Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
True Love


__ADS_3

Dua jam kemudian di Burj Khalifa, Dubai...


Aku tiba di kawasan super megah bersama priaku. Kulihat lantai dasar dari gedung tertinggi di dunia ini dipenuhi banyak tempat bermain, hiburan dan juga kebutuhan sehari-hari. Di lantai ini juga terdapat banyak sekali butik untuk memenuhi hasrat fashion yang menggelora. Tapi, aku tidak meliriknya sama sekali. Pandanganku selalu tertuju ke arah priaku.


Priaku tampan dan juga rupawan. Terlebih dia amat dermawan. Dia begitu sempurna di mataku. Tidak ada kurangnya terkecuali yang dua itu. Dan kini kami sedang berpegangan tangan menuju ke lantai seratus gedung ini. Kami berniat datang ke kantor terlebih dahulu sebelum melaju ke tempat selanjutnya.


Di sepanjang jalan kami bergandengan tangan dengan mesra. Layaknya sepasang kekasih yang tidak mau terpisah. Aku jadi merasa terpandang saat bersamanya. Banyak orang-orang menyapaku di sepanjang jalan. Priaku memberikan sesuatu yang kuidamkan sejak dulu. Jadi wajar saja jika aku mencintainya.


"Kita ke kantor sebentar, ya?" Dia meminta, lantas saja aku mengiyakannya.


Pagi ini aku ingin mengetahui bagaimana kantor, tempatnya bekerja. Dan juga orang-orang yang ada di sana. Kami kemudian masuk ke dalam lift bersama Jack yang selalu menemani di belakang. Hingga akhirnya kami tiba di lantai seratus gedung ini tanpa terasa. Priaku lalu menggenggam erat tanganku saat keluar.


Kami keluar dari lift, kulihat tidak terlalu banyak orang yang bekerja di lantai ini. Mungkin hanya ada sekitar tiga puluh orang saja. Dan mereka rata-rata mengenakan pakaian yang tertutup. Begitu juga dengan karyawan perempuannya, mengenakan seragam kantoran dengan lengan dan celana yang panjang. Tidak kutemukan ada karyawan perempuan mengenakan rok di sini.


"Tuan, apakah saya harus menunggu atau kembali?" Jack bertanya saat kami tiba di depan sebuah ruangan.


"Tunggulah di samping. Aku tidak akan lama," jawab priaku.


Jack lantas mengangguk. Dia membungkukkan sedikit badannya lalu segera undur diri. Sedang aku lekas masuk ke dalam ruangan bersama priaku. Ruangan yang ternyata dalamnya besar sekali.


"Ini ruang kerjaku, Ara."


Priaku lalu menutup pintu dan membiarkanku melihat ke sekeliling. Tak banyak memang isinya, tapi cukup lengkap untuk ruang kerja seorang direktur. Di sini juga ada dapur mini sebagai tempat untuk menyeduh kopi.


"Sayang, kalau aku menemani lembur bisa tidur di sini," kataku saat melihat sofa sudut ada di ruangannya.


"Kau ingin menemaniku lembur?" tanyanya lalu duduk di kursi kerja.


"Hem, ya. Aku rasa tidak masalah jika sudah menikah. Tidak ada yang melarang, bukan?" Aku berpendapat sendiri.

__ADS_1


Priaku tersenyum. Dia lalu membuka koper kerjanya. Sedang aku duduk di sofa sambil membaca majalah yang ada.


Dia memang seorang pekerja keras.


Rasanya begitu terharu saat melihatnya mulai bekerja. Dia menelepon sana dan sini, sibuk sekali. Aku pun tidak ingin mengganggunya.


"Ya, kakek memintaku untuk segera berangkat. Dia memang gila."


Entah menelepon siapa, priaku terlihat menahan kesal. Tapi sepertinya dia menelepon saudaranya sendiri. Jika bukan Byrne, pastilah Owdie. Dan aku hanya mendengarkannya saja, tidak mau menganggu.


"Tidak tahu. Dia memang serakah sekali. Padahal pekerjaanku di Dubai belum juga selesai." Kulihat priaku mengetik sesuatu di laptopnya.


"Ya, ya. Baiklah. Kita berangkat bersama saja. Sampai nanti." Dia kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.


Aku masih duduk diam memperhatikannya sambil memainkan ponsel. Tak lama seseorang mengetuk pintu ruangan ini. Priaku lalu mempersilakannya masuk.


"Tuan, pesanannya." Ternyata yang datang adalah seorang pelayan pengantar pesanan.


