
Malam harinya, manshion Sam...
Selepas mengajak Ara berjalan-jalan, Rain mendatangi pertemuan tahunan dengan kedua belas saudaranya. Ia sampai-sampai menyuruh orang untuk berjaga di sekitaran rumah agar tidak ada yang mengganggu Ara. Rain sengaja meninggalkan Ara di rumah karena khawatir Ara kenapa-kenapa bila ikut rapat. Sehingga ia memutuskan menyewa orang untuk menemani Ara dan berjaga di sekitaran rumah.
Malam ini butiran salju masih turun menghiasi seluruh sudut perkotaan. Namun, tidak seperti malam biasanya. Malam ini butiran salju turun lebih sedikit dan cuaca sekitar juga terasa lebih hangat. Mungkin karena sedang terang bulan jadinya sedikit berbeda. Tidak seperti malam sebelumnya yang amat dingin sampai membutuhkan perapian untuk menghangatkan badan.
Di dalam manshion Sam, di depan meja bundar, baru saja selesai dilakukan rapat tahunan oleh ketiga belas cucu penguasa perekonomian. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan rapat pun baru selesai. Terlihat di tangan masing-masing cucu Sam memegang beberapa dokumen penting, berisi hasil rapat malam ini dan juga rencana kerja untuk satu tahun ke depan. Satu per satu dari mereka pun berpamitan kepada sang kakek. Namun, saat tiba giliran Rain berpamitan, Sam menahannya.
"Aku ingin bicara padamu." Sam, pria tua berusia sekitar delapan puluh tahun itu mengajak Rain berbicara empat mata.
Rain mengangguk. Ia memenuhi permintaan kakeknya untuk mengobrol bersama. Alhasil keduanya pergi ke teras belakang untuk berbincang sebentar. Tanpa mereka ketahui, Nick ternyata bersembunyi di balik dinding teras. Ia ingin tahu apa saja yang dibicarakan oleh sang kakek dan juga saudara seperasuhannya, Rain.
"Kakek pikir kau main-main dengan pesanmu waktu itu." Sam membuka pembicaraan malam ini.
Keduanya berdiri di teras belakang rumah, ditemani butiran salju yang turun menghiasi dedaunan taman. Terlihat sang kakek memegang tongkatnya sambil membelakangi Rain. Sedang Rain berdiri di belakang sang kakek sambil menunggu kakeknya selesai bicara. Entah mengapa atmosfer sekitar berubah menjadi serius sekali.
Sam berbalik, menghadap ke Rain. "Rain, mengapa kau bisa menikahinya? Apa tidak ada perempuan lain yang bisa kau nikahi?" tanya Sam kepada cucu angkatnya.
Rain segera menyadari maksud pembicaraan malam ini. "Kakek tidak menyukai Ara karena asal usulnya?" Rain bersikap tenang.
"Tentu." Sam menjawab tegas. "Dia masih berstatus mahasiswi. Belum mempunyai pekerjaan apalagi perusahaan. Dia beban bagi organisasi." Sam mengatakan sesuatu yang membuat hati Rain terluka.
__ADS_1
"Dia istriku, Kek. Pekerjaannya banyak sekarang. Kakek tidak bisa menilai seseorang hanya dari jabatan atau latar belakangnya saja." Rain berusaha tetap tenang walaupun hatinya mulai emosi.
Sam berbalik kembali, membelakangi Rain. "Kau terlalu dibutakan oleh cinta, Rain. Sehingga pikiranmu tak jalan. Kau menyia-nyiakan Jane begitu saja demi gadis yang tidak punya apa-apa." Sam bersikeras dengan pendapatnya.
Rain mengepalkan kedua tangannya. Ia merasa kesal dengan ucapan sang kakek. "Lalu apa mau Kakek?" tanya Rain langsung ke inti pembicaraan.
Sam menoleh sedikit ke belakang. "Ceraikan dia dan cari yang lebih pantas." Sam menuturkan.
Saat itu juga Rain menelan ludahnya. "Maf, Kek. Aku tidak bisa. Dia sedang mengandung anakku." Rain menolaknya.
Terlihat raut wajah tua Sam yang menahan kesal. "Wanita itu murah, Rain. Kau bisa memberinya uang lalu menceraikannya. Itu mudah bagimu." Sang kakek memaksakan kehendaknya.
