar keluar dari ruangan, Owdie malah asik main dorong-dorongan dengan para security. Alhasil kejadian itu akhirnya dilihat oleh Ro, asisten Rain sendiri yang baru saja keluar dari lift.
“Ada apa ini?!” Kedatangannya membuat para security berhenti menahan Owdie.
“Tuan Ro, pria ini memaksa masuk ke ruangan bos.” Salah satu security menjelaskan.
Ro melihat dengan saksama pria yang ada di hadapannya. Diingatnya kembali siapa pria berpakaian pantai ini. Ia kemudian menelepon sang bos. Tak beberapa lama akhirnya didapatkan jawaban.
“Baik Tuan.” Ro mengiyakan lalu memutus sambungan teleponnya. “Kalian kembali bertugas. Biarkan pria ini masuk.” Ro memerintahkan para security agar kembali berjaga.
“Baik, Tuan Ro.”
Kedua security bergegas pergi setelah Ro meminta. Seketika itu juga Owdie menjulurkan lidahnya, mengejek kedua security tersebut. Tampak Ro yang menggeleng-gelengkan kepala, pertanda tak percaya dengan sikap Owdie.
“Tuan Owdie, silakan masuk.” Ro membukakan pintu untuk Owdie.
“Terima kasih. Anda baik sekali.” Owdie pun tersenyum lebar kepada Ro sambil berjalan masuk ke ruangan Rain.
Ro tak habis pikir jika ternyata Rain mempunyai saudara seperti Owdie. Baru tahun ini ia bertemu langsung dengan saudara dari bosnya itu. Jika bukan karena Rain, tentu saja Ro sudah menendang Owdie keluar dari gedung.
Ganteng, sih. Tapi menjijikkan.
Akhirnya sang asisten pun berlalu, membiarkan bosnya kedatangan tamu tak terduga. Sambil menahan mual, ia melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya sendiri.
Di ruang kerja Rain…
Ruang kerja Rain adalah ruangan luas dengan sedikit perabotan kerja di dalamnya. Sehingga terlihat lapang dan nyaman. Namun sepertinya, kedatangan Owdie merubah segalanya.
“Halo, Rain.”
Ia tersenyum kepada seorang pria yang sedang sibuk mengetik sesuatu di layar laptop. Pria itu pun segera menoleh ke arahnya yang baru saja datang. Rain tampak terkejut saat melihat pakaian yang Owdie kenakan.
“Hei, kau gila, ya?!” Rain tak menyangka jika Owdie datang ke ruangannya mengenakan pakaian pantai.
“Eh? Gila?” Owdie bingung sendiri.
__ADS_1
“Ini jam kerja. Kenapa kau masuk ke kantorku dengan pakaian seperti itu?!” Rain menghentikan aktivitasnya sejenak, ia berdiri melihat kedatangan Owdie.
“Lho? Bukannya kau yang menyuruhku agar cepat datang?” Owdie bingung sendiri, ia langsung duduk di depan meja kerja Rain.
“Astaga …."
Seketika Rain menyadari sesuatu. Ia mengusap wajahnya sendiri. Sedang Owdie, santai saja. Seperti tidak terjadi apa-apa. Ia tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.
Jika bukan karena saudara, pastinya dia sudah kulempar ke lantai bawah! Rain menggerutu sendiri.
Teringat kenangan bersama saudaranya yang satu ini. Malam ke dua saat Rain tidak pulang ke rumah, di mana ia memutuskan untuk tidak jadi menginap di rumah Jack. Melainkan mencari di mana keberadaan Owdie.
Waktu itu…
Rain berpamitan kepada Jack pada pukul dua belas malam. Ia tidak jadi menginap karena ingin mencari suasana lain.
“Apakah Tuan perlu ditemani?” Jack mengantarkan Rain sampai di depan halaman rumahnya.
“Tidak perlu. Aku sendiri saja. Maaf sudah merepotkanmu, Jack. Besok liburlah.” Rain berpesan.
“Baik, Tuan. Jika ada keperluan, saya siap mengantarkan.” Jack mengiyakan.
“Ya.” Rain mengangguk, ia segera masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Jack.