"Baik, Tuan." Pelayan itu pun segera menyajikan hidangan yang telah di pesan ke atas meja yang ada di depanku. "Silakan, Nona." Pelayan kemudian mempersilakan aku untuk mencicipinya.


Aku pikir kurma lagi yang akan disajikan. Tapi ternyata masakan Eropa. Aku jadi kaget kenapa yang dihidangkan adalah sajian ala Eropa. Dan kulihat priaku menelepon seseorang kembali. Dia tampak amat sibuk. Jadi ya sudah, aku menunggunya selesai saja.


Satu jam kemudian...


Tepat pukul sepuluh pagi, priaku mengajak keluar dari ruangan. Ia kemudian mengajak ku ke suatu tempat. Sedang koper kerjanya ditinggalkan begitu saja di bawah meja. Namun, tak lama Jack datang ke ruangan dan mengambil kopernya.


"Jack, tunggulah di sini." Priaku meminta.


Jack mengangguk. Priaku lantas memegang tanganku agar mengikutinya. Entah mau ke mana, aku menurut saja. Kami akhirnya masuk ke dalam lift lalu tak lama tiba di sebuah ruangan yang kosong. Entah di mana, tapi sepertinya ini adalah lantai teratas dari Burj Khalifa. Priaku lantas mengajak ku keluar.

__ADS_1


"Sayang?!"


Alangkah terkejutnya aku saat melihat pemandangan awan putih di depan mata. Aku seperti berada di negeri atas awan. Ini benar-benar menakjubkan sekali. Aku pun berjalan ke dekat pagar untuk melihat lebih jelas pemandangan yang jarang kulihat ini.


"Kau bisa memegang awannya jika lewat." Priaku memberi tahu. Dia lalu mendekatiku.


"Sayang, ini seperti di negeri dongeng!" Aku begitu riang melihatnya.


"Negeri dongeng?"


"He-em." Aku mengangguk.


"Kau ingin menikah di sini dengan pakaian pangeran dan putri kerajaan?" tanyanya yang membuatku terkejut seketika.


"Sayang?!!" Aku berbalik, menghadapnya.


"Jika kau mau, aku akan mempersiapkannya. Karena ... kau segalanya bagiku."


Saat itu juga priaku menarik tubuhku agar lebih dekat dengan tubuhnya. Dia lantas merendahkan kepalanya lalu menciumku. Aku pun terkejut dengan sikapnya. Ternyata dia mengajak ku kemari untuk menikmati pemandangan bak di negeri atas awan dengan sambil berciuman. Rasanya sungguh luar biasa sekali.


Ara merasa takjub dengan apa yang ditunjukkan Rain padanya. Ia merasa seperti berada di negeri atas awan. Indah sekali dengan awan putih berarak yang mengelilingi. Rain juga menawarkan Ara untuk menjadi pangeran dan putri saat melangsungkan pernikahan. Yang mana hal itu semakin membuat Ara terharu.


Kini keduanya tengah berciuman di teras lantai teratas dari gedung pencakar langit, tertinggi di dunia. Sang gadis terlihat melingkarkan kedua tangannya di leher Rain, sedang Rain memegang erat pinggul gadisnya. Mereka saling menikmati sapuan-sapuan hangat yang tercipta. Hasrat keduanya pun berkobar seketika.


Usia yang terpaut cukup jauh tidak menjadi penghalang untuk segera melangsungkan pernikahan. Jika cinta sudah bicara, apalah daya dikata. Semuanya terasa mudah karena kekuatan cinta itu sendiri. Dan kini awan putih menjadi saksi atas cinta keduanya. Lika-liku asmara sebentar lagi akan berakhir di altar pernikahan. Dan kehidupan sejati akan segera dimulai.


Sayang, tetaplah bersamaku. Temani perjalanan hidupku hingga aku menemukan di mana ibuku. Aku ingin sekali bertemu dengan ibu dan juga ayahku. Tapi jika diharuskan hanya memilih satu, aku ingin bertemu ibu terlebih dulu. Aku akan mengatakan padanya jika telah menemukanmu. Menemukan calon ibu dari anak-anakku kelak. Aku menyayangimu, Ara.


Hati yang terpaut menjadi satu menguatkan ikatan batin yang terjalin. Dan Rain akan menjaga apa yang telah didambakannya sejak dulu. Rain ingin mempersunting gadisnya segera. Tak lama lagi, hanya tinggal hitungan hari. Dan cinta mereka menjadi bukti akan ketidakmungkinan yang bisa saja terjadi.

__ADS_1


...


Bagian Keempat Tamat


__ADS_2