Hampir-hampir saja tinjuan Rain melayang ke sang kakek jika Rain tidak ingat lagi siapa Sam baginya. Sam begitu merendahkan perempuan, seperti tidak ada harganya. Yang bisa seenaknya dipermainkan dan ditinggalkan begitu saja.
Sam ditinggalkan Rain, cucu angkatnya. Ia menyadari jika Rain kini sulit untuk dikendalikan olehnya. Bahkan Rain menolak mentah-mentah permintaannya. Sam pun semakin kesal. Ia merasa tidak satu pemikiran dengan cucu angkatnya.
Rain sendiri tidak memedulikan apa yang ingin dikatakan lagi oleh kakeknya. Ia segera pergi setelah mengatakan hal itu kepada Sam. Nick yang sedang menguping pembicaraan mereka pun lekas-lekas bersembunyi agar tidak diketahui keberadaannya. Sehingga Rain tidak tahu jika Nick menguping pembicaraan mereka. Sampai akhirnya Rain keluar dari manshion lalu melajukan mobilnya. Rain tidak ingin berlama-lama di rumah keluarga besar.
Oh, rupanya dia sudah menjadi budak cinta sekarang.
Nick menyadari jika telah terjadi perubahan besar di diri Rain. Tapi, ia tidak bisa membiarkan begitu saja saudara seperasuhannya memegang tahta organisasi. Ia pun mulai memikirkan cara untuk menyingkirkan Rain pelan-pelan.
__ADS_1
Lantas Nick berpura-pura lewat halaman belakang. Ia melihat sang kakek yang masih berada di sana. Di saat itu juga ia mendekati sang kakek lalu berbicara empat mata. Nick ingin menghasut Sam agar membenci Rain selamanya.
Washington DC, pukul sebelas malam waktu sekitarnya...
Rain akhirnya tiba di rumah. Dilihatnya sang istri tengah tertidur di atas sofa ditemani seorang wanita yang menjaganya. Rain pun memberi isyarat agar wanita tersebut diam saja saat ia datang. Rain tidak ingin tidur Ara sampai terganggu karena kedatangannya.
Dengan penuh kasih sayang Rain menggendong Ara masuk ke dalam kamar. Wanita penjaga itupun membantu membawakan ponsel milik Ara. Lalu akhirnya ia berpamitan kepada Rain untuk kembali ke rumahnya. Kebetulan tidak jauh dari sekitaran rumah Rain, hanya beberapa kilometer saja.
Sayang, kau menungguku pulang?
Rain merebahkan Ara di atas kasur. Ia selimuti tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang. Dikecupnya kening sang istri lalu ia duduk di sampingnya. Tiba-tiba saja air mata Rain jatuh membasahi pipi. Rain merasa sedih saat perkataan kakeknya teringat kembali di pikirannya.
Dia tidak bersalah. Cinta kami juga tidak salah. Aku tidak akan pernah menceraikannya. Aku amat mencintainya.
Diciumnya tangan Ara dengan sepenuh hati. Air matanya pun ikut menetes di telapak tangan Ara. Rain sudah lama menantikan kabar kehamilan Ara. Ia juga sudah siap untuk menjadi seorang ayah. Namun, ia tidak bisa terima dengan perkataan sang kakek yang memintanya untuk menceraikan Ara.
Rain kesal dan ingin melawan, tetapi hal itu tidak mungkin ia lakukan. Karena bagaimanapun Sam telah menghidupinya, sehingga Rain bisa memiliki apa-apa seperti sekarang. Tidak pantas bagi Rain jika tidak tahu terima kasih kepada orang yang telah bersusah payah untuknya.
Lantas ia mendekatkan wajahnya ke perut Ara. "Anakku, cepatlah tumbuh dan berkembang di dalam sana. Ayah sudah tidak sabar ingin melihatmu."
Rain mengatakannya dengan suara serak dan terbata. Entah mengapa malam ini ia merasa sedih sekali. Sampai-sampai tidak lagi bisa membendung air matanya.
__ADS_1
Rain tahu apa yang akan ia hadapi jika melawan kehendak sang kakek. Tapi, ia lebih tahu apa tugas dan tanggung jawab seorang suami. Rain akan berjuang sekuat mungkin untuk menjaga keluarga kecilnya dari segala mara bahaya. Ia bukanlah seorang pengecut yang akan diam saja saat ditindas. Rain pasti akan melawannya.