Rain menyetir sendiri melewati jalan raya yang tampak sepi. Ia lalu menghubungi Byrne untuk bertukar pikiran tentang kegundahan hatinya. Namun, saat berulang kali menelepon, tidak ada juga jawaban dari Byrne.
Sambil terus melajukan mobil dengan kecepatan sedang, ia kembali menelepon saudaranya yang lain. Kali ini ia mencoba menelpon Owdie. Tak lama teleponnya pun diangkat oleh saudaranya itu.
“Halo?” Suara Owdie terdengar serak.
“Di mana kau?” tanya Rain terus terang.
"Di hatimu," jawab Owdie asal.
"Aku serius, Owdie!" Rain menahan kesal mendengarnya.
“Eh, Rain ini, kah?” Owdie yang masih tidur tampak berusaha mengenali suara Rain.
“Ya, ini aku. Aku butuh teman malam ini. Kau bisa menemaniku?” tanya Rain segera.
Owdie beranjak bangun dari tidurnya dengan mata terpejam karena masih mengantuk. “Hm … boleh saja. Tapi, tarifku mahal semalamnya. Aku khawatir kau tidak mampu membayarnya,” kata Owdie lagi.
“Cepat katakan!” bentak Rain dari telepon.
__ADS_1
Eh, dia marah? Owdie membuka matanya perlahan. “Sabar, Rain. Apa kau sangat membutuhkan kehangatan?”
“Owdie!!!” Rain pun murka.
“Baiklah-baiklah. Satu juta dolar semalam di komplek Palm Jumeirah.” Owdie memberi tahu.
“Kirimkan lokasi akuratnya sekarang!” pinta Rain lalu mematikan teleponnya.
Sambungan telepon itu akhirnya terputus. Terlihat Owdie yang kebingungan sendiri karena Rain begitu cepat mematikan teleponnya. Ia seperti sedang bermimpi saja.
“Benarkah Rain yang meneleponku tadi?” Owdie mengecek kembali panggilan masuknya.
Ia lihat, ia perhatikan, ia tatap, ia pandangi layar ponselnya. Dan ternyata memang benar Rain lah yang meneleponnya.
“Astaga!”
Owdie pun menepuk-nepuk pipinya sendiri. Ia tepuk pipinya berulang kali untuk memastikan jika ini bukanlah mimpi. Rain meneleponnya di tengah malam.
“Tumben dia menelpon jam segini? Apa ada hal yang genting?”
Ia kemudian beranjak bangun lalu membasuh wajahnya yang tampak kusut karena habis tidur. Ia pun segera mengirimkan denah lokasi di mana gerangan dirinya berada. Ia menunggu kedatangan Rain di rumah sewaannya.
…
“Hai, Rain. Kau termenung memikirkanku, kah?” Owdie melambai-lambaikan tangannya ke Rain.
Seketik Rain pun tersadar. “Hah, kau ini.” Rain memegang kepalanya sendiri.
“Apakah ada sesuatu hal penting yang ingin kau bicarakan sampai tergesa-gesa menyuruhku datang?” tanya Owdie yang mulai serius.
“Hm, ya. Aku rasa ini penting. Aku butuh saran darimu,” kata Rain lagi.
“Aha, jangan-jangan ini berkaitan dengan cinta?” Owdie menebak.
“Dari mana kau bisa tahu?” Rain membenarkan posisi duduknya.
“Ya, aku tahu bagaimana dirimu lah. Jika berkaitan dengan pekerjaan, wajahmu tidak mungkin sejelek ini. Pasti ada hubungannya dengan cinta sampai-sampai membuat wajahmu seperti ayam sakit,” cetus Owdie tak peduli.
“Owdieee!!!!”
Seketika itu juga Rain marah kepada saudaranya. Ia merasa kesal karena Owdie berani mengejeknya. Sedang Owdie, melarikan diri dengan cepat dari hadapan Rain.
“Aku ke kantin dulu. Aku lapar. Nanti aku kembali lagi ke sini.” Owdie berlalu pergi dari ruangan Rain sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
“Dia itu benar-benar ingin kubom!”
Rain pun tidak dapat berbuat apa-apa saat melihat tingkah saudaranya. Ia hanya bisa menormalkan suasana hatinya lalu kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Rain menunggu kedatangan Owdie kembali ke ruangannya.